Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di dalam rumah dengan nuansa serba putih, terlihat dari luar nampak hangat. Tapi, di dalamnya tidak akan ada yang percaya kalau rumah itu dingin.
Rumah tangga Rio dan Livy sedang diterpa badai. Sejak pulang dari acara ulangtahun Dirut dan kedatangan Adrian ke rumah itu. Membuat hubungan Rio dan Livy dingin.
Rio juga jarang pulang, lebih sering pulang ke rumah orang tuanya dari pada pulang ke rumah. Livy yang pernah mendua, pun takut. Ia takut Rio justru menduakannya.
Livy tetap harus terlihat kuat di depan kedua anak-anaknya. Meskipun sebenarnya hatinya remuk redam, sejak kedatangan Adrian ke rumahnya malam itu.
"Mi, papi kemana? kok belum pulang kerja, udah malam gini?" tanya Anak Livy bernama Reza.
Livy memasang senyum palsu di depan putra sulungnya. "Bentar lagi pulang, kok. Kamu belum tidur? udah jam berapa ini!"
"Reza baru beres ngerjain tugas. habis ini mau tidur kok."
"ya udah, langsung tidur ya. Jangan begadang," pesan Livy pada putranya.
Reza sudah masuk kamar. Livy membuka pintu utama dan memutuskan menunggu di teras. Ia tidak tahan dalam perang dingin seperti ini. Ia butuh kehangatan, butuh perhatian dan kasih sayang. Livy tidak bisa kalau lama-lama tidak bercinta dengan Rio.
Sembari berselancar dengan gawainya, Livy harap-harap cemas, menunggu Rio pulang.
"Adrian lusa akan nikah sama mantannya Rio. Tapi, kenapa mereka nggak ngirim undangan ke aku atau Rio ya? Bagaimana pun, aku kan temannya Adrian!" Livy penasaran, ia pun mencoba mengirim pesan di grup chat alumni kampus yang isinya hanya perempuan.
[Livy : guys, sorry ganggu malam²🙏. Kalian diundang ke acara pernikahan Adrian?]
Padahal hampir tengah malam, Livy tahu pesan yang ia kirimkan tidak pantas. Karena mengganggu istirahat orang lain. Tetapi, rasa penasarannya, membuat ia rela melakukan itu.
beberapa balasan pun terkirim. Hampir semua menjawab diundang. Tapi, ada yang bilang tidak bisa hadir karena masih di luar kota atau di luar negeri. Ada juga yang bilang janjian ingin pergi bersama.
Membaca itu dan tahu ternyata hanya dirinya yang tidak diundang. Membuatnya menghela napas panjang.
"Aneh banget si Adrian! Apa undangannya keselip atau kelewat ya?"
Tanpa merasa bersalah, Livy kembali mengirim pesan. Tapi, kali ini ke Adrian.
[Livy : Adrian! kok gue nggak diundang?]
Tepat pesan itu terkirim, motor Rio sampai di depan gerbang. Membuat Livy teralihkan dan siap menyambut suaminya.
Rio memarkirkan motornya di garasi dan melepaskan atributnya sebelum masuk ke rumah.
"Papi udah pulang," sambut Livy dengan senyum manis.
"Kamu ngapain di sini, udah malam kok bukannya tidur?"
Livy langsung menggelayut manja di lengan Adrian. "Kangen banget deh aku. Kamu kemana aja sih..."
"Aku banyak kerjaan di kantor. Di rumah aku nggak suka kalau kamu nuduh-nuduh terus. Dari pada pusing, aku tidur di rumah ibu." Rio mencoba membesarkan hatinya.
"Nginep di rumah ibu sih boleh aja." Kini mereka sudah di dalam kamar."Tapi, emangnya kamu nggak kangen sama aku? Kuat ya nggak bercinta sama aku, hm?" Livy masih menggelayut manja pada Rio.
"Hmm... Biasa aja sih! Aku mau mandi dulu. Kamu tidur aja duluan." Rio melepaskan tangan istrinya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Livy geram bukan main. Ia masih berusaha untuk sabar menghadapi Rio, meskipun sebenarnya ia kesal bukan main. Detik itu juga, Livy menggeledah jaket dan tas Rio. Mencari sesuatu yang bisa membuatnya memiliki alasan untuk marah.
"Ponselnya dimana?" Livy menemukan ponsel Rio di dalam saku jaket dan mencoba dibuka kuncinya. "Diganti! Sialan banget." Perasaannya makin nggak enak. Pasti suaminya telah melakukan hal-hal yang aneh di luar sana. Tidak ada yang bisa diperbuat, Livy pun naik ke atas kasur menarik selimut.
。◕‿◕。
Tiara patah hati, setelah mendapatkan undangan pernikahan dari pria yang membuatnya penasaran. Dadanya bergemuruh hebat, saat undangan itu berkali-kali ia baca.
"Adrian Azzam dan Mita Mahira. Kenapa harus perempuan itu? Padahal aku udah rela melepaskan harga diriku kepada bos gila itu, hanya untuk menjadi asisten mu di kantor." Tiara meremas kertas itu hingga menjadi gumpalan tak beraturan. Lantas, ia melemparnya ke sembarang arah.
Malam ini Tiara nggak boleh sedih sendirian. Ia harus menghilangkan penat dan patah hatinya. Ia tidak mau terpuruk sendirian.
Seperti biasa akhirnya pelarian Tiara adalah klub. Di sana ia langsung memesan alkohol dan menenggaknya. Ketika alkohol di gelasnya habis, ia minta isi lagi dan lagi.
Rio menahan tangan Tiara supaya tidak menenggak miras lagi. "Cukup! Lambungmu bisa luka."
Tiara menatap Rio dengan tatapan tak suka pada awalnya. Karena ia pikir, Rio adalah orang lain yang ikut campur urusannya. Namun, setelah melihatnya benar-benar, ternyata Rio.
"Pak Rio," lirihnya sedih.
"Kamu kenapa? Ada masalah apa? Sampai-sampai nggak tau batasan minum alkohol," ujarnya.
Tiara mengingat kembali apa yang membuatnya sedih begini. Perlahan air matanya mengalir dan ia pun menangis.
Rio panik, melihat Tiara menangis seperti itu. Takut kalau ia yang disalahkan. "He-hei... Kenapa nangis gini. Coba ngomong dulu, jangan begini, Tiara."
"Adrian... Pak..."
"Iya, kenapa Adrian?"
"Dia mau nikah besok. Aku sedih banget. Aku—merasa dikhianati," jelasnya sambil nangis.
Kening Rio mengerut dalam. "Dikhianati? Emang kalian pernah jadian?"
"Hampir. Kalau aja perempuan yang bernama Mita itu nggak ada. Pasti kami sudah bersama sekarang." Tiara menghapus air matanya. Mencoba untuk menenangkan diri.
"Kasian banget. Padahal kamu cantik dan—seksi. Udah ya, jangan nangis lagi. Laki-laki bukan Adrian aja di dunia ini. Aku yakin, yang mau sama kamu tuh banyak." Rio menepuk bahu Tiara lembut.
"Ya memang banyak. Tapi, Adrian justru nggak minat sama aku. Dia nggak pernah lihat aku sebagai perempuan. Aku hanya asistennya aja udah," jelasnya sambil mengatur napas.
Rio menghela napas panjang. Ia tidak habis pikir pada Adrian. Setiap hari dihadapkan dengan cewek cantik dan seksi seperti Tiara, malah milihnya Mita, yang merupakan mantannya, bekasnya.
"Ada kelainan si Adrian." Rio terkekeh lagi. "Dia mau-mauan sama bekas gue. Padahal yang seksi dan cantik di depan matanya. Laki-laki aneh!"
"Hmm... Pak Rio bilang apaan barusan?" Tiara tidak fokus, karena suara musik begitu keras. Sehingga ia mengira Rio sedang bicara padanya.
Tatapan Tiara yang sayu, bibirnya yang merah berisi, juga bajunya yang menampilkan belahan dadanya. Membuat Rio memiliki pemikiran gila. salah satu alasan Rio menjadi sering datang ke klub adalah, Tiara.
"Malam ini enjoy sama aku gimana?" Rio nekat mengajak Tiara.
"Enjoy gimana?"
"Kita bikin surga dunia kita." Rio langsung menempelkan bibirnya ke bibir Tiara, lalu melumatnya lembut.
[]