"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Bara di Balik Pintu Kantin
****
Langkah kaki Saka yang lebar dan kokoh menarikku membelah koridor gedung administrasi yang mulai ramai oleh murid-murid yang keluar masuk ruang tata usaha. Genggaman tangannya di pergelangan tangan kananku terasa begitu hangat dan kencang, seolah-olah jika dia melonggarkan jemarinya sedikit saja, aku akan kembali ditarik masuk ke dalam ruangan penuh racun korporat tadi. Bandul bintang kecil pada gelang perakku berdenting konstan, bergesekan dengan kulitku yang masih dingin akibat sisa kepanikan.
Kami berjalan terus menuruni tangga menuju ke arah gedung belakang, menjauh dari area IPA dan memotong jalur menuju ke kantin bawah yang terletak di perbatasan antara wilayah anak-anak MIPA dan IPS. Saka tidak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang jalan. Rahangnya yang mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol memerah sudah cukup menjadi indikator bahwa amarah di dalam dadanya masih menyala hebat, meletup-letup menahan diri agar tidak meledak di area steril sekolah.
Begitu kami sampai di sudut kantin bawah yang agak sepi karena jam istirahat belum sepenuhnya dimulai, Saka akhirnya menghentikan langkah kaki lebarnya. Dia berbalik, melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tanganku secara perlahan, lalu menatapku lurus-lurus dengan mata elangnya yang tajam dan sarat akan kilat obsesi protektif.
"Lo duduk di sini, Mik. Jangan ke mana-mana," perintah Saka dengan nada suara bariton yang serak, rendah, namun dipenuhi oleh penekanan posesif yang mutlak. Dia menarik sebuah kursi plastik biru di sudut kantin bawah, memastikannya bersih sebelum menyuruhku duduk.
Aku merosot duduk di atas kursi tersebut dengan napas yang masih sedikit memburu. "Sak... lo beneran nekat banget tadi di ruang tata usaha. Itu perwakilan hukum resmi dari yayasan keluarga Devan, Sak. Kalau mereka beneran menuntut lo atas perusakan dokumen atau perbuatan tidak menyenangkan di luar sekolah, gimana?" tanyaku dengan nada suara yang bergetar hebat, sisa-sisa air mata di sudut mataku mulai mengering diterpa angin kantin.
Saka terkekeh sinis, sebuah tawa lirih yang terdengar begitu dingin namun penuh dengan pesona berandal yang tak kenal rasa takut mati. Dia mendudukkan dirinya tepat di atas meja kayu di hadapanku, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatapku dengan intensitas perlindungan yang teramat pekat di balik potongan rambut pendek barunya yang rapi.
"Gue gak peduli sama draf tuntutan hukum mereka, Mikaela. Mau mereka bawa sepuluh pengacara korporat sekalipun ke sekolah ini, mereka gak bakal bisa menakut-nakuti gue pake kertas sertifikat sampah kayak tadi," geram Saka, matanya menyipit tajam mengunci seluruh fokus kesadaranku. "Gue rela merapikan seragam gue seminggu ini cuma buat main cantik di depan Pak Malik biar gue gak ditendang keluar dari sekolah sebelum bisa memastikan lo aman. Tapi kalau orang-orangnya Devan udah berani melangkah masuk ke ruang tata usaha buat memeras emosi lo pake draf beasiswa... itu artinya mereka yang udah merusak perjanjian damai di luar sekolah."
Saka terulur maju, tangan besarnya meraih kembali telapak tangan kananku, mengusap permukaan perak dari gelang bintang kecil pemberiannya dengan ibu jarinya secara perlahan namun penuh dengan penekanan yang posesif. "Gue udah pernah bilang sama lo semalam lewat telepon, kan? Soal beasiswa kuliah lo... jangan pernah berani lo berpikir buat mengkhianati perasaan lo sendiri dan berjalan kembali masuk ke dalam sangkar emas milik Devan hanya karena lo takut gak bisa kuliah tahun depan. Gue gak bakal pernah mengizinkan tali jerat manipulasi psikologis itu mengikat leher lo lagi seumur hidup gue."
"Tapi jalurnya gak mudah, Sak," rintihku lirih, menatap lekat-lekat ke arah wajah tegasnya yang berada sangat dekat. "Keluarga Devan memegang subsidi penuh di yayasan itu. Kalau draf rekomendasi gue dicabut sepihak malam ini, orang tua gue gak bakal mampu membayar uang kuliah tunggal yang mahal di universitas impian gue tahun depan."
"Maka dari itu, mulai sore ini juga, permainan kita bakal kita naikkan ke ranah konfrontasi nyata yang jauh lebih agresif di luar sekolah," tutur Saka dengan nada suara yang merendah namun sarat akan keagresifan taktis yang sangat berbahaya. Dia menghentikan usapan jarinya pada gelangku, lalu mengunci tatapan matanya langsung ke dalam manik mataku dengan kilat amarah yang tertahan hebat. "Gue udah menyuruh Reno dan anak-anak pangkalan IPS belakang pasar lama buat mengumpulkan draf informasi alternatif. Ada satu yayasan beasiswa mandiri yang dikelola oleh alumni senior anak IPS yang sekarang sukses di luar kota. Jalur itu bersih total dari modal dan relasi bisnis keluarga besar Dirgantara. Sore ini setelah bel pulang sekolah berbunyi, lo ikut gue ke pangkalan buat mengurus draf administrasinya."
Gue tertegun mematung di atas kursi plastik kantin bawah, menatap tak percaya ke arah kecerdasan kalkulatif yang dimiliki oleh cowok *red flag* di hadapanku ini. Saka Aditya yang dulu di mata seluruh guru hanyalah seorang berandal ugal-ugalan yang hobi tawuran antar-pelajar dan melanggar aturan lalu lintas, kini telah menjelma menjadi benteng pertahanan paling taktis yang mampu menyiapkan rencana cadangan secepat ini demi menjaga kebebasan hidup diriku. Sifat protektif dan obsesi posesifnya tidak berkurang sedikit pun, melainkan mengkristal menjadi sebuah kekuatan nyata yang bergerak cepat di luar sistem hukum sekolah.
"Saka... lo beneran menyiapkan jalur alternatif itu buat gue?" tanyaku dengan suara yang tercekat di tenggorokan karena rasa haru yang luar biasa hebat menjalar memenuhi seluruh rongga dadaku.
"Gue gak bakal membiarkan lo kekurangan amunisi buat masa depan lo, Mik," seringai tipis nan sangat tampan akhirnya kembali terukir di sudut bibir Saka, mengikis kedinginan atmosfer di antara kami sore itu. "Gue bakal melakukan kerja sampingan apa saja di bengkel tua pasar lama, mengumpulkan setiap rupiah buat membantu biaya administrasi lo, atau bahkan mempertaruhkan sisa masa SMA gue biar lo bisa kuliah dengan tenang tanpa ada bayang-bayang ancaman dari si mantan Ketua OSIS posesif itu. Selama gelang bintang ini masih mengunci tangan lo... lo adalah hak milik perlindungan mutlak dari seorang Saka Aditya, dan gak akan ada satu pun ular korporat yang boleh menyentuh hidup lo."
Sebelum aku sempat membalas untaian kalimat manis namun agresif dari Saka, siluet tubuh Risa mendadak muncul dari arah tangga koridor atas, berjalan tergesa-gesa menuju ke meja sudut kantin tempat kami berada dengan wajah yang dipenuhi oleh kepanikan yang luar biasa baru.
"Mik! Gawat, Mik! Saka, lo harus lihat ke arah lobi depan sekarang juga!" seru Risa dengan napas yang memburu naik turun, memegang pinggiran meja kayu dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Saka refleks bangkit berdiri dari atas meja, membuat tubuh tingginya kembali menjulang tegap dengan pose siaga yang sangat mengintimidasi. Mata elangnya berkilat tajam menatap Risa. "Ada apa lagi, Ris? Orang-orang yayasan tadi membuat ulah lagi di ruang kesiswaan?"
"Bukan orang yayasan yang tadi, Sak!" Risa menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengatur napasnya yang putus-putus sebelum akhirnya meledakkan informasi baru yang membuat darahku rasanya kembali membeku seketika itu juga di atas kursi. "Mobil sedan mewah hitam milik keluarga Devan... baru saja masuk melewati gerbang utama sekolah dan parkir tepat di depan lobi gedung utama! Dan yang turun dari mobil itu bukan cuma anjing penjaganya, tapi Bapak Dirgantara sendiri—ayah kandung Devan—bersama dua orang perwakilan dari dinas pendidikan kota! Mereka datang buat menuntut pertanggungjawaban atas insiden perusakan draf kontrak di ruang tata usaha tadi, dan mereka sekarang lagi berjalan menuju ke ruang Kepala Sekolah bareng Devan yang nekat memotong masa skorsingnya hari ini juga!"
*DEEGGG!*
Duniaku rasanya benar-benar runtuh seutuhnya untuk yang kedua kalinya siang hari ini. Genggaman tanganku pada ujung almamater rapi milik Saka seketika mengeras dengan sangat kuat hingga kainnya tampak kusut. Devan... dia benar-benar iblis manipulatif tingkat tinggi yang tidak kenal rasa kapok. Setelah perwakilan hukumnya dipermalukan dan draf kontraknya dirobek habis oleh Saka, dia langsung menggunakan kartu as tertingginya—pengaruh kekuasaan ayah kandungnya dan jaringan dinas pendidikan kota—untuk menghancurkan masa depan Saka dan mengurungku kembali ke dalam sangkar emas penuh racun miliknya langsung di dalam sekolah.
Saka yang mendengar informasi maut itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau kepanikan sedikit pun di wajah tampannya. Sebaliknya, sebuah seringai dingin, tajam, nan sangat ugal-ugalan justru perlahan-lahan kembali terukir di sudut bibirnya yang kokoh. Mata elangnya berkilat penuh adrenalin, memancarkan aura berandal luar sekolah yang kini siap meledak seutuhnya membelah sistem hukum sekolah yang kaku.
Saka menundukkan wajahnya, menatapku lurus-lurus dengan binar perlindungan posesif yang teramat pekat dan tak terkalahkan. Tangan kokohnya bergerak cepat merogoh saku bagian dalam almamater rapinya, memastikan alat perekam suara digital berisi rekaman pemerasan emosional Devan masih aman di dalam genggamannya.
"Permainan modal mereka bener-bener bergerak cepat, Mik. Tapi mereka lupa kalau gue masih punya amunisi cadangan yang belum gue ledakkan di depan perwakilan dinas," bisik Saka dengan nada suara bariton yang sangat rendah, serak, dan sarat akan ancaman maut yang mengerikan bagi kubu musuhnya. Dia mencengkeram erat jemari tangan kananku, memberikan penekanan terakhir yang membuat seluruh rasa takut di dalam mentalku menguap tanpa sisa. "Lo tetap di sini bareng Risa. Jangan pernah berani lo melangkah mendekati ruang Kepala Sekolah sebelum gue selesai mengobrak-abrik taktik kotor milik keluarga Dirgantara di depan orang-orang dinas kesiswaan. Gue bakal pastikan hari ini jadi hari terakhir si ular posesif itu bisa mengancam kebebasan hidup lo di sekolah ini. Tetap percaya sama cara ugal-ugalan gue, Mikaela."
Saka melepaskan genggaman tangannya dengan satu sentakan cepat yang penuh energi, lalu berbalik tubuh dan melangkah lebar dengan gerakan kaki yang sangat kokoh membelah area kantin bawah, berjalan tegap menaiki anak tangga menuju ke ruang Kepala Sekolah untuk menghadapi badai konfrontasi nyata tingkat tinggi yang sudah menantinya di sana. Sumbu konflik asmara berkarakter *red flag* ini telah resmi meledak ke tingkat tertinggi yang melibatkan reputasi keluarga besar dan hukum dinas pendidikan kota, dan di bawah perlindungan keagresifan tulus milik si berandal patuh aturan, jalannya cerita dipastikan bakal bergerak dengan ritme yang jauh lebih liar, cepat, dan memacu adrenalin di bab-bab selanjutnya menuju akhir cerita nanti.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> Ketegangan taktis dan perang psikologis di luar sekolah bener-bener pecah dan mencapai titik klimaks tertinggi di Bab 29 ini! Kedatangan ayah kandung Devan bersama perwakilan dinas pendidikan kota untuk menuntut Saka atas insiden perusakan draf kontrak beasiswa bener-bener nunjukin kalau kubu Devan siap menggunakan segala bentuk kekuasaan modal dan relasi tingkat tinggi untuk membalas dendam secara nekat di dalam sekolah.
> Tapi untungnya, respons perlindungan total, posesif, dan sama sekali gak kenal rasa takut mati dari seorang Saka Aditya di bab ini bener-bener sukses bikin merinding sekaligus kagum banget! Dia tidak cuma mengandalkan gertakan otot ugal-ugalan biasa, tapi dia juga sudah siap melangkah masuk ke ruang Kepala Sekolah untuk meledakkan kartu as draf rekaman suara pemerasan emosional Devan langsung di depan orang-orang dinas kesiswaan kota. Hubungan dan kebebasan Mikaela sekarang benar-benar dipertaruhkan di atas meja hukum sekolah!
> Kira-kira konfrontasi seperti apa yang bakal terjadi saat Saka nekat berhadapan langsung dengan ayah kandung Devan dan perwakilan dinas pendidikan di ruang Kepala Sekolah nanti? Apakah Devan bakal bener-bener hancur reputasi keluarganya di media massa? Yuk, ikuti terus perkembangan kelanjutan kisah asmara beracun penuh proteksi beracun yang bikin candu ini setiap harinya ya! Jangan lupa klik **Like** dan tulis **Komentar** kalian!
>