NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Foto Lama 20 Tahun Lalu

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Almira masih memegang ponsel Dimas ketika keheningan memenuhi ruang apartemen.

Foto itu tampak biasa saja.

Foto lama dengan kualitas yang mulai menurun.

Diambil menggunakan kamera yang jelas berasal dari era sebelum ponsel pintar.

Namun isi foto tersebut jauh dari biasa.

Karena untuk pertama kalinya, masa lalu dan masa kini bertabrakan secara langsung.

Pradipta Valencia.

Arman Mahardika.

Dan pria misterius yang berdiri di seberang jalan.

Dalam satu foto.

"Aku tidak suka ini."

gumam Reynard.

"Kamu selalu mengatakan itu."

jawab Almira.

"Karena hidup kita terus memberiku alasan."

Biasanya Almira akan membalas dengan sindiran lain.

Namun kali ini pikirannya terlalu sibuk.

Jika ayah mereka ada di foto itu...

Apa artinya?

Apakah mereka pernah terlibat dengan Aurora?

Atau justru sedang menyelidikinya?

Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.

Karena selama ini, jauh di dalam dirinya, ia masih percaya bahwa orang tuanya tidak menyembunyikan sesuatu yang terlalu besar.

Namun bukti-bukti yang muncul semakin menunjukkan hal sebaliknya.

Dimas mengambil kembali ponselnya.

Kemudian memperbesar foto tersebut.

"Perhatikan bagian belakang."

katanya.

Di latar foto tampak sebuah bangunan tua.

Bangunan yang terlihat seperti kantor atau fasilitas penelitian.

Tidak ada nama yang terlihat jelas.

Namun ada simbol kecil di dekat pintu masuk.

Simbol yang langsung membuat Reynard menegang.

"Tunggu."

katanya.

"Apa?"

tanya Almira.

Reynard mengambil ponsel itu.

Memperbesar gambar.

Lalu menunjuk sebuah lambang berbentuk lingkaran dengan tiga garis yang saling berpotongan.

"Aku pernah melihat simbol ini."

Dimas dan Almira langsung menoleh.

"Di mana?"

Reynard berpikir sejenak.

Kemudian matanya membesar.

"Di dokumen milik ayahku."

Ruangan kembali hening.

"Dokumen apa?"

tanya Almira.

"Aku tidak yakin."

"Itu jawaban yang sangat membantu."

"Aku serius."

Reynard mengusap wajahnya.

"Aku hanya ingat pernah melihat simbol ini di salah satu berkas lama beberapa tahun lalu."

"Dan kamu tidak pernah bertanya?"

"Aku saat itu lebih tertarik bermain golf daripada memeriksa arsip perusahaan."

"Masuk akal."

gumam Almira.

"Tidak perlu menghakimi."

"Sedikit perlu."

Meski begitu, informasi itu penting.

Karena untuk pertama kalinya mereka memiliki petunjuk yang menghubungkan foto tersebut dengan sesuatu yang nyata.

Pagi mulai datang.

Sinar matahari masuk melalui jendela apartemen.

Namun tidak ada yang merasa lebih tenang.

Sebaliknya.

Semakin banyak informasi yang mereka dapatkan, semakin besar kebingungan yang muncul.

Karena satu hal mulai terlihat jelas.

Aurora bukan sesuatu yang baru.

Aurora telah ada selama puluhan tahun.

Dan orang tua mereka mengenalnya jauh lebih lama daripada yang mereka akui.

Sekitar pukul delapan pagi, ponsel Reynard berdering.

Nama yang muncul membuat semua orang langsung memperhatikan.

Arman Mahardika.

Ayahnya.

Ruangan mendadak tegang.

Karena sejak investigasi ini berkembang, komunikasi dengan keluarga mereka menjadi semakin rumit.

Reynard mengangkat telepon.

"Halo, Yah."

Beberapa detik ia hanya mendengarkan.

Lalu ekspresinya berubah.

"Apa?"

Almira langsung menatapnya.

"Ada apa?"

bisiknya.

Namun Reynard mengangkat tangan, meminta mereka menunggu.

Percakapan berlangsung hampir dua menit.

Kemudian telepon ditutup.

Dan wajah Reynard tampak lebih serius daripada sebelumnya.

"Itu ayahku."

katanya.

"Kami bisa menebaknya."

jawab Almira.

"Bukan itu masalahnya."

"Lalu?"

Reynard menarik napas panjang.

"Ayahku ingin bertemu."

Hening.

"Sendiri?"

tanya Dimas.

"Ya."

"Di mana?"

"Rumah keluarga."

Keheningan kembali turun.

Karena semuanya memahami risiko yang ada.

Setelah semua yang terjadi, tiba-tiba Arman meminta pertemuan pribadi.

Terlalu kebetulan.

Terlalu mencurigakan.

"Mungkin dia tahu sesuatu."

kata Almira.

"Mungkin."

jawab Dimas.

"Atau mungkin dia sedang diawasi."

Kemungkinan itu membuat suasana semakin berat.

Karena selama ini mereka menganggap orang tua mereka berada di luar permainan.

Namun bagaimana jika mereka juga menjadi target?

"Aku harus pergi."

kata Reynard akhirnya.

Dimas langsung menggeleng.

"Itu berbahaya."

"Dia ayahku."

"Dan?"

Reynard menatapnya.

"Kalau dia benar-benar dalam masalah, aku tidak bisa mengabaikannya."

Tidak ada yang bisa membantah alasan itu.

Karena mereka mungkin melakukan hal yang sama.

"Aku ikut."

kata Almira.

"Tidak."

jawab Reynard cepat.

Almira langsung menyipitkan mata.

"Maaf?"

"Kali ini tidak."

"Kenapa?"

"Karena terlalu berisiko."

Almira tertawa pendek.

"Kamu sadar kita sedang diburu organisasi misterius, kan?"

"Justru karena itu."

"Aku tidak butuh penjaga."

"Aku tidak bilang kamu butuh."

"Lalu?"

Reynard terdiam beberapa saat.

Kemudian menjawab pelan,

"Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa perencanaan.

Tanpa sindiran.

Tanpa humor.

Dan setelah mengatakannya, Reynard langsung tampak menyesal.

Karena sekarang semua orang di ruangan itu menatapnya.

Termasuk Dimas.

Yang terlihat sangat menikmati situasi tersebut.

Sementara Almira...

Almira tidak tahu harus menjawab apa.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Dan itu sangat mengganggu.

"Aku..."

kata Reynard cepat.

"...maksudku, akan merepotkan kalau sesuatu terjadi padamu."

Dimas langsung menutup wajah dengan kedua tangan.

"Itu upaya penyelamatan yang buruk."

gumamnya.

"Diam."

jawab Reynard.

Almira memalingkan wajah agar tidak terlihat tersenyum.

Namun senyum itu tetap muncul.

Kecil.

Dan diam-diam.

Dua jam kemudian mereka meninggalkan apartemen.

Rencana akhirnya disusun.

Reynard akan menemui Arman.

Almira dan Dimas akan mengawasi dari kejauhan.

Tidak ideal.

Namun cukup aman.

Setidaknya menurut mereka.

Perjalanan menuju rumah keluarga Mahardika berlangsung tanpa gangguan.

Namun semakin dekat ke tujuan, semakin besar perasaan tidak nyaman yang muncul.

Bukan hanya pada Reynard.

Pada Almira juga.

Karena sejak foto itu muncul, ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya.

Bagaimana jika orang tua mereka tidak sekadar mengetahui Aurora?

Bagaimana jika mereka pernah menjadi bagian darinya?

Mobil akhirnya berhenti beberapa ratus meter dari gerbang utama rumah keluarga Mahardika.

Reynard bersiap turun.

Namun sebelum keluar, ia menoleh.

Tatapannya bertemu dengan Almira.

Hanya beberapa detik.

Namun cukup lama untuk membuat suasana berubah.

"Aku akan segera kembali."

katanya.

Almira mengangguk.

"Jangan mati."

Reynard tertawa kecil.

"Itu cara yang aneh untuk menunjukkan perhatian."

"Siapa bilang aku peduli?"

"Benar juga."

Meski begitu, senyum yang muncul di wajah Reynard mengatakan bahwa ia tidak mempercayainya.

Sama sekali.

Reynard keluar dari mobil.

Lalu berjalan menuju gerbang besar rumah keluarganya.

Almira memperhatikannya sampai sosok itu menghilang di balik pepohonan halaman.

Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui.

Ia khawatir.

Sangat khawatir.

Bukan karena investigasi.

Bukan karena Aurora.

Melainkan karena Reynard.

Dan kesadaran itu membuatnya sedikit takut.

Sementara itu, beberapa kilometer dari lokasi mereka...

Seorang pria duduk di dalam mobil hitam yang terparkir di tepi jalan.

Di tangannya terdapat sebuah foto lama.

Foto yang sama yang baru saja diterima Almira dan Reynard.

Pria itu menatap foto tersebut cukup lama.

Kemudian menghela napas.

"Jadi mereka akhirnya menemukannya."

gumamnya.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

APA KITA HENTIKAN MEREKA?

Pria itu membaca pesan tersebut beberapa detik.

Lalu mengetik balasan singkat.

BELUM.

Pesan berikutnya langsung muncul.

KENAPA?

Pria itu menatap keluar jendela.

Ke arah langit yang mulai mendung.

Kemudian menjawab.

KARENA MEREKA AKAN MENEMUKAN KEBENARAN YANG SEHARUSNYA MEREKA KETAHUI.

Dan untuk pertama kalinya sejak Aurora muncul dalam cerita ini...

terlihat jelas bahwa seseorang di dalam bayangan tidak sedang berusaha menghentikan mereka.

Seseorang justru sedang membimbing mereka menuju sesuatu yang jauh lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!