"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tak ada perubahan
9 Juni 2025 – 06.00 WIB
Samuel terbangun di dalam sebuah ruangan hampa yang seluruhnya berwarna putih. Tak ada sekat, tak ada ujung. Tepat di hadapan Samuel, seekor kupu-kupu bermotif indah terbang berputar rendah, sebelum akhirnya hinggap di seutas tali yang membentang tegang. Tali itu awalnya lurus dan rapi. Namun, begitu sang kupu-kupu kembali mengepakkan sayap dan pergi, seutas cabangan kecil mendadak tumbuh dari serat tali tersebut, merusak kelurusan alur utamanya.
Samuel tersentak, kelopak matanya terbuka paksa. Ia terbangun dari mimpi buruk itu dengan napas memburu.
"Sialan... Efek Kupu-kupu," umpat Samuel kesal, menyeka keringat dingin di pelipisnya.
Sebelum beranjak keluar dari kamar tamu, Samuel duduk di tepi ranjang, membiarkan dirinya bergelut dengan isi otaknya yang mulai berisik.
Sekarang, aku hanya manusia biasa, batin Samuel, menatap kedua telapak tangannya yang kosong. Aku tidak bisa kembali ke masa lalu sesukaku. Aku terikat. Aku harus menunggu sampai tanggal 14 Juni jam 19.30 malam hanya untuk menggunakan kekuatan bajingan ini kembali.
Samuel meremas rambutnya frustrasi. Pertanyaan-pertanyaan skeptis mulai berdatangan di kepalanya.
Memangnya aku bisa melawan takdir? Ruangan putih itu... sudah berapa kali aku melewatinya? Tapi kenapa selalu saja ada yang berubah setiap kali aku melakukan pengulangan waktu? Apa yang sebenarnya aku lakukan? Kembali ke masa lalu tanpa ada kepastian... untuk apa?
Samuel mengembuskan napas berat, mencoba mengusir pikiran negatif itu. Ia beranjak dari kasur, melipat selimut, dan merapikan tempat tidurnya dengan cekatan.
Begitu melangkah keluar menuju dapur, sebuah pemandangan mendadak menyentuh sudut hati Samuel yang paling dalam. Di depan kompor, sosok Nyonya Riza sedang sibuk bergerak. Aroma gurih ayam goreng, sengatan wangi sambal, dan tumis sayur kangkung langsung menyerbu indra penciumannya.
Samuel melangkah mendekat, lalu menyapa dengan nada selembut mungkin. "Selamat pagi, Nyonya Riza."
Riza tersentak kaget. Ia membalikkan tubuh dengan cepat dan mendapati Samuel sudah berdiri di belakangnya, menatapnya sembari menyunggingkan senyum tipis.
"P-pagi... Pak," jawab Riza, suaranya terdengar kaku dan gugup.
"Jangan kaku sekali, Nyonya. Anggap saja sedang di rumah sendiri," ujar Samuel santai. Ia mengambil sebuah gelas, mengisinya dengan air putih, lalu meminumnya hingga tandas.
Samuel kemudian berjalan menuju ruang tengah untuk duduk di sofa. Saat itulah ia menyadari sesuatu. Apartemennya yang biasa berantakan, kini sudah bersih dan tertata sangat rapi. Samuel tersenyum kecil. Ia kini tahu bahwa sifat pembersih Riza adalah tabiat bawaan wanita itu sejak lahir, bukan sekadar basa-basi karena merasa berutang budi padanya.
Samuel menyalakan televisi, namun matanya tidak benar-benar fokus pada gambar yang bergerak di layar. Pikirannya kembali melayang.
Di televisi pun... apa ada banyak perubahan akibat Efek Kupu-kupu? Tindakan apa pun yang aku lakukan, sekecil apa pun itu, memangnya bisa merubah sebuah takdir besar?
"Pak Sam... makan dulu sini," panggil Riza lirih, memotong lamunan Samuel. Wajah wanita itu tampak malu-malu saat menunjuk ke arah meja makan.
Samuel beranjak dari sofa dan mengambil posisi duduk berhadapan dengan Riza. Begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, mata Samuel sedikit membelalak. Ia menatap Riza dengan binar kagum yang jujur.
"Wow, enak! Anda ternyata sangat pintar memasak, ya?" puji Samuel dengan senyum lebar yang tulus.
Mendengar pujian spontan itu, daun telinga Riza seketika memerah matang. Ia menundukkan kepala, mendadak sibuk dengan piringnya sendiri dan tidak sanggup menjawab pertanyaan Samuel.
07.00
Selesai makan, Samuel bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya untuk menyiapkan berkas-berkas penyelidikan.
Jika mengacu pada lini masa yang lalu, malam tanggal 7 Juni seharusnya menjadi waktu bagi Samuel untuk menyusun semua berkas ini. Namun, karena lini masa kali ini ia harus mendekam di rumah sakit, Ahmad-lah yang mengambil alih seluruh tugas tersebut. Kemarin sore, Samuel sempat mengirim pesan meminta Ahmad mengirimkan salinan berkasnya.
Pesan berisi dokumen dari Ahmad rupanya sudah masuk sejak tadi malam. Samuel membuka laptopnya, meneliti lembar demi lembar berkas digital tersebut, hingga gerak matanya mendadak terkunci pada satu kesimpulan yang aneh.
Berkas yang disiapkan oleh Ahmad ternyata 100% sama persis dengan berkas yang pernah disiapkan oleh Samuel di lini masa sebelumnya. Tidak ada perbedaan satu huruf pun.
Samuel bersandar di kursinya, menatap layar laptop dengan pandangan tak percaya.
Dunia selalu menyembuhkan dirinya sendiri, batin Samuel, takjub sekaligus ngeri. Di lini masa ini, yang menyiapkan berkas ini adalah Ahmad, tapi hasilnya tetap sama dengan apa yang aku buat. Hasil akhirnya tidak berubah. Alurnya saja yang dipaksa bergeser untuk mencapai titik yang sama.
Penemuan itu membuat Samuel semakin tenggelam dalam pekerjaannya. Ia membaca dan menganalisis berkas-berkas yang sama itu berulang kali hingga waktu berjalan berlarut-larut sampai malam hari.
Samuel benar-benar mengurung diri. Ia tidak membasuh tubuhnya sedari pagi, bahkan tidak peduli pada penampilannya sendiri. Fokusnya telah tersedot sepenuhnya. Ia hanya keluar dari ruang kerja sekali saat jam makan siang untuk mengisi perut, setelah itu kembali mengunci diri.
Sementara itu, di luar ruang kerja, Nyonya Riza hanya bisa duduk sendirian di sofa ruang tengah, menghabiskan waktu dengan jemarinya yang sibuk bermain ponsel, membiarkan keheningan apartemen menemani mereka berdua hingga larut malam.
Hari ini Samuel hanya membaca ulang berkas yang sama di lini masa sebelumnya