"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
"Tahan, Alaric... Tahan. Dia baru saja kehilangan ayahnya, jangan jadi bajingan."
Bisikan super lirih itu menguap di keheningan pukul empat pagi. Alaric menatap wajah Calla yang sangat dekat dari dadanya. Embusan napas istrinya yang hangat terasa teratur menerpa lehernya. Di bawah temaram lampu kamar, bibir peach pink Calla yang sedikit terbuka terlihat begitu ranum, seolah mengundang siapa pun untuk mencicipinya.
Alaric menelan ludah. Jantungnya berdegup anarki. Selama puluhan tahun hidup sebagai tentara, ia dilatih untuk menahan rasa sakit, lapar, dan lelah. Namun, menghadapi gadis 21 tahun di pelukannya ini adalah siksaan paling nikmat sekaligus paling berat.
Perlahan, seolah digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, Alaric menundukkan kepalanya. Jarak wajah mereka terkikis menjadi nol.
Cup.
Bibir tipis Alaric menempel di atas bibir lembut Calla. Sangat pelan. Sangat hati-hati, seperti takut memecahkan porselen mahal. Hanya menempel selama tiga detik tanpa lumatan, sebelum Alaric buru-buru menarik kepalanya kembali dengan napas memburu.
"Astaga..." Alaric merutuki dirinya sendiri. Seluruh tubuhnya menegang hebat, terutama bagian bawahnya yang mengeras maksimal karena sejak semalam kaki kanan Calla yang mulus sengaja bertengger di sana, mengunci pusat pertahanan sang Komandan hingga terasa sangat sesak dan tidak nyaman.
Di balik mata yang terpejam rapat, Calla sebenarnya sudah terbangun sejak Alaric menundukkan kepala. Jantung Calla bersorak girang setengah mati di dalam batinnya. Wah, om-om kaku ini akhirnya berani juga ya! Biarpun cuma nempel tiga detik, tapi rasanya kayak kesetrum listrik raket nyamuk! Gemes banget!
Tak hanya itu, Calla juga bisa merasakan dengan sangat jelas ada sesuatu yang besar, keras, dan tegang tepat di bawah pahanya. Otak cegil-nya langsung berputar cepat untuk menjahili suaminya.
Sambil memasang wajah polos setengah tidur, Calla mulai melancarkan aksinya. Ia berpura-pura mengigau, menggerakkan kaki kanannya dengan sengaja, menggesek-gesekkan pahanya tepat di atas kejantanan Alaric yang sedang menegang.
"Eunghh... sosis... kok ada sosis gede banget di kasur Ismut... empuk tapi keras..." racau Calla dengan suara serak khas bangun tidur, sengaja menggesekkan kakinya sekali lagi dengan gerakan manja.
DEG!
Alaric melotot sempurna. Seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir kencang ke kepala. Panik, syok, dan malu bercampur menjadi satu hingga wajah sangarnya berubah merah padam seperti kepiting rebus yang matang di dalam panci.
"C-Calla! Lepas!"
Dengan gerakan kilat khas Pasukan Khusus, Alaric langsung menyibak selimut, menyingkirkan kaki Calla dari atas tubuhnya, lalu melompat turun dari kasur seolah-olah tempat tidur itu baru saja dipasang ranjau darat.
"Paksu... mau ke mana?" tanya Calla dengan suara serak yang dibuat se-polos mungkin, mengerjap-ngerjapkan matanya yang sengaja dibuat sayu.
"Saya... saya mau ke kamar mandi! Mau pipis! Jangan bergerak dari kasur!" seru Alaric gugup, suaranya bahkan sempat pecah. Pria berusia 38 tahun itu langsung berlari cepat masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan deburan keras.
BRAK!
Begitu pintu kamar mandi terkunci, Calla langsung berguling di atas kasur, menarik bantal untuk menutupi wajahnya agar suara tawanya tidak meledak keluar. Tubuh mungilnya terguncang-guncang menahan tawa yang luar biasa geli.
"Bwahaha! Aduh mami, lucu banget sih Paksu!" Calla memukul-mukul kasur dengan gemas. "Komandan Pasukan Khusus yang ditakuti satu pangkalan, langsung lari terbirit-birit cuma gara-gara digesek pakai kaki! Mana dibilang sosis lagi, hahaha! Rasain lu Om Kaku, makanya jangan hobi nahan nafsu!"
Pukul tujuh pagi, suasana di dalam rumah dinas berubah menjadi medan perang baru. Kamar tidur mereka sudah seperti kapal pecah dengan isi koper Calla yang terbongkar di mana-mana.
"Hwaaa! Paksu, jepitan badai Ismut yang warna pink kemarin di mana ya?! Kok nggak ada?!" teriak Calla dari dalam kamar, membuat Alaric yang sedang menyetrika kemeja dinasnya di ruang tengah menggelengkan kepala.
"Ada di atas meja rias, Calla. Sudah saya rapikan tadi subuh," sahut Alaric dengan suara baritonnya yang sudah kembali tenang, walau sisa canggung semalam masih sedikit membekas.
"Terus ini lipstik peach Ismut kenapa tutupnya ilang satu?! Paksu yang umpetin ya buat dicium-cium?!" tuduh Calla lagi, memunculkan kepalanya dari balik pintu dengan wajah cemberut.
Alaric menghela napas panjang, menaruh setrikaannya dengan rapi. "Saya tidak ngumpetin, Ismut. Tutupnya jatuh di bawah kolong ranjang saat kamu membongkar tas kosmetikmu tadi. Cepat bersiap, jam delapan kurang lima belas menit."
"Iya, iya! Ini juga lagi dandan kilat tahu!"
Tepat pukul delapan kurang lima menit, pintu kamar mandi terbuka kembali. Alaric yang sedang merapikan baret merahnya di depan cermin ruang tamu mendadak menghentikan gerakannya. Ia membalikkan tubuhnya, dan seketika itu juga, napasnya kembali tertahan.
Calla keluar dengan penampilan yang luar biasa menakjubkan. Ia mengenakan terusan gaun brokat berwarna hijau pastel yang sangat elegan, dengan potongan leher sabrina yang sopan namun memperlihatkan leher jenjangnya yang indah. Rambut panjangnya ditata rapi disanggul modern kecil di belakang, menyisakan sedikit anak rambut di dekat telinganya. Riasan wajahnya sangat pas, anggun, dengan lipstik berwarna nude pink yang membuatnya terlihat sangat berkelas, tipikal menantu keluarga terpandang.
Sikap cegil yang tadinya semrawut mendadak hilang, digantikan oleh aura anggun seorang Ibu Komandan yang sangat berwibawa.
Alaric mematung, matanya menatap lekat-lekat penampilan istrinya tanpa berkedip. Ada rasa bangga sekaligus debaran aneh yang membuncah di dalam dadanya.
"Gimana, Paksu? Cocok nggak jadi Ibu Persit nomor satu di pangkalan ini?" tanya Calla. Suaranya mendadak berubah menjadi lembut dan anggun, sangat bertolak belakang dengan kelakuannya yang hobi mengigau "sosis" tadi subuh.
Alaric berdehem, melangkah mendekat lalu merapikan posisi selendang yang melingkar di bahu Calla dengan gerakan yang sangat lembut. "Sangat cantik. Kamu... terlihat sangat elegan, Calla."
Calla tersenyum manis, namun sedetik kemudian, mata kucingnya kembali berkilat jahil. Ia berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Alaric lalu berbisik dengan nada yang sangat menggoda.
"Makasih, Paksu... Tapi tenang aja, keanggunan ini cuma buat ibu-ibu Persit di luar kok. Kalau di dalam kamar nanti malam... Ismut tetep bakal jadi istri solehot yang hobi meluk guling sosis keras milik Paksu."
Alaric langsung menegang, wajahnya kembali merona merah tua dalam sekejap. Sebelum ia sempat membalas atau menegur, Calla sudah berjalan anggun mendahuluinya menuju pintu depan sambil membetulkan tas tangan kecilnya dengan senyum tanpa dosa.
"Ayo keluar, Paksu. Ibu Wakil Komandan udah mau sampai itu di depan teras," ucap Calla riang, meninggalkan Alaric yang hanya bisa memijat pelipisnya menahan pening akibat serangan jantung pagi dari istrinya yang ajaib.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨