"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Batasan dan Hasrat yang Terjaga
Sedan mewah itu akhirnya berhenti dengan mulus di pelataran parkir sebuah kompleks kondominium super mewah di kawasan Jakarta Selatan. Setelah menempuh perjalanan yang penuh dengan salah tingkah dan ketegangan rasa yang manis, Kirana dan Martin melangkah masuk ke dalam lobi pribadi yang menuju langsung ke unit griya tawang (penthouse) yang telah disiapkan oleh Paman Aldo. Tempat ini bukan sekadar hunian, melainkan benteng pertahanan dengan sistem keamanan berlapis demi menjaga keselamatan Kirana dari kemungkinan pelacakan oleh keluarga Adiwangsa.
Begitu pintu lift terbuka, kemewahan minimalis langsung menyambut indra penglihatan Kirana. Lantai marmer putih tanpa cela, langit-langit tinggi dengan lampu kristal kontemporer, serta dinding kaca raksasa yang menampilkan siluet megah kerlip lampu kota. Namun, suasana di dalam unit tersebut terasa sangat sepi. Tidak terdengar suara aktivitas sama sekali.
Kirana berjalan ke arah sofa kulit panjang, sambil mengeluarkan ponsel berwarna gold-nya dari dalam tas. Ia langsung menekan nomor pribadi Paman Aldo untuk melakukan konfirmasi.
"Paman... Terima kasih apartemennya. Sangat luar biasa," kata Kirana saat panggilan telepon seketika tersambung. "Tapi... Asisten rumah tangganya belum datang atau bagaimana, Paman? Aku sama sekali tidak melihat siapa pun di sini."
Dari seberang telepon, suara berat dan penuh perlindungan dari Paman Aldo terdengar sambil terkekeh halus. "Belum, Kirana... Paman lagi melakukan seleksi ketat terlebih dahulu demi keamanan kamu. Kita tidak bisa memasukkan sembarang orang ke dalam lingkaran terdekatmu sekarang. Untuk sementara waktu, biarkan Martin saja yang mengurus segala keperluan dasarmu di sana. Dia sangat bisa diandalkan."
"Baiklah, Paman... Terima kasih atas semuanya," jawab Kirana sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon tersebut.
Huffh...
Kirana melepaskan desah napas panjang yang penuh kelelahan psikologis. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, menyandarkan kepalanya yang terasa berat sambil memijat pelipisnya sendiri. Hari ini terasa sangat panjang dan padat. Dimulai dari pertemuan tingkat tinggi bersama Tuan Rudi Dewantara, hingga aksi tempur heroik di selasar gedung GBC yang hampir membuat jantungnya copot.
"Martin... Kamu di mana?!" teriak Kirana sambil setengah berbaring, suaranya terdengar sedikit manja karena daya tahan tubuhnya yang mulai menurun.
Tak butuh waktu lama, Martin datang dari arah dapur bersih sambil membawa segelas minuman hangat berupa teh chamomile dengan aroma menenangkan. Ia melangkah dengan sopan, lalu meletakkan gelas tersebut di atas meja kaca di depan Kirana.
"Nona... Kamu sangat lelah, minumlah ini terlebih dahulu untuk merilekskan pikiran," kata Martin dengan nada suara lembut dan penuh perhatian.
Kirana menegakkan tubuhnya sedikit, menatap manik mata Martin. Di sana, di atas sorot mata pria itu, Kirana tidak menemukan lagi kilatan topeng kepalsuan seperti yang selalu ditunjukkan oleh Adrian selama lima tahun pernikahan mereka. Yang ada di hadapan Kirana saat ini hanyalah sebuah ketulusan mutlak yang sangat dalam, sebuah keinginan untuk selalu berada di sana demi kenyamanan dirinya.
"Terima kasih, Martin," ucap Kirana sambil menerima gelas teh tersebut dan menyesapnya perlahan. Kehangatan cairan itu seketika menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat ketegangan di bahunya sedikit berkurang.
Sentuhan Bahu dan Tamparan Refleks
Martin masih berdiri di samping sofa, memperhatikan bagaimana Kirana beberapa kali memutar leher dan pundaknya yang terasa kaku dan pegal karena kelelahan.
"Apa Anda mau saya pijitin, Nona?" tanya Martin tiba-tiba dengan wajah polos.
Deg.
Kirana langsung menurunkan gelas tehnya dan menatap Martin dengan tatapan menyelidik dan tegas. "Jangan lancang yah, Martin!"
Martin langsung menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda maaf, namun dia tidak mundur. "Maaf, Nona... Saya melihat Anda sangat lelah. Otot bahu Anda terlihat sangat tegang karena tekanan sepanjang hari ini. Tadinya saya hanya ingin bantu meringankan beban tersebut dengan memijat bahu Anda secara profesional, tidak lebih."
Kirana terdiam sebentar. Ia memang merasakan seluruh sendi bahunya sangat ngilu dan butuh relaksasi tingkat tinggi saat ini. Mengingat di apartemen ini belum ada siapa-siapa selain mereka berdua, dan setelah melihat bagaimana kesetiaan Martin selama hari ini, Kirana akhirnya melunakkan tembok pertahanannya.
"Hanya bahu yah, Martin!" tegas Kirana sambil memperbaiki posisi duduknya menjadi membelakangi Martin.
"Baik, Nona Kirana," jawab Martin sambil tersenyum tipis.
Sebelum mulai, Kirana menoleh sedikit karena penasaran. "Eh, tunggu... Kamu bisa mijit juga?"
Martin maju satu langkah, menempatkan kedua tangannya yang hangat dan besar di atas pundak Kirana yang tertutup blazer. "Nanti Nona rasakan saja bagaimana sensasinya... Apakah saya layak mendapat bintang lima atau tidak," kata Martin bercanda halus.
"Hmm..." Kirana hanya bergumam pelan sambil memejamkan matanya.
Dan begitu jemari Martin mulai bergerak, Kirana seketika menahan napasnya. Pijatan Martin terasa sangat lembut, namun memiliki tekanan yang sangat tepat dan mengena pada titik-titik saraf kaku di bahunya. Setiap gerakan jemari Martin seolah menyalurkan kehangatan dan energi baru yang membuat seluruh tubuh Kirana merasa sangat nikmat dan nyaman.
Dalam hati terdalamnya, Kirana merasa pilu sekaligus sedih seketika. Selama lima tahun hidup bersama Adrian, dia tidak pernah diperlakukan semanis dan seperhatian ini. Adrian selalu menuntut Aruna untuk memijatnya sepulang kantor, tanpa pernah sekali pun bertanya apakah Aruna sedang lelah atau tidak. Di sini, di apartemen mewah ini, justru seorang pengawal pribadi yang memperlakukannya seperti seorang Ratu yang berharga.
Namun, saat Kirana sedang hanyut dalam kenyamanan, gerakan tangan Martin perlahan bergeser menurun dari bahu, melewati tulang selangka, dan mulai menyalurkan tekanan hangat ke area atas dada Kirana untuk melancarkan peredaran darah yang tersumbat karena stres.
Merasa posisi tangan Martin terlalu dekat dengan area sensitif wanitanya, insting bertahan Kirana seketika bangkit.
"Kamu... yang sopan ya?!" teriak Kirana seketika.
Plak!
Refleks yang sangat cepat membuat tangan Kirana melayang dan menampar keras pipi kanan Martin. Suara tamparan itu bergema di dalam ruangan yang sepi.
Martin seketika mundur satu langkah, memegangi pipi kanan-nya yang seketika berubah menjadi merah dan meringis perih. Tamparan Kirana cukup kuat untuk membuat kulitnya terasa panas.
Harga Diri dan Batasan Tegas
Melihat Martin yang terdiam sambil memegangi pipinya, Kirana seketika dirundung perasaan bersalah yang sangat besar. Ia berdiri dari sofa dan langsung menghampiri Martin dengan wajah panik.
"Maaf... Martin... Kamu... kamu gak apa-apa?!" kata Kirana, suaranya bergetar penuh penyesalan. Tangannya hampir terangkat untuk menyentuh pipi Martin yang terluka karena perbuatannya, namun dia menahannya di udara.
Martin menatap Kirana, dan di dalam benaknya, pria itu sama sekali tidak merasa marah.
Perempuan ini... galaknya minta ampun! Tapi... Aku sangat suka. Dia adalah perempuan yang memiliki harga diri tingkat tinggi dan tidak mudah untuk direndahkan oleh siapa pun, batin Martin sambil menahan senyuman di balik meringisnya.
"Tidak, Nona... Saya tidak apa-apa. Ini hanya sakit kecil," jawab Martin sambil kembali menegakkan tubuhnya dan menurunkan tangannya dari pipi.
"Mengapa kamu... mengerayangi area dada saya?!" tanya Kirana dengan wajah yang masih memerah kombinasi antara marah dan malu.
Martin menatap Kirana dengan tatapan serius dan polos. "Maaf, Nona Kirana... Saya sama sekali tidak mempunyai niat buruk seperti itu. Saya hanya menyalurkan tekanan darah saja di atas tulang selangka, karena di sana pusat ketegangan stres berada. Lagian... Saya tidak akan pernah berani untuk menyentuh area terlarang Nona tanpa izin. Kesetiaan saya hanya untuk menjaga Anda, bukan melecehkan Anda."
Mendengar penjelasan Martin yang sangat logis dan ksatria, Kirana menarik napas panjang untuk menenangkan debaran jantungnya. Ia harus kembali menegaskan posisi di antara mereka agar tidak terbawa suasana romantis yang berbahaya ini.
"Ingat, Martin... Kamu ini hanya ajudan dan pengawal pribadi di apartemen ini! Jaga batasanmu, dan jangan pernah melampauinya lagi!" tegas Kirana dengan nada suara dingin dan berwibawa kembali.
"Baik, Nona... Saya faham dan akan selalu menuruti perintah Anda," jawab Martin sambil membungkuk hormat tanpa bantahan sama sekali.
"Sudah... Aku mau istirahat di dalam kamar," kata Kirana sambil membalikkan tubuhnya. "Kalau kamu mau pulang, pulang saja ke rumahmu. Tapi kalau kamu mau tinggal di sini untuk menjaga keamanan lobi, kamu sama sekali jangan pernah masuk ke dalam kamarku!"
"Siap, Nona... Saya sangat faham," balas Martin tegas layak seorang prajurit.
Insiden di Anak Tangga dan Pangkuan Hangat
Kirana melangkah dengan angkuh dan berwibawa menuju koridor kamar utama yang berada di area atas lantai dua unit griya tawang tersebut. Namun, karena pikiran dan fokusnya masih terpecah memikirkan kejadian tamparan dan getaran kulit tadi, Kirana tidak melihat satu anak tangga terakhir dengan sempurna karena masih mengenakan sepatu hak tingginya.
Krek.
"Aw... aduh...!!" teriak Kirana seketika saat pergelangan kaki kanannya tertekuk ke arah samping dan kehilangan pijakan. Tubuhnya langsung terduduk di anak tangga sambil memegangi kakinya yang seketika merasa ngilu luar biasa karena terkilir.
Martin yang sejak tadi selalu memperhatikan setiap langkah Kirana dari bawah, langsung berlari cepat secepat kilat menghampirinya tanpa memedulikan perintah "jaga batasan" tadi.
"Nona... Anda tidak apa-apa?!" tanya Martin sambil berlutut di depan Kirana dengan wajah penuh panik.
"Tidak... Sudah gak usah bantu! Aku bisa sendiri!" tolak Kirana sambil mencoba berdiri, namun baru saja bertumpu sedikit, rasa sakit yang sangat menyengat langsung membuatnya kembali terduduk sambil merintih kesakitan. "Akhh... sakit sekali..."
Melihat Kirana yang benar-benar tidak kuat untuk berjalan lagi menuju kamarnya, Martin tidak membuang waktu untuk meminta izin lagi. Dengan gerakan tegap dan sangat lembut, Martin langsung menyusupkan kedua tangannya di bawah tubuh Kirana dan memangkunya (bridal style) ke atas dadanya yang kuat.
Grep.
"Kamu... apa-apaan ini, Martin?!" teriak Kirana terkejut, kedua tangannya seketika berada di atas dada Martin untuk mendorongnya. "Lepaskan aku sekarang juga!"