NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Keluarga Nattakusuma

Selasa pagi. Jam tujuh.

Bu Siti sama Lestari naik motor—lewatin jalan-jalan Jakarta yang udah mulai macet. Lewat gedung-gedung tinggi, mall-mall gede, sampe akhirnya masuk ke kawasan yang... beda.

Kawasan elite.

Pohon-pohon rapi di pinggir jalan. Rumah-rumah gede dengan pagar tinggi. Mobil-mobil mewah parkir di depan rumah. Satpam di setiap sudut.

Lestari ngeliat sekeliling—mulut nya setengah terbuka. Mata nya melongo.

"Tante... ini... ini beneran Jakarta juga? Kok beda banget sama tempat kita tinggal..."

Bu Siti ketawa. "Iya, Nak. Ini Jakarta Selatan. Tempat nya orang-orang kaya. Beda jauh sama Tanah Abang kita."

Motor berhenti di depan gerbang besi tinggi—gerbang otomatis yang ada kamera pengawas di atas nya. Di samping gerbang ada kotak interkom.

Bu Siti pencet tombol interkom. "Permisi, saya Bu Siti. Mau anter Lestari buat interview."

Suara dari interkom—suara laki-laki, formal. "Baik, Bu. Silakan masuk."

Gerbang terbuka otomatis—pelan, kayak di film-film.

Motor masuk. Lewatin jalan setapak yang diaspal mulus, ada taman di kiri kanan—rumput hijau dipotong rapi, bunga-bunga warna-warni, air mancur kecil yang airnya muncrat ke atas.

Terus—rumah.

Rumah nya... gede banget.

Tiga lantai. Warna putih krem. Jendela-jendela kaca gede. Pintu depan dari kayu jati ukir. Ada teras luas dengan pilar-pilar tinggi.

Lestari turun dari motor—kakinya gemetar. Nggak karena capek. Tapi karena... kagum campur takut.

"Ya ampun... ini rumah apa istana..."

"Keluarga Nattakusuma emang kaya, Nak. Mereka punya perusahaan properti gede. Banyak gedung di Jakarta milik mereka." Bu Siti turun dari motor, merapihkan kerudungnya.

Mereka jalan ke pintu depan. Belum sempet ketok—pintu kebuka.

Keluar laki-laki paruh baya—umur lima puluhan, pake kemeja putih rapi, celana bahan hitam, sepatu mengkilap. Rambut nya rapi disisir ke belakang, kumis tipis, muka nya serius tapi nggak jutek.

"Bu Siti?" tanya laki-laki itu.

"Iya, Pak Budi. Ini Lestari—yang mau interview jadi asisten rumah tangga."

Pak Budi—kepala pelayan rumah ini—ngeliat Lestari dari atas sampe bawah. Tatapan nya... tatapan menilai.

Lestari langsung nunduk—reflek. Kebiasaan dari rumah Dyon—kalau ada yang lebih tinggi jabatan nya, harus nunduk.

"Kamu Lestari?"

"I—iya, Pak. Saya Lestari..."

"Umur berapa?"

"Dua puluh tiga tahun, Pak."

"Pendidikan terakhir?"

"SMP, Pak... saya... saya nggak lanjut SMA karena... karena keadaan..."

Pak Budi ngangguk—nggak nanya lebih lanjut. "Kamu punya pengalaman jadi asisten rumah tangga?"

"Belum, Pak. Tapi saya bisa belajar cepet. Saya... saya bisa masak, beberes, nyuci, semua bisa saya lakuin—"

"Oke. Majikan udah setuju kamu diterima. Tapi ada masa percobaan satu bulan. Kalau kamu nggak cocok atau kerja nya nggak bagus, kamu bisa langsung di-let go. Ngerti?"

Let go.

Lestari nggak ngerti istilah itu. Tapi dia ngangguk aja. "Ngerti, Pak."

"Gaji tiga juta per bulan. Dibayar tanggal lima setiap bulan. Jam kerja dari jam tujuh pagi sampe jam lima sore. Hari Minggu libur. Makan siang disediain. Tugas kamu—bantu bersihin rumah, nyiapin makan, dan bantu-bantu pekerjaan ringan lainnya. Ada pertanyaan?"

Lestari menggeleng cepet. "Nggak ada, Pak. Saya... saya terima. Terima kasih banyak, Pak..."

Pak Budi senyum tipis—senyum pertama nya. "Bagus. Kamu mulai kerja hari ini. Sekarang. Bu Siti bisa pulang. Lestari, ikut saya."

Bu Siti pegang tangan Lestari sebentar—genggaman yang ngasih semangat. "Semangat ya, Nak. Tante pulang dulu. Nanti sore Tante jemput."

"Baik, Tante. Makasih ya, Tante..."

Bu Siti pergi. Motor nya keluar dari gerbang. Lestari sendirian sekarang.

 

Pak Budi ngajak Lestari masuk rumah.

Begitu masuk—Lestari berhenti sebentar. Mulut nya terbuka lebar.

Ruang tamu nya... gede banget.

Langit-langit tinggi—ada lampu kristal gantung yang kerlap-kerlip. Lantai marmer putih mengkilap—refleksi nya kelihatan jelas. Sofa kulit cokelat tua yang gede banget—bisa buat duduk sepuluh orang. Meja kaca di tengah. Lukisan-lukisan besar di dinding. Vas bunga tinggi di sudut ruangan.

"Jangan bengong. Ayo ikut." Pak Budi jalan duluan.

Lestari cepet-cepet ngikutin—langkahnya hati-hati banget, takut melangkahi lantai yang terlalu bersih.

Mereka lewat ruang makan—meja makan panjang kayu jati, bisa buat makan dua puluh orang. Terus ke dapur.

Dapur nya... ya ampun.

Gede kayak dapur restoran. Ada kompor gas enam tungku. Kulkas dua pintu gede. Oven. Microwave. Mesin cuci piring. Peralatan masak yang nggak pernah Lestari liat seumur hidup.

"Ini dapur. Kamu bakal sering di sini. Nyonya suka makan masakan rumahan—nggak suka pesan dari luar. Jadi kamu harus bisa masak."

"Saya bisa masak, Pak. Masakan rumahan—"

"Bagus. Tapi kamu harus belajar masak yang lebih... proper. Nyonya suka rapi. Piring harus ditata bagus. Makanan harus kelihatan menarik. Ngerti?"

Proper.

Lestari nggak ngerti kata itu juga. Tapi dia ngangguk. "Ngerti, Pak."

Pak Budi nunjukin gudang—tempat nyimpen alat-alat beberes. Ruang cuci—ada mesin cuci, mesin pengering. Ruang setrika.

"Kamu bakal bantu Mbak Endah—asisten rumah tangga yang lain. Dia udah kerja di sini lima tahun. Dia bakal ngajarin kamu. Sekarang dia lagi belanja ke pasar. Nanti sore dia balik."

"Baik, Pak."

"Dan satu lagi—" Pak Budi berhenti, noleh ke Lestari, muka nya serius—"jangan pernah masuk ke lantai dua tanpa izin. Lantai dua itu private area keluarga. Kamar Nyonya Vanesa, Tuan Andriano, sama Tuan Dewangga. Kamu nggak boleh masuk kecuali disuruh. Ngerti?"

"Ngerti, Pak. Saya nggak akan masuk."

"Bagus. Sekarang kamu mulai kerja. Sapu sama pel lantai ruang tamu. Alat nya ada di gudang. Ayo."

 

Lestari mulai kerja.

Ambil sapu, pel, ember dari gudang. Mulai nyapu ruang tamu—ruang tamu yang gede banget, butuh setengah jam buat nyapu semua.

Terus ngepel. Ngepel sambil jongkok—hati-hati banget biar nggak merusak lantai marmer yang mengkilap.

Punggung nya sakit. Lutut nya pegel. Tapi dia nggak berhenti. Terus kerja.

Sekitar jam sebelas—Pak Budi datang lagi. "Lestari, sekarang kamu bantu nyiapin makan siang. Mbak Endah udah balik dari pasar. Dia di dapur."

Lestari ke dapur. Di sana ada perempuan—umur empat puluhan, gemuk, muka nya ramah, pake baju koko warna biru.

"Eh, kamu Lestari ya? Aku Mbak Endah. Salam kenal!" Mbak Endah mengulurkan tangan—jabat tangan hangat.

"Salam kenal, Mbak..." Lestari senyum—senyum lega. Akhirnya ada yang ramah.

"Oke, sekarang kita masak. Hari ini menu nya ayam goreng mentega, capcay, sama tumis kangkung. Kamu bisa masak?"

"Bisa, Mbak. Tapi... mentega itu apa ya, Mbak?"

Mbak Endah ketawa. "Wah, kamu beneran nggak pernah masak mentega? Ya udah, aku ajarin. Gampang kok."

Mereka masak bareng. Mbak Endah ngajarin step by step—cara bikin ayam goreng mentega, cara tumis capcay biar nggak layu. Lestari dengerin serius—sambil nyatet di kepala.

"Mbak... ini rumah kok gede banget ya? Keluarga nya berapa orang sih?"

"Oh, keluarga Nattakusuma itu ada Nyonya Vanesa—ibu nya. Terus ada dua anak—Tuan Andriano sama Tuan Dewangga. Tuan Andriano itu CEO perusahaan keluarga. Tuan Dewangga masih kuliah. Bapak nya—Tuan Hendra—udah kabur bawa setengah aset perusahaan lima tahun lalu tapi mereka mengangap nya meninggal"

"Oh... berarti cuma tiga orang?"

"Iya. Tapi rumah nya gede kan? Soalnya suka ada tamu-tamu penting. Klien bisnis, saudara, temen-temen. Jadi harus siap selalu."

Lestari ngangguk paham.

Masakan selesai. Ditata rapi di piring-piring keramik putih yang mulus banget—nggak ada goresan sama sekali. Ditaruh di meja makan.

"Nah, sekarang kita nunggu. Biasanya Nyonya makan siang jam dua belas. Tuan Andriano jarang makan di rumah—dia makan di kantor. Tuan Dewangga lagi kuliah."

Jam dua belas—turun Nyonya Vanesa dari lantai dua.

Lestari liat dari jauh—perempuan cantik, umur lima puluhan tapi kelihatan lebih muda. Rambut nya dicat cokelat, di-blow rapi. Pake dress elegant warna krem. Sepatu hak tinggi. Makeup flawless.

Aura nya... aura berkuasa. Dingin.

Nyonya Vanesa duduk di meja makan. Pak Budi langsung ambil makanan, taro di piring nya.

Nyonya Vanesa cicip ayam goreng mentega. Kunyah pelan.

Hening.

Lestari deg-degan—nunggu reaksi.

"Lumayan. Tapi next time ayam nya jangan terlalu kering. I like it more juicy."

Juicy.

Lestari nggak ngerti. Tapi Mbak Endah ngangguk. "Baik, Nyonya. Lain kali lebih lembab."

Nyonya Vanesa ngeliat Lestari—tatapan tajam. "Kamu yang baru?"

Lestari langsung nunduk. "I—iya, Nyonya. Saya Lestari..."

"Hmm. Kerja yang proper ya. Saya nggak suka yang asal-asalan. Make sure everything is perfect."

Perfect.

Lestari ngangguk cepet—meskipun dia nggak ngerti setengah kata-kata Nyonya Vanesa.

 

Sore itu—sekitar jam empat—Lestari lagi nyiram tanaman di taman depan.

Taman nya luas—ada pohon-pohon hias, bunga mawar, bunga anggrek, rumput hijau yang dipotong rapi kayak karpet.

Lestari nyiram pake selang—air nya nyemprot pelan ke bunga-bunga.

Tiba-tiba—

Suara mesin mobil. Kenceng.

NGEEEENG.

Mobil sport hitam masuk lewat gerbang—mobil rendah, kaca gelap, knalpot nya ngebul dikit.

Mobil berhenti di depan pintu. Mesin dimatiin.

Pintu mobil kebuka—keluar seorang pria.

Tinggi. Mungkin seratus tujuh puluh delapan sentimeter. Badan nya proporsional—nggak terlalu kurus, nggak terlalu gede. Pake jas hitam rapi, kemeja putih, dasi biru gelap. Rambut nya rapi disisir ke belakang. Wajah nya... tampan. Rahang tegas. Hidung mancung. Tapi mata nya... dingin.

Pria itu turun—jalan ke arah pintu rumah.

Pandangan nya sekilas kena Lestari yang lagi nyiram tanaman.

Mereka tatap-tatapan—cuma sedetik.

Lestari langsung nunduk—refleks.

Pria itu jalan lagi—tapi tiba-tiba berhenti.

Ngeliat vas bunga besar di samping pintu.

Terus—

BRAK!

Tendang vas nya.

Vas pecah—serpihan keramik berhamburan, tanah sama bunga tumpah kemana-mana.

Lestari kaget—loncat mundur, selang nya hampir jatuh.

Pria itu masuk rumah—pintu ditutup keras.

Lestari berdiri diem—mata nya natap vas yang pecah. Jantung nya masih berdegup cepet.

"Kenapa... kenapa dia nendang vas...?"

Pak Budi keluar dari rumah—liat vas yang pecah, terus ngeliat Lestari.

"Lestari, kamu bersihin vas nya. Buang pecahan nya, sapu tanah nya."

"I—iya, Pak... tapi... tadi itu... tadi itu siapa, Pak?"

Pak Budi ngeluarin napas. "Itu Tuan Andriano. Anak majikan. CEO muda perusahaan Nattakusuma. Umur nya tiga puluh tahun."

Andriano.

Nama yang... entah kenapa familiar.

"Pak... dia... dia kenapa nendang vas?"

Pak Budi diem sebentar. "Dia lagi banyak masalah. Masalah kerjaan. Jadi mood nya lagi jelek. Kamu jangan tanya-tanya. Kamu fokus kerja aja. Dan satu lagi—" Pak Budi nunduk dikit, bisik—"jangan sampai bikin masalah sama dia. Dia dingin tapi baik. Tapi kalau lagi bad mood, lebih baik jauhin. Ngerti?"

Lestari ngangguk cepet. "Ngerti, Pak."

Pak Budi masuk lagi.

Lestari berjongkok—mulai ngumpulin pecahan vas, hati-hati biar nggak kena tangan.

Tapi pikiran nya... pikiran nya ke pria tadi.

Andriano.

Wajah nya... wajah nya kayak pernah diliat.

Tapi di mana?

Lestari nggak inget.

Yang dia inget cuma—

Pandangan mata nya.

Mata yang dingin.

Tapi ada sesuatu di balik dingin itu.

Sesuatu yang... sedih.

 

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!