Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Pengkhianat Nyi Blorong
Debu dan batu runtuhan Candi Cetho beterbangan menutupi langit malam.
Suara gemuruh runtuh nya candi berusia 1000 tahun menggema sampai ke lembah Matesih.
Di tengah kekacauan itu, tiga kekuatan besar saling bertarung.
*Rantai Hitam Rajah Kala* milik Raka.
*Angin Hitam Kala Bayu* milik Andi Sangkala.
*Naga Emas Nyi Blorong* yang baru saja turun dari langit.
*ROAAARRR!!!*
Cakar emas sepanjang 20 cm menyambar ke arah Raka.
Raka mengangkat Keris Kala Naga untuk menangkis.
CLANG!!!
Tangan Raka kesemutan. Kekuatan Nyi Blorong di wujud Naga Emas jauh di atas manusia biasa.
Bahkan di atas Andi Sangkala.
"Minggir kau, anak haram!" Suara Nyi Blorong bergema dari dalam tubuh naga.
"9 pusaka itu milik ku! Aku yang akan jadi Ratu Majapahit Baru!"
Andi Sangkala tidak tinggal diam.
Keris Kala Bayu di tangan nya ber putar, mencipta kan badai hitam yang menyapu ke arah Nyi Blorong.
"Mimpi kau, Nyi!" Andi berteriak.
"Kau pikir bisa mengkhianati kami ber dua dan lolos begitu saja?" Nyi Blorong tertawa. Tawa nya menggema seperti lolongan ular raksasa.
"Khianat? Aku hanya mengambil apa yang memang hak ku sejak awal!"
Ekor naga emas menyapu tanah.
Tiga Wali yang masih hidup langsung hancur ber keping keping. Darah mereka tersedot ke sisik emas Nyi Blorong.
"LIHAT ITU, RAKA!" Kala Rahu berteriak di dalam kepala Raka.
"Dia memakan darah 7 Wali! Dia ingin jadi satu satu nya pewaris Majapahit!" Raka mengepalkan tangan.
Lutut nya yang tadi patah sudah sembuh berkat darah kutukan.
"Kalau begitu... gue duluan yang makan dia."
Raka melompat.
Kecepatan nya tidak manusiawi. Dalam 0,5 detik dia sudah berada di atas kepala Naga Emas.
"MATI LU, ULAR!"
SRRRAAAKKK!!!
Keris Kala Naga menebas leher Naga Emas.
Percikan emas dan darah hitam menyembur ke mana mana.
Nyi Blorong menjerit kesakitan. "AAAAAKHHH!!! KAU BERANI?!"
Tapi tebasan itu tidak fatal. Sisik emas Nyi Blorong terlalu keras. Keris Kala Naga hanya membuat luka dangkal.
Nyi Blorong membalik kan tubuh. Ekor nya menyambar Raka dan melemparkan nya 20 meter jauh nya.
DUAAARRR!!!
Raka menghantam reruntuhan candi.Tulang rusuk nya retak lagi. Darah hitam mengucur dari mulut nya.
"Kau pikir bisa menang melawan ku dengan keris itu saja, Raka?" Nyi Blorong mendekat. Mata vertikal nya menyala merah.
"Aku sudah hidup 500 tahun! Aku sudah memakan darah ratusan pendekar!"
"500 tahun jadi ular pun gak bikin lu pinter."
Raka bangkit, tertawa serak. "Lu lupa... gue punya 1000 jiwa di belakang gue."
Raka menghentak kan Keris Kala Naga ke tanah.
"KELUAR! SEMUA!"
Tanah di sekitar Candi Cetho retak lagi.Tapi kali ini bukan rantai hitam yang keluar.
Dari celah celah itu, muncul ratusan tangan kerangka. Tengkorak tengkorak tanpa daging.
Suara ribuan orang berbisik semakin keras:
"RAJA... RAJA... BALAS DENDAM... BALAS DENDAM..."
1000 jiwa pengkhianat Majapahit yang tadi Raka bebas kan, kini bangkit dalam wujud arwah.
Andi Sangkala melihat itu dan mengernyit. "Sial... dia beneran bisa memanggil mereka semua."
Nyi Blorong mundur setengah langkah. Untuk pertama kali nya, ada ketakutan di mata nya. "Tidak mungkin... kau bisa mengendali kan 1000 arwah sekaligus!
"Gue bisa." Raka mengangkat tangan. "Karena gue... KALA RAJA."
1000 arwah itu menyerbu Nyi Blorong sekaligus. Mereka mencakar, menggigit, merobek sisik emas nya satu per satu.
"TURUNKAN AKU! TURUNKAN AKU!" Nyi Blorong menjerit.
"AKU NYI BLORONG! AKU TIDAK BISA MATI!"
"Di dunia ini... gak ada yang gak bisa mati, Nyi." Raka berjalan mendekat.
"Termasuk lu."
Keris Kala Naga diangkat tinggi tinggi.
"INI AKHIR NYA, NYI BLORONG!"
JLEBBB!!!
Keris itu menembus dada Nyi Blorong tepat di jantung nya.
Darah emas menyembur deras. Tubuh Naga Emas bergetar hebat.
ROAAARRR!!!
Jeritan terakhir Nyi Blorong mengguncang langit. Tubuh naga emas nya retak, lalu meledak menjadi cahaya keemasan. Dari dalam cahaya itu, jatuh sebuah keris kecil. Bilah nya emas, gagang nya ber bentuk kepala naga.
Keris Kyai Kala Emas.
Pusaka ketiga.
Raka menangkap nya sebelum jatuh ke tanah.
Hangat. Panas. Seperti memegang matahari.
"Satu..." Raka berbisik. "Tiga pusaka sudah di tangan gue."
Andi Sangkala menatap itu semua dengan wajah gelap. "Raka... kau sudah gila."
Raka menoleh. Mata nya hitam pekat, tanpa ampun. "Gue gila karena kalian semua yang bikin gue gila, Paman."
Rantai hitam Rajah Kala melilit Andi Sangkala dari belakang.
Andi tidak sempat menghindar.
"LEPASKAN AKU!" Andi berteriak.
"Ngaku dulu." Raka ber bisik di telinga nya. "Ngaku kalau kau yang bunuh bapak gue."
Andi terdiam. Lalu dia tertawa pelan.
"Iya." Suara itu pelan, tapi menusuk. "Aku yang bunuh kakak ku sendiri. Aku yang bunuh ayah mu."
"Kenapa?" Tanya Raka.
"Karena dia mau menyerah kan 9 pusaka pada mu, Raka." Andi menatap keponakan nya dengan mata penuh kebencian. "Dan aku tidak akan membiar kan darah Sangkala jatuh ke tangan bocah ingusan!"
Raka tidak menjawab. Dia hanya mengangguk an kepala nya pelan. "Begitu ya..."
SRRRAAAKKK!!!
Keris Kala Naga menggorok leher Andi Sangkala.Darah merah menyembur. Kepala Andi terpisah dari tubuh.
"AKHIR NYA..." Raka berbisik. "Balas dendam gue... selesai."
Tapi Kala Rahu di dalam kepala nya tertawa.
"SELESAI? HAHA! INI BARU MULAI, RAKA!"
Tanah bergetar lagi. Tapi kali ini bukan karena kutukan.Dari dalam reruntuhan Candi Cetho, muncul suara gendang kuno.
DUM! DUM! DUM! Suara itu semakin keras. Semakin dekat.
"APA ITU?" Raka mengernyit.
Dari dalam tanah, muncul sebuah gerbang batu raksasa. Ukiran di gerbang itu adalah gambar 9 keris yang saling ber silang. Dan di atas gerbang itu, ter tulis aksara Jawa kuno:
"ISTANA MAJAPAHIT BAWAH TANAH."
Raka menatap gerbang itu.
Nafas nya tercekat. "6 pusaka lain nya... ada di dalam sana."
Andi Sangkala yang sudah mati, tiba tiba tertawa. Kepala nya yang terpenggal masih bisa bicara. "Selamat datang... di neraka, Kala Raja."
GROOOANNNGGG!!!
Gerbang itu terbuka sendiri.
Raka berjalan masuk ke gerbang goa istana Majapahit bawah tanah. Kegelapan menyambut Raka begitu dia masuk ke dalam gerbang.
Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya hawa dingin yang menusuk sampai ke sumsum tulang.
DUM! DUM! DUM!
Suara gendang kuno itu semakin jelas.
Berat. Lambat. Seperti detak jantung raksasa yang sudah tidur 200 tahun.
Raka menyala kan Keris Kala Naga.
Bilah hitam nya memancar kan cahaya biru tipis, cukup untuk menerangi 3 meter di depan nya.
Di depan nya ter bentang koridor panjang.
Dinding nya ter buat dari batu hitam dengan ukiran prajurit Majapahit yang kepala nya ter penggal semua.
---
*[BERSAMBUNG KE BAB 28: "ISTANA MAJAPAHIT BAWAH TANAH"]*