Elang Erlangga, pewaris mafia paling berkuasa di Tiongkok, tumbuh dengan kebencian mendalam terhadap ibunya yang dianggap telah meninggalkannya sejak kecil. Demi menemukan sang ibu dan mendapatkan jawaban atas masa lalunya, Elang pergi ke Yogyakarta, satu-satunya petunjuk yang dimilikinya.
Namun pencarian itu justru membawanya pada kenyataan yang mengejutkan. Semua yang selama ini ia yakini ternyata hanyalah kebohongan.
Di tengah pencariannya, Elang diselamatkan oleh Meisya Azkia Rahma, gadis desa berjilbab yang hangat, sederhana, dan pemberani. Kehadiran Meisya perlahan mengubah hidup Elang yang selama ini dipenuhi kegelapan.
Sayangnya, Meisya telah memiliki seseorang yang dicintainya.
Rasa terimakasih dan ingin membalas budi, perasaan kagum yang berubah menjadi obsesi. Ia rela melakukan apa saja untuk memiliki gadis yang telah menyelamatkan hidupnya itu.
Ketika cinta berubah menjadi obsesi, mampukah Meisya mempertahankan kebebasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Mansion mewah ini hanya menawarkan kemewahan dan ke indahan semu. Nyatanya mansion yang begitu besar dan megah ini terasa sangat sepi bagi Meisya. Apalagi menghilang nya sosok yang selalu mengawasi nya setiap detik. Seolah dia adalah tawanan yang harus selalu di pantau.
Tapi kini berbeda. Sisok itu sudah beberapa hari tidak kembali. Semenjak insiden dirinya yang mencoba kabur dan berakhir hampir di mangsa singa. Sisok itu tak lagi muncul mengusik ketenangan nya. Tapi, mengapa ada yang terasa kosong dalam hati nya. Seolah ada bagian yang di ambil paksa dari dirinya.
Perkataan Nilam terakhir kali, terus terngiang-ngiang di dalam benaknya. Nilam berkata kala itu. "Elang begitu mencintai mu Meisya, tapi caranya salah, dalam mencintai mu. Dia hanya tidak tau cara mengungkapkan perasaannya saja. Dia tumbuh tanpa adanya kasih sayang dan cinta. Sehingga membuat nya tidak mengerti, bagaimana seharusnya dia bertindak, ketika Cinta itu datang menghampiri nya. Pergilah Meisya ! jika kau memang tak ada rasa pada Elang. Dia sedang belajar melepas mu, dia akan sembuh dengan berjalannya waktu!" Kata Nilam di hari itu.
Meisya meyakinkan dirinya sendiri bahwa seharusnya dia senang, sebentar lagi dia bebas.Tapi, entah lah ada sesuatu yang aneh, yang tidak dia pahami dan jelaskan.
*
*
*
Sedangkan di tempat lain, Elang sedang fokus membidik papan target, Dor! Peluru melesat tepat pada sasaran. Elang terus mengulangi hal tersebut hingga beberapa kali .
Elang masih belum puas setelah berlatih tembakan, ia kini sudah melangkah mendekati samsak tinju, ia segera memasang hand warps, lalu gloves (sarung tinju) Elang segera melakukan ancang-ancang. Elang berdiri dengan kaki selebar bahu, kaki sedikit di tekuk. Lalu melangkah maju, mundur sambil meninju samsak berulang kali, semakin lama semakin keras dan cepat.
Tubuh Elang sudah basah bermandikan keringat, tangan nya pun sudah terasa kebas, namun ia terus melakukan nya hingga kelelahan. Elang berbaring di area latihan, menutup matanya dengan lengan tangan nya. Nafasnya memburu, detak jantung nya meningkat. Namun tetap tidak mampu membuat hati Elang terasa nyaman.
Elang memilih tak pulang ke mansion milik nya mau pun mansion sang Daddy. Dia memilih menginap di basecamp berhari-hari. Melampiaskan amarahnya pada para tahanan di ruang bawah tanah. Hidup Elang terasa kacau. Cahaya yang hampir terlihat kini sudah redup lagi. Dan kembali hitam seperti semula.
*
*
Meisya memandang ponsel yang Elang berikan, yang di dalamnya hanya ada kontak nomor Elang saja. Ia pandang deretan angka itu lumayan lama. Namun belum ada juga pergerakan untuk menekan tombol panggilan.
Meisya menghela nafas berat. Harus kah dia menghubungi Elang, sedang kan esok dia sudah akan kembali ke Indonesia. Mungkin mereka sudah tak akan mungkin bertemu kembali.
Akhirnya Meisya menurunkan egonya, dia memberanikan diri untuk menghubungi Elang terlebih dahulu. Selama disini, dia tidak pernah menghubungi Elang terlebih dulu, biasanya Elang lah yang menghubungi nya, hampir sepanjang hari. Tapi kini, semuanya sepi senyap.
"Halo.. , ada apa Meisya ?" Tanya nya datar, dan dingin, suaranya berubah, tak selembut dan se-ramah yang selama ini Meisya dengar.
"Em.. Apa kau tak akan pulang hingga esok? Tanya nya ragu. Meisya sendiri tak paham, sebenarnya apa mau dirinya. Padahal dirinya sendiri yang berusaha keras untuk bisa lepas dari Elang. Namun ketika Elang sudah berusaha melepaskan nya, dia malah seolah tak rela.
"Ya, aku tak mungkin pulang, sampai kau benar-benar pergi. Aku tak mungkin sanggup, melihat kepergian mu. Meisya untuk yang pertama dan terakhir nya. Aku Elang Erlangga benar-benar telah jatuh cinta padamu. Tapi kali ini, aku belajar untuk melepaskan mu. Berbahagialah, jangan kembali pada pria busuk seperti Dwika!"
Deg
di dalam jantung Meisya ada getaran yang Meisya sendiri tak paham. namun ada rasa sedih yang tiba-tiba muncul. Semua ini rasa yang asing baginya. namun Meisya juga tak mampu, untuk berkata-kata.
Sinting, ayahnya sndiri yg menjadikan anaknya hewan buas😡
sahabat nya sendiri?
seketika teringat Maya dan mulan Jameela😑