Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah 23
Drap drap drap
Eva meninggalkan kamar Elio dengan amarah yang meluap-luap. Kegagalan memberikan ASI campurannya kepada Elio membuat Eva melampiaskan amarahnya kepada bayi itu. Kata-kata buruk dia lontarkan kepada Elio. Mengatai Elio sebagai anak jalangg, anak dari wanita murahan, benar-benar tak pernah Reza sangka sebelumnya.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu, Va? Kenapa kamu ngatain Elio kayak gitu. Dia memang masih bayi dan nggak bisa ngerti sama yang kamu omongin. Tapi kamu nggak pantes ngomong kayak gitu. Gimanapun Elio itu kan anakku."
"Oh terus kenapa? Emang anak jalangg kan dia. Kalau nggak anak jalangg, dia pasti mau nerima ASI ku. Coba bayangin, bayi yang nggak tahu apa-apa kenapa bisa nolak ASI kayak gitu. Keturunan jalangg emang nggak tahu diri,"pekik Eva. Emosinya masih meluap-luap saat ini.
"STOP Va!! Berhenti ngatain dia anak jalangg, anak murahan dan sejenisnya. Aku mendapatkan Elio atas saran dan restumu. Aku nggak selingkuh tapi kamu yang nyuruh aku nikahin Laras. Jadi stop ngatain Laras sebagai wanita murahan. Dia aku nikahi secara sah dimata hukum dan agama dan bahkan mendapat restumu sebagai istri pertama."
Argh!!!!!
Eva berteriak marah. Fakta yang dibeberkan oleh Reza adalah sesuatu yang nyata dan valid. Pernikahan Reza dan Laras sehingga menghasilkan Elio adalah sebuah pernikahan yang diketahui oleh Eva. Dia mengizinkan, dan dia juga merestui.
Pernikahan itu bukan pernikahan diam-diam, seolah-olah Reza berselingkuh. Tidak, tidak demikian. Semua terjadi secara jelas, gamblang dan tanpa ada yang ditutupi,
Namun agaknya Eva sekarang menyesal. Anak hasil pernikahan Reza dengan Laras yang sangat diharapkan bisa jadi anaknya, tak bisa berjalan sesuai diharapkan.
Elio menolak ASI miliknya. Sudah berusaha dicampur dengan milik Laras, tetap saja Elio menolak. Tangis Elio yang begitu keras, memberi bukti bahwa Elio menolak ASI milik Eva.
Harga diri Eva tergores, egonya tersentil sehingga amarahnya meluap-luap dan kata-kata itu meluncur tanpa permisi dari mulutnya.
"Terus sekarang gimana hah! Kamu mau nyari Laras buat Elio? Kamu mau naruh wanita itu diantara kita, gitu kah?"
"Va, kenapa jadi kemana-mana sih. Siapa juga yang punya pikiran kayak gitu. Aku nggak ada pikiran mau kayak gitu. Wanita itu udah aku ceraikan, ya berarti urusan kelar kan. Aku cuma cinta sama kamu. Aku sama sekali nggak pernah punya perasan sama wanita itu. Semuanya hanya untuk Elio,"jawab Reza tegas. Dia langsung membawa Eva ke dalam pelukannya untuk menenangkan istrinya tersebut.
Siapa sangka hal yang seharusnya mudah menjadi sulit seperti ini. Reza pikir dengan membawa Elio ke rumah, menjadikan bayi itu anak Eva, lalu mereka hidup bertiga dengan bahagia akan sangat mudah. Tapi ternyata harapan itu tidak berjalan dengan mulus.
Elio menolak keras ASI milik Eva dan malah memilik ASI milik ibu susu yang sama sekali tidak ada hubungan apapun. Itu menurut Reza, dia tidak tahu saja bahwa Saras dan Laras adalah orang yang sama. Bahwa Saras adalah ibu kandung Elio yang sesungguhnya bernama Laras.
"Kenapa urusannya jadi ribet gini. Kenapa Elio bener-bener nggak mau minum ASI nya Eva dan malah lebih milih ASI milik Mbak Saras? Kenapa??" tanya Reza dalam hatinya. Secara tidak sengaja, Reza menjadi penasaran dengan sosok Saras. Wanita yang katanya keponakan jauh Brigita Almaeda, entah mengapa Reza menjadi ingin tahu siapa wanita itu.
***
Siang harinya, Laras yang baru saja menjalankan ibadah sholat dzuhur mendapat telpon dari Eva. Dengan kalimat yang halus, Eva meminta Laras untuk datang ke rumah.
"Mohon maaf Bu, saya sedang di luar kota sekarang. Karena Ibu berkata bahwa hari ini saya tidak perlu datang, jadi saya tidak memutuskan untuk pergi. Ada apa ya Bu?"
Tentu saja Laras tak benar-benar berada di luar kota. Dia ada di kamarnya, di kediaman Brajamusti.
"Anu Mbak, ini ASIP nya habis. Nggak tahu kenapa Elio kok hari ini lagi banyak banget nyusunya,"jawab Eva di seberang sana.
"Waduh, gitu ya. Tapi saya tidak bisa BU kalau harus buru-buru pulang. Gini aja, Bu Eva ke rumah Tante Brigita. Di sana ada stok ASIP saya di kulkas. Nanti Bu Eva bilang saja sama Tante Brigita kalau saya yang minta Bu Eva datang untuk ambil. Ah iya Bu, maaf saya ad urusan. Telponnya saya matikan ya."
Tuuut
Bukannya Laras tidak mau menemui Elio, akan tetapi dia sedang memberikan pembelajaran kepada Eva. Dia ingin Eva tahu bahwa Elio tidak akan bisa jika tanpa Laras.
Namun setelah dipikirkan kembali, Laras merasa bersalah kepada Elio. Dia takut kalau Elio kelaparan. Dia juga takut kalau Eva tak mau datang kemari untuk mengambil ASIP.
Tapi agaknya itu tidak mungkin. Eva sangat butuh untuk Elio dan Laras yakin bahwa Eva akan datang.
Dugaan Laras benar adanya. Salah satu orang dari kediaman Adiguna datang kemari. Bukan Eva tapi langsung Reza yang datang.
Tok tok tok
"Ras, Laras. Bisa keluar sebentar,"panggil Brigita.
"Iya Bu, ada apa?"
"Itu, apa itu beneran Reza. Tadi satpam bilang ada tamu namanya Reza. Katanya mau datang ambil ASIP."
Degh!
Laras terkejut dia tidak menyangka bahwa yang akan datang adalah Reza. Laras kemudian menjelaskan tentang telepon Eva tadi.
"Oh gitu, ya udah kalau gitu. Biar Eomma dan Appa yang ngadepin. Karena kamu bilang lagi pergi, jadi kamu di kamar aja."
"Baik Bu, terimakasih ya. Maaf lagi-lagi malah jadi ngrepotin,"ucap Laras dengan penuh rasa tidak enak.
"Nggak sayang, nggak apa-apa. Hajoon lagi nggak ada di sini, dan kami janji bakalan selalu ada buat kamu. Jadi nggak perlu sungkan oke. Ya udah Eomma pergi dulu ya buat nemuin pria itu,"jawab Brigita.
Laras mengangguk kecil. Bantuan dari keluarga ini sungguh sangat luar biasa banyak hingga Laras merasa bingung bagaimana nanti dia akan membalasnya.
"Semoga Bang Hajoon dan keluarganya selalu dilimpahi kesehatan, kebahagiaan dan keselamatan. Lindungilah keluarga ini ya Allah."
Doa yang Laras panjatkan sangat tulus. Dia menggunakan cara tersebut untuk membalas kebaikan keluarga ini. Kebaikan yang mungkin selamanya tak akan pernah bisa ia balas dengan materi sebanyak apapun.
TBC