Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.
Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.
Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.
Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter tiga
Aku tiba di rumah keluarga Arshawirya keesokan paginya, setelah Selina mengantar Seina ke sekolah.
Aku memarkir mobil di luar gerbang besi yang mengelilingi properti mereka. Aku belum pernah berada di dalam rumah yang dilindungi oleh gerbang sebelumnya, apalagi tinggal di sana. Namun, lingkungan elite di Jakarta selatan ini semuanya tampak berisi rumah-rumah mewah bergerbang raksasa.
Mengingat betapa rendahnya tingkat kriminalitas di sekitar sini, hal itu terasa berlebihan, tapi siapalah aku hingga berhak menilai?
Jika situasinya sama, kalau aku punya pilihan antara rumah bergerbang dan rumah tanpa gerbang, aku juga akan memilih yang bergerbang.
Gerbang itu terbuka saat aku datang kemarin, tapi hari ini tertutup rapat. Tampaknya terkunci. Aku berdiri di sana sejenak, dengan dua tas jinjing di dekat kakiku, mencoba mencari tahu cara untuk masuk ke dalam. Tampaknya tidak ada bel pintu atau tombol pemanggil jenis apa pun. Namun, penata taman itu ada di area rumah lagi, berjongkok di tanah dengan sekop di tangannya.
"Permisi!" Seruku.
Pria itu melirikku sekilas dari balik bahunya, lalu kembali menggali. Ramah sekali.
"Permisi!" Kataku lagi, cukup keras agar dia tidak bisa mengabaikanku.
Kali ini, dia berdiri dengan sangat lambat seolah sengaja. Dia sama sekali tidak terburu-buru saat berjalan santai melintasi halaman depan yang luas menuju jalan masuk gerbang. Dia melepas sarung tangan karetnya yang tebal dan mengangkat alisnya ke arahku.
"Hai!" Kataku, mencoba menyembunyikan kekesalanku padanya. "Namaku Laily, dan ini hari pertamaku bekerja di sini. Aku ingin masuk ke dalam karena Nyonya Arshawirya sedang menungguku."
Dia tidak mengatakan apa-apa. Dari seberang halaman, aku hanya menyadari betapa besarnya dia—setidaknya satu kepala lebih tinggi dariku, dengan otot bisep sebesar pahaku—tetapi dari dekat, aku menyadari bahwa dia sebenarnya cukup tampan. Dia tampaknya berusia pertengahan tiga puluhan dengan rambut hitam pekat yang lebat dan lembap karena keringat, kulit sawo matang, dan ketampanan yang maskulin.
Dan satu hal pasti, dia tidak terlihat seperti orang Asia. Atau mungkin, dia orang eropa dengan campuran lokal.
Fitur wajahnya yang paling mencolok adalah matanya. Matanya sangat hitam—begitu gelap sampai aku tidak bisa membedakan antara pupil dan irisnya. Ada sesuatu dari tatapannya yang membuatku melangkah mundur.
"Jadi, um....bisa bantu aku membuka gerbangnya?" Tanyaku.
Pria itu akhirnya membuka mulut. Aku mengira dia akan menyuruhku pergi atau memintaku menunjukkan kartu identitas, tetapi sebaliknya, dia malah mencerca dengan rentetan kalimat bahasa italia yang cepat.
"Mi dispiace, non capisco cosa stai dicendo."
Setidaknya, kurasa itu bahasa Italia. Aku tidak bisa bilang kalau aku paham satu kata pun dari bahasa itu, tapi aku pernah menonton film Italia dengan terjemahan sekali, dan bunyinya mirip seperti ini.
"Ohh..." Kataku saat dia menyelesaikan monolognya. "Jadi, um... tidak bisa bahasa Indonesia?"
"Bahasa Indonesia?" Katanya dengan suara beraksen sangat kental, membuat jawabannya sudah sangat jelas. "Tidak. Tidak bisa bahasa Indonesia."
Bagus sekali. Aku berdeham, mencoba memikirkan cara terbaik untuk menyampaikan apa yang perlu kukatakan padanya. "Jadi aku..." Aku menunjuk dadaku.
"Aku bekerja. Untuk Nyonya Arshawirya."
Aku menunjuk ke arah rumah.
"Dan aku perlu... masuk ke dalam." Sekarang aku menunjuk ke gembok gerbang.
"Masuk ke dalam."
Dia hanya mengernyit menatapku. Bagus.
Aku sudah hampir mengeluarkan ponselku untuk menelepon Selina ketika dia berjalan ke samping, menekan semacam tombol sakelar, dan gerbang itu pun terbuka lebar, hampir seperti dalam gerakan lambat.
Begitu gerbang terbuka, aku meluangkan waktu sejenak untuk memandang ke arah rumah yang akan menjadi tempat tinggalku dalam waktu dekat.
Rumah itu berlantai dua ditambah loteng, membentang seluas apa yang tampak seperti panjang satu lapangan sepak bola.
Warna rumah itu putih bersih sampai hampir menyilaukan mata—mungkin baru saja dicat—dan arsitekturnya terlihat kontemporer, tapi untuk apa aku tahu soal itu?
Aku hanya tahu kelihatannya orang-orang yang tinggal di sini punya lebih banyak uang daripada yang mereka tahu bagaimana cara menghabiskannya.
Aku baru saja akan mengangkat salah satu tasku, tetapi sebelum sempat melakukannya, pria itu mengangkat kedua tas tersebut tanpa mengeluh sedikit pun dan membawakannya ke pintu depan untukku. Tas-tas itu sangat berat—isinya benar-benar mencakup semua hal yang kupunya selain mobilku—jadi aku bersyukur dia dengan sukarela membantuku mengangkat beban berat ini.
"Gracias." Kataku.
Dia menatapku dengan aneh. Hmm, itu tadi mungkin bahasa Spanyol. Ya sudahlah.
Aku menunjuk dadaku. "Laily." Kataku.
"Laily." Dia mengangguk paham, lalu menunjuk dadanya sendiri. "Im Nicho."
"Senang bertemu denganmu, Nicho." Kataku canggung, meskipun dia tidak akan memahamiku. Tapi demi Tuhan, jika dia tinggal di sini dan punya pekerjaan, dia pasti setidaknya mengerti sedikit bahasa Inggris. Dan untungnya aku bisa sedikit bicara bahasa Inggris.
"Piacere di conoscerti." Katanya.
Aku mengangguk tanpa kata. Begitulah usahaku berteman dengan si pria penata taman.
"Laily." Katanya lagi dengan aksen Italia-nya yang kental. Dia tampak seperti memiliki sesuatu yang ingin dikatakan, tetapi dia kesulitan dengan bahasanya. "You..."
Dia membisikkan sebuah kata dalam bahasa Italia, tetapi begitu kami mendengar pintu depan mulai terbuka, Nicho bergegas kembali ke tempat dia berjongkok tadi di halaman depan dan menyibukkan diri. Aku nyaris tidak bisa menangkap kata yang diucapkannya.
Pericolo?
Entah apa artinya. Mungkin artinya dia ingin minuman bersoda. Peri cola—sekarang dengan perasan jeruk nipis!
"Laily!" Selina tampak sangat gembira melihatku. Begitu gembiranya sampai dia merangkulkan lengannya ke tubuhku dan mendekapku dalam sebuah pelukan erat.
"Aku senang sekali kau memutuskan untuk mengambil pekerjaan ini. Aku merasa kau dan aku memiliki keterikatan. Kau tahu, kan?"
Sudah kuduga. Dia mengandalkan "firasat" tentangku, jadi dia tidak repot-repot melakukan penyelidikan. Sekarang aku hanya perlu memastikan dia tidak pernah punya alasan untuk tidak memercayaiku. Aku harus menjadi pelayan yang sempurna.
"Ya, saya mengerti maksud Anda. Saya juga merasakan hal yang sama."
"Kalau begitu, ayo masuk!"
Selina meraih lekukan sikuku dan membimbingku masuk ke dalam rumah, sama sekali tidak menyadari bahwa aku sedang kesusahan dengan dua tas barang bawaanku. Bukannya aku berharap dia akan membantuku. Hal seperti itu bahkan tidak akan terlintas di pikirannya.
Aku tidak bisa tidak menyadari ketika melangkah masuk bahwa rumah ini terlihat sangat berbeda dari pertama kali aku ke sini. Sangat berbeda. Saat aku datang untuk wawancara, rumah keluarga Arshawirya sangat bersih tak bercela—aku bahkan bisa makan dari sudut manapun di ruangan itu.
Tetapi sekarang, tempat ini terlihat seperti kandang babi.
Meja kopi di depan sofa diisi oleh enam cangkir dengan sisa cairan lengket yang berbeda-beda dalam jumlah yang bervariasi, sekitar selusin koran dan majalah yang remuk, serta sebuah kotak pizza yang penyok. Ada pakaian dan sampah berserakan di seluruh ruang tamu, dan meja makan masih menyisakan sisa-sisa makan malam.
"Seperti yang bisa kau lihat...." Kata Selina, "....kau datang di waktu yang sangat tepat!"
Jadi.....Selina Arshawirya adalah orang yang jorok—itulah rahasianya.
Butuh waktu berjam-jam bagiku untuk membuat tempat ini kembali ke kondisi yang layak.
Mungkin berhari-hari. Tetapi tidak apa-apa—aku sudah sangat mendambakan pekerjaan keras yang jujur. Dan aku suka fakta bahwa dia membutuhkanku. Jika aku bisa membuat diriku sangat berharga baginya, dia kemungkinan kecil akan memecatku jika—atau ketika—dia mengetahui kebenarannya, kalau aku punya riwayat kriminal.
"Biarkan saya menaruh tas-tas saya dulu." Kataku padanya. "Dan setelah itu saya akan merapikan seluruh tempat ini."
Selina mengembuskan napas lega yang tampak sangat bahagia. "Kau adalah keajaiban, Laily. Terima kasih banyak. Lagipula..." Dia mengambil tas tangannya dari atas konter dapur dan merogoh bagian dalamnya, sebelum akhirnya mengeluarkan iPhone versi terbaru.
"Aku membelikanmu ini. Aku tidak sengaja melihat kalau kau memakai ponsel yang sangat ketinggalan zaman. Jika aku perlu menghubungimu, aku ingin kau punya alat komunikasi yang bagus."
Dengan ragu, aku melingkarkan jari-jariku pada iPhone baru yang berkilau itu. "Wah. Ini benar-benar kebaikan yang luar biasa dari Anda, tetapi saya tidak mampu membayar paket layanan internetnya—"
Dia mengibaskan tangannya. "Aku sudah memasukkanmu ke dalam paket keluarga kami. Biayanya hampir tidak ada."
Hampir tidak ada? Aku merasa definisinya tentang kedua kata itu sangat berbeda dari definisiku.
Sebelum aku sempat melayangkan protes lebih jauh, suara langkah kaki bergema di tangga di belakangku. Aku berbalik, dan seorang pria berstelan bisnis abu-abu sedang berjalan menuruni tangga. Ketika dia melihatku berdiri di ruang tamu, dia mendadak berhenti di dasar tangga, seolah terkejut oleh kehadiranku. Matanya semakin melebar saat menyadari barang bawaanku.
"Jeffy!" Seru Selina.
.
.
.
.
.
.
To be continue....
Like gaes🥰
btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭