NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Tawa di Tengah Badai dan Gerbang Baja Hitam

Sisa-sisa kayu cendana sihir di dalam gua obsidian telah berubah menjadi tumpukan abu putih yang memancarkan pendaran merah redup. Di luar mulut gua, badai salju Benua Utara masih mengamuk dengan buasnya. Angin melolong panjang, membawa serta butiran es setajam silet yang menghantam dinding gunung berbatu hitam, menciptakan melodi kematian yang tak pernah berhenti sejak malam turun.

Ajil telah berdiri di ambang gua sejak fajar. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya menyerap kegelapan pagi yang suram. Ia menatap lautan putih yang membentang tak berujung di depannya, menghitung jarak menuju Gunung Tempa Abadi.

Di belakangnya, Erina, Rino, dan Richard mulai terbangun dari tidur singkat mereka. Hawa dingin dari luar mulai merayap masuk seiring matinya perapian.

"Bangun. Kita berangkat," perintah Ajil datar, suaranya yang berat langsung mengusir sisa kantuk dari ketiga pengikutnya.

Rino menggeliat, tulang-tulang raksasanya berbunyi kretak keras. Ia meraih Pedang Lebar Tulang Naga-nya, sementara Richard menepuk debu dari Jubah Sisik Leviathan-nya. Erina merapikan rambut peraknya dengan anggun, memanggil busur emasnya dari ruang penyimpanan spasial cincinnya.

Sebagai menu sarapan cepat, Ajil mengeluarkan beberapa teguk Kopi Serigala Salju—minuman hitam pekat yang diseduh dengan suhu minus, namun saat masuk ke tenggorokan justru membakar kalori dan memberikan energi ledakan yang luar biasa—serta Daging Asap Rusa Kutub yang alot namun kaya akan mana murni.

Begitu mereka berempat melangkah keluar dari mulut gua, hantaman badai bersuhu minus seratus derajat Celcius langsung menyambut mereka.

Namun, pemandangan yang terjadi pagi ini jauh berbeda dengan hari kemarin saat mereka pertama kali menginjakkan kaki di gletser.

Kemarin, tekanan mana primordial dan hawa dingin ekstrem nyaris meremukkan tulang Rino dan Richard. Namun hari ini, setelah mereka beristirahat dan membiarkan sel-sel tubuh mereka mencerna sepenuhnya Berkat Dewa Andora yang telah menaikkan level mereka ke ranah Kelas S elit (Level 135 dan 133), adaptasi yang mengerikan mulai terlihat.

Rino memejamkan matanya sejenak. Alih-alih membiarkan aura api nerakanya meledak liar untuk melawan dingin—yang hanya akan menguras staminanya—Rino menarik napas panjang dan menekan mana apinya ke dalam. Seketika, zirah baja vulkaniknya memancarkan pendaran merah yang sangat tipis, hanya berjarak beberapa milimeter dari kulitnya. Ia telah menemukan keseimbangan sirkulasi mana internal, menciptakan penghangat ruangan pribadi di balik zirahnya tanpa membuang energi ke udara kosong.

Di sebelahnya, Richard melakukan hal yang sama. Sebagai pengguna elemen es, Richard tidak melawan hawa dingin, melainkan menyelaraskan gelombang mana-nya dengan frekuensi badai di sekitarnya. Jubah Sisik Leviathan-nya menyerap partikel es mematikan itu dan mengubahnya menjadi lapisan pelindung transparan.

Erina, dengan keagungan High Elf Level 220 miliknya, bahkan tidak perlu bersusah payah. Tabir Angin Suci yang menyelimuti tubuhnya membelah butiran salju sebelum butiran itu menyentuh kulit pualamnya.

Melihat kelompoknya tak lagi tertatih-tatih, Ajil mulai berjalan membelah badai salju di barisan terdepan. Langkahnya mantap, sepatu botnya menghancurkan lapisan es padat di bawahnya.

Dan di belakangnya, sebuah pemandangan absurd terjadi di tengah salah satu zona paling mematikan di Planet Ridokan.

Rino, yang sedang berjalan menembus badai pembeku darah itu, tiba-tiba memutar bahunya dengan santai, mengayun-ayunkan pedang raksasanya layaknya sedang berjalan-jalan di taman bunga Valeria pada musim semi.

"Kau tahu, Rich," panggil Rino dengan suara lantang yang mengalahkan deru angin badai, nada suaranya sangat santai dan penuh tawa. "Sebulan yang lalu, saat kita masih menjadi katak dalam tempurung bernama Kelas A+, mendengar nama Benua Utara saja sudah membuat lututku gemetar. Aku pernah melihat seorang petualang veteran kehilangan tiga jarinya hanya karena terkena serpihan es dari benua ini."

Richard tertawa renyah, menyejajarkan langkahnya dengan sang raksasa berzirah merah, tombaknya ia pikul dengan santai di bahu. "Ya, aku ingat itu. Dan sekarang? Lihat kita. Kita berjalan menembus badai es bersuhu minus seratus derajat seperti sedang mengantre roti gandum hangat di pasar pagi. Jujur saja, mana di dalam tubuhku terasa sangat seimbang. Rasa dingin ini... malah terasa menyegarkan."

Rino menepuk dadanya sendiri, menatap punggung lebar Ajil di depan mereka dengan mata berkaca-kaca dipenuhi rasa syukur yang membuncah.

"Semua ini karena kita membuang kesombongan bodoh kita dan memilih untuk mengekor di belakang Tuan Ajil," ucap Rino, suaranya sedikit merendah namun dipenuhi ketulusan. "Jika kita tetap angkuh di gerbang kota hari itu... kita pasti sudah mati menjadi pakan naga, atau membusuk sebagai petualang bayaran murahan. Mengikuti pria ini... melompat dari level 90 ke 135 dalam sekejap mata... rasanya seperti terlahir kembali menjadi seorang demigod. Aku tidak akan pernah menyesali keputusanku untuk berlutut padanya."

"Sepakat," Richard mengangguk mantap. "Selama kita tidak menjadi beban baginya, aku rela merangkak menembus neraka es sekalipun."

Erina yang berjalan di depan mereka mendengus pelan, menutupi senyum bangganya. "Tentu saja kalian harus bersyukur, Serangga-serangga besar. Berada di bawah bayang-bayang pria yang ditakdirkan untuk menguasai dunia ini adalah sebuah privilese yang tidak bisa dibeli dengan emas."

Di barisan paling depan, indra pendengaran Ajil yang tajam menangkap setiap kata dari percakapan santai di belakangnya. Ia merasakan fluktuasi mana Rino, Richard, dan Erina yang kini berputar dengan sangat stabil dan sempurna, tidak lagi bocor atau terengah-engah melawan alam. Mereka telah berhasil menaklukkan hawa mematikan Benua Utara dengan kekuatan mereka sendiri.

Tanpa menoleh, dan tanpa disadari oleh ketiga pengikutnya yang sedang tertawa lepas menertawakan masa lalu mereka yang lemah, wajah Ajil yang sedatar pahatan es itu perlahan berubah.

Otot-otot di rahangnya mengendur. Ujung bibirnya tertarik ke atas, menciptakan sebuah senyuman tipis yang sangat langka. Senyum itu bukan senyum sinis atau merendahkan, melainkan sebuah senyuman pengakuan yang tulus dari seorang guru yang melihat muridnya berhasil menembus batasan fana mereka.

"Baja yang dilebur berulang kali akhirnya mulai menunjukkan ketajamannya," batin Ajil pelan, senyuman tipis itu menghilang secepat ia muncul, kembali terkunci di balik benteng kedinginannya. "Teruslah tertawa di tengah badai ini. Karena saat tangisan dunia memekakkan telinga kalian nanti, tawa itulah yang akan mengingatkan kalian bahwa kalian masih hidup."

Perjalanan melintasi gletser hitam memakan waktu setengah hari. Menjelang siang, langit yang terus memuntahkan salju mulai sedikit cerah, meski matahari tetap bersembunyi di balik awan tebal.

Badai di depan mereka perlahan menipis, memperlihatkan sebuah pemandangan arsitektur kolosal yang membuat Rino dan Richard seketika menghentikan obrolan santai mereka.

Gunung Tempa Abadi menjulang hingga menembus lapisan stratosfer. Namun, gunung itu tidak alami. Separuh dari gunung tersebut telah dipahat dan dilapisi oleh lempengan-lempengan baja hitam sihir raksasa. Asap putih tebal mengepul dari puluhan cerobong raksasa di lereng gunung, memancarkan hawa panas tempaan yang luar biasa.

Tepat di kaki gunung tersebut, membelah dua tebing es curam, berdirilah Gerbang Baja Hitam Bintang. Tingginya mencapai lima puluh meter, dipenuhi oleh rune kuno berwarna emas menyala yang menyedot energi panas bumi.

Namun, gerbang itu tidak terbuka. Dan kelompok Algojo Dimensi tidak sedang berdiri sendirian.

[SISTEM: Peringatan Ekstrem! Memasuki Zona Militer Tertutup.]

[Mendeteksi Multi-Entitas Penjaga Perbatasan. Ras: Dwarf.]

[Level rata-rata: 140. Status: Sangat Bermusuhan.]

Tanah di sekitar mereka tiba-tiba bergetar. Dari balik timbunan salju tebal dan parit-parit es yang disamarkan, bermunculan puluhan sosok bertubuh pendek namun luar biasa kekar. Mereka adalah pasukan elit patroli perbatasan ras Dwarf.

Tidak seperti kurcaci dalam dongeng yang hanya membawa beliung, para Dwarf di Benua Utara ini mengenakan Zirah Magitek—kerangka luar mekanis berteknologi sihir kuno yang digerakkan oleh kristal inti lava. Zirah itu membuat mereka terlihat setinggi manusia normal dan memberikan kekuatan destruktif yang masif. Di tangan mereka, terpasang meriam sihir laras ganda dan kapak bergerigi gergaji mesin yang mendengung mengerikan.

Seorang Dwarf dengan janggut putih yang dikepang tebal melangkah ke depan barisan. Ia mengenakan zirah Magitek berlapis emas pudar dan memegang sebuah palu perang raksasa yang ujungnya memancarkan listrik merah.

[Nama: Komandan Borin Baja-Berdarah]

[Level: 160]

[Kelas: SS (Panglima Gerbang Tempa)]

"BERHENTI DI SANA, MAKHLUK-MAKHLUK RENDAHAN!" raung Borin, suaranya serak dan sekasar batu gilingan, diperkuat oleh pengeras suara di zirahnya hingga menggema di celah pegunungan.

Borin mengangkat palunya, mengarahkannya tepat ke wajah Ajil. Matanya yang merah menyala menatap Erina, Rino, dan Richard dengan pandangan penuh kebencian dan rasisme mutlak.

"Bau busuk manusia dan peri sudah tercium dari jarak sepuluh mil!" ludah Borin ke atas salju, wajahnya berkerut penuh amarah. "Benua Utara tertutup untuk ras luar sejak pengkhianatan kalian di Perang Iblis seratus tahun lalu! Kembalilah ke perahu rongsokan kalian, atau meriam-meriam kami akan melelehkan tulang kalian menjadi terak besi!"

Mendengar hinaan itu, tawa Rino dan Richard seketika menguap. Keseimbangan mana yang tadi mereka nikmati kini mendidih menjadi aura membunuh. Rino menggeser kakinya, pedang apinya ditarik ke depan. Richard memutar tombak esnya, siap membekukan darah para Dwarf itu.

Erina melangkah maju, wajah pualamnya memancarkan kemurkaan seorang bangsawan High Elf yang dihina oleh ras bawah tanah. "Jaga lidah kotormu, Tikus Gua!" desis Erina, merentangkan busurnya hingga cahaya suci menyilaukan mata para Dwarf. "Berani sekali kau menodongkan senjata rongsokan itu ke arah Pemimpinku. Aku akan mencabut janggutmu itu sehelai demi sehelai!"

Puluhan meriam sihir Magitek seketika berdengung, mengisi daya dengan cahaya merah yang siap memuntahkan peluru energi pembakar. Suasana tegang memuncak hingga udara di sekitar mereka bergetar. Satu letusan peluru, maka pertumpahan darah berskala perang akan meledak.

Namun, di tengah semua ancaman dan moncong meriam yang diarahkan padanya, Ajil tidak bergeser satu milimeter pun.

Ia mengangkat tangan kanannya dengan gerakan santai, memberikan isyarat pada Erina, Rino, dan Richard untuk menurunkan senjata mereka.

Sang Algojo Dimensi berjalan maju sendirian. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya tampak begitu kontras dan mengintimidasi di hamparan salju putih. Mata hitamnya yang kelam menatap Komandan Borin dengan tatapan sedingin puncak gletser tertinggi. Level 250 yang disembunyikan Ajil di dalam tubuhnya tidak memancarkan aura, namun kehampaan absolut dari keberadaannya membuat insting prajurit Borin berteriak bahaya.

Ajil berhenti tepat lima langkah di depan moncong meriam para Dwarf.

"Sebuah pintu yang dikunci dari dalam karena rasa takut yang pengecut," ucap Ajil dengan suara bariton yang berat, bergema sangat pelan namun menyusup ke dasar jiwa setiap Dwarf yang hadir, mematahkan keberanian yang ditopang oleh zirah mekanik mereka.

Ajil mengangkat tangan kirinya, memercikkan setitik petir ungu yang memancarkan pendaran hijau abadi, sebuah kilatan energi God-Tier yang langsung membuat kristal-kristal lava di zirah para Dwarf berkedip mati ketakutan.

"Tidak akan pernah bisa menahan orang yang berdiri di luar dengan niat untuk menghancurkan rumahnya," lanjut Ajil, matanya mengunci mata Borin dengan tekanan mati rasa yang membuat sang komandan Level 160 itu tanpa sadar mundur setengah langkah.

"Aku tidak datang kemari untuk bernegosiasi tentang sejarah usang kalian, Komandan. Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku di dalam gunung itu. Buka gerbang ini secara sukarela... atau aku akan menggunakan palumu itu untuk menghancurkan tengkorakmu, dan mendobrak gerbang ini dengan mayat pasukanmu."

Udara di depan Gerbang Baja Hitam Bintang seketika membeku. Ancaman itu bukanlah gertakan sambal. Tidak ada petualang manusia yang pernah berani mengancam ras Dwarf di depan rumah mereka sendiri. Namun di depan pria berjaket hitam ini, arogansi Benua Utara baru saja menemukan tembok beton yang tak bisa mereka tembus.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!