Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Dengan wajah pucat, tangan gemetar, dan jantung berdegup sangat kencang hingga terasa sakit, Kanaya berlari secepat mungkin menuju meja informasi yang berada di lantai dasar pusat perbelanjaan itu. Napasnya sudah tersengal-sengal, tetapi rasa lelah sama sekali tidak ia pedulikan. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya satu, menemukan Abinaya dan Anaya.
Beberapa menit yang lalu Kanya masih duduk tenang di sebuah kafe sambil berdiskusi dengan klien yang memesan katering untuk acara ulang tahun pernikahan seorang pengusaha terkenal di kota itu. Pertemuan tersebut sangat penting karena nilai kontraknya mencapai ratusan juta rupiah dan akan menjadi proyek terbesar bagi usaha katering yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Saat itu Abinaya dan Anaya duduk tidak jauh darinya. Kedua anak kembarnya sedang bermain tablet sambil menikmati es krim. Kanaya bahkan beberapa kali menoleh memastikan mereka baik-baik saja.
Namun, ketika pembicaraan dengan klien berlangsung semakin serius, Kanaya kehilangan perhatian kepada dua anaknya. Begitu pembicaraan selesai, ketika menoleh kedua kursi itu kosong. Abinaya dan Anaya menghilang.
Awalnya Kanaya mengira kedua anaknya pergi ke toilet. Dia langsung meninggalkan meja pertemuan itu mencari ke seluruh area sekitar kafe, tidak ada. Pergi memeriksa toilet pun tidak ada. Semakin lama, rasa takut semakin mencekiknya.
"Ya Allah, di mana anak-anaknya?" bisik Kanaya dengan suara bergetar.
Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan. Bagaimana kalau mereka diculik? Bagaimana kalau mereka keluar terjadi sesuatu kepada anak-anaknya? Tubuh Kanaya semakin lemas memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengerikan itu.
Sesampainya di meja informasi, Kanaya yang terlihat panik dengan wajah pucat dan ketakutan, menghampiri petugas. "Mbak, tolong saya!"
Petugas itu langsung berdiri. "Ada apa, Bu?"
"Anak kembar saya hilang."
Wajah petugas langsung berubah serius. "Sejak kapan?"
"Kurang lebih tiga puluh menit yang lalu."
"Berapa usia anak Ibu?"
"Mereka kembar. Usianya lima tahun."
"Nama mereka?"
"Abinaya dan Anaya."
Setiap bicara suara Kanaya bergetar. Air mata bahkan sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Mohon bantu saya mencari mereka."
"Tentu, Bu. Tenang dulu."
Bagaimana mungkin Kanaya bisa tenang? Dua anak yang menjadi alasan hidupnya menghilang tanpa jejak.
Sementara itu di lantai yang sama, beberapa toko dari lokasi Kanaya berada. Abinaya dan Anaya sedang berdiri di dalam sebuah toko perhiasan mewah. Lampu-lampu kristal memantulkan kilauan emas dan berlian yang tersusun rapi di dalam etalase kaca.
Anaya menempelkan kedua telapak tangannya ke kaca. "Kak, yang itu cantik."
Abinaya ikut melihat. Sebuah cincin berlian sederhana namun elegan terpajang di bagian tengah etalase.
"Menurutku Bunda pasti suka." Anaya bicara dengan penuh semangat.
"Iya. Bunda suka yang sederhana," balas Abinaya.
Seorang pegawai toko yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya menghampiri.
Senyumnya terlihat kaku.
"Adik-adik, orang tuanya mana?"
Abinaya menoleh. "Bunda lagi sibuk sama kliennya."
Pegawai itu mengernyit. "Kalian di sini sendirian?"
"Tidak. Kita berdua," balas Abinaya sambil merangkul Anaya.
Pegawai itu saling pandang dengan rekannya.
Tatapan mereka berubah, dari ramah menjadi meragukan.
"Adik-adik tersesat ya?" tanya pegawai toko itu lagi.
Anaya langsung menggeleng. "Kami tidak tersesat."
"Lalu sedang apa di sini?"
"Mau beli cincin."
Jawaban polos itu justru membuat beberapa pegawai tertawa kecil. "Mau beli cincin?"
"Iya," jawab Abinaya dan Ayana kompak.
"Harganya mahal loh, Dik."
Abinaya tetap tenang. "Kami tahu."
Salah satu pegawai laki-laki bahkan sampai tersenyum mengejek. "Kalau yang ini harganya hampir seratus juta."
Anaya mengangguk polos. "Pantas bagus sekali!"
Mereka kembali tertawa. Dalam pikiran mereka, kedua anak itu pasti hanya sedang bermain-main. Mana mungkin anak sekecil itu membeli cincin berlian. Apalagi yang nilainya puluhan juta.
Abinaya mulai kesal. "Kami serius mau beli!"
Pegawai wanita itu berjongkok. "Baiklah. Kalau serius, bayar pakai apa?"
Abinaya mengeluarkan dompet kecil dari tas selempangnya. Lalu mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna hitam.
Seketika suasana berubah hening. Pegawai itu mengerjap. Kartu premium seperti itu bukan sembarang kartu. Biasanya hanya dimiliki nasabah dengan saldo yang sangat besar.
"Apa ini milik ayahmu?" tanya pegawai itu terkejut.
"Bukan," jawab Abinaya.
"Milik siapa?"
"Milikku."
Mereka jelas tidak percaya. Namun karena penasaran, salah satu pegawai membawa kartu itu ke mesin pengecekan.
Beberapa menit kemudian, mata pegawai tersebut langsung membelalak. Wajahnya berubah pucat.
"Ya, Tuhan!"
"Ada apa?" bisik rekannya.
Pegawai itu menelan ludah. "Saldo rekeningnya ...."
"Kenapa?"
"Miliaran."
"Apa?!"
Kini seluruh pegawai memandang kedua anak kembar itu dengan tatapan berbeda. Tidak ada lagi senyum meremehkan, apalagi tawa mengejek. Yang ada hanya rasa terkejut.
Mereka langsung menyimpulkan satu hal. Anak-anak ini pasti berasal dari keluarga konglomerat.
Pelayanan mereka berubah seratus delapan puluh derajat. "Silakan duduk, Adik."
"Mau minum?"
"Mau lihat koleksi lainnya juga?" Pegawai itu tersenyum manis.
Anaya menatap Abinaya bingung. "Kok, mereka baik sekarang?"
Abinaya mengangkat bahu. "Tidak tahu."
Di sudut lain toko, seorang wanita paruh baya yang sedang memilih kalung berlian memperhatikan semuanya sejak tadi. Wanita itu berusia sekitar enam puluh tahun. Penampilannya elegan dan tatapannya tajam juga berwibawa.
Dialah Bu Winda. Seorang wanita karier sukses yang memiliki perusahaan besar di ibukota.
Awalnya Bu Winda tertarik karena melihat keberanian kedua anak itu. Namun, semakin lama memperhatikan mereka, semakin besar rasa kagumnya. Kedua anak itu berbicara dengan sopan. Penuh percaya diri dan cerdas. Jelas terlihat memiliki pendidikan yang baik.
Bu Winda tersenyum tipis. Ada sesuatu yang mengingatkannya pada masa lalu. Masa ketika kedua anaknya masih kecil, Arkana dan Aruna.
Wanita itu akhirnya berjalan mendekati mereka. "Boleh Oma duduk di sini?"
Anaya tersenyum manis. "Boleh."
Sementara Abinaya memasang wajah waspada. Karena tiba-tiba saja ada orang asing yang menghampiri.
Bu Winda duduk di depan mereka. Matanya penuh kehangatan. "Untuk siapa cincinnya?"
"Bunda," jawab Anaya cepat. "Besok ulang tahun Mama."
Bu Winda tersenyum. "Oh, ya?"
"Iya. Bunda selalu kerja keras buat kami. Jadi, kami mau kasih hadiah."
Mendengar itu, hati Bu Winda tiba-tiba terasa hangat. Di zaman sekarang, jarang sekali melihat anak-anak seusia mereka memikirkan kebahagiaan orang tuanya.
"Melihat kalian, Oma jadi teringat anak-anak Oma saat masih kecil."
Anaya tersenyum malu. Sementara Abinaya tetap duduk tenang walau tidak menurunkan kewaspadaannya.
"Kalau boleh tahu, siapa orang tua kalian?" lanjut Bu Winda dengan penuh rasa penasaran.
Abinaya dan Anaya saling berpandangan. Lalu, wajah keduanya perlahan berubah. Senyum mereka menghilang.
Anaya menundukkan kepala. Sedangkan Abinaya terlihat terdiam beberapa saat.
Perubahan ekspresi itu membuat Bu Winda heran. "Ada apa?"
Anaya menggenggam tangan kakaknya. Suara kecilnya terdengar lirih. "Kami cuma punya Bunda."
Bu Winda terdiam. Entah mengapa dadanya tiba-tiba terasa sesak.