NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Satu hari lagi,

Angka di cermin masih menunjukkan 2 ketika Arcelia bangun pagi itu. Ia berdiri lama di depannya.

“Aku tidak akan membiarkanmu masuk,” katanya pelan.

Bayangannya tersenyum tipis, “Kamu sudah membiarkanku tinggal.”

Arcelia mengepalkan tangan, “Kalau dulu aku membuka pintu… sekarang aku akan menutupnya.”

Cermin bergetar halus. Retakan bertambah satu garis tipis.

Di ruang makan,

Suasana tampak lebih normal dari yang sebenarnya. Elvarin sibuk membicarakan kue ulang tahunnya.

“Aku pilih cokelat ya! Yang ada lapisan ganache,” katanya semangat.

Bang Kaiven tersenyum tipis, berusaha menjaga suasana. Papa Alveron duduk lebih tenang dari biasanya.

“Papa sudah atur keamanan tambahan besok,” ujarnya santai. “Acara kecil saja ya Dek. Hanya keluarga dan beberapa teman dekat.”

Elvarin mengangguk, tidak menyadari betapa seriusnya kalimat itu.

Arcelia menatap Papanya.

Ada sesuatu dalam tatapan Papa Alveron yang mengatakan, ia juga sedang menghitung mundur.

Di kantor pusat,

Serangan terakhir datang menjelang siang. Saham turun drastis setelah rumor baru muncul di media sosial.

Bang Kaiven menatap layar dengan rahang tegang.

“Mereka sengaja bikin kepanikan massal.”

Eveline yang selama ini setia membantu Papa Alveron berdiri di sisi meja.

“Pak, kita bisa lakukan konferensi pers untuk menenangkan pasar.”

Papa Alveron mengangguk pelan, “Tapi tidak hari ini.”

Semua menoleh.

“Kita tahan. Biarkan saja mereka pikir kita panik.”

Ia berdiri.

“Kadang, lawan membuat kesalahan saat merasa hampir menang.”

Bang Kaiven menatap Papanya dengan rasa hormat yang semakin dalam.

Sore menjelang malam,

Di sekolah,

Kaelion menghentikan Arcelia sebelum ia pulang.

“Kamu nggak sendirian besok,” katanya tegas.

Arcelia menatapnya. “Aku nggak mau kamu ikut terlibat.”

“Aku sudah terlibat sejak pertama kamu cerita.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

“Apa pun yang terjadi malam itu,” lanjut Kaelion, “kita hadapi.”

Arcelia mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian menghadapi bayangan itu.

Malam hari,

Angka di cermin berubah.

1

Udara di kamar Arcelia terasa jauh lebih dingin.

Bayangannya kini berdiri lebih dekat, seolah hanya selapis kaca yang memisahkan mereka.

“Besok,” suara itu berbisik.

“Apa yang akan terjadi besok?” tanya Arcelia, suaranya tidak lagi gemetar seperti sebelumnya.

“Keseimbangan.”

“Keseimbangan apa?”

“Kehilangan dan kelahiran.”

Cermin bergetar lebih kuat.

Retakan melebar seperti garis petir.

Arcelia menatap pantulan dirinya kecil di belakang bayangan itu.

Anak kecil itu tampak sedih.

“Aku cuma mau kamu punya teman,” bisik Arcelia versi kecil dirinya.

Air mata kembali jatuh.

“Aku nggak butuh teman seperti ini,” jawab Arcelia pelan.

Bayangan itu tersenyum lebih lebar.

“Kamu tidak memilih lagi.”

Lampu kamar mati mendadak.

Gelap total.

Dalam gelap itu, Arcelia merasakan sesuatu menyentuh ujung jarinya dari balik kaca.

Dingin.

Nyaris nyata. Ia menarik tangannya cepat. Lampu menyala kembali.

Angka 1 masih di sana.

Tapi kini ada satu kata di bawahnya.

Ambang...

Di sisi lain kota,

Wanita bergaun hitam berdiri di depan jendela tinggi.

“Besok malam,” katanya pada seseorang di belakangnya.

“Semua akan jatuh bersamaan.”

Seseorang bertanya, “Dan kalau dia tetap bertahan?”

Ia tersenyum samar.

“Tidak ada yang bertahan, jika ketika fondasinya retak.”

Namun saat ia berbalik, untuk sepersekian detik.... Ia merasa ada sesuatu berdiri di sudut ruangan.

Tinggi.

Gelap.

Mengawasinya.

Ia mengerutkan dahi. Ruangan kosong.

Ia menggeleng pelan.

“Imagination,” gumamnya.

Tanpa sadar, ia juga telah memasuki permainan yang tidak sepenuhnya ia kendalikan.

Di rumah,

Papa Alveron duduk di ruang kerja pribadinya. Ia membuka laci dan mengeluarkan foto lama.

Foto Arcelia kecil.

Di depan rumah lama mereka.

Di depan cermin besar di ruang tamu.

Wajah Papa Alveron mengeras.

Ia ingat malam itu,

Malam ketika listrik padam berjam-jam. Malam ketika Arcelia menangis histeris tanpa sebab.

Dan malam ketika istrinya berkata,

“Dia seperti berbicara pada seseorang.”

Papa Alveron menutup foto itu perlahan.

“Kalau ini tentang masa lalu,” gumamnya, “aku tidak akan membiarkannya menyentuh anakku lagi.”

Di kamar Arcelia,

Ia duduk bersandar pada pintu. Besok malam adalah ulang tahun Elvarin... Dan angka akan menjadi nol. Ia menatap cermin untuk terakhir kalinya sebelum mencoba tidur.

Angka 1 berdenyut pelan.

Seperti detak jantung.

Dan dalam keheningan itu, Suara terakhir terdengar.

“Bersiaplah untuk membuka sepenuhnya.”

Arcelia memejamkan mata.

“Tidak,” bisiknya.

Keesokan harinya,

Semuanya akan diuji.

Bisnis.

Keluarga.

Dan pintu yang pernah ia buka, Arcelia tidak tidur malam itu.

Ia duduk bersandar pada dinding, menatap angka 1 di cermin yang berpendar redup seperti bara api yang hampir padam.

Jam dinding berdetak pelan.

Tik

Tok

Setiap detiknya terasa seperti langkah menuju sesuatu yang tak bisa ia hindari.

Tiba-tiba, Angka itu bergetar.

Bukan berubah.

Hanya… bergetar. Dan retakan di sudut cermin merambat lebih panjang, membentuk pola seperti akar pohon yang menyebar.

Arcelia berdiri perlahan, “Kamu tidak akan mengambil apa pun dariku,” ucapnya tegas.

Bayangan itu tidak lagi tersenyum. Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat… marah.

“Kamu sudah berjanji.”

“Aku masih kecil!”

“Tetap saja itu janji.”

Kaca bergetar lebih keras. Angin dingin menyapu kamar meski jendela tertutup.

Arcelia teringat sesuatu.

Kalimat yang pernah ia ucapkan waktu kecil.

“Aku ingin seseorang yang selalu bersamaku… apa pun yang terjadi.”

Tangannya mengepal, “Aku akan mencabutnya,” katanya pelan. “Aku juga akan membatalkannya.”

Hening.

Beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Lalu,

Bayangan itu tertawa kecil.

“Kamu pikir pintu bekerja seperti itu?”

Lampu berkedip. Dan angka 1 perlahan memudar. Bukan menjadi nol.... Tapi menghilang sepenuhnya. Cermin kini hanya menunjukkan retakan.

Tanpa angka.

Tanpa kata.

Kosong.

Dan justru itu yang lebih menakutkan.

Pagi hari di ulang tahun Elvarin.

Langit cerah, kontras dengan ketegangan yang menyelimuti rumah itu. Balon biru tua mulai dipasang di ruang keluarga. Dekorasi sederhana. Meja kecil untuk kue.

Elvarin tampak sangat bahagia, “Kak Lia, bantu aku pasang pita ini dong!” katanya riang.

Arcelia memaksakan senyum.

Ia memperhatikan setiap sudut rumah dengan waspada. Tidak ada angka di cermin pagi itu.

Tidak ada suara.

Terlalu tenang.

Di kantor pusat,

Konferensi pers mendadak digelar oleh pesaing bisnis Virellia Group. Rumor tambahan disebarkan dan saham turun lagi.

Bang Kaiven berdiri di belakang Papa Alveron yang menonton siaran itu lewat layar.

“Mereka sengaja memilih hari ini,” gumam Bang Kaiven.

Papa Alveron mengangguk. “Karena mereka pikir Papa akan fokus ke rumah.”

Ia mematikan layar.

“Mereka salah.”

Ia mengambil jasnya.

“Tapi malam ini Papa tetap pulang tepat waktu.”

Sore menjelang malam,

Beberapa teman dekat Elvarin datang. Suasana rumah dipenuhi tawa. Untuk beberapa jam, semuanya terlihat normal, seperti tidak ada masalah sama sekali.

Arcelia berdiri di dekat tangga, memperhatikan. Kaelion datang membawa hadiah kecil.

Tatapan mereka bertemu.

“Masih ada?” tanyanya pelan.

Arcelia menggeleng. “Itu yang bikin aku takut.”

Jam menunjukkan pukul 20.59.

Lima menit sebelum tiup lilin.

Lampu rumah tiba-tiba redup.

Beberapa tamu kecil berseru kaget.

“Listriknya kenapa?” tanya Elvarin bingung.

Papa Alveron berdiri cepat. “Tenang semuanya. Mungkin cuma turun daya.”

Namun Arcelia tahu. Ini bukan soal listrik. Udara yang mulai berubah.

Lebih dingin.

Lebih berat.

Cermin besar di ruang keluarga, yang jarang diperhatikan siapa pun. Mulai bergetar pelan. Retakan yang sebelumnya tidak ada, kini muncul perlahan dari sudut bawah.

Arcelia menoleh.

Di permukaan kaca itu,

Angka muncul.

0

Lampu padam total.

Gelap.

Teriakan kecil terdengar dari beberapa anak. Dan di tengah kegelapan itu, sebuah suara bergema. Bukan hanya di telinga Arcelia. Tapi di seluruh ruangan.

“Janji harus ditepati.”

Arcelia melangkah maju dalam gelap.

“Tidak akan!” teriaknya.

Seketika, lampu kembali menyala. Semua tamu terdiam.

Beberapa anak mulai menangis.

Elvarin berdiri di depan kue ulang tahunnya, wajahnya pucat. “Kak…” bisiknya.

Cermin di ruang keluarga retak lebih dalam. Dan di dalam pantulannya, hanya Arcelia yang melihatnya.

Sosok tinggi tanpa wajah kini berdiri tepat di belakang Elvarin. Tangannya hampir menyentuh bahu adiknya. Waktu terasa melambat.

“Jangan sentuh dia!” Arcelia berteriak.

Semua orang menoleh padanya. Tapi tak seorang pun melihat apa yang ia lihat.

Papa Alveron bergerak cepat ke arah anak-anaknya.

“Apa yang terjadi Sayang?”

Arcelia menunjuk ke cermin.

“Di sana Pa!”

Semua mata mengikuti arah tangannya. Cermin itu tiba-tiba,,,

Pecah.

Suara kaca hancur menggema di seluruh ruangan. Tamu-tamu berteriak. Potongan kaca jatuh berserakan. Dan ketika debu kaca mereda, sosok itu tidak lagi hanya ada di pantulan. Bayangan tinggi itu berdiri di sudut ruangan.

Nyata

Namun samar

Udara di sekitarnya bergetar.

Papa Alveron berdiri di depan anak-anaknya secara refleks.

Melindungi.

Sosok itu menoleh perlahan ke arah Arcelia.

“Kamu yang memanggilku.”

Arcelia berdiri gemetar.

“Aku juga bisa mengusirmu.”

Sosok itu mendekat satu langkah. Retakan di lantai kayu muncul tepat di bawahnya. Malam ulang tahun berubah menjadi malam kebangkitan.

Dan kini,,,, Permainan tidak lagi tersembunyi.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!