Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 30
Dante menatap istrinya, lalu perlahan ia melakukan sesuatu yang tidak akan pernah ia lakukan di hadapan anak buah, musuh, atau tetua klan sekalipun, Ia berlutut di lantai marmer yang dingin, tepat di hadapan Alicia yang masih memegang kapas. Pria paling ditakuti di Italia itu kini menenggelamkan wajahnya di pangkuan Alicia, melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dengan erat.
"Maafkan aku, Alicia. Tolong... ampuni aku," suara Dante teredam oleh kain sutra daster Alicia, namun terdengar sangat gemetar. "Sungguh Tiga hari itu adalah siksaan yang lebih buruk daripada dipenjara di ruang bawah tanah untukku. Aku tidur di hotel itu sendirian, dan setiap kali aku memejamkan mata, aku terbiasa mencari kehangatan tubuhmu di sampingku. Tapi yang kutemukan hanya bantal dingin dan keheningan yang membuatku gila karena merindukan celotehanmu."
Alicia tertegun. Kekeras kepalaannya luruh melihat suaminya sang Iblis dari Milan meringkuk di kakinya seperti pria yang haus akan kasih sayang. Alicia meletakkan kapasnya, lalu jemarinya yang lentik mulai mengusap rambut gelap Dante dengan lembut.
Dante mendongak, matanya yang biasa tajam kini terlihat sayu dan penuh damba. Ia menarik Alicia agar duduk lebih merapat, lalu mulai menciumi leher istrinya dengan penuh perasaan. "Bau ini... bau tubuhmu... aku hampir lupa bagaimana rasanya menjadi manusia sebelum kau datang menjemputku di Malta."
Dante menggendong Alicia dengan satu tangan yang masih kuat, membawanya ke atas ranjang besar mereka sementara Leo sudah terlelap di boks bayi di sudut kamar. Di bawah temaram lampu tidur, Dante menciumi setiap inci wajah Alicia, mulai dari dahi, mata, hingga turun ke bibir dengan lumatan yang dalam dan penuh kerinduan serta permohonan agar ia tak pernah dilepaskan.
"Aku merindukanmu sampai ke tulang-tulangku, Cara Mia," bisik Dante di sela napasnya yang memburu, jemarinya menelusuri lekuk tubuh Alicia dengan pemujaan yang tulus.
Namun, tepat saat suasana sedang berada di puncak keromantisan, Alicia tiba-tiba menahan dada Dante. Ia menatap suaminya dengan ekspresi yang mendadak sangat serius, bukan karena marah, tapi karena kegalauan yang sudah beberapa hari ini ia rasakan.
"Dante, tunggu!"
Dante berhenti, napasnya tersengal. "Ada apa? Apa aku menyakitimu?"
Alicia justru bangkit duduk dan menarik gaun tidurnya sedikit ke bawah, menatap perutnya sendiri dengan cemas. "Dante... jujur padaku. Aku terlihat seperti gumpalan adonan roti yang kelamaan difermentasi, kan?"
Dante mengerjap, bingung dengan perubahan suasana yang mendadak. "Apa? Apa maksudmu?"
"Perutku! Lihat ini!" Alicia mencubit sedikit kulit di pinggangnya dengan wajah merana. "Pasca melahirkan Leo, aku merasa tubuhku kehilangan kewibawaannya. Garis-garis ini... apakah kau lebih suka melihat kulit Katerina yang kencang seperti habis botoks itu? Apakah itu alasan kau betah di Malta? Karena di sana tidak ada 'lemak' yang bergelambir seperti ini?"
Dante sempat terdiam dua detik sebelum akhirnya ia terkekeh, tawa yang benar-benar lepas. Ia menarik Alicia kembali ke pelukannya, menciumi perut istrinya yang sedang ia keluhkan itu dengan penuh pengabdian.
"Alicia, dengarkan aku," ucap Dante sambil menangkup wajah Alicia agar menatapnya. "Katerina mungkin punya tubuh seorang prajurit, tapi bagiku dia tak lebih dari sekadar patung manekin yang tak menarik. Perutmu ini... tubuhmu ini... adalah tempat di mana putraku tumbuh. Bagiku, setiap inci perubahan di tubuhmu adalah bukti bahwa kau adalah wanita terhebat yang pernah kumiliki. Aku tidak butuh otot yang kencang, aku butuh kau. Dan demi Tuhan, Alicia, tubuh yang kau sebut 'adonan roti' ini adalah hal paling indah yang ingin kusentuh seumur hidupku."
Alicia mengerucutkan bibirnya, meski matanya mulai berbinar. "Benarkah? Kau tidak sedang berbohong agar aku tidak memotong limit kartu kreditmu untuk biaya sedot lemak di Swiss, kan?"
"Aku serius, Sayang. Kau cantik, sangat cantik sampai aku harus membunuh egoku sendiri hanya untuk memohon agar kau tetap mencintaiku," jawab Dante, lalu ia kembali menarik Alicia ke dalam ciuman yang jauh lebih panas dari sebelumnya, menenggelamkan segala keraguan absurd istrinya dalam lautan gairah yang sudah ia tahan selama tiga malam sendirian.
Di luar pintu, Marcello yang baru saja hendak mengetuk untuk menanyakan jadwal sarapan, segera berbalik arah saat mendengar tawa Dante dan rengekan manja Alicia.
"Bambang," panggil Marcello melalui earpiece. "Batalkan pesanan teh kamomil. Siapkan sarapan besar untuk besok pagi. Bos sepertinya sedang melakukan 'latihan fisik' yang sangat intens untuk penebusan dosa."
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar yang mewah, sisa-sisa ketegangan Malta benar-benar mencair. Dante tidak hanya memberikan kata-kata manis, ia memberikan seluruh perhatian yang selama tiga hari ini tertahan oleh tembok pekerjaan dan intrik Katerina.
Sambil sesekali mengusap rambut Alicia yang kelelahan setelah "latihan fisik" penebusan dosa mereka, Alicia tidak lupa menjalankan "operasi pembersihan" di dunia digital melalui ponselnya yang sedari tadi berkedip.
Grup Chat: "The V-Queens
Alicia: Update: Ular Rusia sudah dipulangkan ke sarangnya dengan ekor terlipat. Dante sudah berlutut memohon ampun di depanku (sedikit hiperbola, tapi intinya dia menyesal).
Sofia (Marseille): Kerja bagus, Alicia! Kami sudah menyebarkan info di kalangan sosialita Malta bahwa Katerina mencoba menggoda pria beristri karena dia putus asa dengan hutang judinya. Kini Citranya hancur total.
Donna Maria: Dan jangan lupa, Alicia. Aku sudah memastikan kontrak suplai bajanya dibatalkan oleh tiga klan besar di Sisilia sebagai tanda solidaritas untukmu.
Alicia: Perfect. Biarkan dia tahu bahwa di dunia ini, kecantikan dan senjata bisa dikalahkan oleh pengaruh bahkan oleh seorang ibu.
Dante yang melirik sekilas ke arah layar ponsel Alicia hanya bisa menarik napas panjang. Ia menyadari bahwa istrinya jauh lebih berbahaya daripada departemen intelijen klan Vallo mana pun. Ia menarik Alicia lebih dekat, menenggelamkan istrinya dalam pelukan protektifnya sebelum akhirnya mereka terlelap dengan tenang.
Keesokan paginya, Dante terbangun bukan oleh suara kicauan burung Amalfi, melainkan oleh suara mesin amplas halus yang bergema dari ruang tengah. Ia keluar dengan kemeja longgar yang kancingnya terbuka separuh, dan menemukan pemandangan paling ajaib dalam hidupnya.
Tiga orang ahli pelapis logam dari Milan sedang bekerja dengan masker oksigen, sangat teliti menangani setiap sudut logam. Sementara itu, Bambang dan Marcello berdiri menjaga pintu aula seolah-olah ada rahasia negara atau bom nuklir yang sedang diproses. Kereta bayi emas itu kini perlahan mulai berubah warna menjadi merah muda keemasan yang lembut, rose gold.
"Ini warnanya, Bos," bisik Bambang saat Dante mendekat dengan wajah bingung. "Warna 'Matahari Terbenam di Atas Tas Hermes'. Itu deskripsi yang diberikan Nyonya. Kami harus mendatangkan spesialisnya langsung dengan helikopter tadi subuh."
Dante hanya bisa menggelengkan kepala, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Ia berjalan menuju dapur dan menemukan Alicia sedang berdiri anggun, menginstruksikan koki untuk membuat sarapan yang tidak hanya enak, tapi harus "estetik".
"Dante, kau sudah bangun?" Alicia menoleh dengan senyum kemenangan, seolah tidak terjadi drama hebat kemarin. "Lihat? Keretanya sudah hampir jadi. Dan aku memutuskan kita akan mengadakan jamuan makan malam kecil minggu depan. Kita harus menunjukkan pada dunia bahwa klan Vallo tidak terguncang, dan pewaris kita punya selera yang jauh lebih baik daripada klan Rusia itu."
Dante mendekati Alicia, mengabaikan tatapan canggung para koki yang sedang menata buah beri dengan pinset. Ia memeluk Alicia dari belakang, menghirup aroma rambut istrinya yang kini kembali harum mawar.
"Apa pun caramu menunjukkan kekuatan, aku akan mendukungmu. Tapi bisakah kita berjanji satu hal?" tanya Dante rendah.
"Apa?"
"Lain kali, jika kau marah, lemparkan saja sepatu mahalmu padaku. Tapi, Jangan biarkan aku pergi ke Malta sendirian lagi, setidaknya kau cegahlah aku. sebab Itu jauh lebih menyakitkan daripada kena lemparan sepatu," bisik Dante dengan nada yang tulus namun tetap berwibawa.
Alicia tertawa kecil, rasa percayanya yang sempat retak kini tertutup oleh kehangatan pelukan Dante. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang suaminya. "Sepatuku terlalu mahal untuk dilempar ke kepalamu yang keras itu. Lebih baik aku menyuruhmu mengecat seluruh vila ini dengan warna pink kalau kau berani pergi lagi tanpa pamit."
Dante terdiam sejenak, membayangkan vila bersejarah peninggalan leluhur Vallo di Amalfi berubah warna menjadi pink menyala. "Ok, aku janji tidak akan pergi lagi. Aku lebih memilih menghadapi sepuluh musuh bersenjata daripada tinggal di vila berwarna pink."
ayooo dante kasih alicia pelajaran biar jangan banyak mau nya mulu😔
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣