Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Rasa Bersalah Dibalik Perhatian Yang Besar
Pagi ini diruang rawat inap itu berjalan dengan pelan, kondisi Nayara yang sudah jauh lebih baik bahkan sudah bisa duduk dengan nyaman setelah rambutnya dirapihkan oleh sang suami.
Beberapa waktu lalu Adrian memang membantu sang istri untuk membersihkan diri, dengan sabar ia menyiapkan air hangat, membersihkan tubuh sang istri, merapihkan rambut tanpa mengeluh sedikitpun.
Padahal wajah Adrian terlihat sangat jelas lelahnya, tapi tetap saja sebagai seorang suami ia memperlakukan sang istri dengan begitu lembut. Dan ternyata kelembutan Adrian membuat rasa bersalah Nayara semakin besar,
Tok... Tok... Tok ...
" Masuk" Adrian menolehkan wajahnya menatap pintu yang kini terbuka.
Satu persatu orang masuk kedalam ruang rawat inap, terlihat ada kedua orangtua Adrian dan tentu saja kedua orangtua dari Nayara yang ternyata datang bersamaan pagi ini. Orangtua Adrian datang membawa beberapa tas berisi pakaian Adrian dan juga Nayara, karena tadi pagi Arkana dan Ratna mampir kerumah mereka, sedangkan Rendra dan Sinta membawa makanan untuk Adrian sarapan pagi ini dan beberapa camilan.
" Sayang, bagaimana kondisi kamu sekarang?" Ratna sang ibu mertua yang langsung menghampiri dengan wajah cemas.
" Ara, sudah lebih baik Bunda" Nayara menganggukkan kepalanya kecil dengan wajah masih sedikit pucat.
Rendra dan Sinta berdiri disamping kiri dengan wajah serius namun penuh khawatir, sementara Arakana sang Ayah mertua tersenyum lembut disamping sang istri Ratna.
" Ayah bawakan pakaian ganti untuk kamu, Ad. Lebih baik kamu membersihkan diri dulu" ucap Arkana.
" Iya, Yah" jawab Adrian yang langsung menyetujui.
" Ibu juga membawakan sarapan, setelah selesai membersihkan diri langsung makan ya, Nak" ucap Sinta.
" Terimakasih banyak, Ibu" jawab Adrian seraya tersenyum kecil menatap wajah sang ibu mertua.
Namun saat Adrian melangkahkan kakinya tiba-tiba saja sang Ayah mertua yaitu Rendra memanggil dirinya.
" Adrian..."
" Iya, Yah" Adrian memutar tubuhnya menghadap Rendra.
" Ayah minta maaf ya, karena Nayara yang keras kepala itu sekarang malah merepotkan kamu" Rendra kini menatap wajah sang menantu dan juga besan secara bergantian.
" Dia terlalu egois untuk memaksakan diri bekerja keras, tanpa memikirkan sekarang dia sudah menjadi seorang istri... Bahkan kamu harus meninggalkan meeting penting karena kondisi Nayara" Suara Rendra terdengar berat.
" Sudahlah Ren, jangan begitu Nayara tidak bersalah memang kondisinya saja yang mengharuskan Nayara istirahat" Arkana yang menjawab terlebih dahulu.
" Sebagai orangtua, tetap saja ada perasaan bersalah dan merasa gagal mendidik anak Ar. Bahkan Nayara harus membuat Adrian kerepotan dan meninggalkan pekerjaannya" jawab Rendra dengan suara lemah.
" Ayah... Tidak perlu minta maaf Nayara istri Adrian sekarang. Kalau Nayara sakit sudah tugas suami yang berada di sampingnya, mengurus dan memastikan kondisinya mendapatkan perawatan terbaik" Ucap Adrian tegas namun tidak emosi.
Nayara yang sejak tadi mendengar obrolan ketiga pria dihadapannya, semakin merasa bersalah karena kondisi tubuhnya semua menjadi tidak terkendali.
" Terimakasih banyak Adrian, maaf jika Nayara akan semakin banyak merepotkan kamu kedepannya. Tapi, semoga setelah ini Nayara bisa menjadikan kejadian sekarang pembelajaran penting" ucap Rendra yang dijawab anggukan kepala oleh Adrian.
" Ad, kamu suaminya seharusnya kamu benar-benar menjaga istri kamu dengan baik" tiba-tiba saja Ratna sang Bunda membuka suaranya.
Ruangan yang hening mendadak tegang setelah Bunda dari Adrian membuka suaranya, bahkan Ratna menatap wajah Adrian dengan tajam.
" Bunda..."
" Seharusnya kamu tahu kapan istri kamu makan, jangan terlalu sibuk sampai lupa kamu sudah punya istri " ucap Ratna.
" Bunda... Ibu salah Ara" Nayara panik.
" Tidak Sayang, Adrian suami kamu seharusnya lebih perhatian bukan menghabiskan waktu hanya dengan pekerjaan saja" Ratna kembali menyalahkan sang anak.
Adrian tidak menjawab apalagi membantah, ia terlihat diam dengan tenang tapi justru itu yang membuat Nayara semakin merasa bersalah.
" Apa gunanya menikah, Adrian. Kalau istri kamu sampai sakit karena tidak terurus oleh suamin" Ratna kembali mengeluarkan setiap kalimat yang menekan dada Nayara.
" Bu Ratna... Ini salah Nayara bukan salah Adrian, anak saya memang terlalu kerasa pada dirinya sendiri" Sinta kini menatap wajah sang besan dengan lembut.
" Justru kamu bersyukur Adrian selalu setia berada disamping Nayara, jika Adrian tidak peduli mungkin Nayara tidak akan dijaga bahkan diurus dengan baik seperti saat ini" Lagi Sinta mencairkan suasana.
" Adek... Jangan diulangi lagi ya, Nak. Sekarang kamu tidak sendiri lagi. Kamu punya suami yang mencemaskan keadaan kamu, tolong jangan buat dia panik seperti ini lagi" Sinta kini memberikan nasihat untuk anak bungsunya.
" Iya, Ibu" Nayara menganggukkan kepalanya dengan kedua matanya yang sudah lembab.
Ditengah ruangan itu Nayara benar-benar merasa dicintai begitu besar, diantara orangtua, ditengah rasa bersalah yang menyesakkan --
Nayara semakin mengerti satu hal : bahwa cinta bukan hanya tentang kata manis, tapi tentang seseorang yang tetap berdiri di sampingmu bahkan ketika keadaan membuat diri kita disalahkan.
Dan Adrian melakukan itu, tanpa mengeluh, tanpa marah, tanpa pergi, dan justru itu membuat Nayara semakin merasa bersalah.
T28J membaca kalimat terakhir itu dalam diam. Tentang cinta yang tidak sempurna. Tentang dua manusia yang tetap memilih bertahan. Tentang rumah… yang perlahan dibangun dari luka dan pengertian.
“Ini bukan sekadar akhir cerita. Ini bukti… bahwa karakter-karakter itu pernah hidup.”
“Dan sebagai sesama pencipta dunia… aku tahu tidak mudah membawa mereka sampai sejauh ini.”
Terakhir, T28J menatap langit kosong.
“Selamat.”
“Duniamu berhasil menyentuh seseorang.”
“…jadi begini rasanya.” Ia berdiri, menghela napas panjang. “Ceritamu… tidak sempurna.”
Sejenak, ia terdiam. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Tapi justru itu yang membuatnya hidup.”
Liora mengangkat tangannya. Lima cahaya kecil muncul satu per satu di udara.
★ ★ ★ ★ ★
“Ambil ini.” Ia menatap lurus ke depan. “Teruskan ceritamu. Aku akan membaca sampai akhir.”
—T28J