Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
“Iya, Tuan,” balas Zara, mencoba menahan senyum gelinya. “Hanya mencampur tepung dan mentega ini.”
Benedict hanya menatap wadah berisi tepung itu dengan dahi berkerut. Ia sama sekali tidak berniat beranjak dari kursinya.
Zara tidak menyerah. Ia melangkah mendekati meja sekat dapur, menopang kedua tangannya di sana sembari menatap Benedict dengan binar jenaka yang sengaja diperlihatkan.
“Hanya mencampur tepung dan mentega, Tuan. Ku pikir pria sepertimu akan dengan mudah menangani hal sepele seperti ini,” ucap Zara.
Benedict menyipitkan matanya. “Kau sedang menantangku?”
“Tentu tidak, tuan. Aku hanya menawarkan kegiatan yang lebih produktif daripada sekedar duduk di sana, Kecuali….. kau takut pada tepung?” Zara tersenyum tipis namun sarat akan nada meledek.
Umpan itu langsung mengenai sasarannya. Ego Benedict yang setinggi langit jelas terusik mendengar dirinya disebut takut pada bubuk putih yang tidak lebih berbahaya dari mesiu.
Benedict mendengus kasar, lalu berdiri dari kursinya. Ia melangkah ke arah dapur, sambil menggulung lengan sweater hitamnya hingga siku.
Melihat pria itu terpancing umpannya, Zara buru-buru menyembunyikan senyum kemenangannya.
“Tunggu dulu, Tuan. Jangan langsung menyentuhnya,” cegah Zara saat Benedict sudah berdiri di depan wadah adonan.
Zara mengambil sebuah apron berwarna krem dari gantungan. “Pakai ini dulu”
Benedict melirik kain itu dengan tatapan enggan. “Tidak usah. Merepotkan.”
“Harus pakai, Tuan. Jika tidak bajumu akan penuh noda putih,” ucap Zara.
Tanpa menunggu persetujuan, Zara maju selangkah. Aroma manis yang samar dari tubuh Zara langsung menyergap indra penciuman Benedict saat gadis itu berjinjit untuk mengalungkan tali apron ke lehernya.
Jarak mereka mendadak menjadi sangat dekat. Benedict sempat mematung, sementara tangan Zara bergerak cepat ke belakang pinggan pria itu, menarik tali apron lalu mengikatnya menjadi simpul yang rapi.
“Nah, selesai” ucap Zara sambil mundur satu langkah.
“Sekarang, perhatikan aku dulu. Mengadoni tepung ini jangan menggunakan emosi. Tekan dengan bagian bawah telapak tangan, dorong ke depan, lalu lipat kembali. Jangan diremas dengan jari, nanti adonannya jadi bantat. Paham?”
Benedict mendengus remeh. “Hanya didorong dan dilipat? Anak kecil juga bisa.”
Dengan penuh percaya diri, Benedict langsung memasukkan kedua telapak tangan besarnya ke dalam wadah berisi campuran tepung dan air. Namun, realita tidak seindah teori. Alih-alih menjadi adonan yang kalis, tekstur lengket dan basah itu langsung menjebak jari-jarinya.
“Hei! benda ini tidak mau lepas,” gerutu Benedict.
Wajah pria itu mulai menunjukkan riak frustrasi saat ia mencoba mengangkat tangannya yang kini dipenuhi gumpalan putih lengket.
“Sudah ku bilang, gunakan telapak tanganmu, buka mencengkeramnya seperti itu,”
Zara menahan tawa sekuat tenaga melihat Benedict tidak berkutik di hadapan sebongkah tepung.
Di tengah kepanikan itu, Benedict merasakan sensasi gatal yang tiba-tiba menyerang hidung dan pipinya. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tangan kanannya yang masih berlumuran tepung tebal lalu mengusap wajahnya sendiri untuk meredakan rasa gatal tersebut.
Zara membelalakkan mata, lalu sedetik kemudian, tawa yang sejak tadi ditahannya pecah begitu saja.
“Pffttt—HAHAHA! Tuan, wajahmu!”
Benedict membeku. Merasa ada yang tidak beres, ia mengusap pipinya sekali lagi dengan punggung tangan, yang justru membuat situasinya semakin parah.
Kini, hidung mancungnya, pipi kirinya, bahkan sebagian dahinya sudah coreng moreng oleh tepung, sangat kontras dengan rambut gelap dan ekspresi wajahnya yang galak.
“Apanya yang lucu?” tanya Benedict ketus. Pria itu sama sekali tidak sadar kalau penampilannya sangat kacau.
“Wajahmu…. kau harus melihat cermin dulu, Tuan,” ujar Zara di sela tawanya hingga matanya berair.
Zara mengambil sebuah cermin lipat di laci dekat meja kasir. Sembari menahan sisa-sisa tawa yang masih menggelitik dadanya, ia kembali ke dapur dan menyodorkan cermin itu tepat di hadapan Benedict.
“Lihat sendiri, Tuan,” ucap Zara, suaranya masih sedikit bergetar karena geli.
Bendict menatap pantulan wajahnya pada kaca kecil tersebut. Seketika itu juga, tubuhnya menegang, rahangnya mengatup rapat saat menyadari kekacauan di wajahnya. Terlihat sangat konyol. Ia kembali menatap Zara tajam.
“Apa yang kau lihat?” tanya Benedict ketus. Ia mengangkat dua tangannya yang masih terbalut adonan lengket ke udara. “Cepat bersihkan wajahku”
Zara menggigit bibir bawahnya, sekuat tenang mencoba menghentikan tawa yang hampir meledak lagi. Ia menarik napa dalam-dalam, menepuk-nepuk dadanya sendiri agar bisa kembali tenang.
“Baik, baik. Tunggu sebentar, Tuan.”
Zara mengambil beberapa lembar tisu handuk tebal di gulungan dekat wastafel, lalu sedikit membasahinya dengan air hangat agar tepung yang mulai mengering di kulit Benedict bisa terangkat dengan mudah.
Setelah siap, Zara kembali melangkah mendekat. Ia harus berjinjit sedikit karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh. Benedict tetap berdiri tegak, namun matanya mengunci pergerakan Zara dengan tatapan intens.
Tangan kiri Zara perlahan terangkat, mendarat lembut di sisi rahang Benedict untuk menopang gerakannya agar tetap stabil. Kulit rahang pria itu terasa hangat dan sedikit kasar karena janggut tipis yang mulai tumbuh.
Zara mengusapkan tisu basah itu dengan lembut. Suasana mendadak begitu sunyi, hanya menyisakan suara deru napas mereka. Untuk memecah keheningan yang mulai terasa canggung, Zara membuka suara sambil terus mengusap sisa tepung di pelipis Benedict.
“Membuat adonan memang terlihat mudah dilakukan, Tuan. Tapi sebenarnya melakukan itu harus dengan kasih sayang”
Benedict hanya diam, namun matanya sedikit menyipit, mendengarkan kalimat Zara dengan seksama.
“Aku serius,” lanjut Zara dengan senyum tipis.
Jemarinya kini beralih membersihkan hidung mancung pria itu. “Roti itu seperti bisa merasakan energi orang yang membuatnya. Aku pernah membuat adonan saat sedang marah, alhasil adonannya tidak mau mengembang dan malah jadi roti yang bantat.”
“Jadi maksudmu, adonanku berantakan tadi karena aku melakukannya dengan rasa marah?”
“Bisa jadi,” balas Zara santai.
Benedict tidak membantah. Ia hanya menatap lurus pada manik Zara yang jernih, membiarkan gadis itu menyelesaikan tugasnya hingga wajahnya kembali bersih dari sisa-sisa tepung.
“Nah, sudah bersih” ucap Zara. “Sekarang, cepat cuci tanganmu. Biar aku yang melanjutkan adonan itu.”
Benedict melirik tangannya sendiri yang masih berlumuran gumpalan putih lengket, lalu mendengus pasrah. Ia mengkah ke wastafel, menyalakan keran, dan mulai membersihkan tangannya di bawah kucuran air. Sementara itu, Zara mulai memperbaiki tekstur adonan yang dikacaukan oleh Benedict.
Benedict yang sudah selesai mencuci tangan kini bersandar di dekat mesin kopi, melipat tangannya di depan dada.
Melihat pria itu hanya berdiri dian seperti patung pajangan, Zara kembali memutar otak. Ia melirik ke arah rak bahan makanan yang terletak agak tinggi di sudut dapur, lalu beralih menatap Benedict.
“Tuan,” panggil Zara tanpa mengalihkan pandangannya dari adonan.
“Apa lagi, Zara?” sahut Benedict waspada.