Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Hari Pernikahan
“Apa? Menikah?” Aku membelalak. Tak percaya dengan kenyataan yang terjadi saat ini.
“Tidak! Adelin, kamu tidak layak bersanding dengannya. Dia seorang ustaz. Sementara kamu? Wanita yang baru saja berhijrah. Bahkan ilmu agamu belum ada,” batinku menolak. Namun, logikaku kini mengalahkan isi hati.
“Bagaimana jika memang ini adalah cara Allah untuk menjadikanku sebagai hamba yang lebih taat lagi?” pikirku. Sesekali kudongakkan kepala menoleh kepada ustaz Afwan. Namun, segera kutepis tatapan itu, kala ustaz Afwan yang biasanya menunduk saat menatapku, kini justru menantang mataku.
“Apa-apaan ini? Memangnya boleh?” batinku berteriak. Andai saja gemanya dapat di dengar telinga siapa pun, kupastikan ustaz Afwan akan tertawa terpingkal-pingkal.
“Bagaimana Adelin? Kamunya setuju?” Ibu mengagetkanku dari debat kusir pikiran dan hatiku sendiri. Kini, Ibu pun seolah menyetujui pernikahan itu. Ia bahkan tak menanyakan lebih dalam terkait ustaz Afwan.
“Ibu, setuju?” Entah mengapa pertanyaan itu yang terlontar dari lisanku. Aku segera membekap mulutku. Kulihat, kini ustaz Afwan tersenyum menahan tawa.
“Ibu setujulah, Nak. Kan beliau berjasa padamu. Lagi pula, siapa orang tua yang mau menolak laki-laki baik datang untuk menikahi anaknya?” jawab Ibu dengan yakin. Tatapannya penuh gejolak bahagia. Sedari tadi bahkan ia tak berhenti tersenyum.
“Sebentar, ya. Saya siapkan lagi, tehnya.” Aku hendak berlalu kembali ke belakang. Namun, dicegat oleh Dokter Deva dan Ustaz Afwan.
“Tidak usah! Duduk saja di sini,” pinta Dokter Deva sambil mempersilakanku duduk di hadapan ustaz Afwan.
Saat aku hendak duduk, tiba-tiba seseorang berdiri di ambang pintu depan rumah. Ternyata, itu adalah Ridho.
“Ada apa ini ya, rame-rame?” Pandangan matanya menyelidik semua yang hadir di ruang tamu. Hingga kini, tatapan Ridho tertuju pada sosok ustaz Afwan.
“Ini, anak saya nomor tiga, ustaz, dokter. Namanya Ridho.” Ibu memperkenalkan Ridho pada ustaz Afwan dan dokter Deva.
Kulihat, ustaz afwan menyalami tangan Ridho segera. Kemudian, satu kalimat terucap dari lisannya.
“Saya … berniat ingin menikahi Adelin.”
“Apa?” Ridho membelalak. Seolah kaget dengan pernyataan ustaz Afwan baru saja. Hingga tiba-tiba … Ridho berjalan cepat ke arahku dan memelukku erat.
“Selamat, Kak. Akhirnya kau ndak jomblo lagi.” Seketika semua yang ada di dalam ruang tamu itu tertawa lepas. Kecuali … aku.
“Apa? Tapi … aku belum bilang setuju.” Sontak, suara tawa itu kembali diterpa keheningan. Aku bahkan melupakan tujuan awalku yaitu membereskan pecahan gelas dan kembali membuatkan teh untuk mereka.
Ustaz Afwan tiba-tiba berkata ….
“Salat istikarahlah dahulu. Mantapkan hatimu lewat sujud dan doa.” Aku mengangguk. Kemudian segera berjalan ke dalam kamar.
Di kamar ini. Aku masih mendengar perbincangan mereka. Sesekali, ibu membicarakan kebaikan dan kelebihanku di depan ustaz Afwan. Sejatinya, aku merasa tak pantas di puja puji demikian oleh ibu. Karena faktanya, aku masih banyak kekurangan.
Aku berdoa kepada Allah sehabis salat istikarah dua rakaat. Kutampung kedua tanganku. Kubiarkan doa-doaku melangit dan di dengar oleh Allah.
“Ya Allah. Hamba saat ini tengah bingung. Di sisi lain, hamba ditawar bekerja kembali oleh perusahaan lama hamba. Namun, kini dilemma kembali datang. Hamba dilamar oleh seorang ustaz yang Engkau sendiri tahu, betapa mulianya gelar itu di mata-Mu. Ya Allah. Jika ia jodoh terbaik dari-Mu, ikhlaskan hamba untuk menerimanya sebagai suami. Kabulkanlah ya Allah.”
Kurasakan ketenangan menyelimuti dada setelah salat dan berdoa. Tiba-tiba … dalam waktu singkat, Allah seolah mengirimkan sinyal-sinyal keyakinan di dalam hatiku. Entah mengapa rasa suka tumbuh mekar di dada, hingga menembus relungku.
“Ya Rabb, apa ini sinyal dari-Mu?” tanyaku lirih seraya memegang dadaku yang sedari tadi memantulkan irama jantung yang sulit kukendalikan.
Aku berjalan keluar kamar dengan langkah pelan. Aku menunduk. Malu jika harus menatapnya langsung dalam menjawab tawarannya. Hingga sebuah kata terucap dilisanku.
“Iya, saya setuju.”
“Alhamdulillah.” Semua serempak mengucap syukur. Dokter Deva memeluk Hamzah dan menepuk Pundak ustaz Afwan yang kini geming mendengar jawabanku. Kulihat, Ibu dan Ridho saling berpelukan sembari menatapku dengan senyuman.
“Baik, tujuh hari lagi … akad nikah dilaksanakan.” Pernyataan dari ustaz Afwan membuatku terkesiap. Jantungku bagai mengudara di dalam sana. Sesekali kugenggam jantung ini agar tak lagi memantulkan irama keras yang dapat di dengar langsung oleh telingaku.
***
“Aku … akan menikah? Benarkah ini semua?” Kedua mataku menatap nanar plafon putih di kamarku, yang kini warnanya telah kusam. Kutepuk perlahan pipiku, kemudian mencubitnya kuat.
“Aw! Ini nyata? Ini nyata?” Kuulangi lagi pertanyaan itu.
Tujuh hari, adalah waktu yang begitu singkat untuk sebuah perkenalan dengan calon pasangan. Lantas, bagaimana dengan pernikahan? Ya, itulah yang selalu hati dan pikiran ini perdebatkan sedari tadi.
Aku yakin, ustaz Afwan telah memikirkan ini matang-matang sebelum mengambil keputusan nekat ini untuk menikahiku. Orang yang bahkan belum ia kenali lebih dalam.
“Ya Allah. Semoga hamba menerimanya bukan karena ingin membalas budi. Bukan juga karena hal lain di luar itu. melainkan, karena Engkau ya Allah,” lirihku berucap.
Lima hari kemudian …
Dua hari lagi, akan dimulainya pernikahanku dengan ustaz Afwan. Hari ini adalah hari di mana terjadi perdebatan antara aku dan adikku Ridho. Ustaz Afwan memintanya untuk menjadi waliku. Sementara Ridho, ia tak pernah salat. Lantas, aku memintanya untuk bertaubat nasuha sebelum menikahiku. Serta mengganti salat-salat yang telah ia tinggalkan.
“Kak, tapi jujur, ya. Itu berat, Kak. Jadi wali sementara gue nggak salat itu nggak gampang.”
“Kamu sholat sekarang! Ayo taubat nasuha. Kamu nggak mau memenuhi permintaan kakakmu di hari bahagianya nanti?”
Ridho tampak berpikir. Cukup lama ia memikirkannya. Hingga terbit dari lisannya satu kalimat.
“Oke, gue taubat.”
Aku tersenyum. Kemudian memeluknya erat.
“Makasih, ya Adekku.”
Dua hari yang menegangkan itu, kini berlalu. Tibalah hari pernikahan yang dinanti-nanti. Aku berjalan menuju sebuah kamar pengantin yang telah dihias seindah mungkin. Beberapa wanita bercadar, jamaah kajian ustaz Afwan mendampingiku sebelum akad di mulai. Tiba-tiba … dokter Deva datang menghampiriku.
“Sayang! Ini hari bahagiamu,” ucapnya sembari memelukku erat.
“Terima kasih, U … umi,” jawabku ragu dalam memanggil nama itu. Dokter Deva yang sebentar lagi akan sah menjadi mertuaku pun tersenyum bahagia.
***
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, saudara Afwan Zaid dengan Kakak kandung saya, Adelin Azzura binti Zulkarnaen. Dengan mahar emas kawin sebesar tiga puluh gram, di bayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Adelin Azzura binti Zulkarnaen dengan mahar tiga puluh gram emas kawin dibayar tunai.”
“Sah?”
“Sah!”
“Alhamdulillah.”
Doa-doa pun dilantunkan. Pelukan datang bergantian untukku. Seraya doa untuk pengantin baru itu dilontarkan untukku. Aku tersenyum seraya memeluk Umi yang kini sah menjadi mertuaku. Hamzah datang memelukku erat. Lantas, ia mencium pipiku. Aku membalas kecupan itu di keningnya. Kemudian Umi Deva berucap ….
“Sekarang, Hamzah manggilnya Tante Adelin dengan panggilan Umi, ya.”
Hamzah mengangguk, lalu berkata.
“Umi ….” Ia memelukku erat kembali. Kami saling hanyut dalam pelukan masing-masing.
Ibu memelukku erat. Kurasakan derai air matanya kini menetes di baju pengantin sederhanaku.
"Ibu bahagia, Nak. Ibu bahagia, akhirnya kamu menemukan jodoh terbaikmu.
Aku membalas ucapan Ibu dengan senyum hangat. Kemudian, Ibu mengecup keningku berulang kali. Aku menyalami tangan Ibu dan Umi bergantian. Dua sosok wanita hebatku.
***
Malam tiba setelah acara resepsi yang melelahkan berakhir. Aku duduk di atas kasur kamar ini. Menanti kehadiran ustaz Afwan yang kini sah menjadi suamiku. Suara pintu berderit. Seseorang masuk ke dalam kamar—ustaz Afwan. Jantungku bagai melayang di udara. Bahkan kini paru-paru ikut menyesakkan dadaku.
Aku menarik napas pelan sebelum benar-benar siap menyambutnya. Namun, yang kubisa hanyalah hening. Hingga tiba-tiba … suara pintu terkunci berbunyi ….
Klek!
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?