NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHANGATAN YANG TERBAGI.

Kepulangan Maheer ke mansion disambut dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Maryani, kakak perempuannya, sudah menunggu di teras depan sambil menggandeng tangan kecil Razka. Hans dan Mang Diman segera bergerak sigap membantu Maheer turun dari mobil. Dengan bantuan kursi roda, Maheer perlahan memasuki rumah yang biasanya terasa dingin baginya.

Maheer memilih untuk menempati kamar tamu di lantai bawah. Ia sadar diri untuk tidak memaksa masuk ke kamar utama yang dulu ditempati almarhum kakaknya. Bukan hanya karena ia ingin menghargai privasi Assel, melainkan juga karena ia belum siap melihat foto pernikahan Muzammil dan Assel yang terpampang besar di sana. Baginya, melihat wajah bahagia kakaknya di samping Assel hanya akan menambah beban rasa bersalah yang sedang ia coba sembuhkan.

Setelah Maheer dibaringkan dengan hati-hati di atas tempat tidur, Maryani pamit untuk mengurus keperluan lain di dapur. Tak lama kemudian, Razka muncul di ambang pintu. Bocah itu berjalan mendekat dengan langkah kecilnya, menatap Maheer dengan pandangan menyelidik.

"Om Jahat sedang pura-pura sakit ya?" tanya Razka sambil berkacak pinggang. "Om cuma mau mengambil Mama dari Razka, kan?"

Maheer yang sedang bersandar pada bantal tersenyum tipis. Sifat jahilnya muncul melihat wajah serius keponakannya itu. "Wah, kau tahu saja. Aku memang mau mengambil Mamamu, karena sebenarnya dulu dia memang milikku."

Wajah Razka seketika memerah karena marah. "Tidak boleh! Mama hanya milik Razka dan Papa!"

Mendengar kata Papa keluar dari bibir mungil itu, tawa Maheer langsung lenyap. Rasa nyeri di tulang ekornya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Ia menarik tangan kecil Razka dengan lembut, lalu membawa bocah itu ke dalam pelukannya.

"Iya, Mama hanya punya Razka dan Papa Muzammil. Tapi sekarang, ada Papa Maheer juga di sini," bisik Maheer lembut.

Pada awalnya Razka berontak, tangan kecilnya memukul-mukul bahu Maheer. Namun, kehangatan pelukan Maheer yang begitu tulus perlahan meluluhkan pertahanan bocah itu. Aroma parfum Maheer yang mirip dengan aroma Muzammil membuat kerinduan Razka meledak.

"Pelukan Om Jahat... mirip Papa," isak Razka tiba-tiba. Suaranya mulai parau.

Maheer merasakan baju di bagian bahunya mulai basah oleh air mata Razka. Ia mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala keponakannya itu dengan mata berkaca-kaca. "Tentu saja mirip, karena Om adalah adik Papamu. Sekarang, biarkan Om yang menjagamu dan Mama, ya?"

"Papa... Razka kangen Papa," tangis Razka pecah. Untuk pertama kalinya, ia memanggil Maheer dengan sebutan Papa meski diselingi isakan pedih.

Di balik pintu yang sedikit terbuka, Assel berdiri terpaku. Ia membawa nampan berisi semangkuk sup iga hangat dan sepiring nasi. Air mata Assel luruh begitu saja mendengar percakapan itu. Ia baru menyadari sepenuhnya bahwa bukan hanya dirinya yang merana merindukan sosok Muzammil. Putranya yang masih begitu kecil ternyata memendam rindu yang sangat dalam hingga rela luluh di pelukan pria yang biasanya ia benci.

Assel tidak jadi masuk. Ia menarik napas panjang dan mundur perlahan, menunggu hingga tangis Razka mereda dan bocah itu tertidur karena kelelahan di dalam pelukan Maheer. Barulah setelah suasana hening, Assel melangkah masuk dan meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.

"Sini, biar aku pindahkan Razka ke kamarnya," bisik Assel pelan agar tidak membangunkan putranya.

Maheer menggeleng kecil. "Jangan, biarkan saja dia di sini. Dia baru saja tertidur pulas setelah menangis."

Assel menatap wajah lelap Razka yang masih menyisakan bekas air mata. "Tapi kau belum makan siang, Maheer. Sup ini harus dimakan selagi hangat."

"Kalau begitu suapi aku," ujar Maheer sambil melirik lengannya yang masih didekap erat oleh Razka. "Tanganku sedang disandera oleh anakmu."

Assel mendengus pelan, namun ia tidak membantah. Ia duduk di tepi ranjang dan mulai menyuapkan sesendok nasi serta kuah sup ke mulut Maheer. Suasana menjadi canggung namun terasa lebih manusiawi dari sebelumnya.

"Maaf ya, Assel. Aku jadi merepotkanmu terus sejak pulang dari rumah sakit," ucap Maheer di sela kunyahannya.

"Tidak apa-apa. Semua yang terjadi juga karena kesalahanku yang mendorongmu," jawab Assel datar, meski matanya menghindari tatapan Maheer.

"Terima kasih sudah mengurusku," sambung Maheer tulus.

Assel hanya diam dan kembali menyuapkan nasi. Setelah makanannya habis, ia membantu Maheer meminum obat-obat dari dokter. Sebelum beranjak pergi, Assel mengeluarkan sebuah lonceng kecil dari saku celemek yang masih dipakainya.

"Istirahatlah. Kalau butuh sesuatu di malam hari, bunyikan lonceng ini," kata Assel sambil meletakkan lonceng itu di dekat tangan Maheer.

Maheer mengerutkan kening. "Apa kau yakin bisa terdengar? Ruangan ini kan kedap suara. Jadi daripada aku repot-repot membunyikan lonceng dan kau tidak dengar, lebih baik malam ini kau tidur di sini saja."

Mata Assel melotot kaget. Sebelum ia sempat melayangkan protes, Maheer sudah lebih dulu memotong.

"Tenang saja, aku masih memegang janjiku. Selama kau masih menjalani masa iddah, aku tidak akan menuntut hak apa pun darimu. Lagipula, kondisiku sedang begini, mana mungkin aku bisa berbuat macam-macam," jelas Maheer dengan nada meyakinkan.

Setelah perdebatan batin yang cukup panjang, Assel akhirnya luluh. Ia tidak ingin Maheer kesulitan sendirian jika tiba-tiba butuh bantuan medis di tengah malam.

Malam itu, suasana di kamar tamu terasa sangat canggung. Razka sudah dipindahkan ke kamarnya sendiri saat jam makan malam tadi. Kini hanya ada Maheer dan Assel di bawah temaram lampu tidur.

"Tidurlah di sini, Assel," kata Maheer sambil menepuk sisi tempat tidur yang kosong di sebelahnya.

"Aku tidur di sofa saja," tolak Assel sambil menunjuk sofa kecil di pojok ruangan.

Namun, baru beberapa menit mencoba memejamkan mata di sofa, leher Assel terasa pegal karena ukurannya yang terlalu sempit. Akhirnya, dengan langkah ragu, ia menyerah dan berbaring di sisi ranjang yang paling pinggir, menjaga jarak sejauh mungkin dari Maheer. Maheer sebenarnya belum tidur; ia hanya memejamkan mata agar Assel tidak merasa terintimidasi oleh tatapannya.

Keesokan paginya, alarm alam sadarnya membangunkan Assel karena bangun sebelum subuh sudah menjadi kebiasaanya. Ia tersentak saat menyadari posisinya. Alih-alih berada di pinggir ranjang, ia justru terbangun dalam dekapan Maheer. Kepalanya bersandar di dada bidang pria itu, dan tangan Maheer melingkar di pinggangnya.

Assel langsung bangkit dengan wajah memerah. Ia sudah siap untuk melancarkan serangan kata-kata pedas karena mengira Maheer mengambil kesempatan dalam kesempitan.

"Kau! Kau sengaja menarikku ya?" tuduh Assel dengan suara tinggi.

Maheer perlahan membuka matanya, tampak tenang meski sebenarnya ia pun terkejut dengan posisi mereka. Ia segera membela diri sebelum Assel semakin marah.

"Jangan menuduh sembarangan. Aku ini pasien yang sedang retak tulang ekornya. Bergerak sedikit saja sakit, mana mungkin aku punya tenaga untuk menarikmu?" Maheer menatap Assel dengan tatapan jenaka. "Kenyataannya, kau sendiri yang bergeser mendekat saat kedinginan di tengah malam tadi. Sepertinya tubuhku terlalu hangat untuk kau abaikan."

Assel terdiam, wajahnya semakin memanas karena malu. Ia tidak tahu apakah Maheer jujur atau hanya sedang menggoda, tapi yang ia tahu pasti, tembok kebencian yang ia bangun selama bertahun-tahun kini mulai retak, seiring dengan kehangatan yang mulai merayap di dalam rumah ini. Maheer diam-diam tersenyum; meski ia yang sebenarnya sedikit menarik tubuh Assel agar lebih dekat tadi malam, ia akan menyimpan rahasia kecil itu untuk dirinya sendiri. Bagi Maheer, ini adalah langkah awal untuk benar-benar menjadi pelindung bagi Assel dan Razka.

1
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪
partini
lebih tau agama hemmm pintar kamu her
Lia siti marlia
cie cie yang di kasih kesempatan dah langsung nyosor aja tuh 🤭🤭🤭lanjut thorr😍😍
Lia siti marlia
ok maherr ...semangat up nya thorrr💪💪💪😍
Radya Arynda
semangaaaat up💪💪💪💪
Nifatul Masruro Hikari Masaru: selamat berjuang
total 1 replies
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!