NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

"Direktur Tang, saya tidak tahu bahwa memberi makan kucing liar masuk ke dalam jadwal sibuk seorang bos besar," sapa Lin Ye dengan nada santai, melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.

Tang Wanjin tersentak kaget. Dia langsung berdiri dengan cepat, wajahnya bersemu merah karena tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang merusak citra profesionalnya. Dia buru-buru merapikan gaunnya dan berdehem, mencoba memasang kembali wajah datarnya.

"Lin Ye? Apa yang sedang kamu lakukan di kota? Bukankah kamu seharusnya berada di ladang merawat sayuranku?" tanya Tang Wanjin, nada suaranya kembali terdengar menuntut, meski kecanggungannya sangat terlihat.

"Saya baru saja dari bank untuk menyimpan uang muka yang Anda berikan. Tidak aman menyimpan uang tunai sebanyak itu di gubuk reyot saya. Dan kebetulan saja saya lewat sini mencari makan siang," jawab Lin Ye sambil melirik anak kucing yang masih sibuk memakan salmon tersebut. "Ikan salmon kualitas premium. Kucing ini makan lebih mewah daripada kebanyakan orang di desa."

Tang Wanjin membuang muka, menghindari tatapan mata Lin Ye. Rona merah di pipinya belum sepenuhnya hilang.

"Ini hanya kebetulan. Koki hotel melakukan kesalahan saat memotong salmon untuk menu VIP. Daripada dibuang, saya membawanya keluar. Saya hanya tidak suka melihat pemborosan bahan makanan," kilah Tang Wanjin beralasan, mencari pembenaran yang masuk akal secara bisnis.

"Tentu saja, Direktur Tang. Sangat masuk akal. Mengelus kepala kucing liar itu pasti juga bagian dari protokol standar operasional untuk mencegah pemborosan," goda Lin Ye, tersenyum jahil.

Tang Wanjin menatap tajam ke arah Lin Ye. "Kamu punya mulut yang sangat berani untuk ukuran seorang pemasok, Lin Ye. Ingatlah dengan siapa kamu berbicara."

"Saya selalu ingat, Direktur. Saya berbicara dengan rekan bisnis saya yang ternyata memiliki hati yang sangat lembut di balik setelan jas mahalnya," balas Lin Ye tanpa rasa takut sedikit pun.

Tang Wanjin terdiam. Dia tidak terbiasa menghadapi pria yang tidak tunduk atau terintimidasi oleh status dan kekayaannya. Kebanyakan pria di sekelilingnya hanya mengincarnya karena uang atau terlalu takut padanya. Tapi Lin Ye berbicara padanya seolah mereka adalah teman lama yang setara.

"Kamu ini benar-benar menyebalkan," kata Tang Wanjin, akhirnya menyerah dan menghela napas panjang. Senyum tipis kembali muncul di bibirnya, kali ini jauh lebih santai. "Baiklah, kamu menang. Aku memang suka sama kucing. Keluargaku sangat ketat, mereka tidak mengizinkanku memelihara binatang di rumah sejak kecil karena dianggap tidak higienis dan mengganggu fokus belajarku. Jadi, aku sering ke taman ini saat jam istirahat untuk menenangkan pikiran."

"Tekanan dari keluarga kaya ternyata tidak kalah beratnya dengan tekanan dikejar atasan di kantor biasa ya," komentar Lin Ye, merasa sedikit empati.

"Jauh lebih berat dari yang kamu bayangkan," Tang Wanjin duduk di sebuah bangku taman di dekatnya, memberi isyarat agar Lin Ye ikut duduk jika dia mau. Lin Ye menerima tawaran itu dan duduk di ujung bangku yang sama.

"Ayahku menuntut kesempurnaan. Dia menyerahkan manajemen hotel dan supermarket kepadaku sebagai ujian sebelum dia pensiun. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa meningkatkan keuntungan perusahaan, atau posisiku akan diserahkan kepada sepupuku yang selalu mencari muka," cerita Tang Wanjin, suaranya terdengar sedikit lelah.

"Itulah sebabnya Anda sangat terobsesi mengejar sayuran premium saya ke desa. Anda butuh gebrakan baru untuk menu hotel agar mengalahkan pesaing," simpul Lin Ye, mulai memahami motif bisnis wanita di sebelahnya ini.

"Tepat sekali. Ketika koki eksekutifku menghidangkan tumis kubismu kepada dewan direksi kemarin, mereka semua tercengang. Itu adalah kesuksesan terbesarku bulan ini. Jadi, Lin Ye, aku sangat mengandalkanmu. Jangan sampai kamu mengecewakanku," kata Tang Wanjin, menatap Lin Ye dengan serius.

"Saya tidak pernah mengecewakan rekan bisnis saya, Wanjin," Lin Ye secara sengaja memanggil nama depan wanita itu tanpa embel-embel jabatan, untuk melihat reaksinya.

Mata Tang Wanjin sedikit melebar mendengar panggilan akrab itu, namun dia tidak memprotesnya. Dia justru sedikit merasa nyaman.

"Sebagai buktinya, saat supir Anda datang menjemput barang beberapa hari lagi, saya akan memberikan sesuatu yang jauh melebihi kubis raksasa itu. Saya punya komoditas baru yang rasanya akan membuat koki Anda menangis bahagia," janji Lin Ye dengan penuh percaya diri.

"Komoditas baru? Apa itu? Jangan main rahasia denganku," desak Tang Wanjin, rasa penasarannya langsung bangkit.

"Ini rahasia perusahaan. Anda akan melihatnya sendiri nanti," jawab Lin Ye sambil berdiri dari bangku taman. "Waktu istirahat siang Anda sepertinya sudah mau habis. Dan saya harus mencari makan sebelum kembali ke desa."

Tang Wanjin ikut berdiri, merapikan gaunnya. "Kamu benar, aku harus kembali ke hotel. Ada rapat direksi jam satu siang. Terima kasih sudah mengobrol denganku, Lin Ye. Dan tolong, lupakan soal kucing ini. Jika berita ini sampai ke telinga karyawan hotel, reputasiku sebagai direktur bertangan besi bisa hancur."

"Bibir saya terkunci rapat. Sampai jumpa hari pengambilan barang, Wanjin," kata Lin Ye melambaikan tangannya sambil berjalan mundur.

Tang Wanjin membalas lambaian itu dengan senyum tipis, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan kembali menuju gedung hotel megahnya. Lin Ye melihatnya pergi, merasa bahwa hubungan bisnis mereka kini telah berkembang menjadi sesuatu yang sedikit lebih personal.

Setelah makan siang yang lezat di sebuah restoran kecil, Lin Ye kembali ke stasiun bus dan menempuh perjalanan pulang ke Desa Qingshui.

Saat tiba di desa, suasana sore terasa cukup ramai. Beberapa warga sedang menghias jalanan dengan lampion kertas warna-warni, menandakan bahwa Festival Bunga Musim Semi tinggal menghitung hari.

Lin Ye masuk ke dalam pekarangannya. Semuanya tampak aman. Orang-orangan Sawah Mata Elang berdiri tegak di tengah ladang, mengawasi langit dengan tatapan kosong yang mengintimidasi.

"Bos Lin Ye, selamat datang," sapa Xiao Lu yang tiba-tiba muncul dari balik batang Jagung Emas. Mulut kurcaci itu penuh dengan remah-remah tanah, sepertinya dia baru saja mengecek kondisi akar tanaman.

"Bagaimana perkembangannya, Xiao Lu? Apakah ada burung yang mencoba masuk lagi?" tanya Lin Ye sambil meletakkan tas punggungnya di teras.

"Aman terkendali, Bos. Paman boneka jerami itu sangat menyeramkan. Beberapa burung gereja hanya lewat di atas tanpa berani menukik. Dan Bos harus melihat ini, buah stroberinya mulai memancarkan cahaya merah yang sangat kuat. Aku yakin besok pagi sudah matang sempurna," lapor Xiao Lu dengan antusias.

"Luar biasa. Malam ini kita akan bersiap untuk panen besar besok pagi," kata Lin Ye, menatap hamparan ladangnya dengan kebanggaan.

Setelah makan malam dan memberikan jatah sup ikan harian kepada Xiao Lu, Lin Ye duduk di kursi ruang tamunya. Dia membuka antarmuka sistem untuk memeriksa misinya.

"Misi Utama: Tidak ada. Saldo Koin Alam: 3 Koin. Bahan Tambang: 1x Kristal Darah Monster."

"Aku kehabisan koin, tapi besok aku akan panen besar. Stroberi pemulih dan jagung emas ini bernilai mahal di Toko Sistem, dan lebih mahal lagi jika dijual ke Tang Wanjin. Ini saatnya merencanakan ekspansi Tambang Bawah Tanah. Kunci itu masih menyembunyikan lapisan kedua yang belum kumasuki," batin Lin Ye.

Dia melihat ke arah Cangkul Tembaga Hitam Level 2 yang bersandar di dinding. Senjata dan alat andalannya itu siap digunakan kapan saja. Malam ini, dia memutuskan untuk beristirahat penuh di atas kasur pegas barunya, mengumpulkan energi untuk hari esok yang akan sangat sibuk.

1
Heri Susanto8246
😄😄 jadi ingat novel nelayan yang tidak pernah mendapatkan ikan saat memancing.
Gege
bukannya ada ruang penyimpanan sistem ya tor.. simpan saja sampe menggunung didalamnya...
Junior Ian
Bgus
Manusia Biasa
keren thor mekanik Sistem nya🤣 benar benar kaya game rpg
Manusia Biasa
jir kirain dapat ikan grade s atau gede🗿
Yui: harus out of the box kak/Smile/
total 1 replies
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Manusia Biasa
jir ada fitu memancing juga asik🤣
Manusia Biasa
wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!