Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya~
📢FYI, cerita ini alurnya santuyy yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Kembali Dekat
Malam itu, langit tampak muram, namun tak sepenuhnya redup.
Arvin mengajak Tamara mengobrol santai ketika sudah di rumah, melanjutkan pembahasan mereka yang sempat tertunda.
Suasana kamar, tenang seperti biasa. Tapi kali ini terasa lebih hangat, dan entah kenapa, mendadak terasa lebih romantis.
Mereka duduk di atas tempat tidur, yang kini tidak lagi menyimpan jejak batasan.
Tamara dengan penuh perhatian, mendengarkan penuturan Arvin.
"Waktu aku nolak ajakan ke politik, itu bukan karena aku ingin kemana-mana... Aku memang mau tetap pada arah hidupku," kata Arvin di sela obrolan mereka.
"Sebenarnya, aku kaget banget waktu dukungan itu datang. Jujur aja, aku bingung."
Ia menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggung.
"Menurutku... masih banyak yang jauh lebih pantas, lebih kompeten, dan lebih siap."
Ia terdiam beberapa detik, kemudian menambahkan, "Jabatan itu juga bukan penunjukkan. Ada proses seleksi, kompetisi, dan penilaian yang ketat."
Tamara tersenyum, lalu memberi tanggapan.
"Berarti mereka yang mendukung kamu, sudah tahu pasti kemampuan kamu."
Arvin hanya terdiam. Sorot matanya menatap sang istri, sambil terlihat berpikir.
Tamara mengusap lembut punggung tangannya.
"Aku dukung kamu buat nggak terjun ke politik, karena memang itu bukan panggilan hidup kamu. Tapi soal nyalon rektor... "
Ia menggantung kalimatnya sebentar.
"Aku mau, kamu jujur dulu sama diri kamu sendiri," lanjutnya.
Arvin mengangguk paham.
Tamara sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya, menepuk pelan pundaknya.
"Aku rasa, mereka mendukung kamu bukan untuk menjadikan kamu alat, ataupun merubah kamu... " suaranya rendah, tampak berhati-hati.
"Tapi kamu dipandang mampu, untuk memimpin tempat yang memang sudah menjadi dunia kamu," sambungnya.
"Kamu nggak keberatan?" Arvin bertanya dengan dahi berkerut halus.
Tamara tersenyum singkat, kemudian menggeleng.
"Kalau itu sesuatu yang memang menjadi panggilan hidup kamu. Aku nggak keberatan."
Ia ikut bersandar di samping suaminya.
"Cuma ya, yang perlu kamu tahu. Jabatan itu kadang selalu identik dengan kekuasaan. Tapi, jabatan juga bisa jadi alat buat dampak besar."
Ia sedikit mendekat, tatapannya hangat penuh dukungan moril.
"Take your time. Kamu nggak perlu terburu-buru, Mas. Kita bisa pikirkan ini pelan-pelan. Nggak harus sekarang."
Sudut bibirnya terangkat tipis, tapi terlihat sangat manis.
"Sekarang, kamu harus istirahat. Kamu tuh baru mendarat beberapa saat yang lalu, setelah penerbangan belasan jam,"
Arvin menggangguk. "Iya sih."
Ia menoleh lagi, tatapannya lebih hangat. "Tapi aku masih kangen," ucapnya, sedikit manja.
Arvin mendekat, hingga bahu mereka bersentuhan.
Tamara membalas tatapan itu, dengan senyum yang masih terpatri.
Sorot matanya langsung terpaku, karena wajah Arvin mendekat tepat di depannya.
Suasana kamar mendadak lebih sunyi.
Hanya ada tatapan dari dua orang saling menyimpan kerinduan mendalam, yang beradu dalam diam.
Tangan Arvin terangkat, memegang rahang Tamara.
Pandangannya jatuh pada bibir ranum milik Tamara, yang entah kenapa terlihat lebih menggoda dari biasanya.
"Sebentar aja... " gumamnya pelan.
Tanpa ragu ataupun tergesa, ia mencium bibir Tamara, membungkamnya dengan lembut.
Tamara menyambutnya, membiarkan Arvin melepaskan rasa rindu sesuka hatinya.
Bibir Arvin memagut lama, menyalurkan hasrat yang selama ini tak pernah ia izinkan untuk keluar.
Ia menyesap lembut bibir atas dan bawah milik Tamara bergantian, membuat suara decapan terdengar pelan di antara mereka.
Sementara telapak tangan Arvin bergerak perlahan, meraba sisi tubuh istrinya, hingga perempuan itu menggeliat kecil sambil berpegangan pada lengannya yang kokoh.
Tamara yang larut dalam ritme, tanpa ragu mengimbanginya.
Tangannya mencengkram kuat lengan Arvin, menikmati sensasi oleh sentuhan yang membuat tubuhnya kehilangan kontrol.
Tangan Arvin mulai bergerak naik. Pelan tapi liar, meraba bagian dada Tamara yang bulat dan padat.
Jemari Arvin yang panjang, langsung terasa penuh saat meremas milik Tamara yang masih tertutup bra di balik gaun santainya.
"Mmpphhh... "
Suara gumaman tertahan Tamara, lolos dari sela bibir keduanya yang masih saling mengunci rapat.
Hingga napas terasa menipis, Arvin melepaskan pagutan bibirnya.
Jempolnya mengusap lembut bibir Tamara yang basah dan kemerahan karena ulahnya.
Arvin memiringkan kepala, lalu menciumi leher jenjang sang istri. Namun, sebelum hasrat mengambil alih lebih jauh, tangan Tamara tiba-tiba menahan dada Arvin.
Ia sedikit mendorong. Tidak kasar, tapi cukup mengingatkan agar suaminya berhenti.
"Ada apa?" tanya Arvin spontan, agak kaget.
Tamara menarik napas panjang, lalu menatap suaminya penuh pertimbangan.
"Mas... Aku rasa, ini bukan waktunya," katanya.
Arvin belum menjawab, hanya menatapnya dengan alis berkerut.
Tangannya kembali kokoh meraih pinggang Tamara, menahan tubuh ramping itu tetap dalam penguasaannya.
"Kamu nggak pengen lanjut?" bisiknya lembut.
Tamara menelan ludah. Tubuhnya memang sulit untuk menolak, tapi akal sehatnya masih lebih menguasainya.
"Pengen," jawabnya jujur.
Ia menatap mata Arvin. "Tapi sekarang, waktunya aku yang menjaga kamu."
Tamara membelai pipi Arvin, lalu mengecup sebentar bibirnya.
"Jangan lupa. Kamu lagi jet lag," ujar Tamara dengan nada ringan mengingatkan.
"Aku tahu tubuh kamu masih capek banget dan perlu penyesuaian. Malam ini istirahat dulu ya," pintanya.
Arvin melonggarkan pelukannya. Wajahnya kembali tenang, walau sedikit menyayangkan keadaan.
"Aku hampir kelepasan lagi pada timing yang nggak tepat," katanya pelan.
Ia menatap Tamara lembut. "Kalau aku lanjutin sekarang, aku pasti nggak akan bisa maksimal."
Nada suaranya menurun, "Buat memuaskan kamu."
Ada jeda hening, yang tidak lagi canggung.
Hingga Tamara tertawa kecil, lalu buru-buru menahannya.
Ia menunduk sebentar, sekadar menutupi pipinya yang memerah.
"Nanti kita cari waktu, yang bisa bikin kamu lebih maksimal," bisiknya, sedikit bercanda saat menatap suaminya lagi.
Sorot mata Arvin sedikit berubah. Agak nakal, tapi justru terlihat lebih menantang bagi Tamara.
Arvin mendekatkan bibir ke daun telinga Tamara. "Saat waktunya, jangan coba-coba berani kabur," peringatnya.
Tamara terkekeh pelan, lalu mengangguk.
"Jadi, beneran ditunda lagi nih?" tanya Arvin, seolah memastikan.
Tamara tersenyum simpul. "Ditunda bentar aja... "
Arvin memeluknya sekali lagi, meletakkan dagu dengan manja pada bahu Tamara.
"Besok ya?" pintanya, terdengar hati-hati.
Tamara mengusap punggungnya, kemudian mengiyakan dengan anggukan.
Senyum Arvin kembali muncul. Ia lantas melampiaskan sisa rasa rindunya, sambil mengendus leher istrinya dengan gemas.
Gelak tawa Tamara yang merasa geli, langsung memecah kesunyian.
"Mas, udah... " jerit Tamara di sela tawanya.
Tangannya memukul-mukul ringan pundak Arvin, sampai laki-laki itu melepaskannya.
Setelahnya, Tamara langsung membantu merapikan posisi bantal Arvin agar ia bisa berbaring dengan nyaman.
Tamara mengatur suhu ruangan, mematikan sebagian lampu, lalu berbaring di samping Arvin dengan tenang.
Tidak ada pembicaraan atau candaan yang berlanjut, hanya ada deru napas keduanya yang terdengar lebih teratur.
Tak lama, Arvin sudah terlelap. Napasnya tenang, stabil, dan tetap membuat Tamara yang masih terjaga menatapnya lebih lama.
Tamara sedikit menjauh, untuk berbaring di tempatnya. Namun, sebelum benar-benar terlelap, ia memandang wajah Arvin sekali lagi.
Ia sadar. Selama ini menganggap sebuah hubungan, hanya kesepakatan hidup dan dan pajangan status agar dunia berhenti bertanya.
Namun berada di sisi Arvin, ia merasa menjadi manusia, bukan hanya perempuan yang harus selalu berdiri paling depan.
Ia juga sadar, selama ini menjadi dominan bukan karena ia ingin, melainkan karena ada ketakutan.
Ia takut berharap, apalagi menggantungkan diri pada seseorang yang mungkin saja akhirnya akan meninggalkannya.
Tapi Arvin tidak pergi. Sekalipun Tamara pernah bersikap dingin, dan cenderung mengabaikan laki-laki itu.
Arvin tetap disana, tanpa memaksanya untuk berubah, dan yang terjadi justru karena itu, Tamara berubah dengan sendirinya.
Ia kehilangan sisi dominannya, tanpa takut merasa tidak aman.
Tamara menarik napas pelan, lalu memejamkan mata.
Di luar, malam masih panjang. Tapi, di dalam dirinya, ada sesuatu yang sudah berubah.
Sesuatu yang selama ini kosong, kini akhirnya terisi.
Malam ini ia tidur bukan sebagai perempuan yang selalu memegang kendali, melainkan seorang istri yang tahu bagaimana rasanya memiliki tempat pulang.
BERSAMBUNG...
Hay.. makasih buat yang udah sempatkan waktu baca karya ini..
Tolong bantu support author ya supaya lebih semangat nulisnya