NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 — DOSA YANG DIBUKA

Cahaya putih tanpa bayangan itu semakin intens, seolah ingin melelehkan kornea mata siapa pun yang berani tetap membukanya. Di tengah panggung cahaya yang menyilaukan itu, Siska Lestari sedang dikuliti hidup-hidup—bukan kulit fisiknya, melainkan kulit topeng kesalehan yang selama ini ia pakai.

​Siska berlutut di lantai, tubuhnya berguncang hebat. Mulutnya tidak berhenti bergerak, memuntahkan kata-kata yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat di balik bibir yang selalu basah oleh zikir.

​"Gue capek..." racau Siska, air mata hitam meleleh di pipinya yang abu-abu. "Gue capek jadi patokan moral kalian... Gue capek harus pura-pura suci biar ibu gue seneng... Gue benci kerudung ini... Panas... rasanya kayak dicekek..."

​Tangan Siska bergerak liar, menarik jilbab instan yang sudah miring itu. Ia merobeknya kasar, membiarkan kain itu jatuh ke lantai, memperlihatkan rambutnya yang kusut dan berminyak.

​"Nah," bisik Lala—sang Nyai—yang berdiri menjulang di atasnya. "Lebih enteng kan? Rambutnya bagus kok. Sayang kalau ditutupin cuma buat nyenengin tetangga."

​Nara menatap pemandangan itu dengan hati hancur. Ia ingin maju, ingin memeluk Siska, tapi kakinya seolah dipaku ke lantai. Ada dinding energi tak kasat mata yang memisahkan "panggung pengakuan" itu dengan penontonnya.

​"Siska, sadar..." panggil Nara lemah. "Itu bukan lo. Jangan biarin mereka ngomong lewat mulut lo."

​Siska menoleh ke arah Nara. Tatapannya asing. Liar.

​"Ini gue, Nar," kata Siska sambil menyeringai, memperlihatkan gigi yang bernoda darah. "Ini Siska yang asli. Siska yang lo kenal itu cuma boneka. Boneka yang takut neraka."

​Tiba-tiba, Siska memegang perutnya. Wajahnya berubah dari seringai gila menjadi ekspresi kesakitan yang amat sangat. Ia membungkuk, keningnya menyentuh lantai.

​"Aduh..." rintih Siska. "Sakit lagi... jangan dikorek lagi..."

​Dion, yang bersembunyi di balik meja yang terbalik, mengangkat kepalanya. "Dia kenapa? Sakit perut?"

​Lala tertawa kecil. Ia berjalan mengelilingi Siska, kakinya yang penuh bekas jahitan keloid itu menghentak lantai dengan irama yang membuat mual.

​"Dia nggak sakit perut, Mas Dion," kata Lala. "Dia lagi inget. Memori tubuh itu nggak bisa bohong. Otak bisa lupa, tapi rahim... rahim selalu inget siapa yang pernah mampir di sana."

​Suara tangisan bayi kembali terdengar.

​Oek... Oek...

​Kali ini suaranya bukan dari atap. Bukan dari kolong tempat tidur. Suara itu berasal dari bawah rok Siska.

​Siska menjerit. Ia membuka kakinya lebar-lebar dalam posisi duduk, tangannya mencakar-cakar pahanya sendiri.

​"Pergi! Pergi!" jerit Siska. "Lo udah mati! Gue udah bayar dokter mahal buat buang lo! Kenapa lo balik?!"

​Nara ternganga. Pengakuan itu keluar begitu saja, menampar kesadarannya.

​"Dokter?" bisik Nara. "Siska... lo pernah..."

​Siska tidak menjawab Nara. Ia sedang berbicara dengan hantu masa lalunya.

​"Jangan nangis!" bentak Siska pada ruang kosong di antara kakinya. "Gue nggak siap! Gue masih kuliah! Bapak gue bisa mati kalau tau gue hamil! Gue nggak punya pilihan!"

​Air mata Siska mengalir deras, bercampur dengan lendir hidung.

​"Maafin Mama... Maafin Mama..." isaknya, nadanya berubah drastis dari marah menjadi putus asa. "Sakit, Nak... Guntingnya dingin banget... Mama bisa denger suara tulang kamu remuk..."

​Nara menutup mulutnya dengan tangan. Ia merasa mual. Ia tahu Siska religius, tapi ia tidak pernah menyangka ada trauma sedalam dan segelap ini di baliknya. Siska menutupi lubang dosa itu dengan lapisan ibadah yang tebal, berharap Tuhan lupa. Tapi di Wanasari, tidak ada yang dilupakan.

​Lala berjongkok di depan Siska. Ia mengulurkan tangannya ke arah perut Siska, seolah sedang membelai kehamilan yang tidak terlihat.

​"Anak pinter," colek Lala ke udara kosong. "Namanya siapa, Sis? Belum dikasih nama ya? Kasihan. Dikubur di mana? Di septic tank klinik? Atau dibuang ke sungai?"

​"Di kantong kresek..." bisik Siska, matanya kosong menatap lantai. "Di tempat sampah belakang klinik. Masih anget... dia masih gerak dikit..."

​"Biadab," desis Dion. Rasa simpatinya pada Siska menguap seketika, digantikan oleh rasa ngeri.

​Siska tiba-tiba tertawa. Tawa yang pecah.

​"Tapi abis itu lega, Yon," kata Siska, menatap Dion dengan mata melotot. "Abis dibuang, gue bebas. Gue bisa kuliah lagi. Gue bisa ikut pengajian lagi. Gue bisa jadi 'Siska si Anak Sholehah' lagi. Gampang kan? Dosa itu gampang dicuci. Tinggal tobat, nangis dikit, kelar."

​"Itu namanya bukan tobat, Siska," kata Nara tajam, air matanya menetes. "Itu namanya lari."

​"Semua orang lari, Nara!" teriak Siska. "Lo juga lari! Lo lari dari keluarga lo yang berantakan dengan cara sok sibuk di organisasi! Lo lari dari kesepian dengan cara ngatur idup orang lain! Kita semua sama! Cuma beda cara buang sampahnya aja!"

​Kata-kata Siska menohok Nara tepat di ulu hati.

​Di tengah teriakan itu, suara tangisan bayi yang sedari tadi terdengar pilu, tiba-tiba berubah.

​He... he... he...

​Tangisan itu berhenti. Berganti dengan kekeh pelan.

​Lalu tawa.

​Hihihi... Hahahaha!

​Suara tawa bayi itu menggema di seluruh ruangan, memantul di dinding-dinding cahaya. Suaranya bukan suara bayi manusia lagi. Itu suara demonic. Berat, parau, dan penuh kebencian.

​Siska berhenti bicara. Ia menunduk, melihat ke pangkuannya.

​Di sana, di atas pahanya, perlahan-lahan muncul sebuah wujud.

​Bayi Merah.

​Makhluk itu mewujud nyata dari kumpulan asap dan cahaya. Kulitnya merah mengelupas, kepalanya peyang bekas jepitan alat medis, dan tali pusarnya masih menjuntai panjang, melilit leher Siska seperti kalung.

​Makhluk itu mendongak, menatap "ibunya".

​"Mama..." panggil makhluk itu. Suaranya seperti suara kakek-kakek yang terjebak di tubuh orok. "Mama udah ngaku. Mama udah jujur."

​Siska gemetar hebat, tapi ia tidak mendorong makhluk itu. Ia justru memeluknya.

​"Anakku..." bisik Siska. Insting keibuannya yang terpelintir muncul. "Sini... minum susu..."

​Siska, dalam kegilaannya, menyingkap bajunya yang robek.

​Tapi Bayi Merah itu tidak mencari susu. Mulutnya yang penuh gigi runcing itu terbuka lebar.

​"Nggak mau susu," kata bayi itu. "Mau jantung. Jantung Mama kan kosong. Biar Adek masuk situ."

​Bayi itu tidak menggigit puting Siska. Ia menggigit dada kiri Siska, tepat di atas jantung.

​KRAK!

​Darah muncrat.

​Siska tidak menjerit kesakitan. Ia justru mendesah panjang, matanya terbelalak menatap cahaya putih di langit-langit.

​"Ambil..." bisik Siska. "Ambil semuanya. Mama capek. Mama mau tidur."

​Bayi itu mulai masuk. Ia merobek kulit dan daging Siska, menggali lubang di dada gadis itu, lalu membenamkan kepalanya, bahunya, dan seluruh tubuh kecilnya ke dalam rongga dada Siska.

​Itu adalah pemandangan paling grostek yang pernah dilihat Nara. Siska menyatu dengan dosa masa lalunya secara harfiah. Bayi aborsi itu kembali ke dalam tubuh ibunya, tapi bukan ke rahim, melainkan ke jantung.

​Tubuh Siska mengejang sekali, dua kali... lalu diam.

​Lala berdiri, bertepuk tangan pelan.

​"Prosesi selesai," umumkan Lala. "Wadah ketiga sudah diisi ulang."

​Siska perlahan bangkit berdiri.

​Gerakannya aneh. Kakinya menekuk ke dalam. Kepalanya miring ke kiri. Dan di dadanya, ada lubang besar yang tidak berdarah lagi, tempat bayi itu bersemayam.

​Siska membuka mata.

​Mata itu... mata itu adalah mata bayi. Bulat, hitam, dan penuh rasa ingin tahu yang jahat.

​Siska—atau makhluk yang kini memakai tubuh Siska—menatap Nara dan Dion. Ia menyeringai, dan suara tawa bayi itu keluar dari mulut Siska.

​"Ciluk... Ba!"

​Siska melompat.

​Lompatannya tinggi sekali, tidak manusiawi. Ia mendarat di atas lemari, jongkok seperti katak.

​"Main yuk!" seru Siska dengan suara bayi yang berat. "Main kejar-kejaran! Siapa yang ketangkep... dipotong tititnya!"

​Dion menjerit, melempar jurnalnya ke arah Siska. "SETAN! MATI LO!"

​Siska tertawa kikikikik, lalu melompat dari lemari ke arah Dion.

​"LARI, YON!" teriak Nara.

​Nara menarik tangan Dion, menyeretnya menuju satu-satunya jalan yang belum tertutup rapat: pintu belakang yang engselnya sudah rusak didobrak Raka tadi.

​Mereka berlari keluar dari Joglo yang penuh cahaya, terjun kembali ke dalam kegelapan malam hutan Wanasari.

​Di belakang mereka, terdengar suara tawa Siska dan Lala yang bersahutan.

​"Lari, lari, lari! Jangan sampai ketangkep!"

​Nara tidak menoleh. Ia tahu, Siska yang ia kenal—gadis yang selalu mengingatkan waktu sholat, gadis yang takut pada bayangannya sendiri—sudah mati. Yang ada di belakang sana hanyalah cangkang kosong yang dikemudikan oleh janin dendam yang kelaparan.

​Dosa Siska telah dibuka, dan harganya adalah kemanusiaannya.

​"Ke mana, Nar?!" napas Dion memburu, paru-parunya serasa mau meledak.

​"Ke hutan!" jawab Nara, menebas semak belukar dengan pisaunya. "Ke batas desa! Kita cari jalan tikus! Apapun asal jauh dari rumah gila itu!"

​Namun, saat mereka berlari menembus kegelapan, Nara menyadari sesuatu yang mengerikan.

​Hutan itu... berubah.

​Pohon-pohon jati itu tidak diam. Mereka bergeser. Batang-batang pohon itu bergerak perlahan, menutup celah, mengubah jalur setapak menjadi labirin yang membingungkan.

​Dan di kejauhan, di antara pepohonan, Nara melihat titik-titik cahaya merah.

​Bukan kunang-kunang.

​Itu mata. Ribuan mata "Anak-anak" Wanasari yang menunggu di kegelapan, menyambut domba-domba yang tersesat dari kandangnya.

​Nara mencengkeram tangan Dion lebih erat.

​"Jangan lepas, Yon," bisik Nara. "Kalau lo lepas... lo bakal ketemu dosa lo sendiri di balik pohon."

​Dion tidak menjawab. Ia hanya menangis dalam diam, sambil meraba lengannya sendiri. Di sana, di bawah kulit lengannya, ia merasa ada yang bergerak. Huruf-huruf yang ia tulis semalam... seolah ingin masuk ke dalam dagingnya.

​TUMBAL.

​Malam pengakuan dosa belum berakhir. Dan hutan ini adalah bilik pengakuan raksasa yang tidak akan membiarkan siapa pun keluar sebelum mengaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!