NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dugaan.

Hening itu belum benar-benar hilang. Udara di lorong terasa lebih berat dari sebelumnya. Pesan di layar masih terbuka.

| Ini bahkan belum dimulai, kok udah nyerah?

Hana tidak bergerak. Arga masih mengamati sekitar. Kenzo diam tapi jelas dia sedang berpikir. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Arga memulai percakapan.

“Kalau dia emang ada di sini,” kata Arga pelan, “berarti dia lagi lihat kita sekarang.”

Hana menelan ludah. “Jangan ngomong gitu…” gumamnya.

Kenzo menghela napas kecil. “Dia nggak salah.”

Arga melirik cepat. “Lo juga jangan bantu bikin panik.”

“Aku nggak bikin panik,” jawab Kenzo datar. “Aku cuma bilang kemungkinan paling realistis.”

“Realistis nggak harus diucapin mentah-mentah,” balas Arga.

Kenzo menatapnya sebentar. “Dan pura-pura aman juga nggak bikin keadaan lebih baik.”

Hana memejamkan mata sebentar. “Udah…” suaranya pelan. “Jangan mulai lagi…”

Keduanya diam selama beberapa detik. Arga menghela napas pelan.

“Iya.”

Kenzo mengangguk kecil. “Fine.”

Hana menatap layar lagi. "Dia tahu semua tindakanku, bearti dia ngawasin kita kan?"

Arga mengangguk. “Iya.”

“Berarti…” Hana ragu sejenak. “Kalau kita panik… dia bakal tahu.”

Kenzo langsung menoleh. “Exactly.”

Arga sedikit menyipitkan mata. “Maksud lo?”

Kenzo mendorong bahunya dari dinding, berdiri lebih tegak.

“Dia kayaknya lagi nguji” Katanya

Hana mengernyit “Nguji?" Ulang Hana

“Iya,” lanjut Kenzo. “Dia kirim sesuatu, terus lihat dampaknya. Seberapa cepat kamu baca, gimana ekspresi kamu, siapa yang kamu dekati.”

Arga langsung memotong, “Dan sekarang dia tahu kita bertiga.”

“Maybe." Ujar Kenzo

Hana menggenggam ponselnya lebih erat. “…berarti kita harus gimana?”

Arga berpikir cepat. “Jangan kasih reaksi berlebihan.”

Kenzo mengangguk. “Dan jangan berdiri terlalu lama di satu tempat.”

Hana melirik mereka berdua. “Kita pindah?”

Arga mengangguk. “Iya. Tapi santai aja. Jangan keliatan buru-buru.”

Kenzo menambahkan, “Dan jangan terlalu rapat. Kalau kita kelihatan diskusi serius, dia makin yakin kita sadar.”

Hana menarik napas pelan. “Iya…”

Mereka mulai bergerak. Pelan. Seolah hanya sekadar lewat. Langkah mereka menyatu dengan keramaian. Beberapa siswa lewat di samping mereka—tertawa, ngobrol, biasa.

Tapi sekarang— setiap suara terasa seperti gangguan. Setiap gerakan terasa mencurigakan. Arga sedikit mendekat ke Hana.

“Nanti kita pisah sebentar.”

Hana langsung menoleh. “Pisah?”

“Iya,” jawab Arga. “Kalau dia fokus ke kamu, kita bisa lihat siapa yang ikut gerak.”

Kenzo langsung menimpali "Ya, kita tidak tahu sebenarnya target dia aku atau kamu."

Arga melirik. “Lebih baik daripada diam nunggu.”

Kenzo menggeleng kecil. “Kalau dia beneran niat, dia nggak bakal gerak ceroboh cuma karena kita bagi posisi.”

“Terus?” tanya Arga.

Kenzo berpikir sebentar. “Lebih baik kita bikin dia mikir kita belum sadar sepenuhnya,” katanya.

Arga menyipitkan mata “Lo mau pura-pura?”

“Bukan pura-pura,” jawab Kenzo. “Nahan reaksi.”

Hana pelan-pelan mengangguk. “Itu… masuk akal…”

Arga menghela napas. “…fine. Kita tahan dulu.”

Beberapa langkah lagi— ponsel Hana tiba-tiba bergetar lagi. Semua refleks berhenti. Hana langsung menatap layar. Nomor yang sama.

Tangannya sedikit gemetar. “Buka,” kata Arga pelan.

Hana mengangguk kecil. Ia membuka pesan itu.

“Aku suka cara kalian mikir.”

Hening. Langkah orang-orang di sekitar tetap berjalan. Tapi bagi mereka bertiga— waktu seperti berhenti. Kenzo menghembuskan napas pelan.

“…dia denger.”

Arga langsung menatap sekeliling lagi. “Dia nggak cuma lihat.”

Hana menegang. “Denger… maksudnya—”

Kenzo menatapnya. “Bisa dari jarak dekat. Atau…” Ia berhenti sebentar. “…dia cukup dekat buat nangkep potongan pembicaraan.”

Arga langsung menggeleng. “Lorong ini nggak se-sepi itu. Kalau dia terlalu dekat, harusnya keliatan.”

“Belum tentu,” jawab Kenzo. “Orang yang nyamar di keramaian itu justru yang paling gampang luput.”

Hana merasakan dadanya makin sesak. “…ini makin aneh,” gumamnya.

Arga mengangguk. “Iya, dan makin jelas dia sengaja.”

Kenzo tiba-tiba berhenti berjalan. Arga langsung menoleh. “Kenapa?”

Kenzo tidak langsung jawab. Matanya bergerak—mengamati satu arah. Hana ikut melihat. Sekelompok siswa di dekat tangga. Tidak ada yang aneh.

“…kenapa?” tanya Hana pelan.

Kenzo menggeleng kecil. “…nggak. Mungkin gue overthinking.”

Arga menatapnya beberapa detik. “Jarang lo ngomong gitu.”

Kenzo tersenyum tipis. “Semua orang bisa salah.”

"Coba balas dulu pesan dia” kata Kenzo tiba-tiba.

Hana langsung menoleh.

“Balas?” Seru Arga sedikit terkejut. “Lo yakin?”

Kenzo mengangguk. “Iya. Kita lihat dia mau sampai mana.”

Hana ragu. “…aku harus bilang apa?”

Kenzo berpikir cepat. “Jangan tanya siapa dia.”

Arga menambahkan, “Tapi jangan keliatan takut.”

Hana menarik napas pelan. “Aku harus gimana…?”

Kenzo menjawab pelan, “Balas biasa aja. Seolah kamu nganggep ini… cuma orang iseng.”

Arga mengangguk. “Ya. Jangan kasih dia kepuasan.”

Hana akhirnya mengetik.

| Gaje

Ia berhenti sejenak, menatap layar. Lalu menekan tombol kirim. Pesan terkirim. Tiga detik. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada balasan.

Hana menelan ludah. “Dia baca nggak…?” gumamnya.

Kenzo menyilangkan tangan lagi. “Dia pasti baca.”

Arga menatap layar Hana. “Dia lagi mikir.”

Hana mengernyit. “Mikir?”

Kenzo mengangguk kecil. “Iya. Sekarang giliran dia nentuin langkah berikutnya.”

Lalu tidak lama dari itu, ponsel Hana bergetar lagi. Cepat. Seolah sudah ditunggu. Hana langsung membukanya. Dan kali ini— pesannya lebih singkat.

| Ku pikir km lebih pintar dari itu.

Hana terdiam. Arga langsung mengernyit.

“Dia mulai nge-push.”

Kenzo tersenyum tipis—tapi matanya serius.

“Iya. Dia nggak suka kita main aman.”

Hana menatap layar itu lebih lama. Jantungnya berdetak lebih cepat. “…dia mau aku bereaksi,” katanya pelan.

“Exactly,” jawab Kenzo.

Arga menambahkan, “Dan kita jangan kasih itu.”

Hana menarik napas dalam. Lalu mengangkat wajah. Menatap mereka berdua.

“…kita lanjutin,” katanya pelan.

Arga mengangguk. “Iya.”

Kenzo tersenyum tipis. “Sekarang baru mulai.”

1
Bunga Ros
maaf thoooorrr kurang berbobot judulnya apa isinya apa 😄😄😄
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!