Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur dengan suara mesin espresso yang mendesis pelan. Tangan Clay bergerak cepat namun tenang, menggiling biji kopi lalu meratakannya dengan presisi.
Ada ketenangan di wajahnya, seperti seseorang yang sudah melakukan ini ribuan kali. Saat cairan hitam pekat mulai menetes ke dalam cangkir, Clay memperhatikannya dengan fokus, seperti seorang seniman yang menunggu karyanya selesai.
Pagi itu, Clay memang sudah berniat untuk mengembangkan resep minumannya.
Clay mengangkat gelas cangkirnya. Tadi Clay sudah mencampurkan beberapa bahan ke dalam kopinya itu. Dan kini saatnya dia mencicipinya.
Aroma kopi yang hangat memenuhi inderanya. Sesaat kemudian, ia menyesap sedikit, membiarkan cairan itu menyentuh lidahnya sebelum menelannya perlahan. Matanya terpejam, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak terlihat. Ada jeda singkat, lalu ia membuka mata dengan ekspresi tenang sambil sedikit menggelengkan kepalanya.
Tadi rasa pahit kopinya muncul lebih dulu, tapi tidak diikuti kedalaman yang Clay harapkan. Ada yang kurang, entah dari gilingan, atau waktu ekstraksinya yang terlalu cepat? Clay menghela nafasnya.
Krincing ...
Pintu cafe di buka. Maria baru saja datang.
"Pagi Clay." Sapa Maria.
"Pagi."
"Hari ini kau datang lebih dulu daripadaku."
"Ya, tadi kebetulan aku sudah bangun pagi-pagi sekali."
Maria manggut - manggut.
"Sedang mengembangkan minuman baru lagi?" Maria berhenti sejenak saat melewati meja bartender dan melihat beberapa cangkir kopi masih penuh berjajar di atasnya.
"Iya."
"Baiklah, Semangat!"
Clay mengangguk. Lalu kembali mencobanya sekali lagi.
Krincing ...
Kembali, setelah beberapa saat, suara pintu cafe kembali di buka. Yang mana kali ini, Nindi lah yang datang.
"Pagi, Clay."
"Hm, pagi." Saut Clay tanpa menoleh dan tetap fokus pada kopinya.
Nindi berjalan menuju meja kasir. Kemudian memperhatikan Clay yang tampak sibuk. Oh, rupanya Clay sedang meracik kopi.
"kamu sedang meracik kopi baru?"
"Heem." Saut Clay sebelum kemudian menghirup aroma kopinya kembali dan secara perlahan mencicipinya kembali. Yang ini, sudah lebih baik.
"Boleh aku mencicipinya?"
"Jangan, kopi kopi ini belum jadi."
"Justru karena itu aku ingin mencicipinya, siapa tahu aku bisa membantumu, memberikan sedikit masukan mungkin?" tawar Nindi.
Clay menatap Nindi sejenak. Menimbang - nimbang apa perlu Nindi mencicipinya?
"Baiklah, coba kamu cicipi yang ini."
Clay menyerahkan secangkir kopi di tangannya. Dan Nindi menerimanya.
Nindi memejamkan mata, membiarkan aroma kopi itu naik perlahan, memenuhi inderanya. Ia menahan cangkir sejenak di dekat bibir, seolah menikmati setiap detik sebelum benar-benar mencicipinya. Lalu, dengan gerakan pelan, ia menyesapnya.
Clay terpaku.
Tatapannya tak beranjak sedikit pun. Ada sesuatu dalam cara Nindi menikmati kopi miliknya. Rasanya tenang, dalam, seolah dunia di sekitarnya menghilang, yang membuat Clay sulit berpaling.
Ting.
Suara halus cangkir yang bersentuhan dengan meja bar memecah lamunannya. Clay tersentak kecil, seakan baru kembali dari tempat yang jauh.
“Ehem…” Clay berdehem pelan, mencoba menutupi kegugupannya itu. Diam-diam, ia menarik napas panjang.
"Aromanya sudah enak, Tapi di belakangnya agak terlalu pahit. Mungkin tadi ekstraksinya sedikit kepanjangan." Kata Nindi kemudian.
"Tadi aku juga berfikir begitu. Harusnya sedikit ku percepat supaya hasilnya bisa lebih seimbang."
"Atau bisa juga kamu tambahkan sedikit pemanis untuk menyeimbangkan rasa di akhir."
Clay mengangguk, menerima saran Nindi.
"Mungkin aku coba lagi nanti setelah cafe tutup."
Kali ini Nindilah yang mengangguk. Memang, kalau harus meracik resep lagi, pasti tidaklah bisa. Karna hari sudah semakin siang dan cafe harus segera beroperasi.
Maron membalik plakat di depan pintu, tanda cafe resmi dibuka. Dan tak butuh waktu lama, para gadis dan pemuda mulai berdatangan, berbondong-bondong memenuhi ruangan. Hingga keramaian pun perlahan tumbuh, lalu menjelma jadi denyut yang tak terelakkan. Ya, hari ini lebih ramai dari biasanya.
Suara-suara bertumpuk menjadi satu. Gelak tawa yang pecah di beberapa sudut, obrolan yang saling bersahutan, hingga denting sendok yang beradu pelan dengan dinding cangkir. Aroma kopi yang baru diseduh menguar hangat, bercampur dengan wangi manis roti panggang yang baru keluar dari oven yang dibawah Maria beberapa kali dari dalam pantry.
Para pegawai hilir mudik tanpa henti, langkah mereka cekatan, tangan-tangan terlatih melayani setiap pesanan yang datang silih berganti. Di balik meja bar dan meja kasir, Clay dan Nindi menjadi pusat perhatiannya.
Gerakan mereka nyaris tak pernah berhenti, seolah telah menyatu dengan ritme cafe itu sendiri. Tak sedikit pelanggan yang datang bukan hanya untuk kopi, melainkan untuk menyaksikan keduanya bekerja.
Waktu terasa cepat sekali berlalu karna sibuk. Lelah sudah menghujam. Maron yang baru saja membalik plakatnya kembali. Sore ini cafe sudah tutup. Dia kemudian berjalan ke meja bar, untuk berkumpul bersama yang lainnya.
"Huft." Maron menghela nafasnya panjang bersamaan dengan tubuhnya yang dia jatuhkan ke kursi. "Sumpah, aku rasanya lelah sekali. Hari ini banyak sekali orang yang harus ku layani."
"Bahkan untuk makan siang saja tidak sempat." Timpal Cris, menatap roti yang ada di tangannya, yang baru sekarang bisa dia gigit.
"Nindi, ini semua gara - garamu. Kedatanganmu memang membawa keberuntungan untuk cafe ini, tapi ternyata juga membawa bencana untukku." Maron melirik Nindi, mulutnya tersenyum miring.
"Kamu jangan bicara begitu." Maria memukul pelan lengan Maron, memberi peringatan. "Bukankah kamu sendiri yang ingin kalau cafe ini bisa ramai setiap harinya?"
Maron tiba - tiba terkekeh kecil, lalu mengangkat bahunya. "Iya juga sih, tapi sungguh tidak kusangkah kalau akan seramai ini."
"Hari ini kalian semua sudah bekerja keras."
ujar Clay, datang sambil meletakkan nampan berisi beberapa gelas es kopi di hadapan mereka.
Tanpa dikomando, tangan-tangan lelah itu langsung meraih minuman masing-masing. Tegukan pertama terasa seperti penyelamat dahaga mereka.
Kecuali Nindi.
Clay melirik ke arah Nindi yang masih berdiri di depan kasir. Gadis itu sibuk menghitung pemasukan. Clay, lalu mengambil satu gelas es kopi dan meletakkannya lebih dekat ke Nindi tanpa banyak bicara.
“Berapa omzet hari ini?” tanya Clay.
“Sebentar…” jawab Nindi tanpa mengalihkan pandangan dari komputer di hadapannya. Lalu dia tersenyum kecil. “Tapi yang jelas, ini sudah lewat dari target.”
“Oh ya? Wah…”
Rupanya, yang lain mendengar. Dan mereka pun hampir bersamaan berseru semangat. Cris bahkan mengangkat gelasnya sedikit sebagai perayaan.
“Langsung hilang rasa capek sama laparku!”
"Bulan ini kita pasti dapat bonus banyak dari Sonya."
Tawa kecil pun pecah, mengisi ruang yang tadi dipenuhi lelah, kini berganti jadi rasa puas yang hangat.
Sementara itu, tanpa disadari, segelas es kopi di dekat kasir perlahan mulai berembu. Menunggu seseorang yang masih terlalu fokus untuk menyadarinya.
Nindi masih terpaku pada angka-angka di hadapannya. Jemarinya bergerak cepat, sesekali berhenti untuk memastikan perhitungan, lalu kembali menekan tombol.
Di sekitarnya, tawa masih terdengar, tapi seolah meredup di telinganya. Sampai akhirnya,
“Kalau terus dihitung, angkanya nggak bakal lari ke mana.”
Suara itu membuat Nindi berhenti. Nindi mengangkat kepalanya dan mendapati Clay berdiri tak jauh darinya. Pemuda itu bersandar santai di meja bar. Tatapannya tertuju padanya, cukup tenang, tapi cukup untuk membuat Nindi sedikit kehilangan fokus.
“Aku harus segera menyelesaikan ini,” jawab Nindi pelan, meski tangannya sudah tak lagi bergerak.
Clay mengangguk kecil, lalu menggeser gelas es kopi yang tadi ia letakkan sedikit lebih dekat.
“Minum dulu.”
Nindi melirik gelas itu. Embun tipis sudah membasahi permukaannya. Nindi ragu sejenak, tapi kemudian mengambilnya juga.
Saat jemarinya menyentuh gelas, tanpa sadar tangannya juga bersentuhan dengan ujung jari Clay yang belum sempat menjauh. Singkat.
Tapi cukup membuatnya terdiam sepersekian detik. Nindi cepat menarik tangannya, pura-pura fokus membuka sedotan.
“Terima kasih…”
“Hmm.”
Clay tidak langsung pergi. Ia tetap di sana, seolah menunggu sesuatu.
Nindi akhirnya menyesap kopinya. Dingin dan manisnya langsung terasa, menyapu lelah yang sejak tadi menumpuk.
“Gimana?” tanya Clay.
Nindi menatap gelasnya sebentar, lalu mengangkat pandangan. “Enak.”
“Cuma enak?” Ada nada ringan di sana, tapi cukup membuat Nindi tersenyum tipis.
“Lebih dari itu.”
Clay mengangguk pelan, seolah puas dengan jawaban itu.