Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Orang Satu Kasur dan Operasi Penyelamatan Juna
Jika kemarin Arlan merasa variabel dalam hidupnya sudah cukup rumit karena adanya Elena, hari ini variabel itu meledak menjadi kekacauan total. Di depan pintu apartemen 402, Juna sedang memeluk kopernya seolah-olah itu adalah harta karun terakhir di dunia.
"Ghe... Ar... tolongin gue. Gue nggak mau pulang. Gue nggak mau tiap hari disuruh nguras kolam lele sambil dengerin ceramah soal prospek bisnis kumis lele!" rengek Juna dengan wajah yang sudah kusut seperti kertas ujian Fisika Ghea yang lama.
Ghea melongo. Arlan memijat pelipisnya. "Jun, lo sadar nggak kalau lo baru saja terbang melintasi benua tanpa izin orang tua dan cuma bawa satu koper?"
"Gue dapet tiket promo last minute, Ar! Gue pake tabungan jualan siomay gue selama setahun! Gue mending jadi gelandangan di Munich daripada jadi juragan lele di kampung!"
Arlan menghela napas panjang, lalu membuka pintu apartemen. Begitu masuk, Juna langsung terpana melihat interior apartemen yang minimalis. "Wah... estetik banget, Ar! Tapi... kok gue cuma liat satu kasur ya?"
Ghea dan Arlan serempak menepuk jidat. "Itu dia masalah utamanya, Jun!" seru Ghea.
Malam itu, apartemen nomor 402 berubah menjadi kamp pengungsian paling elit di Munich. Arlan duduk di sofa kecilnya yang keras, Ghea di kasur, dan Juna... Juna duduk di lantai beralaskan jaket bulu milik Ghea.
"Oke, kita rapatkan barisan," ucap Arlan dengan nada Ketua OSIS-nya yang keluar lagi. "Juna, lo nggak bisa selamanya di sini. Visa turis lo cuma berlaku sebentar. Dan apartemen ini kapasitasnya cuma buat satu orang, tapi kita paksa jadi dua, sekarang jadi tiga."
"Gue janji bakal berguna, Ar! Gue bakal jadi tukang masak, tukang cuci piring, bahkan gue bisa jadi pengalih perhatian kalau Elena datang lagi!" tawar Juna semangat.
Ghea mengangguk setuju. "Ar, bener juga. Juna bisa jadi intel kita buat ngawasin Elena kalau kita lagi sibuk di lab. Lagian, kasian dia kalau diusir sekarang, suhu di luar lagi minus lima derajat. Bisa-bisa besok pagi dia jadi es krim siomay."
Arlan akhirnya menyerah. "Oke. Tapi lo harus tidur di karpet pakai selimut tambahan. Dan besok, gue harus cari cara gimana biar kehadiran lo nggak ketahuan sama pemilik apartemen."
Keesokan paginya, kekacauan dimulai. Juna yang biasanya bangun siang karena nungguin gerobak siomay matang, mendadak kaget karena suara alarm Arlan yang bunyinya seperti sirine kapal perang.
"WADUH! ADA RAZIA?!" teriak Juna sambil melompat dari lantai dan menabrak meja makan.
"Bukan razia, Jun! Itu alarm gue!" sahut Arlan yang sudah rapi memakai jas lab.
Ghea keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih dibungkus handuk. "Jun, mumpung lo di sini, tolong masakin sesuatu dong. Gue bosen makan sosis terus."
Juna langsung menuju dapur kecil. Dia membongkar persediaannya. "Tenang, asisten koki Juna siap beraksi! Gue bakal bikin Nasi Goreng Munich ala Jakarta Selatan!"
Namun, masalah muncul ketika Juna mulai menumis bawang putih dan terasi sachet yang dia bawa. Bau terasi yang menyengat itu ternyata tidak bersahabat dengan sensor asap apartemen Jerman yang sangat sensitif.
TEET! TEET! TEET! TEET!
Alarm kebakaran satu gedung berbunyi.
"MATI KITA! MATI!" teriak Ghea panik sambil mencoba mengipas-ngipas asap pakai handuk rambutnya.
Arlan langsung sigap membuka jendela lebar-lebar. Angin dingin Munich langsung menyerbu masuk, membawa salju tipis ke dalam dapur. "JUNA! MATIIN KOMPORNYA!"
Sepuluh menit kemudian, tetangga sebelah mereka—seorang pria Jerman tua yang sangat disiplin bernama Herr Müller—mengetuk pintu dengan keras.
Tok! Tok! Tok! "Hallo? Was ist das? Ist alles in Ordnung?" (Ada apa? Apakah semua baik-baik saja?)
Ghea mematung. Arlan segera menuju pintu. "Jun, sembunyi di balik sofa! Jangan keluar sampai gue bilang aman!"
Arlan membuka pintu sedikit. "Guten Morgen, Herr Müller. Maaf, teman saya tadi hanya mencoba memasak masakan tradisional... dan bumbunya sedikit berasap."
Herr Müller mengendus udara. Wajahnya mengkerut. "Bau apa ini? Seperti ada bangkai yang dibakar?"
Ghea muncul di samping Arlan sambil tersenyum lebar yang sangat dipaksakan. "Oh, das ist... eh... Aromatherapy from Indonesia, Herr Müller! Sangat bagus untuk kesehatan paru-paru!"
Herr Müller menatap Ghea dengan curiga, lalu menatap Arlan. "Jangan sampai alarm itu berbunyi lagi, atau saya akan lapor polisi."
Setelah pintu ditutup, Ghea dan Arlan terduduk lemas di lantai. Sementara Juna muncul dari balik sofa sambil memegang sutil. "Jadi... nasi gorengnya lanjut nggak?"
"JUNA!!!" teriak Ghea dan Arlan bersamaan.
Siang harinya, Arlan dan Ghea harus ke universitas. Mereka terpaksa meninggalkan Juna di apartemen dengan peringatan keras: JANGAN MASAK TERASI DAN JANGAN BUKA PINTU UNTUK SIAPAPUN.
Di laboratorium, Arlan dan Ghea bertemu Elena. Elena terlihat makin mencurigakan. Dia terus-menerus bertanya tentang kehidupan Arlan di apartemen.
"Arlan, I heard from the housing office that there's a noise complaint from your room this morning. Are you okay? Is your... assistant... causing trouble?" tanya Elena dengan nada manis yang beracun.
Ghea langsung pasang badan. "Tadi itu cuma simulasi gempa bumi! Kita lagi latihan keselamatan kerja!"
Elena tertawa kecil. "Really? Tapi Herr Müller bilang dia mencium bau aneh. Kayak ada orang tambahan di sana. Kalian tahu kan, aturan apartemen sangat ketat tentang tamu gelap?"
Ghea mulai panik. Jangan-jangan Elena sudah tahu soal Juna.
Sorenya, saat mereka pulang, kecurigaan Ghea terbukti. Mereka melihat Elena sedang berdiri di depan pintu apartemen mereka bersama Herr Müller dan seorang petugas keamanan gedung.
"Ar, tamat riwayat kita. Juna pasti ketahuan!" bisik Ghea ketakutan.
Arlan berpikir cepat. Dia menarik tangan Ghea. "Ghe, lo lari lewat pintu belakang, masuk lewat balkon samping. Bilang sama Juna buat ganti baju jadi... jadi apa saja yang penting nggak kelihatan kayak orang asing yang lagi kabur!"
Ghea melakukan aksi akrobatik. Dia memanjat balkon (untungnya dia sering latihan manjat pagar sekolah dulu pas mau beli siomay Juna). Dia masuk ke apartemen dan melihat Juna lagi asik dengerin lagu dangdut pakai headphone.
"JUNA! COPOT HEADPHONE LO! ADA RAZIA!"
"Hah?! Razia lele?!"
"BUKAN! RAZIA APARTEMEN! CEPET PAKAI JAKET BULU GUE YANG YETI KEMARIN! TERUS LO TIDUR DI KASUR, TUTUPIN SELURUH MUKA LO!"
Ghea dengan sigap menutupi Juna dengan tumpukan bantal dan selimut sampai Juna terlihat seperti gundukan cucian kotor yang sangat besar.
Pintu depan dibuka oleh Arlan. Elena dan petugas keamanan masuk.
"See? I told you, I think there's someone else here," ucap Elena sambil menunjuk ke arah tumpukan di atas kasur.
Petugas keamanan mendekat. "Was ist das?" (Apa ini?)
Ghea langsung melompat ke atas kasur, duduk di sebelah gundukan Juna. "Oh, ini! Ini adalah boneka bantal raksasa saya! Saya nggak bisa tidur kalau nggak ada boneka ini. Namanya... GULING JUMBO INDONESIA!"
Juna di bawah selimut menahan napas sampai mukanya biru.
Petugas itu tampak ragu. Dia mencoba menyentuh tumpukan itu. Ghea langsung memukul tangan petugas itu pelan (tapi tegas). "No touchy! My pillow is very sensitive and... has allergies!"
Elena menyipitkan mata. "Pillow? Tapi tadi goyang-goyang?"
"Oh, itu... itu karena getaran dari kereta bawah tanah di bawah gedung ini! Iya kan, Ar?" Ghea melirik Arlan dengan tatapan minta tolong.
Arlan segera menimpali. "Benar. Struktur bangunan ini memang sensitif terhadap frekuensi rendah."
Setelah perdebatan panjang yang sangat konyol, petugas keamanan akhirnya pergi karena tidak menemukan bukti fisik. Elena pun terpaksa ikut keluar dengan wajah kesal.
Malam itu, setelah suasana aman, Juna keluar dari bawah selimut sambil megap-megap. "Gue... gue hampir mati konyol jadi guling, Ghe! Bau keringet lo di selimut ini bikin gue pusing!"
Ghea tertawa puas. "Lagian lo sih, pake bawa terasi segala! Tapi Ar, kita nggak bisa begini terus. Elena bakal makin curiga."
Arlan duduk di sofanya. Dia menatap Juna. "Gue punya ide. Juna, lo nggak bisa jadi tamu gelap. Tapi lo bisa jadi 'objek riset'."
"Objek riset? Gue mau dibedah?!" Juna panik.
"Bukan. Gue bakal bilang ke Profesor Hans kalau kita butuh relawan untuk tes psikologi 'Adaptasi Sosial Pelajar Indonesia terhadap Suhu Dingin'. Dengan begitu, kehadiran lo di sini jadi legal sebagai bagian dari proyek riset gue."
Juna melongo. "Gila... otak lo emang encer banget, Ar. Jadi gue sekarang... ilmuwan?"
"Bukan ilmuwan, Jun. Lo itu 'Tikus Percobaan'," sahut Ghea sambil melempar bantal ke arah Juna.
Mereka bertiga akhirnya tertawa di dalam apartemen sempit itu. Di luar, salju makin tebal, tapi di dalam, kehangatan persahabatan (dan bau sisa nasi goreng terasi yang masih nempel di gorden) membuat Jerman tidak lagi terasa terlalu asing.
"Ghe," panggil Arlan pelan saat Juna sudah mendengkur di karpet.
"Ya, Robot?"
"Makasih ya udah jadi asisten yang paling berani manjat balkon."
Ghea tersenyum. "Apapun buat lo, Ar. Dan buat Juna... biar dia nggak jadi juragan lele."
Namun, di balik kegembiraan itu, Arlan melihat sebuah surat di bawah pintu. Surat dari universitas. Isinya: Jadwal Riset Lapangan ke Pegunungan Alpen minggu depan. Dan hanya ada dua slot untuk tim Arlan.
Siapa yang akan ikut? Ghea sang asisten resmi, atau Elena sang partner jenius?