Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Cahaya lampu neon di ruang kerja lantai dua ruko A.R Design masih membelah kegelapan malam. Di atas meja jati yang kini menjadi saksi bisu kebangkitannya, tergeletak sebuah map kulit berwarna biru tua dengan logo emas yang sangat prestisius - Nusantara Galeria.
Nusantara Galeria bukan sekadar toko. Mereka adalah raksasa departemen store nasional yang menjadi kiblat mode kelas atas di Indonesia. Dan yang lebih krusial lagi, mereka adalah kompetitor bebuyutan dari grup ritel yang selama ini menjadi penyokong utama omzet PT. Tekstil Sejahtera milik Reza.
Arumi duduk tegak, jemarinya mengelus permukaan kertas dokumen setebal lima puluh halaman itu. Di sana, tertulis angka kontrak yang sanggup membuat jantung siapa pun berdegup kencang, lengkap dengan klausul eksklusivitas untuk koleksi Sustainable Silk miliknya.
"Ini bukan lagi soal menjahit baju, Arumi," suara Madam Ling terdengar berat namun penuh kebanggaan dari arah balkon. Ia masuk sambil membawa dua gelas teh herbal hangat. "Ini adalah deklarasi perang terbuka. Begitu kamu menandatangani ini, kamu resmi menarik garis batas antara masa lalumu dan masa depanmu."
Arumi menoleh, matanya berkilat tajam di bawah sinar lampu meja. "Reza selalu merasa dia adalah pemilik tunggal kerajaan tekstil ini. Dia pikir dengan menekan suplayer kapas, dia bisa menghentikan saya. Dia tidak sadar bahwa Nusantara Galeria sudah lama mencari alasan untuk memutus hubungan dengan PT. Tekstil Sejahtera karena isu lingkungan."
"Dan kamu adalah alasan yang mereka cari," Madam Ling tersenyum miring.
Arumi mengambil pena fountain pen miliknya. Ia tidak ragu. Dengan satu tarikan garis yang mantap, ia membubuhkan tanda tangan di atas materai.
Sret ....
Bunyi gesekan pena itu terasa seperti dentang lonceng kematian bagi kejayaan Reza.
"Mulai besok, koleksi A.R Design akan dipajang di seluruh gerai utama Nusantara Galeria di seluruh Indonesia. Dan di saat yang sama, mereka akan mengumumkan penghentian kontrak dengan lini kain premium PT. Tekstil Sejahtera," Arumi menutup map itu dengan dentuman pelan namun tegas.
Keesokan paginya, suasana di workshop lantai bawah berubah total. Arumi tidak ingin menyembunyikan kabar ini dari para pekerjanya. Ia mengumpulkan seluruh Pasukan Jarum, para janda tangguh yang kini telah menjadi tulang punggung produksinya.
"Ibu-ibu," Arumi berdiri di depan mereka, memegang map biru tersebut. "Mulai hari ini, kita bukan lagi sekadar penjahit butik kecil. Kita adalah mitra resmi Nusantara Galeria."
Suasana mendadak riuh. Mbak Lastri menutup mulutnya tak percaya, sementara Shinta menitikkan air mata haru. Mereka tahu apa artinya ini, stabilitas, harga diri, dan pengakuan.
"Tapi saya ingin kalian tahu satu hal," suara Arumi merendah, membuat ruangan kembali senyap. "Reza tidak akan diam. Dia akan melihat ini sebagai pengkhianatan terbesar. Dia akan mencoba menjatuhkan kita dengan segala cara, mulai dari memboikot logistik hingga menjatuhkan nama baik kita. Apa kalian siap berdiri di samping saya?"
Mbak Lastri melangkah maju, memegang gunting besarnya dengan mantap. "Ibu Arumi, kami sudah pernah berada di titik terendah hidup kami. Kami tidak takut kehilangan apa pun selain kesempatan untuk membuktikan bahwa kami berharga. Biarkan dia datang. Kami akan menjahit setiap helai kain ini seolah-olah itu adalah tamparan untuknya."
Arumi merasakan gelombang kekuatan dari para wanita di depannya. Ini bukan lagi sekadar bisnis, ini adalah gerakan perlawanan.
~~
Sementara itu, di kantor pusat PT. Tekstil Sejahtera, suasana seperti di dalam bunker yang baru saja dijatuhi bom. Reza berdiri di depan jendela kaca besarnya, menatap surat pemutusan hubungan kerja sama dari Nusantara Galeria yang baru saja tiba di mejanya.
"Ini tidak mungkin!" Reza berteriak, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Kenapa mereka memutus kontrak premium kita secara mendadak?!"
Sekretarisnya gemetar hebat. "Laporan dari bagian humas Nusantara Galeria menyebutkan bahwa mereka telah menandatangani kontrak eksklusif dengan brand baru bernama A.R Design, Pak. Mereka beralasan kualitas kain kita tidak lagi memenuhi standar audit lingkungan mereka."
Reza menghantam meja kerjanya. "A.R Design lagi?! Wanita itu... dia benar-benar ingin menghancurkanku!"
Dinda, yang baru saja masuk dengan tas belanjaan mewahnya, tertegun melihat kekacauan di ruangan suaminya. "Mas, ada apa? Kenapa kamu marah-marah?"
"Diam kamu, Dinda!" bentak Reza. "Gara-gara ambisimu memakai gaun murah dari desainer abal-abal dulu, citra perusahaan kita cacat! Sekarang Arumi mengambil klien terbesar kita!"
Reza meraih teleponnya, matanya merah karena dendam. "Hubungi pengacara! Cari celah untuk menuntut A.R Design atas spionase industri! Aku tidak peduli berapa biayanya, aku ingin ruko itu ditutup minggu depan!"
~~
Sore harinya, Arumi sedang memantau pengiriman batch pertama ke gudang pusat Nusantara Galeria ketika sebuah mobil mewah berhenti di depan rukonya. Reza turun dari mobil, namun kali ini ia tidak didampingi asisten. Ia datang sendiri, wajahnya tampak kuyu namun penuh amarah yang tertahan.
Arumi berdiri di teras rukonya, melipat tangan di dada. Ia membiarkan Reza mendekat hingga batas pagar.
"Kamu puas sekarang, Arumi?" desis Reza, suaranya bergetar. "Kamu menghancurkan kontrak yang sudah aku bangun selama sepuluh tahun hanya untuk membalas dendam pribadi?"
Arumi menatap mantan suaminya itu dengan tatapan kosong, seolah Reza hanyalah debu yang mengganggu pandangannya.
"Ini bukan soal dendam, Reza. Ini soal kompetensi," jawab Arumi tenang. "Kamu kehilangan kontrak itu karena kamu malas. Kamu terlalu sibuk merendahkan orang lain sampai kamu lupa memperbaiki kualitas produkmu sendiri. Nusantara Galeria tidak memilihku karena mereka ingin membalas dendam padamu. Mereka memilihku karena kainku tidak merusak kulit penggunanya dan tidak meracuni sungai di sekitar pabrikmu."
"Aku akan menghancurkanmu," ancam Reza. "Aku punya kekuasaan yang tidak bisa kamu bayangkan."
Arumi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu dingin hingga membuat Reza merinding.
"Kekuasaanmu adalah masa lalu, Reza. Kekuasaanku adalah masa depan. Silakan coba hancurkan aku, tapi ingatlah satu hal, setiap kali kamu menyerang, aku akan mengambil satu lagi klienmu. Sampai akhirnya, kamu tidak punya apa-apa lagi selain jas mahalamu itu."
Arumi berbalik masuk ke dalam rukonya, membiarkan Reza mematung di pinggir jalan. Namun, saat Arumi hendak menutup pintu, ponselnya bergetar hebat. Sebuah panggilan dari nomor rumah sakit.
Ia mengangkatnya dengan firasat buruk.
"Halo? Benar ini dengan Ibu Arumi? Kami dari RS Medika. Ada seorang anak bernama Kirana yang baru saja dibawa masuk karena kecelakaan di depan sekolahnya..."
Darah Arumi seolah berhenti mengalir. Ia menoleh ke arah Reza yang masih berdiri di luar sana dengan senyum miring yang perlahan muncul di wajahnya. Reza tidak mengatakan apa pun, ia hanya masuk ke mobilnya dan melaju pergi dengan tenang.
Arumi mencengkeram gagang pintu hingga buku jarinya memutih. Matanya berkilat dengan amarah yang lebih besar dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya. Perang ini baru saja berubah dari perang bisnis menjadi perang nyawa.
"Reza..." desis Arumi dengan suara yang pecah. "Jika seujung rambut Kirana terluka, aku tidak akan hanya menghancurkan perusahaanmu. Aku akan memastikan kamu memohon untuk mati."
Arumi berlari menuju mobil jemputannya, sementara di kejauhan, sirine ambulan terdengar membelah kesunyian kota, menandai dimulainya babak paling berdarah dalam hidup sang janda tangguh.
...----------------...
**To Be Continue** ....