NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita Bersikap Manis

Dunia Nathaniel seolah berputar 180 derajat. Sebagai pria yang menghabiskan seluruh masa mudanya untuk belajar, bekerja, dan membalas budi pada keluarga Sinclair, konsep "pacaran" adalah sesuatu yang asing baginya. Fokusnya selama ini hanya ada dua: memastikan Sinclair Group tetap berjaya dan memastikan Alessia aman.

Kini, dengan status baru yang tidak tertulis namun sangat terasa, Nathaniel sering kali kehilangan pijakan. Ia yang biasanya selalu punya kendali penuh atas situasi, mendadak jadi kikuk.

Pagi itu di kantor, saat Nathaniel sedang serius meninjau grafik penjualan, Alessia tiba-tiba berdiri di belakang kursinya. Tanpa aba-aba, jemari lentik gadis itu memijat bahu lebar Nathaniel yang tegang.

"Kakak terlalu kaku, rileks sedikit," bisik Alessia tepat di samping telinganya.

Nathaniel tersentak, punggungnya langsung tegak lurus seolah tersengat listrik. Ia menoleh dengan wajah kaget yang tidak bisa disembunyikan. "Al! Kalau ada yang masuk bagaimana?" bisiknya dengan nada panik yang tertahan.

Alessia hanya terkekeh, sama sekali tidak merasa bersalah. "Pintunya kan sudah dikunci otomatis, Kak. Jangan terlalu tegang begitu."

Nathaniel menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia belum terbiasa dengan serangan afeksi yang terang-terangan seperti ini. Baginya, menyukai seseorang adalah tentang melindungi dari jauh, bukan tentang sentuhan-sentuhan kecil yang membakar konsentrasi.

Sering kali, saat mereka sedang makan siang bersama di ruangan, Alessia akan sengaja menyuapkan potongan daging ke arahnya. Nathaniel biasanya akan mematung selama beberapa detik, menatap suapan itu dengan bingung seolah itu adalah bom waktu, sebelum akhirnya menyerah dan menerimanya dengan telinga yang memerah.

"Kamu benar-benar membuatku tidak bisa bekerja dengan tenang, Al," gumam Nathaniel sambil membuang muka, mencoba menutupi senyum tipis yang mulai muncul di sudut bibirnya.

Kejujuran Alessia dalam menunjukkan rasa sayang adalah sesuatu yang baru bagi Nathaniel. Hal itu membuatnya merasa hidup, namun sekaligus takut. Takut jika ia terlalu menikmati kebahagiaan ini, ia akan lupa pada batasan-batasan yang harus ia jaga demi keselamatan posisi mereka berdua di mata William.

Nathaniel berusaha keras mengembalikan kewibawaannya di depan meja kerja. Ia berdeham, merapikan letak kacamatanya yang sedikit miring, lalu menatap Alessia dengan sorot mata profesional yang dibuat-buat, meski telinganya masih sedikit kemerahan akibat godaan Alessia tadi.

"Siapkan berkas laporan audit dan evaluasi tenant untuk kita rapatkan di mall cabang nanti. Kita berangkat pukul dua siang ya," pinta Nathaniel, suaranya kembali berat dan teratur.

Alessia mengangguk patuh, meski binar jenaka masih tertinggal di matanya. "Siap, Pak Direktur," jawabnya dengan nada yang sedikit ditarik, sengaja menggoda kekakuan Nathaniel.

Dengan cekatan, Alessia mulai menyusun dokumen-dokumen penting ke dalam map kulit eksklusif. Jemarinya bergerak lincah di atas kertas, namun pikirannya sudah melayang ke agenda pukul dua siang nanti. Ini bukan sekadar perjalanan bisnis biasa; ini adalah perjalanan dinas pertama mereka sejak "perjanjian rahasia" itu diikrarkan.

Bagi Alessia, perjalanan ini terasa seperti kencan terselubung. Bayangan duduk bersisian di kursi belakang mobil selama perjalanan menuju mall cabang, tanpa pengawasan orang tua di rumah, membuatnya bersemangat. Ia membayangkan aroma parfum kayu cendana milik Nathaniel yang akan memenuhi kabin mobil yang sempit, atau mungkin kesempatan untuk menyandarkan kepalanya sejenak di bahu lebar pria itu jika sopir mereka sedang tidak memperhatikan lewat spion.

Sementara itu, Nathaniel di mejanya justru merasa gelisah. Ia terus mengecek jadwalnya, memastikan tidak ada celah yang bisa membuat rahasia mereka bocor. Ia tahu, di luar kantor, kendalinya terhadap situasi sering kali melemah jika sudah berhadapan dengan tingkah manis Alessia.

Pukul dua siang tepat, Nathaniel berdiri dan meraih kunci mobilnya. "Sudah siap, Al?"

Alessia berdiri dengan anggun, menenteng map berkas dan tas tangannya. Ia berjalan mendekati Nathaniel, melewati pria itu dengan aroma bunga yang memabukkan. "Sangat siap, Kak."

Saat mereka melangkah keluar ruangan menuju lift, Nathaniel secara refleks meletakkan tangannya di punggung bawah Alessia untuk menjaganya, sebuah kebiasaan lama sebagai pelindung, namun kini sentuhan itu terasa memiliki sengatan listrik yang berbeda bagi mereka berdua.

———

Tanpa sopir di belakang kemudi, suasana di dalam mobil mewah itu mendadak berubah drastis. Kabin mobil terasa jauh lebih luas, namun sekaligus jauh lebih intim. Nathaniel yang biasanya duduk kaku di kursi belakang, kini harus memegang kendali setir, sementara Alessia duduk di kursi penumpang sampingnya dengan binar mata yang tak henti-hentinya memandangi profil samping wajah Nathaniel yang tegas.

Karena tidak ada mata asing yang mengawasi lewat spion, Alessia melepaskan segala batasan formalitasnya. Ia menggeser duduknya sedikit miring, lalu dengan manja menyandarkan kepalanya di lengan kekar Nathaniel yang sedang fokus mengemudi.

"Wah! Seperti kencan," ujar Alessia pelan, suaranya terdengar sangat puas. Ia menghirup aroma maskulin Nathaniel yang memenuhi kabin mobil, aroma yang kini menjadi favoritnya melebihi parfum mana pun di dunia.

Nathaniel sempat melirik ke arah lengannya yang kini menjadi sandaran kepala Alessia. Ia berdeham, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Fokusnya pada jalanan di depan sedikit terganggu oleh kehangatan yang menjalar dari sentuhan itu.

"Aku tidak menyangka kamu jadi seberani ini, Al," kata Nathaniel dengan nada bicara yang masih berusaha terdengar datar, meski ada sedikit getaran emosi di sana. Ia teringat Alessia yang dulu hanya akan mengekor di belakangnya dengan malu-malu, sangat jauh berbeda dengan wanita dewasa yang kini berani memancing reaksinya.

Alessia mendongak sedikit, menatap dagu Nathaniel dari bawah. "Kenapa? Kakak tidak suka?" tanya Alessia menantang, dengan nada manja yang sengaja ia buat untuk menguji ketahanan pria itu.

Nathaniel menghela napas panjang, mencengkeram kemudi sedikit lebih erat saat mobil melewati tikungan. "Bukan tidak suka," jawab Nathaniel jujur, matanya tetap tertuju pada jalanan meski pikirannya sedang berperang hebat. "Hanya... aku tidak terbiasa. Selama sepuluh tahun aku melatih diriku untuk melihatmu sebagai adik yang harus kujaga, bukan sebagai... wanita yang bisa bersikap semanis ini padaku."

Alessia tersenyum lebar, ia semakin mengeratkan pelukannya di lengan Nathaniel. "Kalau begitu, Kakak harus mulai membiasakan diri dari sekarang. Karena aku tidak punya rencana untuk berhenti bersikap manis pada calon suamiku sendiri."

Kalimat "calon suami" itu sukses membuat Nathaniel hampir menginjak rem secara mendadak. Ia melirik Alessia dengan tatapan tak percaya, sementara gadis itu hanya tertawa kecil, menikmati kemenangannya melihat sang Direktur Utama yang dingin kini tampak begitu salah tingkah di balik kemudi.

Nathaniel segera menekan tombol hands-free di dasbor mobil saat nama "William Sinclair" muncul di layar. Atmosfer di dalam kabin yang tadinya penuh dengan kemesraan dan candaan Alessia, seketika berubah menjadi tegang dan kaku.

Alessia refleks menegakkan posisi duduknya, melepaskan pelukannya dari lengan Nathaniel dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menahan napas, seolah ayahnya bisa melihat apa yang baru saja mereka lakukan lewat sambungan telepon.

📞 William: "Sudah sampai mana?" tanya suara berat dan berwibawa itu dari speaker mobil.

"Sudah hampir sampai, Ayah," jawab Nathaniel. Suaranya berubah dalam sekejap, kembali menjadi asisten kepercayaan yang dingin, profesional, dan sangat terkendali. Tidak ada lagi jejak pria yang tadi hampir kehilangan fokus karena godaan Alessia.

📞 William: "Ayah khawatir karena di sana rawan hujan lebat sore ini. Jalanan menuju mall cabang itu cukup licin kalau sudah mulai mendung," ucap William dengan nada kebapakan yang tulus.

"Tenang, Ayah. Saya menyetir dengan sangat hati-hati. Kami akan menyelesaikan urusan vendor dan kembali sesegera mungkin sebelum cuaca memburuk," jawab Nathaniel dengan tenang, meski jemarinya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat.

📞 William: "Baguslah. Jaga Alessia baik-baik, Nathan. Aku memercayakan keselamatannya padamu, seperti biasa."

"Tentu, Ayah. Selalu," balas Nathaniel pendek sebelum sambungan telepon terputus dengan bunyi pip yang final.

Keheningan menyelimuti kabin mobil selama beberapa saat setelah telepon mati. Kata-kata "Aku memercayakan keselamatannya padamu" terasa seperti beban ribuan ton yang kembali menghimpit pundak Nathaniel. Rasa bersalah karena telah melampaui batas kepercayaan itu mulai merayap naik, membuat ekspresi wajahnya kembali mengeras.

Alessia menyadari perubahan aura di sampingnya. Ia meraih tangan kiri Nathaniel yang bebas dan menggenggamnya lembut. "Kak... jangan merasa bersalah begitu. Ayah memang percaya padamu, dan kamu memang menjagaku. Bahkan lebih dari yang Ayah bayangkan."

Nathaniel melirik Alessia sekilas, lalu menghela napas panjang sambil menatap langit yang mulai menggelap di ufuk barat. "Aku tahu, Al. Tapi setiap kali mendengar suaranya, aku diingatkan bahwa aku sedang mempertaruhkan segalanya. Termasuk rasa hormatnya padaku."

Ia kembali fokus pada jalanan, namun kali ini ia tidak melepaskan genggaman tangan Alessia. Ia membiarkan jemari mereka bertautan di atas tuas transmisi, sebuah pemberontakan kecil di tengah rasa tanggung jawab yang besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!