Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML029~ Masa Lalu Syeera
"Kakek, Ziya udah ganti baju."
"Wah, cucu kakek cantik sekali. Eh, ini tangannya kenapa?"
Alena menatap Ziya dan menggeleng pelan tanda ia melarang Ziya menceritakan yang sebenarnya.
"Oh, ini Ziya abis main kejar-kejaran sama Mama, eh Ziya malah jatoh." jawabnya dengan dramatis.
"Kasihan sekali cucu Kakek, pasti sakit..."
Ziya mengacungkan jempol.
"Rasanya hanya seperti digigit semut raksasa."
"Papa, Alena belum masak. Alena tinggal ke dapur dulu ya."
"Tidak perlu repot-repot, Nak. Tinggal pesan online saja. Biar Papa yang pesan."
Ziya menggaruk tengkuknya, perutnya saja masih belum selesai mencerna makanan yang baru dimakan bersama Pak Alex dan Axan, ia sudah tau Kakeknya ini tidak akan membiarkan dirinya makan sedikit.
"Kakek pesen dikit aja ya, Ziya lagi nggak nafsu makan." ucapnya berbohong, Alena bergegas ke dapur untuk membuatkan minum.
"Kalau begitu biar Kakek belikan jamu penambah nafsu makan sekarang juga."
Ziya terlonjak, dengan cepat ia menggeleng.
"Nggak usah, Ziya nggak mau jamu."
"Ziya masih dalam tahap pertumbuhan, tidak boleh makan sedikit."
"Ck, kalau di tolak nanti Kakek sedih, kalau di terima nanti perutku yang meledak." batin Ziya.
"Emmm kalau gitu Ziya mau dibeliin keripik aja, yang wadahnya besar."
"Hmmm baiklah, asal Ziya senang."
Ziya menghela napas lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari menjelang malam, Ziya dan Alena mengantar Kakeknya sampai di teras rumah.
"Aduh, perut Ziya kayak orang hamil, Ma." eluhnya sambil mengusap perutnya yang membuncit karena banyak makan.
"Habis ini ikutin Mama, kita jalan santai keliling di rumah biar Ziya nggak sakit perut, nggak boleh langsung tiduran."
"Siap!"
Baru saja kaki Alena melangkah masuk, sebuah panggilan membuatnya menoleh ke belakang.
"Permisi, ini rumah Alena?"
Ziya ikut menoleh.
"Loh, itu kan Tante yang ngaku Mamanya Xan." kata Ziya dengan suara pelan.
Syeera berjalan menghampiri Ziya dan Alena yang masih diam di depan pintu, raut wajahnya mengisyaratkan dirinya sedang gugup.
"Maaf, aku datang tanpa mengabari lebih dulu." ucapnya.
"Tante kan bukan temannya Mama, emang bisa ngabarin?" tanya Ziya tanpa saringan, Alena menyenggol pelan bahu Ziya.
"Aku punya suatu hal untuk dibahas, apakah kamu bisa meluangkan waktu sebentar saja?" ungkap Syeera.
Terlepas dari kebingungan didalam kepalanya, Alena mau tidak mau harus mempersilahkan Syeera masuk sebagai seorang tuan rumah.
"Sebentar lagi Maghrib, kita ngomong di dalem aja."
Syeera mengangguk, ia mengikuti langkah Alena dan Ziya ke dalam rumah.
"Silahkan duduk, aku buatkan minum dulu." ucap Alena.
"Ziya mau ke kamar, capek." pamit Ziya, kakinya dengan cepat menaiki anak tangga, tidak sabar rasanya menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur yang nyaman itu.
Alena kembali membawa segelas minuman sirup rasa jeruk dan menyuguhkannya pada Syeera.
"Maaf, hanya bisa membuatkanmu ini." ucap Alena.
"Terima kasih, maaf sekali kedatanganmu mengganggu waktu rehatmu." ucap Syeera, ia langsung mengambil minuman dari meja dan meminumnya sedikit untuk menghormati Alena.
"Apakah kamu masih ingat padaku? Kita pernah bertemu kemarin lusa di sekolah Axan." tanya Syeera.
"Ya, aku inget."
"Syukurlah.." Syeera tersenyum.
Entah mengapa hati Alena berisik, gelisah dan tidak tenang saat melihat Syeera. Cara bicara Syeera mengingatkannya pada Silvi, dari nada dan ramahnya.
"Sebenarnya aku ingin bercerita sesuatu padamu. Emmm sebelumnya apakah aku boleh tau namamu?"
"Alena, panggil aja itu." jawab Alena.
"Nama yang indah," puji Syeera.
"Makasih."
"Terkait Axan... Aku tidak berbohong, Alena." ungkap Syeera dengan raut wajah serius.
"Apa kamu Ibu Kandungnya Xan?" tanya Alena dan dijawab anggukan dari Syeera.
"Dulu aku sungguh terpaksa menitipkan Axan dan Panti Asuhan itu, aku tidak punya cara lain, aku tidak mungkin membawanya luntang-lantung dijalanan bersamaku. Saat itu ku lihat panti asuhan itu dihuni banyak anak-anak, para pengasuhnya pun terlihat sangat tulus menyayangi anak-anak disana, aku berpikir ini adalah tempat yang pas untuk menitipkan anakku."
Alena mendengarkan dengan seksama, tanpa Syeera sadari Alena sudah mengaktifkan perekam suara sedari tadi saat kembali dari dapur untuk membuatkan minum yang disuguhkan pada Syeera, mungkin ini akan berguna untuk Pak Alex nantinya.
Syeera mengingat malam itu.
7 tahun yang lalu...
Hujan begitu deras membasahi bumi, ia bernaung disebuah toko yang sedang tutup, di tangannya seorang bayi mungil sedang terlelap, tubuhnya dibalut pakaian tipis, Syeera menangis tanpa suara dan terus membelai lembut pipi anaknya. Ia memandangi panti asuhan di seberang jalan yang ia perhatikan sejak tadi siang. Disebelah kakinya terdapat sebuat kardus berisi beberapa pakaian bayi yang sudah bekas orang.
"Maafkan Bunda, sayang." ucapnya sembari mengecup pipi gembil bayinya.
Hujan mulai reda, Syeera melihat lampu panti mulai di matikan. Melihat suasana yang sudah sepi, dengan ditemani sisa tetes air hujan yang jatuh dari ujung dedaunan, Syeera berjalan dengan lemas menuju gerbang panti, gerbang itu tidak terlalu tinggi, jadi ia masih bisa terlihat dari dalam panti, buru-buru ia menggedor pintu gerbang beberapa kali dengan keras.
Tangis bayinya pecah kala mendengar suara gedoran yang dilakukan Ibunya, Syeera menatap anaknya sekali lagi.
"Maafkan Bunda sayang... Semoga hidupmu jauh lebih beruntung setelah ini." ucapnya lirih.
Syeera menyadari pintu utama panti terbuka, ia langsung berlari dengan cepat, menjauh sejauh mungkin dari panti agar tidak bisa ditangkap.
"Maafkan Bunda.. Hikss." ucapnya.
Bu Ajeng dan Ayu membuka pintu gerbang, mereka melihat seorang bayi kecil sedang menangis di depan pintu gerbang.
"Ayu, kamu sempat lihat wajah orang tadi?" tanya Bu Ajeng.
"Tidak, Bu. Yang pasti dia perempuan, mungkin dia Ibu dari bayi ini." jawab Ayu.
Bu Ajeng lekas membawa bayi itu ke dalam pelukannya, tidak tega melihat bayi itu yang mulai menggigil. Satu jam berlalu, Syeera kembali ke panti itu, ia sudah tidak melihat anaknya lagi.
"Sepertinya orang Panti sudah mengambilmu... Nak, kelak setelah Bunda bisa kembali bangkit, Bunda akan menjemputmu. Tunggu Bunda ya.."
"Syeera?"
Panggilan Alena membuyarkan lamunan Syeera.
"Aku kawin lari dengan pria yang ku cintai, aku buta akan rayuannya, ku lawan Ibuku yang sudah renta demi bisa bersamanya, ekonomi keluargaku terbilang sangat berkecukupan, berbeda dengan laki-laki itu. Aku pikir aku bisa bahagia seperti orang lain yang menikahi pria sederhana tetapi pria itu meratukan wanitanya. Tidak di duga, aku hanya dapat pahitnya. Saat hamil Axan, aku melihat suamiku berselingkuh, aku memutusan pergi kembali pada Ibuku, namun aku di usir begitu saja. Kerja pun aku sungguh tidak sanggup terlebih aku hampir melahirkan. Aku ditipu, gajiku hanya dibayar 300 ribu, bisa apa aku dengan uang 300 ribu? Aku di usir dari kost karena sudah menunggak 1 bulan, aku melahirkan Axan dengan bantuan orang sekitar, namun aku kembali terkena fitnah tuduhan menggoda suami orang, aku di usir, aku putus asa dan tidak punya pilihan lain selain membiarkan anakku hidup di panti."
Alena ikut merasa pilu mendengarnya, seorang perempuan jika tidak punya prinsip, tidak punya penghasilan dan tidak punya tameng kuat untuk menghempas gombalan laki-laki maka hasilnya kurang lebih akan seperti yang Syeera alami.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin