Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sesampainya dirumah sakit mereka mondar mandir menunggu sang mama yang masih diperiksa oleh dokter.
"Semoga gak terjadi hal buruk sama ibu" Gumam Raditya yang masih dapat di dengar oleh Romi.
"Iyaa amiin, apa ini balasan dari setiap perbuatan yang kamu lakukan sama istri kamu?" Tanya Romi tapi dengan nada seperti menyindir.
"Entahlah, tapi ibu dan Rani juga selalu bersikap keterlaluan pada Renata. Ya mungkin ini karma mereka berdua bukan gara-gara aku" jawab Raditya.
"Hmm terus istri baru kamu sekarang kemana?" Tanya Romi karena selama Raditya sudah menikah lagi dia hanya bertemu Ratih satu kali saja saat akad nikah dulu.
"Ratih mulai hari ini sudah bekerja dan mungkin saat ini sudah ada di apartemen" Jawab Raditya.
"Kamu yakin dia tipikal wanita yang bisa di percaya dan akan setia selalu sama kamu?' Tanya Romi.
"Aku yakin kalau Ratih adalah wanita terbaik pengganti Renata, buktinya saat ini dia mau menyumbang buat nutupin hutang-hutangku, meminjamkan mobilnya untukku dan juga menambahkan modal untuk usaha baruku" Jelas Raditya penuh percaya diri.
"Tapi entahlah aku tidak yakin kalau Ratih akan bertahan lama dengan kamu" Jawab Romi dan duduk dikursi depan ruangan dimana sang ibu masih diperiksa oleh dokter.
Beberapa saat kemudian dokter sudah keluar dari ruang pemeriksaan dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Rusdi
"Keadaan ibu Ratna cukup memprihatinkan pak, karena tensi darahnya yang tiba-tiba naik membuatnya kehilangan fungsi sarafnya yang disebelah kiri" Jawab dokter.
"Jadi maksud dokter ibu saya terkena stroke?" Tanya Romi yang sudah berdiri di samping ayahnya.
"Benar pak, saat ini ibu Ratna sudah sadar" Jawabnya.
"Tapi masih bisa sembuh kan dokter?" Tanya Raditya.
"Insyaallah pak, ibu Ratna harus serin-sering terapi dan juga jangan membuat beliau berpikir yang berat-berat karena akan menambah beban buat beliau dan memperlambat proses penyembuhannya" Jelas dokter.
"Ya allah ibu, kenapa bisa sampai begini" Lirih Rusdi dengan meneteskan air matanya.
"Bapak yang sabar ya pak, semoga bu Ratna segera pulih seperti sedia kala" Jelas Dokter.
"Amiin makasih dok, apa boleh kami masuk ke ruangan?" Tanya Romi.
"Boleh pak silahkan, oh ya silahkan bapak urus administrasi untuk pemindahan kekamar perawatan ya pak" Ucap dokter.
"Baik dok" Jawab Romi.
"Kamu masuk duluan aja sama ayah, biar aku mengurus administrasinya dulu" Jelas Romi pada Raditya.
"Iya kalau butuh dana tambahan kabari saja" jawab Raditya dan mengikuti sang ayah yang sudah masuk kedalam ruangan dimana ibunya diperiksa oleh dokter tadi.
Melihat kondisi sang istri yang bibirnya sedikit mencong ke sebelah kanan membuat hati Rusdi sedikit teriris, dia tak menyangka kalau istrinya akan menderita stroke seperti ini. Apalagi anak perempuannya yang sudah seperti menempelkan kotoran di wajahnya.
"Buu... Ibu harus sabar ya" Ucap Rusdi dan memegang tangan istrinya.
Ratna hanya mampu berkedip dan sedikit mengeluarkan airmata, dia sejujurnya ingin menjawab dan berbicara seperti biasanya.
Tapi tubuhnya yang sebelah kiri tidak bisa di gerakkan sama sekali, bahkan dia tidak merasakan apapun.
"Ibu jangan nangis, Raditya janji akan mencarikan dokter terbaik agar ibu bisa sembuh seperti sedia kala" Ucap Raditya
Sang ibu sedikit menggelengkan kepala tanda tak setuju karena dia tahu sang anak sedang mengalami krisis ekonomi.
Raditya berencana akan menjual seluruh asetnya yang dia simpan di brangkas rahasia untuk mengisi restoran dan juga pengobatan sang ibu.
Bahkan dia berencana membawa bu Ratna ke luar negeri agar mendapat perawatan serta pengobatan yang lebih bagus.
"Yah apa kita bawa ibu ke Singapura saja? Disana banyak dokter khusus yang menangani stroke ringan seperti ibu ini" Ucap Raditya.
"Sabar dulu nak, kita lakukan pengobatan disini dulu. Kita ikhtiar semoga ibu kamu lekas pulih seperti sedia kala" Jawab Rusdi.
"Tapi yaah..."
Belum sempat Raditya melanjutkan omongannya, Romi sudah masuk kedalam sana.
"Tapi kenapa?" Tanya Romi dengan wajah penuh tanda tanya.
"Gini loh aku berencana membawa ibu berobat ke Singapura" Jelas Raditya.
"Uang dari mana? Kamu tahu kan kondisi keuangan kita seperti apa? Lagi pula kamu baru saja dipecat..! Gunakan pesangon kamu untuk membuka usaha dulu, kalau semuanya lancar kita bawa ibu ke luar negeri" Jelas Romi.
"Hmm ya sudahlah kalau gitu, aku mau hubungin Ratih dulu. Mengabari kalau ibu masuk rumah sakit" Ucap Raditya dan berlalu dari ruangan sang ibu.
Sesampainya di luar Raditya segera menghubungi sang istri, di deringan ketiga langsung diangkat oleh Ratih karena dia sedang online berbalas chat faceb**k dengan temannya yang baru dia kenal tadi.
[hallo mas, kamu pulang jam berapa?] Tanya Ratih
[aku gak pulang, kamu kesini saja ibu masuk rumah sakit] Jawab Raditya
[kenapa mas? Ibu sakit apa emangnya?]
[ibu terkena stroke, udah kamu kesini saja nemenin ibu kalau dia butuh apa-apa kan ada menantunya disini] Jelas Raditya
[duh, aku kayaknya gak bisa deh mas. Aku capek banget ini apalagi besok pagi sudah ada job pemotretan buat aku] Jawab Ratih
[hmm masak cuma kesini saja kamu gak bisa?! Besok pagi kan bisa langsung pulang] Ucap Raditya
[aku kan besok ada pemotretan mas..! Kalau sampai kurang tidur kan berpengaruh pada wajahku] Jawab Ratih
[haaahh...!!! Terserah kamu sajalah] Jawab Raditya dan langsung mematikan panggilan telepon.
Di tempat berbeda kini Rindiani sedang makan malam bersama dengan mamanya saja.
Dia sudah berada dirumahnya sendiri, setelah berenang tadi dia langsung pulang karena besok pagi Renata harus ke kantor meeting.
"Ma, papa kok hari ini gak hubungin kakak sama sekali ya? Padahal kan weekend" Ucap Rindiani.
"Kan tadi pagi sebelum papa pulang udah kasih tahu kalau papa masih cari kerjaan kak" Jawab Renata
"Ya masak sampai malam begini ma?" Tanya Rindiani
"Kakak mau telepon papa?" Tanya Renata, dia tahu kalau putrinya belum terbiasa hidup tanpa papanya ya meskipun Raditya selama ini sibuk dengan pekerjaan.
Mereka kan juga selalu makan bersama bahkan Raditya sering menemani Rindiani bermain.
"Enggak deh ma, takutnya papa masih sibuk" Jawab Rindiani.
"Tadi katanya nyariin papa?" Tanya Renata
"Iya ma, tapi kakak gak mau kalau telepon duluan. Kan kalau papa lagi sibuk kasihan, udah kakak mau ke kamar dulu ma" Ucap Rindiani dan berdiri dari tempat duduknya.
"Gak mau makan cake dulu buat dessertnya kak?" Tanya Renata dengan setengah berteriak karena Rindiani sudah berjalan kearah kamarnya.
"Enggak ma, kakak udah kenyang" Jawab Rindiani dan langsung masuk ke dalam kamar.
Didalam kamar dia melihat fotonya bersama dengan pap dan mamanya, Rindiani berharap kedua orangtuanya akan seperti dulu lagi.
Dia tahu kalau orangtuanya sudah bercerai, tapi apa salahnya dia berharap sedemikian rupa?