NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Mahkota dari Abu

​Debu pertempuran perlahan mengendap, menyisakan lapisan abu tipis di atas lantai batu Aula Utama. Bau ozon dari sihir dan aroma logam darah mulai memudar, digantikan oleh bau antiseptik herbal yang dibawa oleh para tabib istana.

​Aethela duduk di sebuah bangku kayu sementara seorang tabib tua membalut luka gores di lengannya. Di seberangnya, Elara sedang minum teh hangat dengan tangan gemetar, masih terguncang setelah menjadi sandera.

​Rasa lelah yang mendalam menyelimuti tulangnya, tetapi pikirannya tidak pernah sejelas ini. Ia melihat para pelayan—yang dulu menatapnya dengan curiga—kini membungkuk hormat setiap kali lewat. Bukan karena takut, tapi karena rasa terima kasih. Ia bukan lagi "Putri Solaria". Ia adalah wanita yang menahan runtuhnya langit-langit istana mereka.

​"Kau seharusnya beristirahat, Yang Mulia," kata Elara pelan, suaranya serak. "Kau baru saja memenangkan perang."

​"Hanya satu pertempuran, Elara," koreksi Aethela lembut, menggenggam tangan sahabatnya. "Perang yang sesungguhnya—membangun kembali puing-puing ini—baru saja dimulai."

​Pintu samping terbuka. Valerius masuk. Dia sudah membersihkan diri dari darah pertempuran, mengenakan tunik hitam bersih, namun aura kekuasaannya terasa lebih berat dari sebelumnya. Dia tidak berjalan menuju Aethela, melainkan menuju takhta tulang naga di mana ayahnya, Raja Malakor, duduk termenung.

​Suasana di aula menegang. Para tabib dan pelayan mundur, memberi ruang bagi konfrontasi antara ayah dan anak.

​Valerius berdiri di kaki tangga takhta. Ia menatap ayahnya. Raja Malakor tampak sepuluh tahun lebih tua hari ini. Tanduk di kepalanya tampak kusam, dan jubah kebesarannya terlihat terlalu besar untuk tubuhnya yang menyusut. Pengkhianatan Krow dan invasi Alaric telah menghancurkan ego sang Raja Tua.

​"Kau menang, Putraku," suara Malakor parau. Ia tidak menatap Valerius, melainkan menatap reruntuhan pilar yang hancur. "Metodeku... isolasi, ketakutan, kemurnian darah... semuanya gagal. Krow menggunakannya untuk melawanku. Dan kau... kau membawa orang asing, membawa perubahan, dan itulah yang menyelamatkan kita."

​Ia mengira akan merasakan kepuasan saat mendengar ayahnya mengakui kekalahan. Namun, yang ia rasakan hanyalah rasa iba. Ayahnya adalah produk dari zamannya—zaman di mana naga diburu dan harus bersembunyi.

​"Aku tidak melakukan ini untuk mengalahkanmu, Ayah," kata Valerius tenang. "Aku melakukannya untuk memastikan kita punya masa depan."

​Malakor akhirnya menatap mata Valerius. Ia melihat mata emas putranya yang kini memiliki cincin perak—tanda fusi dengan Aethela.

​"Masa depan itu bukan milikku lagi," Malakor perlahan melepaskan mahkota Obsidian dari kepalanya. Mahkota itu sederhana, terbuat dari batu hitam yang dipahat kasar, melambangkan beban gunung. "Rakyat telah melihat siapa yang berdarah untuk mereka hari ini. Mereka melihat siapa yang mengendalikan batu-batu benteng ini. Takhta ini... sekarang milikmu. Dan milik istrimu."

​Raja Malakor berdiri, meletakkan mahkota itu di atas kursi takhta, lalu berjalan menuruni tangga dengan langkah tertatih. Saat ia melewati Aethela, ia berhenti sejenak.

​Aethela berdiri, menghormati mantan raja itu.

​"Jaga apinya, Nak," gumam Malakor pada Aethela. "Jangan biarkan Obsidiana membeku lagi."

​Setelah Malakor menghilang ke koridor pribadi, keheningan pecah. Valerius menoleh ke arah Aethela.

​"Apakah kau siap?" tanya Valerius.

​Aethela tersenyum tipis. "Untuk memakai mahkota dari abu ini? Bersamamu? Selalu."

​Tiga hari kemudian, penobatan resmi digelar.

​Benteng Obsidian masih dalam perbaikan. Bekas ledakan di gerbang utara belum tertutup sempurna, dan bau asap masih tercium samar. Namun, rakyat tidak peduli. Ribuan naga dalam wujud manusia dan wujud asli berkumpul di alun-alun, berdesakan dengan prajurit Legiun Terbuang yang kini telah diampuni dan diintegrasikan kembali ke dalam militer kerajaan.

​Aethela berdiri di balkon istana, mengenakan gaun baru yang ditenun dari sutra laba-laba gua dan benang perak. Di sampingnya, Valerius tampak gagah dengan jubah bulu serigala hitam dan zirah upacara.

​Tidak ada pendeta yang memimpin upacara. Di Obsidiana, kekuasaan diambil, bukan diberikan.

​Jenderal Thorne maju membawa dua mahkota baru di atas bantal beludru. Mahkota lama Malakor telah dilebur dan ditempa ulang menggunakan Api Pertama. Kini, mahkota itu adalah perpaduan logam hitam obsidian dan perak bulan, dengan permata First Flame yang menyala abadi di tengahnya.

​Valerius mengambil mahkota perak yang lebih kecil. Ia berbalik menghadap Aethela.

​"Dengan mahkota ini," suara Valerius lantang, diperkuat sihir resonansi agar terdengar hingga ke kaki gunung, "aku mengakui Aethela dari Wangsa Vespera, bukan sebagai tawananku, bukan sebagai sekutuku, melainkan sebagai Ratu Obsidiana yang setara. Dia adalah Mother of Flame, penyelamat Jantung Gunung, dan belahan jiwaku."

​Valerius meletakkan mahkota itu di kepala Aethela. Beratnya terasa nyata, namun Aethela tidak menunduk.

​Aethela kemudian mengambil mahkota yang lebih besar. Ia menatap Valerius dengan cinta yang terpancar jelas di matanya.

​"Dengan mahkota ini," kata Aethela, "aku mengakui Valerius dari Wangsa Nightshade sebagai Raja Naga. Dia adalah Shadow of the Realm, pelindung rakyat, dan pemilik hatiku."

​Ia memahkotai Valerius.

​Sorak sorai rakyat meledak seperti guntur. Naga-naga terbang di atas istana, menyemburkan api ke udara sebagai tanda penghormatan. Para prajurit Legiun menghentakkan tombak mereka ke tanah secara berirama.

​LONG LIVE THE KING! LONG LIVE THE QUEEN!

​Valerius menggenggam tangan Aethela, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Ia melihat lautan wajah di bawah sana. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia (mantan budak atau pelayan) dan naga berdiri berdampingan bersorak untuk penguasa yang sama.

​Rasa bangga dan tanggung jawab. Ia tahu jalan di depan masih terjal. Alaric sedang dalam perjalanan pulang ke Solaria, membawa dendam dan berita tentang kebangkitan Obsidiana. Perang besar antar negara mungkin tak terelakkan.

​Tapi saat ia menoleh dan melihat Aethela yang tersenyum padanya—senyum yang cerah dan penuh harapan—rasa takut itu sirna.

​"Mereka mencintaimu," bisik Valerius di telinga Aethela di tengah riuh rendah sorakan.

​"Mereka mencintai kita," koreksi Aethela. "Mereka mencintai gagasan bahwa kegelapan dan cahaya bisa hidup berdampingan."

​Malam itu, pesta rakyat digelar di halaman benteng. Api unggun dinyalakan di mana-mana. Musik dari drum kulit naga dan seruling tulang menggema.

​Valerius dan Aethela menyelinap pergi dari pesta lebih awal, menuju balkon pribadi di kamar menara mereka—kamar yang sama tempat mereka dulu terpisah oleh segel sihir, kini menjadi tempat perlindungan mereka.

​Udara malam terasa sejuk. Aethela bersandar di pagar balkon, menatap bintang-bintang. Ia merasakan lengan Valerius melingkar di pinggangnya dari belakang, dagu pria itu bersandar di bahunya.

​"Kau tahu," kata Aethela pelan. "Ayahku pasti akan mengirim armada penuh setelah mendengar ini. Alaric tidak akan tinggal diam."

​"Biarkan mereka datang," jawab Valerius tenang. Ia mencium leher Aethela. "Kita punya First Flame. Kita punya Legiun Terbuang. Dan yang terpenting, kita punya satu sama lain."

​Aethela berbalik dalam pelukan Valerius, menatap mata suaminya. "Apa rencana kita selanjutnya, Yang Mulia Raja?"

​Valerius menyeringai, seringai nakal yang jarang ia tunjukkan. "Rencana pertamaku adalah memastikan Ratu beristirahat. Kau sudah menyelamatkan kerajaan, memimpin pasukan, dan menghadapi kakakmu yang gila dalam satu minggu. Kau butuh tidur."

​"Tidur?" Aethela menaikkan alisnya menggoda. "Itu terdengar membosankan untuk malam pengantin resmi kita."

​Mata Valerius menggelap dengan gairah. Ia mengangkat Aethela ke dalam gendongannya, membawanya masuk ke dalam kamar.

​"Kalau begitu, mari kita buat rencana baru," bisik Valerius sebelum menutup pintu balkon dengan lambaian tangan sihirnya, membiarkan dunia luar dan segala ancamannya menunggu hingga esok hari.

​Di dalam kamar yang hangat itu, Aethela menyadari bahwa meskipun mahkotanya terbuat dari abu reruntuhan perang, cintanya adalah emas murni yang tak akan pernah pudar. Kisah sang Putri yang dibuang untuk mati telah berakhir; kisah sang Ratu Naga baru saja dimulai.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!