NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Café kecil di sudut jalan itu tidak terlalu ramai. Lampu-lampu kuning temaram menciptakan suasana hangat, kontras dengan udara London yang mulai dingin di luar.

Xerra sudah duduk lebih dulu di meja dekat jendela. Tak lama kemudian, Vio dan Rose masuk bersama masih mengenakan mantel tipis, wajah mereka tampak lelah namun lega setelah seharian bekerja.

“Maaf terlambat,” ujar Vio sambil duduk.

“Pelanggan terakhir cukup merepotkan.”

“Tidak apa-apa,” jawab Xerra lembut.

“Aku juga baru sampai.”

Rose tersenyum.

“Rasanya menyenangkan akhirnya bisa duduk tanpa memikirkan bunga dan pesanan.”

Mereka tertawa kecil. Percakapan mengalir ringan tentang hal-hal sederhana, tentang kehidupan yang perlahan berubah sejak pernikahan Xerra.

Tak lama, pintu café terbuka lagi.

Evans masuk, diikuti Ben dan Gerry.

Vio dan Rose langsung menoleh. Ada sedikit keterkejutan, tapi tidak canggung.

“Tuan Pattinson,” sapa Rose sopan.

“Selamat malam.”

“Selamat malam,” jawab Evans singkat, lalu menatap Xerra.

“Kau sudah lama menunggu?”

“Tidak,” jawab Xerra.

“Kami baru saja duduk.”

Evans mengangguk, lalu duduk di kursi di samping Xerra. Ben dan Gerry mengambil tempat di seberang, tanpa perlu diarahkan.

Untuk beberapa detik, suasana terasa canggung sampai Gerry menoleh ke arah Vio.

“Bagaimana toko hari ini?” tanyanya.

Vio terkejut sesaat, lalu menjawab,

“Cukup sibuk. Tapi kami sudah terbiasa.”

Ben melirik Rose.

“Kalian pulang cukup malam setiap hari?”

“Biasanya, ya,” jawab Rose tenang.

“Tapi kami menyukainya.”

Evans mengamati dari balik cangkir kopinya. Tatapannya tenang, namun penuh perhitungan.

Ia tidak menyela.

Tidak memotong percakapan.

Sebaliknya, ia condong sedikit ke arah Xerra dan berkata pelan,

“Biarkan mereka.”

Xerra menahan senyum.

“Om sengaja?”

“Sudah waktunya mereka belajar hidup di luar pekerjaannya,” jawab Evans datar.

“Aku tidak butuh bawahan yang hanya tahu bagaimana bertahan… tapi lupa bagaimana caranya hidup.”

Xerra menatapnya sejenak. Ada kehangatan di balik kata-kata itu.

Di seberang meja, percakapan mulai mengalir lebih alami.

Gerry mendengarkan Vio dengan penuh perhatian.

Ben tersenyum kecil pada Rose,senyum yang jarang ia tunjukkan,tapi sangat tulus.

Tidak ada paksaan.

Tidak ada rencana terbuka.

Hanya kemungkinan.

Dan Evans, untuk sekali ini, memilih tidak mengendalikan segalanya.

Suasana café yang semula hangat mendadak berubah ketika pintu terbuka kembali.

Sepatu hak tinggi terdengar jelas di lantai marmer.

Xerra adalah orang pertama yang menyadarinya.

Dona berdiri di dekat pintu, mengenakan mantel gelap dengan riasan sempurna. Tatapannya langsung tertuju pada satu orang yaitu Evans.

Dan kemudian… pada Xerra.

Ia melangkah mendekat tanpa ragu, berhenti tepat di sisi meja mereka.

“Menarik,” ucap Dona dengan senyum tipis yang sama sekali tidak ramah.

“London ini luas, tapi aku selalu menemukan kalian di tempat yang sama.”

Xerra mengangkat wajahnya, tenang.

“Kalau ingin duduk, silakan. Kalau tidak, kami sedang berbincang,jadi kau bisa pergi "

Dona tertawa kecil, sinis.

“Aku tidak datang untuk berbincang denganmu.”

Matanya beralih ke Evans.

“Aku ingin bicara dengan suamimu.”

Evans meletakkan cangkirnya perlahan. Suaranya rendah, dingin, dan tegas.

“Kau sedang bicara dengan istriku. Jaga nada bicaramu.”

Wajah Dona mengeras.

“Kau Masih terus melindunginya, Evans?”

Ia mendekat setengah langkah.

“Padahal kau tahu siapa aku. Kau tahu apa yang bisa kuberikan untukmu.”

Xerra tetap diam. Ia hanya menggenggam tangannya sendiri di bawah meja.

Evans berdiri.

Gerakannya tenang tapi membuat udara di sekitar mereka terasa menekan.

“Aku tahu siapa dirimu, Dona,” kata Evans.

“Aku juga tahu apa yang kau inginkan dariku”

Dona menegakkan dagu.

“Kalau begitu, kau juga tahu bahwa pilihanmu… mengejutkan banyak orang.”

Evans menatapnya lurus.

“Pendapat orang lain tidak pernah menjadi pertimbanganku.”

Dona tersenyum miring.

“Lalu dia?”matanya menusuk ke arah Xerra

“Apa istimewanya dia sampai kau menolak segalanya demi wanita seperti ini?”

Ruangan terasa sunyi.

Ben dan Gerry menegang.

Vio dan Rose saling berpandangan, gelisah.

Xerra akhirnya berdiri.

Namun Evans lebih cepat.

Ia meraih tangan Xerra dan menggenggamnya erat,jelas,dan tanpa ragu, tanpa niat menyembunyikan apa pun.

“Dia istriku,” ucap Evans tegas.

“Dan aku mencintainya.”

Wajah Dona merah karena amarah

“Kau....apa?” suaranya melemah, lalu meninggi.

“Mencintainya?”

Evans mengangguk sekali.

“Aku memilihnya bukan karena kenyamanan.

Bukan karena latar belakang.

Bukan karena dia mudah dikendalikan.”

Ia menatap Dona tanpa emosi.

“Aku memilihnya karena aku ingin hidup dengannya.”

Xerra menoleh, matanya sedikit berkaca-kaca.

“Om…”

Evans meliriknya sejenak, suaranya melunak hanya untuknya.

“Aku di sini. Tidak apa-apa.”

Lalu kembali pada Dona.

“Dan aku tidak akan pernah memilih wanita yang menganggap cinta sebagai transaksi.”

Wajah Dona memucat.

“Kau menolakku… demi dia?”

“Gadis ini?”

Xerra menatap Dona dengan tenang.

“Aku tidak meminta dia memilihku.

Dia datang sendiri.”

Kalimat itu seperti tamparan.

Dona tertawa tajam, penuh luka.

“Kau pikir ini akhir?”

Ia mendekat sedikit, berbisik penuh racun ke arah Xerra.

“Wanita sepertimu tidak akan pernah benar-benar aman di dunia Evans.”

Evans langsung bergerak.

Ia berdiri di depan Xerra, menutup jarak mereka sepenuhnya.

“Kalau kau menyentuhnya,” ucapnya dingin,

“atau bahkan berpikir untuk menyakitinya

aku tidak akan peduli siapa ayahmu.”

Dona menatap mata Evans.

Ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan darinya.

Kesetiaan.

Ia mundur selangkah, tersenyum tipis,senyum orang yang kalah, tapi belum menyerah.

“Baik,” katanya pelan.

“Kalau begitu… jaga dia baik-baik.”

Lalu ia pergi.

Pintu café tertutup di belakangnya.

Xerra menghembuskan napas panjang.

Evans berbalik, langsung memegang wajah Xerra dengan kedua tangannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Xerra mengangguk.

“Aku tidak apa-apa”

Evans menempelkan dahinya ke dahi Xerra.

“Bagus. Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkanmu.”

Di luar café, Dona berdiri di trotoar, tangannya mengepal erat.

Tatapan matanya gelap.

“Xerra…” gumamnya penuh kebencian.

“Kalau aku tidak bisa memilikinya…

maka kau juga tidak pantas bahagia.”

Dan di sanalah, dendam itu mulai tumbuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!