Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Kalimat Penenang
"Emily, dengarkan aku baik-baik," ucap Ferdi dengan nada rendah namun serius, matanya menatap tajam ke manik mata Emily. "Kamu pikir aku betah menjadi 'suami yang baik' di samping Kiara? Kamu pikir aku senang setiap malam harus tidur di sebelah wanita yang aku tidak cintai sepenuhnya, wanita yang polos dan sederhana itu? Tidak, Sayang. Tidak sama sekali. Aku ingin bersamamu. Aku ingin hidup bersamamu dan anak kita lebih dari apa pun di dunia ini." kalimat untuk menenangkan wanita itu.
Ferdi bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan itu, seolah sedang menjelaskan strategi besarnya.
"Tapi kamu harus mengerti posisiku sekarang. Aku belum jadi apa-apa, Emily. Ingat itu baik-baik. Aku belum jadi apa-apa. Segala sesuatu yang aku miliki sekarang, jabatan, mobil, rumah, kemewahan, semuanya masih atas nama keluarga Wijaya. Ayah Kiara, Pak Edward, dia masih memegang kendali penuh. Dia masih memegang kekuasaan mutlak di perusahaannya. Selama Pak Edward masih memegang kendali, selama aku belum resmi diangkat menjadi Direktur Utama yang memegang saham mayoritas... aku hanyalah menantu yang beruntung. Aku hanyalah orang asing yang ditampung dan diangkat derajatnya oleh mereka."
Ferdi berhenti melangkah, menunjuk dirinya sendiri dengan pandangan yang penuh ambisi.
"Kalau sekarang aku menceraikan Kiara, atau kalau aku sampai ketahuan berselingkuh dan punya anak darimu, apa yang terjadi? Pak Edward akan menghancurkan ku sekejap mata. Dia akan mencabut segala fasilitas ku, dia akan mengusirku dari perusahaan, dia akan memastikan namaku hancur dan aku tidak akan bisa bekerja di mana pun lagi. Aku akan kembali menjadi nol, Emily. Kembali menjadi pemuda miskin seperti dulu. Dan apa gunanya aku bagimu kalau aku miskin? Apa gunanya aku bagimu kalau aku tidak punya kuasa? Apakah kamu mau hidup susah bersamamu? Apakah kamu mau anak kita lahir dalam kemiskinan?"
Kalimat itu berhasil membuat Emily terdiam. Ia mengerti betul apa maksud Ferdi. Ambisi Emily bukan sekadar ingin memiliki Ferdi, tapi ingin memiliki kekuasaan, kemewahan, dan posisi tinggi. Ia ingin menjadi nyonya besar, bukan istri dari pria miskin yang dibenci keluarga Wijaya.
Ferdi mendekat kembali ke arah Emily, suaranya melembut lagi, berusaha menenangkan kekhawatiran wanita itu.
"Karena itu, sabar ya, Sayang. Waktunya sudah dekat. Bulan depan, Pak Edward berencana mengumumkan pengangkatan ku menjadi Direktur Utama. Itu adalah puncak dari semua perjuangan kita. Saat itu terjadi, saat kendali perusahaan dan aset besar sudah berpindah ke tanganku secara sah. saat itulah aku menjadi pemegang kekuasaan tertinggi. Saat itulah, aku bukan lagi menantu yang bergantung, tapi aku adalah tuannya. Saat itu terjadi, Pak Edward dan Bu Silvia tidak akan bisa berbuat banyak, karena nama besar perusahaan ada di tanganku, karena aku sudah memiliki koneksi dan kekuatan sendiri yang tak lagi bisa mereka hancurkan."
Ferdi mengusap pipi Emily, menatapnya dengan pandangan penuh janji palsu namun sangat meyakinkan.
"Setelah aku resmi menjadi direktur, setelah kekuasaanku mutlak, aku akan mengatur segalanya. Seperti rencana awal. Aku akan mengirim mu ke luar negeri sebentar untuk melahirkan, menjauh dari keramaian dan mata-mata orang. Setelah itu, aku akan mencari cara untuk memisahkan diri dari Kiara. Aku akan membuat Kiara sendiri yang meminta cerai, aku akan membuat hidupnya sulit dan tidak nyaman di rumah tangga ini, sampai dia lelah dan pergi sendiri. Aku tidak perlu berteriak minta cerai, aku hanya perlu membuat dia yang merasa tidak diinginkan. Dan saat itu terjadi... saat Kiara sudah keluar dari hidupku... kau akan aku bawa pulang, kau akan aku nikahi secara sah, dan kau akan menjadi nyonya besar yang duduk di sampingku, memegang kekuasaan setara denganku. Kau akan memiliki segalanya, Emily. Segalanya yang selama ini kamu iri kan dari Kiara, akan aku serahkan semua kepadamu."
Mendengar penjelasan itu, raut wajah Emily perlahan berubah. Kekhawatirannya mereda, digantikan oleh kilatan ambisi yang kembali menyala terang di matanya. Kata-kata Ferdi memang ampuh. Ia tahu persis apa yang diinginkan Emily, dan ia pandai sekali merangkai kata-kata agar wanita itu mau menunggu sedikit lebih lama lagi.
Namun di lubuk hati Emily yang paling dalam, rasa curiga dan rasa tidak aman masih bersarang. Ia tahu betul betapa polos dan baiknya Kiara. Ia tahu betul betapa Kiara mencintai Ferdi sepenuh hati. Ia khawatir, di saat-saat tertentu, Ferdi akan luluh lantak oleh kebaikan Kiara. Ia khawatir, meski Ferdi mengaku tidak mencintai Kiara, ada rasa terima kasih dan ketergantungan yang bisa berubah menjadi rasa sayang yang nyata. Dan yang paling Emily takutkan, adalah rencana Ferdi yang mengatakan akan mengirimnya ke luar negeri. Bagaimana kalau Ferdi berubah pikiran saat ia sudah jauh di sana? Bagaimana kalau Ferdi benar-benar memilih Kiara demi menjaga nama baik dan kekayaannya?
Emily bangkit berdiri, memeluk pinggang Ferdi, menempelkan kepalanya ke dada bidang suami sahabatnya itu. Di balik pelukan manja itu, tekadnya mengeras, menjadi besi yang tajam dan dingin.
"Baiklah, Mas... Aku percaya padamu. Aku akan menunggu sampai kamu resmi memegang kendali penuh. Aku akan menunggu sampai waktuku datang untuk menggantikan posisi wanita itu," bisik Emily pelan, suaranya terdengar lembut namun penuh makna. "Tapi ingat satu hal... Kiara adalah penghalang terbesar kita. Selama dia masih ada di sampingmu, selama dia masih menjadi istri sah mu. aku tidak akan pernah merasa aman. Dia terlalu baik, terlalu polos, dan keluarganya terlalu berkuasa. Dia adalah benalu yang harus dicabut sampai ke akar-akarnya."
Emily mengangkat wajahnya, menatap Ferdi dengan senyum tipis yang mengerikan.
"Kalau kamu ingin aman, kalau kamu ingin kami berdua dan anak kita bisa hidup tenang, Kiara dan kamu harus benar-benar terpisah. Tidak ada hubungan apa pun. Tidak ada rasa kasihan. Tidak ada rasa bersalah. Dia harus lenyap dari hidupmu, Mas. Kalau perlu... dia harus hancur, jatuh, dan tidak berdaya, agar kamu tidak merasa bersalah meninggalkannya. Aku akan pastikan itu terjadi. Aku akan bertekad penuh untuk memisahkan kalian berdua, dengan cara apa pun yang diperlukan. Karena aku tidak akan membiarkan ada wanita lain yang memilikimu, apalagi wanita itu adalah sahabatku sendiri yang selalu beruntung dalam segala hal."
Ferdi hanya mengangguk pelan, merasa lega karena Emily mau bersabar. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat terakhir Emily itu bukan sekadar janji setia, melainkan pernyataan perang yang sesungguhnya. Ferdi mengira Emily hanya ingin posisi, namun ia tidak tahu bahwa Emily sudah bertekad menghancurkan Kiara, tidak hanya dari sisi rumah tangga, tapi menghancurkan hidup wanita itu sampai ke dasar tanah, memastikan Kiara tidak pernah bisa bangkit kembali, dan memastikan tidak ada sisa ikatan apa pun yang tersisa antara suaminya dan wanita yang dulu mereka sebut sahabat itu.
Di luar jendela, matahari semakin meninggi, menyinari rumah itu dengan terang benderang. Namun di dalam sana, di antara dua manusia yang sedang merencanakan masa depan gelap itu, terhampar rencana jahat yang semakin matang, dan tekad yang tak tergoyahkan, Kiara harus tersisih, Kiara harus hancur, dan kemenangan mutlak harus ada di tangan mereka berdua.
Mereka tidak sadar, bahwa di luar sana, jauh lebih dekat dari yang mereka bayangkan, wanita yang mereka bahas itu sudah mengetahui segalanya, sudah merekam setiap kebohongan mereka, dan sedang bersiap memberikan balasan yang jauh lebih dahsyat dari apa yang pernah terbayangkan oleh akal jahat mereka.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi