Sekolah internasional terkenal dijakarta yang bernama Grand Imperial Academy, sedang disibukan dengan kedatangan siswa-siswi baru, yang sedang melakukan masa orientasi.
Anaya menjadi salah satu siswi baru di Grand Imperial Academy, ia bersekolah disana karena ada kedua abang kandungnya dan juga abang sepupunya yang bersekolah disana dan sudah menjadi siswa kelas 12 yang merupakan panitia orientasi juga.
Helga si Ketua OSIS yang tak pernah terlihat senyumannya sedikitpun menjadi icaran banyak siswi di Grand Imperial Academy.
Namun senyum Helga mulai muncul saat ia mulai tertarik dengan Anaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NLiRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH SAKIT LAGI
Retta dan Naina hanya bisa melihat itu semua namun tak bisa menanyakan apapun.
Dirumah sakit keluarga Wiranta sudah menunggu disana bersama dengan keluarga Agasthya yang juga ikut.
Mobil Floella sudah berada di depan rumah sakit, para perawat langsung membawa brankar untuk Anaya.
"Sayang" ucap William yang melihat Floella sudah menangis sambil Anaya yang berada dalam pangkunya.
"Wil, cepat, cepat angkat Ana" ucap Floella.
Mahesa langsung mengangkat tubuh Ana dan membaringkan Ana di atas brankar.
"Ana" ucap Sinta yang menangis.
"Ma tenang ya" ucap Andreas yang memeluk istrinya.
Ana langsung dibawa ke ruang penanganan.
"Mohon menunggu disini saja" ugak seorang perawat yang menutup pintu ruangan itu.
"Tapi dok.." ucap Sinta yang tak mau anaknya sendiri do dalam sana.
"Ma, tenang dulu. Biar dokter yang memeriksa Ana" ucap Andreas.
"Pa, mama takut, mama takut kehilangan Ana hikss" tangisan Sinta pecah.
"Sin, kamu yang tenang ya. Putri kamu pasti akan baik-baik saja" ucap Arunika yang mencoba menenangkan Sinta.
"Aku takut Ru, aku takut" ucap Sinta yang air matanya sudah mengalir deras.
Mahesa, Farraz dan Wiliam terlihat kacau. Mereka duduk sambil mengepal tangan masing-masing karena khawatir. Helga dan yang lainnya terlihat kebingungan melihat situasi, namun tak satu pun dari mereka yang berani nanya.
"Abang, Ana gak bakal kenapa-napa kan? " tanya Havinka pada abangnya.
"Dia gak bakal kenapa-napa kok, kamu tenang ya" ucap Helga yang merangkul adiknya yang menangis.
"Apa yang terjadi sebenarnya Flo? " tanya Farraz lirih.
"Ana lupa minum obatnya Raz" ucap Floella yang menangis.
"Maaf, maafin gue, harusnya gue ingetin dia untuk bawa obatnya saat di jemput dia tadi" ucap Floella yang penuh penyesalan.
"Hey sayang, kamu gak salah. Jangan salahin diri kamu sendiri atas apa yang gak kamu lakukan" ucap William yang memeluk Floella.
"Flo, makasih sudah menjaga Ana ya. Ini bukan salah kamu sayang, seharusnya tante juga pantau dia" ucap Sinta yang memegang pundak Floella.
"Tante, hikssss" tangisan Florence pecah sambil memeluk Sinta.
"Hiksss, aku gak mau Ana kenapa-napa" ucap Floella.
"Kita tunggu dokter dulu ya, jangan salahin diri kamu terus" ucap Sinta yang berusaha untuk menenangkan Floella walaupun dia sendiri juga khawatir.
"Gue gak tau kenapa, tapi ini buat gue juga pengen nangis" ucap Joanna yang berbisik pada Lusia.
"My baby Ana, dia pingsan dan pasti semua bakal sedih" jawab Lusia yang juga terlihat murung.
Setelah menunggu selama 10 menit, dokter pun keluar.
Klek pintu ruangan di buka.
"Dok gimana kondisi adik saya, dia baik-baik saja kan? " tanya Mahesa yang langsung menghampiri dokter Gilang.
"Ana baik-baik saja, jika sudah sadar nanti dia juga sudah boleh pulang" ucap dokter Gilang yang membuat semuanya lega.
"Mas, mbak, ayo ke ruangan saya sebentar" ajak dokter Gilang yang mendapatkan anggukan dari Andreas dan Sinta.
"Mama, papa titip Ana dulu ya" ucap Sinta pada farraz, Mahesa dan Wiliam.
"Iya ma" jawab mereka bertiga.
Ana dipindahkan ke ruang rawat dan diikuti oleh yang lainnya.
"Raz, sebenarnya Ana sakit apa? " tanya Retta yang membuat Farraz langsung menoleh kearah yang lainnya.
"Flo sampe nangis banget tadi lihat Ana pingsan" sambung Retta.
"E-e" Farraz gelagapan namun langsung di sahut oleh Floella.
"Ana kecapean, dia benar-benar sensitif kalau capek" sela Floella cepat.
"Dan.. dan wajar gak sih gue nangis. Ana itu adik ipar gue, kesayangan gue juga, jadi ya wajar gak sih gue khawatir" ucap Floella yang melirik Farraz dan William bergantian sambil tersenyum kikuk.
"Tapi lo tadi khawatir banget" ucap Lusia lagi.
"Cewek gue selalu gitu, Ana nangis aja karena Mahes, dia gak bakal segan² ngehajar Mahes" jawab William yang coba meyakinkan.
("Ada yang aneh, gak mungkin cuma sekedar kecapean "batin Helga).
"Farraz, Adik kalian sudah sadar" ucap Arunika yang sedari tadi duduk di samping bed Ana.
"Ana" ucap Mahesa yang langsung lari menuju adiknya.
Mahesa langsung memeluk Ana, ia menangis dipelukan adiknya.
"Ihhh, abang kenapa nangis? " tanya Ana yang mendengar suara isakan Mahesa.
"Oke, ini aneh. Mahesa sampe nangis" bisik Lusia.
"Sssttt, jangan ikut campur dulu" jawab Joanna.
"Ana, kamu oke kan? " tanya Mahesa sambil menghapus kasar air matanya.
"Abang kenapa nangis sih? " tanya Anaya lagi.
"Mahes khawatir Ana" ucap William.
"Ana, gimana kondisi kamu sekarang? " tanya Farraz dengan lembut.
"Masih sedikit pusing abang, cuma sudah lebih baik kok" jawab Ana.
"Besok-besok, jangan lupa minum obat lagi ya" ujar William yang mengelus rambut Anaya.
"Iya abang, maaf ya Ana udah buat kalian khawatir" ucap Anaya yang merasa bersalah.
"Maaf juga kakak-kakak, karena Ana, kita gak jadi belanja deh" sambung Ana.
"Sssttt, Ana gak perlu minta maaf. Lagian kita gak keberatan kok" jawab Floella.
"Iya Ana, kita bisa belanja lain waktu kalau Ana sudah sehat" sambung Retta.
"Bang Mahes, Ana udah gak apa-apa kok" ucap Anaya yang melihat Mahesa yang masih sangat khawatir.
"Hufhhh, Ana" Mahesa menghembus nafasnya kasar.
Saat sesedang asik ngobrol, tiba-tiba Andreas dan Sinta masuk ke ruang rawat Ana. Sinta berdiri di belakang Andreas.
"Farraz, Mahes, William, ayok ngobrol sebentar" ucap Andreas.
"Dre, apa kami bisa ikut? " tanya Devandra yang juga tau kalau sahabatnya menyembunyikan sesuatu.
Andreas menatap anak-anaknya sejenak,
"Baiklah ayo" ucap Andreas.
"Papa" ucap Ana.
"Iya sayang" jawab Andreas yang tersenyum.
"Papa mau kemana, kok ngajak abang juga" tanya Anaya yang penasaran.
"Mama kenapa bersembunyi di belakang papa? " tanya Anaya lagi.
"Heuummm, m-mama lagi nelpon tadi sayang, sebentar ya, nanti mama masuk" ucap Sinta yang langsung pergi dari sana.
"Mama kenapa pa? " tanya Anaya yang kebingungan.
"Perusahaan lagi ada sedikit masalah" ucap Andreas yang berbohong.
"Ayo" ajak Andreas pada anak-anak yang diikuti oleh Devandra dan Arunika.
Anaya kebingungan melihat papa dan mamanya.
"Ana, mungkin masalah kantor" ucap Floella yang sadar kalau Anaya sedang mencurigai keluarganya.
"Aneh aja" jawab Anaya pelan.
"Vinta, Citra, kalian nangis juga?"tanya Anaya yang pandangannya beralih ke arah kedua sahabatnya menunduk di belakang.
"Ana" ucap Havinka dan Citra barengan dan langsung memeluk Anaya.
"Hikssss, kamu jangan sakit dong, aku khawatir Ana" ucap Havinka yang masih memeluk Ana.
"Iya Ana, kamu jangan sakit lagi" ucap Citra.
"Aku juga gak sakit kok, aku juga mau sembuh" ucap Anaya lirih.
Floella tau betul apa maksud Ana, hal itu membuat ia sedih.
...****************...
...****************...
...****************...
Hai udah lama author gak up cerita, so kali ini author up cerita baru yang bertemakan anak sekolah lagi. mohon dukungannya, maaf kalau banyak kata yang typo. Jangan lupa Like, Comment dan Sarannya. Jujur saran dari kalian bisa menjadi motivasi bagi author untuk buat jalan cerita. Makasih semuanya, selamat menikmati...
...****************...
...****************...