Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Aruna melambaikan tangannya ketika berpamitan pada Nick. Dan setelahnya ia keluar dari dalam kamar penginapan milik Marinos. Hatinya sedikit lega ketika ia dan Marinos sudah mulai bicara tanpa canggung.
Bibirnya pun tersenyum lebar. Namun itu hanya berlangsung selama beberapa detik sebelum netranya bertabrakan dengan dua netra coklat bening yang berjarak kurang satu meter darinya. Sosok Noah berdiri dengan congkak disana. Menatapnya dengan pandangan yang sulit Aruna tafsirkan.
Sialan! Sejak kapan kekasihnya itu berdiri disana? Kenapa juga dia harus ambil penginapan disini? Maksudnya kamar Noah berada di depan kamar Marinos? Apa yang harus ia katakan sekarang? Jelas sekali laki-laki itu tengah menahan emosinya terbukti dari rahangnya yang rapat dan menegang.
"Noah? Kok kamu disini?"
"Harusnya aku yang tanya begitu. Why are you here? Didepan kamar mantan pacar mu tepatnya?!"
Aruna gelagapan. Sial Noah dengan mode marahnya menyeramkan sekali. Atmosfer dingin seketika menusuk seluruh kulit tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang. Jujur ia takut.
"Noah a-aku bisa jelasin. Aku hanya mengantar Nick jalan-jalan dan--"
"Dan melepas rindu dengan Ayahnya? Begitu kan?"
"Noah nggak begitu. Aku serius aku dan Marinos nggak ngapa-ngapain didalem"
"Semua orang akan mencari pembelaan jika tertangkap basah bersalah Run"
"Noah dengar, aku akui kalau aku salah. Tapi demi Tuhan aku hanya berniat mengajak Nick jalan-jalan tadi. Aku bertemu Nick di ruang konsesi"
Sialan! Aku juga tahu itu sayang! Aku bahkan melihat mu dengan bocah itu bertemu sejak awal. Dari bocah itu memberikan sapu tangannya padamu, ketika bocah itu memintamu untuk kembali pada Marinos dan berakhir dengan kamu yang masuk kedalam kamar penginapan Marinos. Bajingan ... Noah meradang!
"Apa aku harus percaya karena aku ngga punya bukti nyata?"
Nafas Aruna berhembus pelan. Ia bergerak untuk lebih dekat dengan Noah, "Kamu harus percaya. Aku bisa jamin aku nggak berbuat apapun"
"Kamu dan Marinos itu berhubungan lama Run. 4 bulan kita nggak ada apa-apanya ketimbang 2 tahun mu yang penuh kenangan dengan dia"
Sabar Aruna ... Laki-laki didepan mu ini hanya cemburu. Jadi jangan tersulut emosi atau kalian akan berakhir bertengkar hebat. Calm down princess.
"Kamu pasti capek ya habis latihan. Kamu istirahat aja ya. Kita ketemu besok pertandingan kamu. Aku bakal nonton kamu di bench. Aku dapat undangan khusus dari pak Ramos"
"Kamu mau menghindar gitu aja?!"
"Nggak sayang. Udah ya, kamu lagi capek aja jadi pikirannya aneh-aneh. See you nanti aku hubungi kamu"
Kecupan pada pipi Noah itu menjadi salam perpisahan untuk keduanya. Aruna yang memilih untuk memberikan laki-laki itu waktu untuk sendiri. Berbeda halnya dengan Noah. Laki-laki itu malah semakin meradang. Bertepatan dengan Aruna yang bergerak menjauhi nya, ia mengumpat dengan kasar.
FUCK!!!!
.
.
.
.
.
Riuh suara para pendukung olahraga dunia itu begitu memekakkan telinga sekaligus membawa gelenyar rasa bahagia bagi mereka sang penggemar sesungguhnya olahraga dunia ini. Babak pertama sudah usai dan kini babak kedua baru dimulai. Suasana stadion semakin bergemuruh. Apalagi tadi tuan rumah sempat tertinggal di awal babak.
Bibir merah Aruna tertarik untuk membentuk sebuah senyuman. Posisinya yang tengah duduk sebagai pendukung di kursi khusus para atlet itu membuat dirinya sedikit beruntung. Beruntung karena ia dapat melihat dengan begitu dekat dan jelas dengan para pemain. Sesekali Aruna memberikan reaksi gemasnya pada para pemain yang tengah bertanding di tengah lapangan sana.
Fokus matanya tak pernah luput dari pergerakan sang kekasih yang saat ini diberi kesempatan untuk bermain. Keringat yang sudah menyatu dengan tubuhnya bahkan bisa dibilang ia mandi keringat tak ia perdulikan. Yang ia pedulikan hanya Noah Patingga Rajasa yang sangat terlihat bersemangat ketika mendapati operan bola dari salah satu temannya.
Hingga sekitar 5 menit kemudian, tubuh Aruna berdiri dan ia berteriak begitu heboh. Bukan hanya dirinya. Lebih tepatnya seluruh suporter yang berada di stadion melakukan hal yang sama seperti dirinya. Berteriak, tepuk tangan, melompat bahkan ada yang bernyanyi bersama. Disana, di tengah lapangan, seorang Noah berhasil menjebol pertahanan lawan mainnya.
Dua gol pun tercetak untuk tim mereka
Bibir Aruna sontak meneriakkan nama sang kekasih. Para pemain juga bersorak heboh dan tentunya berselebrasi bahagia. Bibir Aruna semakin melebar ketika sosok Noah bergerak mendekat kearahnya. Jantungnya berdebar dan pikirannya sudah kemana-mana.
Apa Noah akan memeluknya?
Namun hayalan Aruna barusan harus sirna seketika. Noah Pattingga ternyata tidak bergerak mendekatinya. Laki-laki itu ternyata bergerak kearah tribun. Kedua netranya pun mengikuti kemana dirinya. Dan gotca! Aruna melihatnya. Noah dengan baju merahnya tengah memeluk dua orang wanita. Satu berambut pirang dan satunya berambut hitam legam.
Kedua mata Aruna memicing untuk memastikan. Dan jantung Aruna mencelos seketika. Bukan, karena Noah yang tengah memeluk sosok saudaranya. Melainkan perempuan lain yang Noah peluk juga. Wanita berambut hitam legam yang berada tepat di samping Saudaranya.
Ia tahu wanita itu. Meskipun tidak mengenalnya, tapi Aruna tahu siapa dia. Wanita itu .. mantan kekasih Noah.
Dan detik berikutnya, ketika Noah melepaskan pelukannya, kedua iris mereka saling bertabrakan. Iris coklat madu dan iris coklat terang mereka beradu pandang. Tidak ada keterjutan dalam masing-masing pandangan mereka berdua. Hanya pancaran yang tidak dapat Aruna definisikan pada iris mata pria itu.
Sebelum akhirnya, Aruna yang memutuskan kontak mata mereka karena wasit lapangan sudah meniup peluitnya dan pertandingan akan kembali dilanjutkan. Begitu pula dengan Noah yang dengan cepat kembali ke lapangan. Laki-laki itu sempat menatapnya cukup lama namun Aruna mengalihkan pandangannya.
.
.
.
"Guys ... Aku duluan ya. Udah kebelet banget nih. Byeee"
"Loh nggak nungguin Noah dulu Miss?"
"Aduh nanti aja. Aku lagi kebelet banget dan nggak bisa ditunda. Selamat ya buat kemenangannya Byeee"
Itu hanya alasan! Iya tebakan kalian memang benar. Pergi ke toilet hanyalah alasan Aruna di akhir pertandingan ini. Ia hanya tidak mau melihat Noah Pattinga yang ia ketahui tengah berjalan kearah bench.
Ia tidak mau bersitatap dengan pria itu dan berakhir mereka akan kembali bertengkar. Jadilah Aruna yang mengalah. Menghindari pertikaian akan lebih baik menurutnya. Langkah kakinya ia percepat hingga Aruna sudah benar-benar keluar dari dalam stadion.
Di pintu masuk, Aruna tiba-tiba saja merosot. Tubuhnya jatuh terduduk dibawah pintu lebar itu. Nafasnya tersengal karena ia berlari cukup cepat tadi. Jantungnya masih berdebar. Memori sialan itu terus berputar di otaknya. Noah
yang memeluk Saudaranya, Noah yang memeluk mantan kekasihnya. Lebih tepatnya mantan tunangannya. Noah kekasihnya yang mencium--
Nggak Run! Jangan negatif thinking. Tenang Run. Itu hanya gerak reflek ketika seseorang mengalami hal yang bahagia. Kamu pasti tahu itu kan Aruna ... Jangan menangis! Please .. kamu nggak boleh berfikir aneh-aneh. Kamu harus percaya sama dia.
Lagipula tadi juga ada saudara Noah jadi wajar saja Noah tidak menghampiri kamu dulu. Dan untuk Noah yang mencium dan memeluk wanita itu tadi itu pasti gerak refleknya.
"Tapi sakit banget ya dadaku rasanya"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...