Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34 Izinkan Aku Menghalalkanmu
Happy reading
Dalam keadaan genting itu, Janu meminta Hasan--sopir pribadinya, untuk segera memacu kendaraan menuju Rumah Sakit Adiwangsa.
Sepanjang perjalanan, Janu terus mendekap Gistara, menenangkan istrinya sembari membimbingnya melangitkan pinta pada Ilahi.
Sementara itu, Rama hanya terdiam, namun benaknya merapalkan doa ratusan kali. Ia berharap Allah berkenan mengijabahi dan menyentuhkan kasih-Nya untuk gadis yang telah ia tasbihkan sebagai calon pendamping hidup.
Setibanya di rumah sakit, Rama kembali membantu Janu memapah Gistara. Tak ada penolakan dari wanita yang biasanya terlalu mengagungkan kasta itu; ia membiarkan Rama menyangga tubuhnya yang lunglai agar tidak limbung.
"Chayra..." panggil Janu saat berpapasan dengan kerabatnya yang berprofesi sebagai dokter di Rumah Sakit Adiwangsa.
"Om Janu? Tante Gistara?" balas Chayra. Rekahan senyumnya seketika memudar saat menyadari raut kalut di wajah mereka. Tatapannya sempat tertahan sejenak pada sosok pemuda asing yang menyertai kerabatnya.
"Rama," sahut Janu cepat, seolah mengerti arti tatapan Chayra.
"Ah, iya. Om dan Tante pasti ingin mengetahui keadaan Hawa?"
"Iya. Kamu tahu kondisi putri Om sekarang?" tanya Janu penuh harap.
Chayra mengangguk pelan, mencoba memberikan ketenangan. "Kami baru saja selesai melakukan tindakan operasi untuk menangani hematoma--ada sedikit penggumpalan darah di bagian kepalanya. Saat ini Hawa sudah berada di Recovery Room atau ruang pulih sadar. Kami masih terus mengobservasi kondisinya sampai pengaruh anestesi benar-benar hilang."
Janu sedikit bernapas lega mendengarnya. Namun, tidak dengan Gistara dan Rama; kecemasan mereka belum akan surut sebelum melihat Hawa dengan mata kepala sendiri.
"Mari, saya antar untuk melihat kondisi Hawa," tawar Chayra tulus. Ia kemudian memandu Janu, Gistara, dan Rama menyusuri koridor menuju ruangan yang terletak persis di samping ruang operasi.
Chayra mempersilakan Janu dan Gistara masuk ke dalam Recovery Room setelah memberikan beberapa petuah singkat.
Jantung Rama berdenyut ngilu saat menatap gadis yang ia cintai terbaring lemah. Hawa memejamkan mata dengan berbagai peralatan medis dan kabel monitor yang menempel di tubuhnya--pemandangan yang sama sekali tak pernah Rama bayangkan sebelumnya.
"Hawa, lekaslah bangun. Bukalah matamu..." bisik Rama lirih. Jemarinya perlahan mengusap panel kaca yang menjadi penyekat antara dirinya dan Hawa, seolah melalui perantara itu, ia bisa menyalurkan seluruh kekuatan dan doanya.
Tubuh Gistara bergetar hebat saat menyaksikan keadaan Hawa dari jarak yang teramat dekat. Air matanya tak lagi sanggup dibendung, mengalir deras membanjiri pipi yang kini memucat.
Rasa sesal memenuhi rongga dadanya, menciptakan sesak yang menyiksa.
Penyesalan itu seolah meluruhkan tumpukan keangkuhan yang selama ini ia jaga, menyadarkannya bahwa egonya mungkin menjadi andil dalam kemalangan sang putri.
"Hawa, maafkan Bunda, Sayang. Tidak seharusnya Bunda menyuruhmu pergi saat hatimu mungkin tak rida. Maafkan Bunda yang terlalu memaksakan kehendak..." Gistara tergugu. Ia meraih jemari dingin Hawa, lalu melabuhkan kecupan dalam sebagai wujud permohonan ampun yang tulus.
Bisik batin menuntun Gistara untuk melayangkan pandangan ke arah jendela kaca.
Di sana, tersuguh pemandangan yang membuat hatinya tersentil. Rama, pemuda yang teramat ia benci itu tampak bergeming.
Tatapan mata Rama menyendu, tak lepas dari sosok Hawa. Wajahnya terbingkai sisa air mata duka yang tak mampu disembunyikan--memperlihatkan sebuah ketulusan cinta yang murni, bukan sekadar kepura-puraan di depan mata.
Janu kian mengikis jarak, lalu merangkul bahu Gistara yang masih terguncang hebat. Ia membiarkan istrinya bersandar sejenak, menyalurkan kekuatan yang tersisa melalui dekapan hangat seorang suami.
"Sudah, Bun. Menangis boleh, tapi jangan sampai merutuki takdir," bisik Janu lembut, suaranya mengalun rendah menenangkan. "Hawa sedang berjuang, dan tugas kita sekarang adalah menguatkannya dengan doa, bukan dengan penyesalan yang berlebihan."
Janu menjeda kalimatnya, mengikuti arah pandang Gistara yang masih tertuju pada Rama di balik kaca.
"Lihatlah pemuda itu," lanjut Janu pelan. "Di saat dunianya sendiri mungkin sedang hancur melihat Hawa seperti ini, dia tetap berdiri tegak untuk mendoakannya. Ketulusan tidak bisa direkayasa, Bun. Kadang, Allah menunjukkan kemuliaan seseorang bukan dari hartanya, tapi dari caranya memperlakukan orang yang ia cintai di titik terendah."
Gistara terdiam. Nasihat Janu terasa seperti sembilu yang menyayat sisa-sisa egonya, namun sekaligus menjadi penawar bagi kegelisahan hatinya.
Ia perlahan menyeka sisa air mata dengan jemari yang masih bergetar. Lantas menoleh ke arah Janu, menatap suaminya itu dengan tatapan dalam sebelum memberikan isyarat kecil melalui anggukan kepala ke arah jendela kaca.
Janu yang memahami maksud sang istri, segera melangkah menuju pintu dan membukanya sedikit. Ia melambai pelan, memanggil Rama untuk mendekat.
"Masuklah, Ram. Temani Hawa sebentar," bisik Janu dengan suara yang meneduhkan.
Rama sejenak terpaku. Keraguan sempat melintas di wajahnya, namun saat matanya beradu dengan tatapan Gistara yang kini tak lagi menghujam tajam, ia segera melangkah masuk dengan penuh takzim.
Setibanya di sisi ranjang, Rama berdiri mematung. Di sana, Gistara masih menggenggam tangan kiri Hawa, sementara tangan kanannya terbebas.
"Duduklah di sini," ujar Gistara lirih, suaranya parau. Ia bergeser sedikit, memberikan ruang bagi Rama untuk berada sedekat mungkin dengan putrinya. "Hawa... dia mungkin ingin mendengar suaramu."
Rama duduk perlahan di kursi yang telah dikosongkan Gistara. Dengan gemetar yang tak bisa disembunyikan, ia memberanikan diri menyentuh ujung jemari Hawa yang terasa dingin. Sentuhan Rama seolah menjadi jembatan yang menarik Hawa kembali dari alam bawah sadarnya.
Jemari Hawa yang dingin perlahan bergerak, memberikan tekanan lembut sebagai balasan atas genggaman tangan Rama.
Seketika, kelopak mata gadis itu bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan. Cahaya lampu ruangan yang benderang membuatnya mengerjap beberapa kali.
"Hawa... ini aku, Rama," bisik Rama lembut, binar syukur terpancar jelas dari matanya yang masih basah. "Aku di sini. Ayah, Bunda, dan semua orang menunggumu kembali."
Gistara tak lagi mampu membendung gejolak di dadanya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Hawa, membiarkan air matanya jatuh membasahi sprei rumah sakit yang putih bersih.
"Hawa... maafkan Bunda, Sayang," bisik Gistara parau, suaranya bergetar hebat. "Bunda janji... Bunda tidak akan lagi memaksakan kehendak. Bunda tidak ingin kehilangan permatanya Bunda."
Gistara lalu mengangkat pandangannya, menatap Rama yang duduk di sisi ranjang. "Rama... tolong jaga Hawa. Bunda merestui kalian. Bunda sadar, kebahagiaan Hawa tidak terletak pada kasta yang Bunda agungkan, melainkan pada ketulusan yang kamu tunjukkan hari ini."
Hawa yang masih lemah, perlahan mengeratkan genggamannya pada jemari Rama. Matanya yang sayu kini memancarkan binar kelegaan yang luar biasa.
Rama mencondongkan tubuhnya, berbisik lirih tepat di telinga Hawa--suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua dan diamini oleh semesta.
"Izinkan aku menghalalkanmu, Hawa. Agar aku bisa selalu berada di sisimu tanpa ada lagi sekat yang harus kita jaga," ucap Rama dengan getaran tulus.
Hawa tak mampu menjawab dengan untaian kata. Lidahnya serasa kelu, bibirnya seolah terkunci rapat. Namun, binar di matanya yang mulai basah oleh air mata bahagia sudah cukup menjadi jawaban. Ia merespons dengan anggukan lemah namun mantap--sebuah isyarat bahwa ia siap melangkah menuju rida-Nya bersama lelaki yang selama ini ia sebut dalam doa.
🍁🍁🍁
Bersambung
aku vote deh..