Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Di sisi lain kota, jauh dari keheningan istana keluarga Fanyera, raungan mesin motor memecah kesunyian malam di sebuah sirkuit ilegal yang tersembunyi. Bau aspal terbakar dan bensin menyeruak di udara, bercampur dengan sorak-sorai penonton yang haus akan adrenalin.
Di garis start, geng Amours—penguasa jalanan yang paling ditakuti—sudah berkumpul. Galen, sang ketua dengan senyum tenang namun mematikan, berdiri di samping motornya. Namun, malam ini, sorotan utama tertuju pada sang wakil, Kaisar.
Kaisar duduk di atas motor sport hitam pekatnya dengan pose yang sangat santai, namun memancarkan aura intimidasi yang luar biasa. Ia mengenakan jaket kulit hitam dengan lambang Amours di punggungnya. Helm full-face dengan kaca gelap menutupi wajahnya, membuat sosoknya terlihat seperti malaikat maut yang siap menjemput lawan-lawannya di lintasan.
"Jangan terlalu sadis, Sar. Kasihan anak-anak itu mentalnya bisa kena," celetuk Jigar sambil tertawa, sementara Azka dan David hanya mengangguk setuju dari kejauhan.
Kaisar tidak menjawab. Ia hanya memutar gas motornya.
VROOM! VROOM!
Begitu bendera dikibarkan, motor Kaisar melesat seperti peluru hitam. Ia tidak hanya membalap; ia mendominasi. Di tikungan tajam pertama, saat pembalap lain mengerem, Kaisar justru melakukan leaning yang sangat rendah hingga lututnya hampir mencium aspal, mengambil jalur dalam dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Gayanya sangat presisi dan tenang. Di tengah kecepatan tinggi, tubuhnya seolah menyatu dengan mesin. Setiap kali lawan mencoba memepet, Kaisar hanya perlu sedikit bermanuver untuk menutup jalur, membuat lawan-lawannya merasa seperti sedang mengejar bayangan yang tak tersentuh.
Pada trek lurus terakhir, Kaisar menarik gas secara maksimal. Motornya melesat meninggalkan lawan hingga terpaut jarak yang sangat jauh.
CIIIIITT!
Kaisar melakukan pengereman mendadak tepat di garis finish, menciptakan kepulan asap putih dari ban belakangnya yang bergesekan dengan aspal. Ia menang mutlak.
Ia membuka helmnya, menampakkan wajahnya yang tetap datar tanpa setetes keringat pun, seolah balapan maut tadi hanyalah pemanasan kecil baginya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan matanya yang tajam menatap ke arah kerumunan dengan dingin.
"Gila... emang nggak ada obat ini orang," gumam David sambil menggelengkan kepala.
Kaisar turun dari motornya, mengabaikan sorakan pemenang. Ia merogoh saku jaketnya, teringat kejadian di sekolah tadi
Suasana SMA Garuda sudah riuh rendah sejak pukul tujuh pagi. Lapangan utama dipenuhi lautan manusia. Ada yang sibuk latihan basket, ada yang membawa tumpukan buku olimpiade, hingga suara musik dari panggung seni yang berdentum kencang. Semua orang bersemangat, kecuali satu orang: Melody.
Di kamar mewahnya, gadis itu masih meringkuk di bawah selimut sutra, mendengkur halus sampai ponselnya meledak dengan puluhan panggilan dari Rere.
"HALO?! MELODY FANYERA! ELO DI MANA BEJIRRR?! INI ACARA UDAH MAU MULAI, ELO KAGAK ADA DI LAPANGAN!" suara melengking Rere dari seberang telepon membuat Melody terjungkal dari kasur.
"A-apa?! Jam berapa sekarang?!" Melody melirik jam. "MATI GUE!"
Melody pontang-panting lari ke kamar mandi, hanya sikat gigi kilat dan mencuci muka. Ia menyambar baju olahraga sekolahnya yang pas di badan, lalu berlari keluar tanpa sempat menguncir rambutnya. Rambut panjangnya yang halus tergerai indah, bergoyang tertiup angin saat ia berlari menuju gerbang sekolah. Tanpa makeup, wajahnya terlihat sangat segar, putih bersih dengan rona kemerahan di pipi karena panik.
Begitu sampai di area lapangan basket, Melody berlari kencang menyusuri pinggir garis lapangan untuk mencari keberadaan Rere dan Ghea.
"Buset... bidadari itu siapa, cakep bener?" celetuk Jigar yang sedang duduk di bangku cadangan, matanya sampai tak berkedip melihat gadis yang berlari itu.
"Itu bukannya si Melody, ya?" sahut David sangsi, mengucek matanya berulang kali. "Gila, kalau natural gitu speknya beda banget!"
Tepat saat Melody melewati area dekat ring, sebuah bola basket melesat kencang karena lemparan yang meleset dari tengah lapangan.
DUG!
"ADUH!" pekik Melody.
Bola itu telak mengenai sisi kepalanya, membuat tubuh mungilnya hilang keseimbangan dan terjatuh terduduk di aspal pinggir lapangan.
"Aduh, pantat gue... hancur sudah harga diri gue di depan umum!" ringisnya sambil memegangi kepala yang berdenyut.
Jiwa Asha-nya langsung meronta. Ia berdiri dengan emosi meledak, berkacak pinggang sambil menatap ke tengah lapangan dengan mata melotot. "Woi! Bener-bener RT ya! Kagak punya mata apa?! Perlu gue congkel tuh mata biar nggak sembarangan ngelempar?!" teriaknya galak.
"Siapa pelakunya?!" tantang Melody lagi.
"Kaisar," jawab Azka singkat dan datar dari arah belakangnya.
Mendengar nama itu, nyali Melody yang tadinya setinggi langit langsung ambles ke inti bumi. Ia menoleh perlahan ke tengah lapangan. Di sana, Kaisar berdiri tegak dengan kaos basket yang basah oleh keringat. Wajahnya tetap datar, tidak ada guratan rasa bersalah, matanya tajam dan sedingin es menatap Melody tanpa berkedip.
Aura intimidasi Kaisar terasa mencekik udara di sekitar Melody. Cowok itu hanya menatapnya sekilas seolah-olah Melody hanyalah seekor semut yang tak sengaja terinjak, lalu ia membuang muka kembali fokus ke permainan.
“Mampus gue... sebelum gue congkel tuh mata, nyawa gue kayaknya yang bakal melayang duluan kalau berurusan sama ini orang,” batin Melody meratapi nasib.
Melody langsung menurunkan tangannya dari pinggang, membetulkan bajunya yang sedikit berantakan, dan memasang wajah "pura-pura tidak melihat".
"Eh... anu... burungnya bagus ya pagi ini," gumam Melody asal bicara sambil berjalan mundur dengan langkah seribu, menjauh dari radar Kaisar secepat mungkin sebelum cowok itu merasa terganggu.
Ia tidak tahu saja, meskipun Kaisar terlihat datar, sudut mata tajam cowok itu sempat melirik ke arah rambut tergerai Melody yang berkilau di bawah sinar matahari. Hanya sedetik, sebelum ia kembali menjadi manusia es tak tersentuh