Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^08
Agar tidak bisa menang saat melahap mangsanya. Membiarkan jiwa yang entah kenapa terus menantang kekalahan dari pada makhluk muka bumi, gila akan kegelapan. Berjalan mengikuti wirawan memenuhi pendengaran, melupakan apa yang telah terjadi. Walau itu sulit di hilangkan dari kepala.
Hanya karena tidak ingin kehilangan membuat diri memilih menghindar, dengan alasan, 'mengurangi rasa nyeri yang singgah dalam jiwa' apalagi, jika emosi itu sulit untuk diri kendalikan.
Dan mungkin, sikap seperti itu akan membuat orang lain merasa bersalah akan tingkah yang tidak diinginkan.
Diam sendiri dengan pikiran yang tidak fokus pada materi dari guru pembimbing di depan kelas. Sesekali mengarahkan pandangan pada bangku yang kosong. Dan tanpa sadar kaki kanannya sendari tadi bergerak gelisah. Hal itu membuat teman di belakangnya merasa terganggu.
"Berhentilah menggerakkan kaki mu." Gemas Aldi yang berusaha menahan tangan, agar tidak memberi hantaman keras di kepala temannya satunya itu.
"Kenapa dia tidak ada di kelas?" Tanya pemuda itu sembari menyandarkan punggungnya pada kursi, tanpa menoleh ke belakang. Karena tidak ingin menarik perhatian guru tampan sangat gagah di depan kelasnya.
"Kau tidak salah menanyakan hal seperti itu padaku?" Lelah Aldi. Kenapa harus ada di antara hubungan yang sulit untuk diungkap itu?
Tidak memberi jawaban, pemuda itu terlihat tengah memikirkan suatu hal yang sangat abu-abu. Sebelum meniup udara, dan beranjak dari duduknya. Melangkah keluar kelas tanpa ijin, mengabaikan semua pasang mata yang spontan melihat dengan sorot berbeda.
"Destan, mau kemana kau?" Seru sang guru yang hanya bisa menarik dalam napasnya melihat tingkah muridnya satu itu. Benar-benar membuatnya frustasi.
Sang guru mengangguk kecil sembari melihat seluruh murid di depan matanya saat ini. Hingga kedua matanya tertuju tepat di mana seorang gadis berada. Anna.
"Berhentilah melamun, dan kerjakan tugas kalian." Seru sang guru yang ampuh menbuat beberapa murid di dalam kelas itu mengeluh.
Sedangkan di sisi lain, Anrey yang terus melangkah melewati lorong kelas. Hanya untuk mencari seseorang yang akhir-akhir membuat perasaannya merasa gelisah akan rindu yang sulit tuk tersampaikan pada sang empu.
Hingga kaki jenjang Anrey sampai di mana sebuah ruangan yang di penuhi oleh berbagai jenis buku, tertata rapi di dalam rak buku.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Spotan tubuh Anrey tersentak kaget, pandangan mata menoleh kesumber suara. Di mana wanita yang bertugas untuk menjaga tempat itu. perpustakaan.
"Kau tidak masuk ke dalam kelas mu?" Sambung sang wanita sembari membenarkan kacamata bulatnya yang bertengger di tulang hidungnya itu.
"Oh, ada buku yang harus saya pinjam." Balas Anrey, tersenyum canggung untuk menghindarkan kecurigaan pada wanita yang berada di depan netranya saa ini.
"Ambilah buku itu, dan pergi secepat mungkin dari tempat ini. Karena kau harus mengikuti pelajaran." Tajam sang wanita penuh peringatan, yang ampuh membuat Anrey merinding sendiri.
"Saya akan mengambil buku itu secepat mungkin." Ucap Anrey, melihat kepergian sang penjaga perpustakaan yang dikenal sebagai wanita tidak tahu balas kasihan terhadap para penghuni sekolahnya saat ini.
Sebentar melihat punggung wanita itu, sebelum memutar tumit untuk melanjukan langkahnya yang sempat terhenti.
Mengedarkan pandangan mata, hingga terhenti pada sosok gadis yang tengah menidurkan kepalanya di atas meja. Dengan mata tertutup rapat. Membuat seculas senyum Anrey terlihat sangat jelas.
Berjalan mendekat, menarik pelan kuris, duduk di samping sang gadis yang masih belum menyadari akan kehadiran Anrey. Kini melipat kedua tangannya untuk di jadikan bantal kepalanya. Menatap lekat wajah cantik milik sang gadis, tanpa melunturkan senyumannya.
"Seharusnya mereka tahu, kau itu milik siapa." Rendah Anrey yang benar-benar terlihat sangat menyayangi gadis itu.
Saat itu juga kedua manik mata sang gadis terbuka dengan perlahan. saling melempar pandang, tanpa adanya suara gang menyapa pendengaran. Hingga menghadirkan ketenangan dalam jiwa yang sangat didukung oleh semesa.
Berharap dewi fortuna mengerti, dan memberi mereka ruang sebenar saja, dengan posisi mereka saat ini. Karena hal itu jarang sekali mereka mengabadikan moment manis yang ingin mereka lakukan setiap saat. Akan tetapi, halangan itu selalu hadir tanpa mereka harapkan.
Seperti saat ini, suara familiar ampuh membuat dua insan itu begitu kompak menegakkan punggung mereka dengan sangat canggung.
"Tidak bisakah kalian pergi ke kelas kalian?" Seru sang penjaga perpustakaan, yang untungnya masih bisa menahan diri.
"Anna__"
Gadis cantik yang telah menarik perhatian Anrey sejak menginjakkan kakinya di halaman luas sekolahnya saat ini. Gadis itu juga yang menbuat Anrey merasa tenang sekaligus gelisah bercampur menjadi satu.
Dia Anna. Anna Vandara, gadis satu-satunya yang sangat beruntung bisa mendapatkan Anrey. Dan sebaliknya, Anrey sangat bersyukur Anna dapat menerimanya.
"Kau bolos pelajaran? Dan dirimu," sambung sang wanita yang kini menunjuk Anrey dengan jari telunjuknya. "Sangat pandai mencari alasan."
"Apa kalian datang kesini hanya untuk pacaran?" Tidak lagi bisa wanita itu tahan, kalimat sebagai penutup benar-benar sangat nyaring. Kemungkinan, orang yang ada di luar dapat mendengarnya dengan jelas.
Dan hal itu mengharuskan Anna maupun Anrey dengan cepat tanpa menunggu perintah, mereka beranjak dari duduk masing-masing. Sebelum melangkah keluar dari ruang perpustakaan. Meninggalkan sang penjaga perpustakaan sendiri.
Berjalan beriringan di lorong kelas yang sepi. Semakin sunyi, karena tidak ada yang memulai obrolan lebih dulu. Entah karena gengsi, atau lelah.
Tapi sebagai laki-laki, Anrey akan mengalah dengan seorang perempuan. Apalagi itu kekasihnya sendiri, Anna. Jika pun, gadis itu tidak akan memberinya respon pada akhirnya nanti. Dan bukan berarti Anrey menurunkan harga dirinya.
"Apa yang kau lakukan di sana? Kau tidak enak badan?" Tanya Anrey sembari melihat wajah Anna dari samping.
"Kau juga tidak ada di kantin saat jam istirahat. Kau tidak makan siang? Kenapa? Apa hanya karena kejadian_"
"Kau bisa diam?" Sangat rendah, Anna memotong perkataan Anrey dengan menghentikan kedua kakinya yang membuat Anrey mau tidak mau juga menghentikan langkah kakinya.
Diam sejenak, sebelum memberi tanggapan. Anrey menghirup udara lalu di hembuskan begitu saja. "Aku tidak akan diam, jika aku tidak memberiku jawaban."
"Anrey?"
"Itu yang akan kau lakukan saat aku diam padamu." Cepat Anrey.
Kedua pasang mata itu saling melempar sorot penuh arti. Membiarkan semilir angin menerpa wajah mereka. Mengabaikan bisikan batin yang mengharuskan mereka menyerah untuk saling mengakui.
"Anna, aku mengikuti apa yang kau mau. Tapi, tidak bisakah beri aku waktu untuk bertukar sapa dengan mu?"