Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
digendong devan
Tour guide yang melihat situasi itu segera menghampiri.
“Kalau keseleo, sebaiknya tidak dilanjutkan ke puncak. Di atas masih cukup jauh dan tangganya lebih curam.” ucap tour guide.
"aku masih sanggup pak, tenang saja" sahut rayya dengan tegas.
" kaki mbak sepertinya tambah bengkak, takutnya akan semakin mengganggu, sebaiknya mbak turun aja biar di obati di bawah." balas tour guide mereka.
Rayya menggeleng pelan saat tour guide kembali menyarankan agar ia turun.
“Tidak,” ucapnya tegas meski wajahnya tampak pucat.
“Kalian lanjut saja. Jangan gara-gara aku, semuanya jadi tertunda. aku akan pelan - pelan naik keatas, aku pasti sampai” ucap rayya penuh semangat.
Di jalur tangga, Tommy berdiri tepat di hadapan Rayya.
“Ray, ini bukan soal agenda,” katanya menahan napas.
“Kakimu keseleo. Kalau dipaksakan, bisa makin parah. Ikut aku turun saja.”
Rayya menggeleng, keras kepala khas dirinya kembali muncul.
“Aku masih bisa lanjut. Aku tidak mau menyesal karena berhenti di tengah jalan.”
"lanjut aja pak, saya akan menemani mereka" ucap devan tegas.
rayya dan tommy saling berpandangan tak percaya. namun rayya tidak menolaknya.
"apa tidak sebaiknya kamu ikut kita saja mas devan? mungkin mbak rayya hanya ingin berduaan dengan pacarnya." ucap wilona yang sempat membuat rayya sedikit emosi.
" tidak apa - apa, saya hanya ingin memastikan semua aman, tour guide kita biar menjaga rombongan lain. kamu sebaiknya melanjutkan perjalanan saja" sahut devan yang menyuruh wilona untuk ikut rombongan biar tidak berisik.
Rombongan mulai gelisah. Akhirnya, setelah diskusi singkat, tour guide memutuskan agar rombongan utama melanjutkan pendakian terlebih dahulu. Mereka berjalan naik satu per satu, meninggalkan Rayya, Tommy, dan Devan di belakang.
“Aku gendong kamu,” ucap Tommy tiba-tiba.
Rayya terkejut.
“Tommy—”
Tanpa menunggu persetujuan, Tommy sudah membungkuk. Rayya ragu sejenak, lalu akhirnya naik ke punggungnya. Tangannya melingkar di leher Tommy, tubuhnya terasa berat, bukan hanya bagi Tommy, tapi juga bagi hatinya sendiri.
Awalnya Tommy masih bisa berjalan cukup stabil. Namun setelah beberapa puluh anak tangga, napasnya mulai memburu. Keringat mengalir deras di pelipisnya. Langkahnya melambat, bahunya terasa semakin berat.
“Tommy… turunkan aku,” kata Rayya lirih, menyadari kondisinya.
Tommy berhenti. Ia menunduk, kedua tangannya bertumpu di lutut.
“Aku… aku gak kuat, Ray,” katanya jujur.
“Aku benar-benar nggak sanggup. Kita turun saja, ya?”
Rayya terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ia menatap ke atas, ke arah puncak yang tinggal sedikit lagi, namun terasa semakin jauh. Pergelangan kakinya kini jelas membengkak, denyut nyeri makin terasa setiap kali ia bergerak.
Ia mengangguk pelan, kecewa tapi tak punya pilihan.
“Turunkan aku.”
Begitu kakinya menyentuh tanah, Rayya hampir kehilangan keseimbangan. Seketika Devan maju dan menahan lengannya, menjaga agar Rayya tidak kembali terjatuh.
Devan menatap kaki Rayya sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke wajahnya. Nada suaranya tenang, namun penuh keyakinan.
“Naik.”
Rayya terkejut.
“Apa?”
“Aku bopong kamu sampai atas,” ujar Devan singkat sambil membungkuk, memperlihatkan punggungnya. “Kamu mau sampai ke puncak, kan?”
Tommy mendongak kaget.
“Dev, kamu yakin?”
Devan mengangguk tanpa ragu.
“Aku masih kuat.”
Rayya menatap punggung Devan dengan perasaan campur aduk, malu, sungkan, tapi juga harapan yang kembali menyala.
“Aku berat,” ucapnya lirih.
Devan menoleh sedikit.
“Aku pernah bawa beban lebih berat dari kamu.”
Dengan ragu, Rayya akhirnya naik ke punggung Devan. Begitu Devan berdiri, langkahnya terasa kokoh dan stabil. Tidak ada goyah, tidak ada keluhan. Rayya refleks memegang bahu Devan, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Anak tangga demi anak tangga mereka lewati. Napas Devan tetap teratur, fokusnya penuh. Angin laut menerpa wajah Rayya, membawa aroma asin yang menenangkan. Dari ketinggian, birunya laut mulai terlihat semakin luas.
Tommy hanya bisa berdiri terdiam di belakang mereka. Dadanya terasa sesak, antara lelah, kecewa, dan perasaan yang tak bisa ia namai. Ia ingin melakukan lebih, ingin menjadi orang yang membawa Rayya sampai atas, namun kenyataan berkata lain.
Sementara itu, di atas punggung Devan, Rayya menatap ke depan. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Bukan karena pemandangan yang menunggu di puncak, melainkan karena seseorang yang memilih tetap tinggal dan menemaninya, saat yang lain sudah melanjutkan langkah lebih dulu
Di sepanjang perjalanan naik, nyaris tak ada percakapan di antara mereka. Hanya suara langkah kaki yang beradu dengan anak tangga kayu, napas Devan yang tetap stabil, dan hembusan angin yang membawa aroma laut. Rayya menunduk, perasaannya campur aduk, antara nyeri yang masih terasa di pergelangan kaki, rasa malu karena harus merepotkan, dan gugup karena berada sedekat itu dengan Devan.
Beberapa kali Rayya ingin membuka mulut, sekadar mengucapkan terima kasih. Namun setiap kali ia menarik napas, kata-kata itu tertahan. Ada rasa sungkan yang sulit dijelaskan, seolah keheningan di antara mereka terlalu rapuh untuk dipecahkan.
Ketika puncak bukit mulai terlihat dan suara rombongan terdengar semakin jelas, Rayya akhirnya memberanikan diri.
“Dev… terima kasih,” ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh angin.
Namun suara itu justru terdengar sangat jelas di telinga Devan. Ia tersenyum tipis, meski Rayya tak bisa melihatnya.
“Tidak apa-apa,” jawab Devan singkat, nadanya hangat dan tenang, seolah apa yang dilakukannya memang bukan hal besar.
Beberapa langkah lagi, dan mereka tiba di atas.
Begitu kaki Devan menapak di puncak, pemandangan tiga teluk yang legendaris terbentang di hadapan mereka. Laut biru kehijauan berkilau diterpa matahari, membentuk lekukan-lekukan alami yang nyaris sempurna. Langit tampak begitu dekat, dan angin berembus lebih kencang, membawa rasa lega dan kagum sekaligus.
Rombongan yang sudah lebih dulu tiba langsung bersorak kecil. Beberapa mengangkat ponsel, yang lain hanya terdiam menikmati keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Rayya diturunkan dengan hati-hati. Meski harus bertumpu pada satu kaki, wajahnya tampak berbinar.
“Akhirnya…” gumamnya lirih, matanya berkaca-kaca. Keinginannya sejak awal perjalanan benar-benar terwujud.
Para direksi dan anggota rombongan ikut merasa senang. Mereka tahu betul betapa Rayya ingin melihat langsung keindahan itu. Namun kebahagiaan itu bercampur dengan keterkejutan kecil ketika mereka menyadari satu hal, Rayya tiba di puncak dengan gendongan Devan, bukan Tommy.
Beberapa pasang mata saling bertukar pandang, mencoba menyembunyikan rasa heran mereka.
Wilona, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Rayya, tentu saja tak melewatkan momen itu. Sejak di bawah, fokus perhatiannya memang lebih banyak tertuju pada Devan. Kini, melihat Rayya berada begitu dekat dengannya, ekspresi Wilona berubah.
Dengan senyum miring, Wilona berkomentar,
“Sepertinya kamu salah memilih pasangan, Rayya. Calon tunanganmu ada, tapi kamu justru… begitu dekat dengan pria lain.”
Rayya menoleh perlahan. Tatapannya tenang, jauh dari emosi yang Wilona harapkan.
“Kita sedang liburan,” jawab Rayya singkat namun tegas.
“Tidak perlu membahas urusan pribadi. Lebih baik fokus menikmati pemandangan saja.”
Ucapan itu membuat Wilona terdiam sejenak. Sementara di kejauhan, Tommy baru tampak menyusul dengan langkah berat, napasnya masih belum sepenuhnya pulih.
Rayya kembali memandang ke arah tiga teluk yang terbentang luas di depannya. Angin mengibaskan rambutnya, dan untuk sesaat, ia merasa damai, meski di balik keindahan itu, ia tahu, ada perasaan-perasaan yang perlahan mulai berubah dan tak lagi sederhana.