NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Ayah Prabu melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh putranya yang masih bersimpuh lemas di atas aspal.

Pelukan itu begitu erat, seolah sang Ayah ingin menyalurkan kekuatan agar putra tunggalnya tidak hancur sepenuhnya.

"Berdiri, Pra," bisik Ayah dengan suara berat.

"Menangis tidak akan membawa dia kembali. Jika kamu benar-benar mencintainya, lakukan apa yang Xena lakukan dulu saat SMA. Dia mengejarmu tanpa lelah meski kamu abaikan. Sekarang, giliranmu membuktikan ketulusanmu."

Ayah menepuk bahu Prabu dengan tegas, mencoba membangkitkan martabat sang Pilot yang sempat hilang.

"Sekarang kamu siap-siap. Kamu harus terbang sore ini. Tunjukkan pada dunia bahwa kamu kembali sebagai pria yang bertanggung jawab, bukan pria yang kalah oleh egonya sendiri."

Prabu menyeka air matanya dengan kasar, mencoba berdiri meski kakinya terasa seperti jeli.

Di sisi mobil, Yanuar yang sejak tadi memperhatikan pemandangan memilukan itu akhirnya bersuara.

Ia mencoba memecah suasana yang terlalu menyesakkan dengan nada bicara yang sengaja dibuat menyebalkan.

"Ayo, Captain. Jangan cengeng begitu," ledek Yanuar sambil menyandarkan bahunya di pintu mobil.

"Kalau kamu terus patah semangat dan menyerah begitu saja, biar Xena untuk aku saja, Pra. Aku masih sangat bersedia menggantikan posisimu."

Prabu menoleh tajam ke arah Yanuar. Meski matanya masih merah, ada kilatan tekad yang kembali muncul.

Ancaman Yanuar—meski terdengar seperti ledekan—adalah alarm nyata bagi Prabu bahwa Xena adalah permata yang kini diperebutkan.

"Jangan berani-berani, Yan," desis Prabu dengan suara serak.

"Makanya, buktikan. Kejar dia sampai ke ujung langit kalau perlu," balas Yanuar dengan senyum tipis, meski di dalam hatinya ia pun merasa perih melihat kondisi kedua sahabatnya itu.

Prabu menarik napas panjang, menatap ke arah jalanan tempat mobil Xena baru saja menghilang. Ia tahu perjalanannya akan sangat sulit.

Sore ini ia akan terbang menembus awan, membawa luka dan penyesalan, namun juga membawa satu janji baru di hatinya: ia tidak akan membiarkan Xena pergi selamanya.

"Aku berangkat, Yah," pamit Prabu dengan suara yang lebih mantap.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil seragam kebanggaannya.

Langit sore yang mulai berubah gelap seolah bersiap menjadi saksi kembalinya sang Pilot ke kokpit, sementara di bumi, Xena baru saja memulai babak baru dalam kesendiriannya.

Di rumah kecilnya yang sunyi, Xena bergerak seperti robot di dapur.

Ia mencoba menyibukkan diri dengan memotong sayuran untuk makan malam, meski matanya masih bengkak dan pandangannya sering kali kabur oleh air mata yang terus mendesak keluar.

Suara pisau yang beradu dengan talenan menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi kehampaan ruangan itu.

Tiba-tiba, pintu depan diketuk dengan tidak sabar, disusul suara yang sangat ia kenal.

"Xena! Buka pintunya, Xen!"

Xena meletakkan pisaunya dan berjalan gontai untuk membuka pintu.

Di sana berdiri Dwi dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

Tanpa menunggu dipersilakan, Dwi langsung masuk dan melihat kondisi sahabatnya yang tampak begitu rapuh.

"Sudah, jangan menangis lagi," ucap Dwi lembut. Ia mengambil tisu dari meja dan menyeka pipi Xena yang basah.

"Kamu sudah melakukan hal yang benar. Kamu sudah menyembuhkannya, kamu sudah menepati janjimu pada mertuamu. Sekarang saatnya kamu bernapas untuk dirimu sendiri."

Mendengar suara perhatian itu, pertahanan Xena yang coba ia bangun sejak dari rumah Prabu runtuh seketika.

Ia menghambur ke pelukan Dwi, menyembunyikan wajahnya di bahu sahabatnya itu sambil menangis sejadi-jadinya.

Tubuhnya terguncang hebat oleh isakan yang selama ini ia tahan di depan keluarga Prabu.

"Aku mencintainya, Wi. Aku sangat mencintainya," bisik Xena dengan suara yang nyaris hilang karena sesak.

Ia mencengkeram erat baju Dwi, seolah hanya itu satu-satunya pegangan yang ia miliki agar tidak jatuh.

"Tapi, aku tidak bisa lupa bagaimana rasanya saat tangannya mendarat di wajahku. Aku tidak bisa lupa bagaimana rasanya dibuang berkali-kali selama sepuluh tahun ini."

Dwi hanya bisa mengelus punggung Xena, membiarkan sahabatnya menumpahkan segala luka yang bertumpuk.

"Aku takut, Wi," lanjut Xena lirih.

"Aku takut jika aku kembali, aku hanya akan kembali ke dalam neraka yang sama. Aku mencintainya, tapi hatiku sudah tidak punya tempat lagi untuk rasa sakit yang baru."

Di ruang tamu yang temaram itu, Xena meratapi cintanya yang malang.

Ia mencintai pria yang kini sedang terbang tinggi di angkasa, namun ia memilih untuk tetap tinggal di bumi, mendekap lukanya sendiri dalam kesunyian.

Dwi menarik tangan Xena dengan lembut, membimbingnya menuju meja makan dan mendudukkannya di sana.

Ia mengambil alih pisau dan talenan yang tadi ditinggalkan Xena begitu saja.

"Sekarang waktunya kamu makan, dan biar aku yang masak. Kamu duduk manis di situ, jangan sentuh apa pun kecuali sendok nanti," ucap Dwi dengan nada yang tidak menerima bantahan, mencoba mengalihkan duka Xena dengan aroma masakan.

Xena hanya terdiam, menumpu dagunya dengan tangan, menatap kosong ke arah lantai dapur. Namun, keheningan itu terpecah saat ponsel di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk.

Dengan gerakan lambat, Xena meraih ponselnya. Nama "Prabu" muncul di layar.

Jantungnya berdesir perih saat ibu jarinya menggeser layar untuk membaca pesan tersebut.

Aku berangkat dulu, Bu Dokter. Maaf jika cintaku terlambat.

—Suamimu

Di bawah pesan singkat itu, sebuah foto muncul. Foto Prabu yang sudah mengenakan seragam pilot lengkap dengan atribut kaptennya.

Ia duduk di kursi kokpit, di depan panel instrumen yang begitu rumit—pemandangan yang selama beberapa bulan terakhir hanya menjadi mimpi buruk baginya.

Prabu tampak sedikit lebih kurus dalam foto itu, matanya masih memperlihatkan sisa-sisa kesedihan, namun ada gurat ketegasan yang kembali muncul.

Ia menatap kamera dengan tatapan yang seolah bicara langsung pada Xena, tatapan seorang pria yang baru saja mendapatkan kembali harga dirinya namun kehilangan separuh jiwanya.

Xena menatap foto itu cukup lama. Air matanya kembali menetes, jatuh tepat di atas layar ponsel yang menampilkan wajah suaminya.

"Siapa?" tanya Dwi tanpa menoleh dari kompor.

"Prabu," jawab Xena pendek.

"Dia, sudah di kokpit."

"Baguslah," gumam Dwi.

"Biarkan dia terbang tinggi di sana, biar dia tahu rasanya melihat bumi yang begitu luas tapi tidak menemukan tempat mendarat yang senyaman pelukanmu."

Xena tidak membalas. Ia hanya mendekap ponsel itu ke dadanya, merasakan getaran mesin pesawat yang mungkin sedang menderu ribuan kaki di atas sana melalui pesan singkat itu.

Cintanya memang terlambat, namun bagi Xena, fakta bahwa Prabu berani kembali ke kokpit adalah bayaran terbesar bagi seluruh pengabdiannya selama ini.

Dwi meletakkan semangkuk sup hangat di depan Xena.

"Makan, Xen. Kamu butuh tenaga untuk tetap berdiri tegak, sementara dia sedang belajar bagaimana caranya merindukanmu dari ketinggian."

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!