NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDm|29|Menghilang Dengan Jejak

Pagi itu di penthouse terasa terlalu sepi.

Aruna bangun pagi itu dengan suasana hati tak tenang, tidurnya tak nyenyak, matanya terpejam namun pikirannya ditempat lain. Hari ini terlalu sunyi tidak ada Andre yang mengetuk pintu. Tidak ada perintah. Pintu kamarnya tidak dikunci. Kontrak itu sudah terbuka di depan Marisa semalam. Alasannya sudah runtuh. Jadi, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Aruna benar-benar bebas.

Seharusnya ia lega.

Tapi saat ia melewati ruang kerja Devara, ia mendengar suara pecahan kaca dari dalam. Pelan. Seperti orang yang tidak peduli lagi dengan suara yang ia buat.

Aruna berhenti. Tangannya hampir menyentuh gagang pintu. Tapi ia urungkan. Ia lanjut jalan ke pantry, menuang air putih yang tidak ia minum.

Marisa muncul di lorong. Bukan dengan bentakan. Bukan dengan map merah. Hanya dengan satu kalimat saat berpapasan dengan Aruna.

“Kontrak itu sudah tidak berlaku. Kamu bebas. Sesuai dengan apa yang kamu inginkan.”

Nada Marisa datar. Tersenyum sekilas lalu kembali berjalan.

"Tan, apa aku sudah bisa berhenti membuat dia jatuh cinta denganku..?" pertanyaan Aruna membuat Marisa menghentikan langkahnya.

Ia memutar badan, melihat Aruna dari jarak 1 cm sambil tersenyum simpul. "Sudah, tapi tinggalkan nama Mahesa yang kamu bawa itu"

Aruna diam, pikirannya penuh pertanyaan yang tak bisa diucapkan secara langsung kepada Marisa.

Marisa mendekat, mengelus pundak Aruna pelan, lembut. "Pastikan kamu pergi dengan nama Aruna Wijaya, tinggalkan Devara dan jangan terikat lagi dengannya." bisik Marisa, suaranya mampu membuat Aruna bangun dari rasa kasihannya kepada Devara.

Aruna hanya mengangguk. Ia tidak menjawab.

......................

Di dalam ruang kerja, Devara duduk di lantai. Dasi terlepas. Kemeja kusut. Botol whiskey di sampingnya sudah setengah. Laptop masih menyala, menampilkan foto lama Mahesa dan Wijaya tertawa saat meresmikan gedung pertama Mahesa Group.

Kwitansi lunas itu masih ada di atas meja. “Utang Wijaya Pratama kepada Mahesa Mahendra – LUNAS, 2018.”

Bertahun-tahun lamanya ia habiskan untuk membangun kebencian. Ia kurung Aruna atas nama balas dendam. Dan ternyata… salah sasaran.

“Aku habisin dua tahun buat benci orang yang ternyata… nggak salah apa-apa,” gumamnya pelan. Suaranya pecah di akhir kalimat.

Ia melempar gelas ke dinding. Pecah. Andre yang berjaga di luar langsung mengetuk.

“Pak?”

“Pergi.”

Suara Devara berat. Andre mundur.

...---...

Siang harinya Alana datang. Bukan untuk drama. Bukan untuk teriak. Ia datang dengan map putih di tangan dan wajah yang terlalu tenang.

“Papa sudah booking gedung,” katanya, meletakkan map itu di meja Devara.

“Minggu depan. Tanggalnya sudah sebar ke media.”

Devara tidak menyentuh map itu. Ia hanya menatap Alana.

“Aku belum siap,” katanya pelan.

“Kamu harus siap Dev, kita bakalan nikah secepatnya” Alana mendekat, suaranya rendah.

 “Udah gak ada waktu Dev, pilih nikah sama aku atau hancur sendirian..?.” bisik Alana.

Devara tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan. Sekali. Lalu menoleh ke jendela.

Alana menahan napas. Ia ingin marah. Tapi melihat Devara seperti itu, entah kenapa ia malah merasa kalah.

Ia keluar tanpa membanting pintu.

Sore harinya Aruna menerima pesan dari Bayu. Bukan teks. Foto. Wijaya memegang koran hari ini. Wajahnya tua, lelah, tapi jelas masih hidup.

Di bawah foto itu, satu kalimat:

“Besok jam 8 malam, gue tunggu di basement parkir. Ini kesempatan terakhir lo, Run.”

Aruna menatap layar itu lama. Jantungnya berdetak cepat. Australia. Papa. Kebebasan yang sebenarnya.

Ia menoleh ke pintu. Di luar, ia bisa mendengar suara Devara muntah di toilet. Berisik. Menyedihkan.

Ia bebas. Pintu tidak dikunci. Tidak ada yang menahan.

Tapi meninggalkan Devara yang sedang hancur seperti itu… rasanya seperti menendang orang yang sudah jatuh.

Jam 7.30 malam, Aruna sudah ganti baju. Jaket. Tas selempang. Paspor ada di dalam. Tiket elektronik sudah ia simpan di HP.

Ia berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri. “Lo bebas,” bisiknya. “Pergi.”

Langkahnya pelan menuju lift.

Pintu lift terbuka.

Dan di dalamnya berdiri Devara.

Wajahnya berantakan. Mata merah. Bau alkohol samar tercium. Ia tidak berdasi. Kemejanya setengah terbuka. Ia tampak seperti orang yang sudah menyerah pada dirinya sendiri.

Tatapan mereka bertemu.

Devara melihat tas di bahu Aruna. Melihat jam di HP Aruna: 7.46.

Ia tidak bertanya. Tidak membentak. Tidak memohon.

Ia hanya menatap Aruna. Lama. Seolah ingin mengingat wajah itu untuk terakhir kalinya.

Lalu ia melangkah keluar dari lift. Melewati Aruna tanpa menyentuhnya.

Tubuhnya sedikit goyah.

Aruna masih berdiri di dalam lift. Tangannya menggenggam tali tas semakin erat. Lift masih membuka. Menunggu ia menekan tombol turun.

Dari belakang, ia mendengar Devara berhenti. Tidak menoleh. Hanya berbisik, cukup keras untuk sampai ke telinganya

“Kalau mau pergi sekarang... Saya gak akan nyari kamu."

Suara itu tidak marah. Tidak mengancam. Hanya lelah.

Pintu lift masih terbuka.

Di satu sisi, basement parkir menunggu. Bayu menunggu. Papa menunggu. Kebebasan menunggu.

Di sisi lain, ada Devara. Hancur. Sendirian. Karena kesalahannya sendiri.

Tangan Aruna menekan tombol di lift, Ia menutup matanya, tak ingin melihat punggung itu lagi, kebebasan yang Ia inginkan dari dulu sudah ada didepan matanya.

Ia ingin pikirannya melupakan pria itu, Devara yang kini memenuhi isi pikirannya, walaupun iblis jahat itu sudah menjadi singa jinak, namun Aruna tidak ingin lagi melihat wajahnya.

Ia memutuskan untuk berhenti sebelum memulai membuat Devara jatuh cinta kepadanya, menurutnya balas dendam terbaik bukan meninggalkan saat sudah cinta, namun menghilang tanpa jejak dalam sekejab.

Aruna membuka matanya kembali, tangan kekar Devara menahan pintu lift dengan sekuat tenaga, urat-urat yang menonjol di tangannya sebagai bukti Ia sekuat tenaga menahan Aruna untuk pergi.

"Jangan... Pergi" suaranya gemetar, Ada keputusasaan yang terpancar dimatanya, mata merah tak menangis tapi tak tidur semalaman. Bau alkohol yang menyengat saat dia berada didekat Aruna.

Aruna mundur satu langkah, Ia tertawa hambar lalu membuang wajahnya. "Aku bukan istri kontrak kamu lagi yang sekarang sudah tidak sah dimata hukum"

"Jangan mendekat.." Teriak Aruna, jarinya menekan tombol lift dengan cepat agar lift itu tertutup.

Devara melihat kepanikan dari Aruna, Ia mengalah mundur. Diam seperti patung didepan lift yang sudah tertutup sempurna. Ia tersenyum getir sambil melihat lift itu, Devara tidak bisa lagi mengatur kehidupan Aruna mulai detik itu.

Kontrak mereka sudah tidak sah, yang tersisa sekarang hanyalah penyesalan dan kata maaf yang tertunda. Sejak itu, Ia yakin kalau Aruna akan segera kembali, namun keyakinan itu segera dibantah oleh Andre.

Pagi harinya, didalam ruang kerja Devara, Penthouse lantai 98.

Andre datang membuka pintu ruangan Devara tanpa ketukan, langkahnya cepat dan terburu-buru. Dari balik pintu ruangan yang tak Ia tutup sempurna, Andre menatap Devara dengan wajah sumringah.

"Update terbaru posisi Ibu Aruna ada disebuah apartemen di kawasan New York" Ujar Andre dengan keyakinannya sambil menyerahkan bukti rekaman cctv apartemen tersebut kepada Devara.

Mata Devara terpaku melihat senyum cerah Aruna yang sedang mendorong kursi roda Wijaya di lorong Apartemen. Baru 24 jam, tapi dadanya sudah terasa kosong.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!