NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembunuh Baru

Malam itu, pukul 01.30 dini hari.

Alessandra terbangun bukan karena suara. Bukan karena gerakan. Tapi karena bau. Bau yang tidak dikenali oleh hidung manusia biasa, bau elemen asing di udara. Bau bintang asing yang mendekat.

Dia duduk di ranjangnya dengan mata masih terpejam. Telinganya bergerak sedikit, menangkap getaran langkah kaki di atap rumah. Bukan satu orang. Tiga. Mereka bergerak dengan latihan sempurna, tanpa suara, tanpa jejak.

Tapi mereka tidak tahu bahwa di dalam kamar sempit dengan ranjang single dan dinding retak itu, tidur seorang pemilik sepuluh bintang.

Pembunuh baru, pikir Alessandra. Langsung tiga orang. Majikan itu serius.

Dia membuka mata.

Kamar masih gelap. Cahaya bulan yang menyusup lewat tirai tipis hanya cukup untuk membuat bayangan-bayangan samar di lantai. Tapi bagi Alessandra, kegelapan adalah sahabat. Tidak ada yang tersembunyi darinya.

Di sudut kamar, di balik lemari, dia melihat bayangan satu orang merayap. Di jendela, bayangan kedua sedang membuka kunci dengan alat khusus. Di atas plafon, bayangan ketiga bersiap turun melalui lubang ventilasi.

Tiga arah.

Tiga titik masuk.

Mereka profesional.

Tapi tidak cukup profesional untuk mengalahkannya.

Alessandra tersenyum.

Senyum kecil yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun. Senyum yang hanya muncul saat dia benar-benar menikmati apa yang akan dia lakukan. Dan siapa pun yang pernah melihat senyum itu—jika mereka masih hidup—akan tahu bahwa saat senyum itu muncul, tidak ada yang berakhir baik.

Kecuali untukku, pikirnya.

Dia berdiri dari ranjang tanpa suara. Kaus hitam dan celana olahraga abu-abu yang dia kenakan hampir menyatu dengan gelap. Pita merah di rambutnya tetap terpasang. Kacamata rimless dengan rantai emas? Dia lepas. Tidak perlu meredam kekuatan saat akan membunuh.

Tanpa kacamata itu, sepuluh bintang di tubuhnya berdenyut bebas.

Dan kegelapan di sekitarnya... menyambutnya.

Pembunuh pertama masuk melalui jendela.

Dia seorang pria bertubuh kekar, tinggi sekitar 180 cm, dengan wajah tertutup topeng kain hitam. Di pinggangnya, terselip dua bilah pisau pendek. Dari cara dia bergerak gesit, padat, efisien dan Alessandra bisa menebak: bintang tingkat empat, elemen angin.

Pria itu mendarat di lantai kamar dengan suara sekecil tikus. Matanya menyesuaikan dengan gelap, mencari target.

Targetnya seharusnya tidur di ranjang.

Tapi ranjang itu kosong.

"Di belakangmu."

Suara itu berbisik di telinganya.

Pria itu tersentak. Dia berputar cepat, pisau menyambar ke belakang.

Tidak ada siapa pun.

Hanya bayangannya sendiri di dinding.

"Itu tadi peringatan."

Kali ini suara itu datang dari bayangannya.

Pria itu menatap bayangannya di dinding dan bayangan itu TERSENYUM.

Bukan senyum manusia. Senyum yang terlalu lebar. Terlalu gelap. Terlalu... hidup.

"Apa—"

Sebelum dia selesai bicara, bayangan itu meletus.

Tendral-tendral hitam pekat menyembur dari dinding, dari lantai, dari langit-langit. Mereka membungkus tubuh pria itu dalam sepersekian detik dari kaki, tangan, pinggang, leher, mulut. Semua terikat.

Pria itu berusaha mengaktifkan elemen anginnya. Tapi angin tidak bisa meniup kegelapan. Api tidak bisa membakarnya. Air tidak bisa mencucinya.

Hanya cahaya yang bisa melawan kegelapan.

Dan pria ini tidak memiliki cahaya.

"Kamu yang pertama," bisik Alessandra dari balik tendral-hitam itu. Wajahnya muncul seolah sedang terapung di udara atau lebih tepatnya, terbentuk dari kegelapan itu sendiri.

Pria itu ingin berteriak. Tapi tendral di mulutnya membuatnya hanya bisa mengeluarkan suara "hmmm... hmmm..."

"Jangan repot-repot. Tidak ada yang akan mendengarmu. Kegelapanku juga meredam suara."

Alessandra mengulurkan tangan kanannya. Telapak tangan terbuka, menghadap ke dada pria itu.

Dan dari telapak tangannya... kegelapan mengalir. Cairan hitam pekat merayap ke tubuh pria itu, melewati tendral-tendral yang sudah membungkusnya, masuk ke pori-pori kulitnya, ke aliran darahnya, ke inti bintangnya.

"Apa... kau... lakukan..." suara pria itu terputus-putus, akhirnya bisa berbicara karena tendral di mulutnya mengendur sedikit.

"Aku lapar," jawab Alessandra datar. "Bintang tingkat empat rasanya... seperti camilan tengah malam."

Tendral-tendral itu mulai menekan. Tubuh pria itu bergetar. Dari dadanya, cahaya biru samar mulai memancar dan itu adalah inti bintangnya, sumber kekuatannya.

"JANGAN... TOLONG LEPASKAN SAYA!!."

"Aku tidak pernah berjanji bahwa kalian bisa melarikan diri dengan selamat."

Dia mengepalkan tangan kanannya.

CRACK.

Inti bintang itu terlepas dari tubuh pria.

Cahaya biru berpendar di udara sejenak, lalu diserap oleh kegelapan di telapak tangan Alessandra. Dia merasakan energi itu masuk seperti menyeruput sup hangat di malam dingin. Enak. Memuaskan.

Tubuh pria itu menjadi lemas. Matanya kosong. Tidak mati? Tidak. Mati. Tapi tidak ada darah. Tidak ada luka. Hanya... hampa.

Kegelapan mulai memakan tubuhnya.

Dari ujung kaki, perlahan, kulit, daging, tulang dan semua berubah menjadi partikel hitam yang terserap ke lantai, ke dinding, ke udara. Seperti tidak pernah ada.

Dalam tiga puluh detik, tidak tersisa apa pun.

Hanya bayangan yang sedikit lebih gelap dari sebelumnya.

Pembunuh kedua masuk melalui pintu.

Dia seorang wanita, ramping, dengan rambut pendek dan wajah dingin. Di tangannya, sebilah pedang pendek yang berkilat mungkin mengandung racun. Bintang tingkat lima, elemen tumbuhan.

Dia lebih berhati-hati dari rekannya. Begitu masuk, dia langsung mengaktifkan elemennya. Tanaman-tanaman kecil di sekitar rumah Sunjaya pohon di halaman, rumput di taman, bahkan lumut di dinding menjadi matanya. Dia bisa merasakan getaran kehidupan di setiap sudut.

Dia merasakan ada yang salah di kamar target.

Satu aura... menghilang.

Aura rekannya.

"Orang kedua," suara itu datang dari semua arah. "Kau lebih pintar dari yang pertama. Tapi tidak cukup pintar untuk mundur."

Wanita itu berputar. Pedangnya siap menusuk.

Tidak ada siapa pun.

"Hanya karena kau bisa merasakan tumbuhan, bukan berarti kau bisa merasakan aku. Aku bukan makhluk hidup yang bisa dideteksi oleh elemenmu."

Aku adalah kegelapan.

Lantai di bawah kaki wanita itu berubah. Dari lantai kayu yang padat, tiba-tiba menjadi lubang hitam seperti jurang tanpa dasar.

"APA—"

Dia jatuh.

Tapi tidak jatuh ke bawah. Jatuh ke dalam kegelapan.

Dia berteriak. Pedangnya menusuk ke samping, mencoba mencari pegangan. Tidak ada. Yang ada hanya hitam. Dingin. Hampa.

Dari kegelapan itu, tangan-tangan muncul dengan puluhan tangan hitam yang meraih kakinya, pinggangnya, lehernya.

"Lepaskan aku!"

"Kau menggunakan tumbuhan," suara Alessandra terdengar lembut, seperti bisikan ibu pada anak. "Tumbuhan butuh cahaya untuk hidup. Tapi di sini... tidak ada cahaya."

Tangan-tangan hitam itu menariknya ke bawah.

Wanita itu mengerahkan seluruh kekuatannya. Lima bintang bersinar terang dengan hijau terang, warna kehidupan. Tanaman-tanaman kecil di sekitar rumah Sunjaya mulai tumbuh gila-gilaan, merambat ke dinding, mencoba masuk ke kamar.

Tapi kegelapan tidak peduli.

Setiap tanaman yang menembus pintu atau jendela langsung layu dan mati diserap oleh kegelapan yang lebih kuat.

"...Tidak mungkin..."

"Bintang tingkat lima memang lebih mengenyangkan dari tingkat empat. Terima kasih atas makan malamnya."

CRACK.

Inti bintang wanita itu terlepas. Cahaya hijau berpendar, lalu diserap. Tubuhnya lenyap dalam kegelapan seperti pendahulunya.

Tidak ada bukti. Tidak ada mayat.

Hanya keheningan.

Pembunuh ketiga lebih pintar.

Dia tidak masuk.

Dia berdiri di atap rumah, mengamati dari jauh. Dia merasakan dua rekannya mati dalam hitungan menit. Jantungnya berdetak cepat, tapi tangannya tetap tenang.

Bintang tingkat enam. Elemen api.

Dia yang tertua di antara mereka, paling berpengalaman. Dan dia tahu kapan harus mundur.

Target bukan manusia biasa, pikirnya. Target adalah iblis.

Dia berbalik untuk melompat dari atap.

Tapi di depannya... sudah ada seseorang.

Seorang perempuan dengan kaus hitam dan celana olahraga. Rambut sebahu terikat pita merah. Tidak ada kacamata. Mata coklat terangnya bersinar samar di tengah gelap seperti dua bintang kecil yang siap meledak.

"Kau yang ketiga," ucap Alessandra. "Dan yang paling menarik. Bintang tingkat enam. Api."

Pria itu mundur selangkah. Tangannya mengeluarkan sebilah belati senjata pusaka yang sudah terintegrasi dengan elemen apinya.

"Siapa kau?" suara pria itu serak, bergetar.

"Aku yang akan membunuhmu."

Pria itu tidak menunggu. Dia menyerang lebih dulu suatu kebiasaan seorang pembunuh profesional: jangan biarkan target bicara terlalu lama.

Kerisnya menyala. Api merah membara di ujung bilah, menebas ke arah leher Alessandra.

Alessandra tidak bergerak.

Tebasan itu mengenai... bayangannya.

Pria itu terkejut. Dia menebas lagi. Ke kiri. Ke kanan. Ke tengah. Semua mengenai bayangan. Alessandra ada di mana-mana dan tidak ada di mana pun.

"Apa kau tahu kenapa aku suka menggunakan kegelapan di malam hari?" suara Alessandra terdengar dari belakangnya.

Pria itu berputar.

Kali ini, Alessandra benar-benar ada di depannya berjarak hanya satu meter. Tangannya di saku celana, wajahnya tenang.

"Karena," lanjutnya, "membunuh dengan kegelapan itu menyenangkan. Dan yang paling penting... menghilangkan bukti."

Pria itu mengaktifkan seluruh kekuatannya. Enam bintang di tubuhnya bersinar terang dengan api membara di sekujur tubuhnya, menerangi atap rumah Sunjaya seperti kembang api.

"AKU TIDAK AKAN MATI SEMUDAH ITU!"

Dia melesat. Kecepatannya luar biasa dan api mendorong tubuhnya seperti roket. Belatinya menikam tepat ke jantung Alessandra.

Atau... tepat ke jantung bayangan Alessandra.

Karena Alessandra sudah tidak ada di sana.

Pria itu tersentak. Dia melihat ke bawah. Kakinya... terbenam di atap. Bukan atap biasa. Atap genteng itu berubah menjadi kegelapan cair seperti rawa hitam yang menariknya ke bawah.

"APA!!? LEPASKAN!"

Api di tubuhnya semakin membara. Tapi kegelapan itu tidak bisa dibakar. Semakin dia berusaha, semakin cepat dia tenggelam.

"Bintang tingkat enam," ucap Alessandra yang tiba-tiba muncul di depannya, jongkok di atap, menatap pria itu dari ketinggian yang sama. "Rasanya seperti steak. Lebih mengenyangkan dari dua sebelumnya."

"IBLIS!!!"

"Mungkin. Tapi iblis yang lapar."

Tangan Alessandra menyentuh dahi pria itu.

Kegelapan mengalir dari ujung jarinya, masuk ke kepala pria, ke leher, ke dada, ke inti bintangnya.

Pria itu berteriak.

Tapi teriakannya tenggelam oleh kegelapan yang menutup mulutnya, hidungnya, matanya.

CRACK.

Inti bintang tingkat enam terlepas.

Cahaya merah membara dengan warna api berpendar di udara. Alessandra menyerapnya dengan satu tarikan napas. Rasanya lebih hangat dari sebelumnya. Lebih kaya. Lebih... memuaskan.

Dia menghela napas pelan, seperti orang yang baru selesai menikmati hidangan mewah.

Tubuh pria itu lenyap.

Tidak ada bukti.

Tidak ada saksi.

Hanya atap rumah yang sedikit lebih gelap dari sebelumnya.

Alessandra berdiri di atap, menatap bulan.

Tiga pembunuh dalam satu malam. Tiga inti bintang yang dia makan. Energi mengalir di tubuhnya, membuat sepuluh bintangnya berdenyut puas.

"Siapa pun majikan kalian," bisiknya ke angin malam, "terima kasih untuk makan malamnya. Tapi lain kali... kirim yang lebih kuat. Aku masih lapar."

Dia tersenyum.

Senyum yang sama. Senyum yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun.

Lalu tubuhnya perlahan melebur ke dalam bayangan atap, menghilang seperti tidak pernah ada.

Di kamarnya, Alessandra muncul dari kegelapan sudut ruangan. Dia berjalan ke ranjang, duduk, dan memasang kembali kacamatanya.

Kacamata rimless dengan rantai emas.

Penekan kekuatan.

Sekarang dia kembali menjadi "manusia biasa".

Cincin di jari kelingkingnya bergetar.

"Ale? Kinan lapor ada tiga orang mendekati rumah Sunjaya. Tapi sekarang sudah tidak terdeteksi."

"Sudah saya urus, Papa."

Hening sejenak.

"Papa dengar nada suaramu... kamu menikmatinya, ya?"

"Sedikit."

"Jangan ketagihan, Ale. Makan inti bintang terlalu banyak bisa mempengaruhi emosimu."

"Papa, Ale bisa kontrol diri."

"Papa tahu. Tapi tetap hati-hati."

"Baik, Papa. Ale pamit. Masih perlu tidur. Besok sekolah."

"baiklah, selamat malam."

"Malam Papa."

Hubungan terputus.

Alessandra merebahkan tubuhnya di ranjang. Perutnya kenyang. Pikirannya tenang. Jiwanya... puas.

Tiga pembunuh. Tiga inti bintang.

Dan besok, dia akan pergi ke sekolah seperti biasa. Tersenyum tipis pada Mutiara dan Laras. Merapikan kacamata saat bosan. Mengabaikan Fiona dan Saskia.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Karena bagi Valeria Alessandra, ini adalah malam yang biasa.

Dan bagi mereka yang dikirim untuk membunuh Valeria Allegra... mayat mereka bahkan tidak layak untuk disebut sejarah.

Mereka hanya makanan.

Dan malam masih panjang.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!