hallo, saya sun sarang putri bungsu dari pasangan sun siwan dan hayega dinata, sun siwan yang tak lain adalah ayahku pembisnis pakaian dan ibuku hayega adalah seorang dokter.
anak pertama mereka kembar yaitu sun saga si paling tua 10 menit dan sun sagi , dan anak berikutnya ya saya si cantik sun sarang.
kakak pertama saga dia mengikuti gen sang ibu yaitu dokter dan kak sagi dia ikut jejak sang ayah yaitu pembisnis,
sedangkan aku? yah aku sekolah kedokteran tetapi kalian tau aku tidak mau jadi dokter , dan sekarang pekerjaan ku cukup tidak jelas,
kadang produser, kadang vidiografer dan kadang yah cuman tidur aja.
aku gak suka ribet apalagi di atur orang lain dan ternyata aku juga harus ngalamin pase di mana aku harus merendah dan mengontrol semua yang aku lakukan,
saat bertemu dengannya semuanya tampak salah, tidak seharusnya aku menyetujuinya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita zahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. tiba² badai salju
Tin..tinnnn....
Sebuah klakson hampir saja membuat ku tersungkur, siapa orang gila yang menghentikan mobil di sana pake acara klakson segala,
"ayo masuk..." ujarnya sembari membuka kaca di samping kemudi,
Dan sialnya itu adalah do yanqi, apa dia sedang menertawakan ku? Apa dia melihat tingkah konyolku tadi?
Terserah lah, yang penting aku harus menghubungi mobil derek, "ayo masuk,,," ujarnya lagi sedikit berteriak,
aku hanya melihat ke arahnya " tidak perlu duluan saja, aku akan menunggu mobil derek" ujarku dengan santai padahal manggil mobil derek aja aku gak tau caranya, salah siapa sih dia ada di mana² lagian bukannya dia ikut karoke bersama teman2nya.
Supirnya turun begitupun dia " biar saya yang menunggu mobil derek nya, nonna bisa pulang lebih dulu dengan tuan muda" ujar supirnya,
"tidak perlu pak,,," ujarku menolak dengan hangat melihat sipat bapak supir itu yang sangat ramah,
"akan ada badai salju, kita harus segera turun di sini tidak ada penginapan yang tersedia" ujar do yanqi tampaknya dia muak melihat ku,
belum saja aku menolaknya dia dengan cepat mengangkat tubuhku dan membuka pintu mobilnya dengan kasar,
"yaaa,,, bisa pelan tidak,,," kesalku ketika dia menjatuhkan tubuhku dengan kasar di kursi samping kemudi,
Dia hanya diam dan menutup pintu mobil nya, setelah melajukan mobilnya beberapa saat aku mulai tersadar ponsel dan tas ku di mobil tertinggal,
Ahhh sial banget sih, gimana kalau pria ini jahat dan hendak menculikku, ah rasanya gak mungkin juga sih gak ada yang istimewa di diriku yang ingin dia culik rasanya,
aku bergidig karna rasanya angin malam begitu menembus dinding mobil apalagi aku hanya terdiam tanpa sepatah katapun bersama pria dingin ini benar² membuat suasana semakin digin,
Setelah 10 menit perjalanan kok rasanya asing, ini bukan jalan menuju rumah ku ataupun apatemen ku, ah sial jangan2 aku beneran mau di culik lagi,
"antar aku pulang" ujar ku tetap dengan nada dingin,
" yah kita akan pulang" jawabnya santai seolah² suara ketusnya itu hilang,
" ini bukan arah menuju rumahku, kamu gak mungkin nyulik aku kan,,," ujarku sedikit panik,
Dan kalian tau apa rekasinya? Dia malah terkekeh yang membuatku hampir saja ingin menamparnya,
"banyak wanita yang ingin sekali ku culik, kamu yakin bukan salah satunya" ujarnya masih dengan senyuman yang menurutku rasa manis bukan di tempat yang pas,
"gak usah kepedean deh,,," kesalku dan tanpa sadar mobil yang di kendarainya masuk ke sebuah pekarangan rumah.
Dia turun dan membukakan pintu agar aku juga turun "ini rumah siapa?" tanya ku benar² seperti orang tolol,
Bagaimana coba sudah semalam ini aku bahkan meninggalkan mobil ku dan lebih parahnya lagi oini ponsel pun aku tidak memegangnya,
"ayo masukkk,,," ujar nya berjalan lebih dulu dan di depan pintu ada seorang wanita paruh baya menghampiri nya,
"apa ada tamu tuan?,,;" tanya nya ,
"ini nona muda sun,,," jawabnya,
Aku hanya menatapnya datar kenapa aku pulang kesini dan tidak di antar pulang ke rumah ku "bolehkah aku meminjam ponsel mu" ujarku dengan harap merendahkan diri kepadanya
Dia duduk di sofa dan membuka jaket yang sedari tadi di kenakannya, aku mengikutinya duduk dan dia malah menarikku jatuh di pangkuannya,
Ummmm shittt dengan cepat aku ingin melarikan dari, tapi apalah daya aku seolah di terkam ular piton raksasa dengan tinggiku yang 160 aku kalah dan tidak bisa berontak di tahan pria setinggi 190cm ini.
Dia mengeratkan kedua tangannya menahanku untuk tetap di pangkuannya, " tau memohon sekarang, kemana sikap angkuh mu yang tadi" ujarnya.