Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Tidak Layak Menjadi Keluarga
Sejak menikah ke Keluarga Yan, Nyonya Mu selalu dikenal sebagai wanita yang memiliki watak lembut dan penurut. Bahkan ketika berbicara pun suaranya sangat pelan, dan tidak ada seorang pun di rumah ini yang pernah mendengarnya meninggikan suara.
Namun sekarang, ancamannya yang bilang bakal menuntut balas bahkan setelah menjadi hantu seketika membuat semua orang tertegun seperti tersambar petir. Suasana di dalam rumah utama mendadak berubah menjadi sangat mencekam.
Ruang utama mendadak sunyi senyap untuk beberapa saat. Bibir Han Ruo berkedut gusar melihat situasi yang mendadak kaku, sebelum akhirnya dia menyahut keras untuk memecah keheningan.
"Aduh, Kakak, aku kan melakukan ini justru demi kebaikan kita semua, demi keselamatan seisi rumah ini! Nara itu jelas sudah bukan Nara yang dulu lagi, dia pasti sudah dirasuki roh jahat. Kita harus biarkan Mbah Kusno segera memulai ritual pengusirannya sekarang juga!" seru Han Ruo memprovokasi.
"Kalau kakakku benaran kemasukan setan, mana berani dia berkeliaran di bawah terik matahari siang bolong begini!" potong Yan Ning berapi-api, matanya menatap Han Ruo dengan pandangan penuh kebencian.
"Siapa yang tahu ilmu hitam apa yang dia pakai sekarang?" kata Han Ruo dengan nada dingin.
"Buat apa banyak bicara dengan mereka? Cepat ikat saja anak itu," potong Yan Shong tidak sabar. Dia langsung menoleh ke arah Mbah Kusno. "Mbah Kusno, bagaimana caranya menyingkirkan roh jahat di tubuh anak ini?"
"Yan Shong!" teriak Nyonya Mu memanggil nama lengkap suaminya dengan tubuh gemetar hebat karena tidak percaya. "Nara itu darah dagingmu sendiri!"
"Aku tidak sudi punya anak perempuan yang dirasuki hantu pembawa sial," dengus Yan Shong kejam.
"Ikat dia sekarang. Cukup jepit jari-jarinya pakai bilah bambu kokoh sampai kesakitan, nanti roh jahat itu pasti bakal menyerah dan keluar dengan sendirinya," ujar Mbah Kusno dengan tatapan misterius yang sok tahu sambil melirik Nara.
"Kenapa tidak dibakar pakai api saja sekalian, Mbah? Biar langsung musnah hantunya!" usul Yan Ran dengan wajah yang memancarkan kegembiraan murni.
Manik mata Nyonya Mu seketika membelalak ngeri mendengar usulan keji anak tirinya. Dia mendekap tubuh Nara makin erat ke dalam pelukannya. "Ara, jangan takut. Biarpun harus mati, Ibu bakal tetap bersamamu."
Nara tersenyum sinis sembari mengedarkan pandangan dinginnya ke seisi ruangan. Tidak ada satu orang pun di rumah ini yang berniat bergerak untuk membelanya.
Kakek Yan cuma berbaring di ranjang sambil memejamkan mata, pura-pura tidak tahu apa-apa karena takut kesialannya bertambah. Nenek Lou sengaja memalingkan wajah ke arah lain seolah mengizinkan tindakan kejam itu terjadi.
Han Ruo dan anaknya jelas-jelas berharap dia lenyap dari muka bumi ini secepatnya. Sementara Yan Shong, tatapan matanya dari tadi seolah-olah sedang melihat tumpukan daging busuk yang menjijikkan di sudut rumah.
Di tengah keputusasaan yang mencekik itu, Nara mendadak tertawa terbahak-bahak.
"Ara..." panggil Nyonya Mu dengan raut wajah yang teramat cemas melihat anaknya tertawa histeris.
Tawa Nara justru terdengar makin menggelegar memenuhi ruangan. Dia melepaskan dekapan ibunya perlahan, lalu bangkit berdiri dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Sambil memegangi perutnya yang terasa kaku karena tertawa, dia membantu Nyonya Mu dan Yan Ning untuk ikut berdiri tegak.
"Ibu, lihat baik-baik. Inilah orang-orang yang selama ini selalu Ibu bela dan Ibu takuti setengah mati. Lihat wajah mereka satu-persatu! Apa orang-orang kejam seperti ini pantas disebut sebagai keluarga?" tanya Nara lantang.
"Ibu bekerja banting tulang dari subuh sampai malam demi menghidupi seluruh isi rumah ini. Di tengah musim dingin yang membeku pun, Ibu rela pergi ke sungai untuk mencuci tumpukan baju kotor mereka sampai tangan Ibu hancur dan terluka parah. Pernahkah ada satu patah kata pun dari mulut mereka yang berterima kasih pada Ibu?" tanya Nara sembari menggenggam tangan ibunya yang kasar.
"Ibu melayani mertua dengan sepenuh hati. Tiap kali ada makanan yang sedikit enak di dapur, Ibu tidak tega memakannya dan sengaja menyimpannya buat mereka semua. Ibu bahkan memperlakukan adik ipar jauh lebih baik daripada anak kandung Ibu sendiri. Tapi lihat bagaimana cara mereka membalas semua kebaikan Ibu selama ini!" lanjut Nara mencecar seisi rumah.
Nara kemudian mengalihkan telunjuknya, menunjuk tepat ke wajah Yan Shong dengan tawa yang terdengar dingin dan menyayat hati. "Lalu lihat pria bajingan ini! Pas Ibu baru saja melahirkan dan masih dalam masa pemulihan, dia sudah tidak sabar membawa istri kedua masuk ke rumah ini. Sejak saat itu, dia cuma sibuk memanjakan selir dan anak-anak tirinya!"
"Kalaupun Ibu memaafkan kelakuannya yang itu, dia tetap tidak punya hak untuk terus-menerus memukuli dan memaki Ibu setiap hari seperti binatang! Pria ini sama sekali tidak pantas dihormati!"
Nara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya kembali menatap lurus wajah ibunya yang sudah basah oleh air mata.
"Ibu, Ibu sudah mengabdi di rumah Keluarga Yan ini selama belasan tahun. Pengorbanan Ibu sudah lebih dari cukup. Tugas Ibu sebagai menantu, sebagai istri, dan sebagai ibu sudah tuntas di sini. Ibu, tidak ada keluarga kandung di dunia ini yang tega membakar anggota keluarganya sendiri hidup-hidup. Mereka semua tidak layak menjadi bagian dari hidup kita lagi!" tegas Nara.
Tangis Nyonya Mu seketika pecah mendengar rentetan kalimat putrinya. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas hingga dia langsung ambruk ke dalam pelukan Yan Ning sambil terus terisak pilu.
"Kurang ajar! Omong kosong apa yang kamu bicarakan, dasar monster kecil?!" raung Yan Shong murka karena boroknya dikuliti habis-habisan.
"Silakan kalau kalian memang berniat membakar kami!" sahut Nara tajam menantang.
Pandangan matanya langsung melewati tubuh Yan Shong, menatap lurus ke arah Kakek Yan dan Nenek Lou yang sedari tadi pura-pura tuli.
"Kalau kalian sampai tega membakar menantu dan cucu kandung kalian sendiri di siang bolong begini, jangan harap silsilah Keluarga Yan bisa hidup tenang di Desa Wu! Kita lihat saja nanti, apa masih ada orang terpandang di luar sana yang sudi menikahi anak cucu kalian, atau menerima anak perempuan Keluarga Yan sebagai istri!"
"Bahkan kalaupun aku harus mati hari ini, aku bersumpah bakal menyeret seluruh isi rumah Keluarga Yan untuk ikut membusuk di neraka bersamaku!" tantang Nara berapi-api dengan sorot mata yang mengerikan.