Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringkat C
Rick duduk di Mercer Café dengan wajah yang sudah hafal caranya tampak tenang. Rick sudah terbiasa datang kesini dan orang cafe mengenal Rick. Entah pekerjaan Rank D sudah diselesaikan berapa kali.
Ia memesan minuman. Duduk di tempat biasa. Menunggu tanpa terlihat menunggu. Semua terasa seperti ritual, dan Rick sadar ritual itu memang sengaja diciptakan: membuat pembunuhan terasa seperti kebiasaan, bukan keputusan.
Violet datang seperti biasanya, pintu belakang terbuka, langkah halus, senyum manis yang selalu tampak sedikit terlalu sempurna untuk jadi asli. Ia duduk di depan Rick dan meletakkan map baru di atas meja.
Tidak banyak kata.
Tidak ada “bagaimana kabar” atau basa-basi.
Hanya tatapan singkat seolah Violet sedang menilai: kamu masih hidup, berarti kamu belum gagal.
Rick mengangguk, mengambil map, berdiri, lalu keluar kafe tanpa menoleh lagi.
Baru saat ia masuk taksi, pintu menutup, dan London kembali jadi suara kendaraan dan lampu jalan, Rick membuka map itu sedikit—hanya sekilas—hanya untuk memastikan satu hal yang sudah menghantui pikirannya sejak Brussel.
Di sudut lembar pertama, tertulis jelas:
Rank: C
Rick menutup map lagi segera, seolah huruf itu panas.
Rank C.
Berarti naik.
Berarti mereka menganggapnya lebih berguna… atau lebih mudah dipakai.
Rick menatap ke depan, menelan ludah. Lalu, tanpa berpikir terlalu lama, ia memberi instruksi pada sopir.
“Putar,” kata Rick. “Cari tempat penjual mobil bekas.”
Sopir mengangkat alis, tapi uang membuat orang jarang bertanya. Mobil taksi berbelok, memasuki jalan yang lebih sempit, kemudian menuju area pinggiran yang dipenuhi showroom kecil dan deretan kendaraan.
Rick turun di sebuah penjual mobil bekas yang terlihat biasa—bukan dealer mewah, bukan tempat mencolok. Hanya tempat yang menjual kendaraan yang bisa menyatu dengan jalanan tanpa mengundang tatapan.
Ia berjalan di antara mobil-mobil, menilai bukan dari “bagus” atau “keren”, tapi dari sesuatu yang Mercer ajarkan: fungsi dan jejak.
Sebuah mobil yang terlalu mahal mengundang perhatian. Mobil yang terlalu tua sering mogok. Mobil yang terlalu langka mudah dikenali. Rick memilih mobil yang tampak umum, tapi kondisinya layak.
Beberapa menit kemudian, transaksi selesai.
Rick memegang kunci mobilnya sendiri.
Untuk pertama kalinya, ia punya sesuatu yang terasa seperti alat, bukan hanya identitas palsu dan map.
Namun ia belum boleh membawanya pulang.
Rick mengendarai mobil itu menuju area dekat stasiun, lalu menyewa tempat parkir kecil, hanya supaya mobil bisa disimpan. Ia tidak butuh tempat itu untuk gaya. Ia butuh tempat itu untuk rencana.
Karena Rick sudah membaca peta besar yang Mercer dan Maëlle bangun di bawah tanah:
Fox di London.
Kafe di London.
Dan cepat atau lambat, London akan jadi pusat badai.
Rick menatap mobilnya sekali lagi sebelum menutup pintu garasi kecil itu.
“Suatu hari,” gumamnya pelan, “aku butuh ini.”
Di rumah, Rick masuk dengan energi yang tidak biasa. Bahkan Mercer, yang jarang mengangkat alis, meliriknya dua kali.
Rick langsung menuju ruang tamu, tempat Maëlle duduk di kursi roda dekat jendela. Maëlle sedang latihan tangan kecil, gerakan sederhana agar otot kembali patuh. Wajahnya masih pucat, tapi matanya lebih hidup dari minggu lalu.
Mercer berkata bahwa Maëlle sudah bisa berdiri namun tidak bisa lama. Bisa pindah ke tempat tidur sendiri.
Rick berdiri di depan Maëlle seperti anak kecil yang baru dapat mainan mahal.
“Aku beli mobil,” kata Rick, lalu menambahkan dengan gaya berlebihan, “bukan mobil keren banget… tapi cukup buat jadi kendaraan perang.”
Ia membuat gerakan konyol dengan tangan, seolah memakai helm Kamen Rider, lalu berpose. Sama sekali tidak cocok dengan tubuh atletisnya dan jas rapi yang ia pakai.
Mercer mendesah dari jauh. “Kamu ini…”
Tapi Maëlle—
Maëlle tersenyum.
Senyum kecil.
Senyum yang lama hilang.
Rick membeku sebentar, seolah takut senyum itu hilang kalau ia berkedip.
Maëlle mengangkat tangan, lalu mengetuk sandaran kursi roda dengan ritme teratur.
Rick sudah belajar membaca morse dasar selama berbulan-bulan.
Ia menunduk, menghitung ketukan dalam hati, menyusun hurufnya.
“Kamu tampan. Tidak seperti dokter kampungan.”
Rick menatap Maëlle, lalu tertawa kecil, tawa yang bercampur lega.
“Ini pujian atau hinaan?” Rick berbisik.
Maëlle mengangkat alis sedikit, seolah menjawab: dua-duanya.
Rick merasakan dada hangat, perasaan yang sudah lama tidak muncul di hidupnya. Ia ingin memeluk Maëlle, tapi ia menahan. Maëlle masih rapuh, masih sakit kalau dipaksa bicara, dan Rick tahu Maëlle bukan tipe yang suka pelukan mendadak. Yang pasti Rick tahu kalau dia sudah makin sehat. Gerakannya sudah tidak kaku lagi.
Jadi ia hanya berdiri lebih dekat dan berkata pelan, “Makasih.”
Maëlle menatapnya lama, lalu mengangguk kecil.
Malam itu, Rick masuk ke kamar dan akhirnya membuka map rank C dengan penuh.
Target kali ini bukan pria tua rentenir.
Targetnya wanita.
Nama:
Martina Celeste
Usia: awal 30-an
Kebangsaan: Spanyol
Catatan wajah: “mirip Italia”, tulang pipi tegas, mata tajam, kecantikan yang tidak lembut
Batas waktu: 10 hari
Pekerjaan: pemilik Celeste Café
Rick membaca pelan, mengulang detailnya berkali-kali. Ia menandai kebiasaan, lokasi, jam-jam yang tercantum. Tangannya tidak gemetar. Tapi ada ketegangan yang baru: rank C berarti targetnya bukan “kotoran kecil” lagi. Rank C berarti orang ini punya nilai.
Dan kalau pemilik kafe… Rick langsung merasakan keterkaitannya dengan jaringan.
Kafe bisa jadi tempat transaksi. Kafe bisa jadi titik kontak. Kafe bisa jadi mata rantai.
Rick menutup map, memandang langit-langit kamar.
“Celeste Café…” gumamnya. Nama itu terdengar cantik, tapi Rick sudah belajar: nama cantik sering menyembunyikan hal paling gelap.
Keesokan paginya, Rick bersiap pergi.
Ia mengecek paspor palsu, uang, identitas, dan rute. Maëlle tidak punya apartemen di Spanyol, Mercer sudah memastikan itu, berarti Rick harus benar-benar “hidup di luar pagar” kali ini.
Di ruang tamu, Maëlle menunggu. Mercer berdiri di dekat dapur, memantau seperti biasa.
Rick berjongkok sedikit di depan Maëlle. “Aku pergi.”
Maëlle menatap Rick lama, lalu mengetuk morse dengan ritme pelan, bukan tergesa, seolah ia memilih kata yang penting.
Rick membaca.
“Hati-hati. Jangan percaya orang ramah. Jangan berdiri lama di tempat terang. Selalu punya dua jalan pulang.”
Rick menelan ludah, mengangguk. “Oke.”
Maëlle menatapnya lagi, lalu mengetuk satu kalimat pendek tambahan, lebih pelan.
Rick membaca dan dadanya menghangat:
“Kamu sudah bukan beban.”
Rick ingin memeluk sekarang juga.
Tapi ia menahan lagi. Ia hanya menunduk, berkata pelan, “Aku akan pulang.”
Maëlle mengangguk.
Rick berdiri, mengambil tasnya, dan melangkah keluar rumah.
Di luar, ladang tampak damai. Tapi Rick tahu, damai itu hanya latar.
Di dalam tasnya, ada map rank C.
Di depan, ada Spanyol.
Dan di sana, ada Martina Celeste, seorang wanita yang mungkin bukan sekadar target, melainkan pintu menuju sesuatu yang lebih besar.
Rick menghela napas panjang.
Sekarang ia benar-benar “Paper.”
Dan Paper baru saja naik kelas.