Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Perangkap Es di Lembah Guanshan
Terompet perang dari tanduk kerbau liar kembali bertalu, suaranya menggelegar membelah kabut fajar yang menyelimuti seluruh Celah Guanshan. Salju tipis yang turun sejak malam membungkus bebatuan terjal dengan lapisan es yang licin. Dari arah barat lembah, derap kaki ribuan kuda perang terdengar bergemuruh, menggetarkan tanah perbatasan. Kavaleri besi Kerajaan Bei yang dipimpin oleh Panglima Davin bergerak maju dalam formasi tombak yang rapat, memanfaatkan kepanikan pasca-kebakaran logistik semalam untuk melancarkan serangan balasan kilat.
Di atas puncak tebing tertinggi, Lin Meilin berdiri tegak mendampingi Kaisar Long Feng. Pakaian pelindung perak gelap miliknya berkilat tertimpa cahaya fajar yang suram. Di tangannya, ia memegang sebuah bendera isyarat taktis berwarna merah darah.
"Mereka masuk ke dalam perangkap sesuai kalkulasimu, Rubah Kecil," ujar Long Feng, suara baritonnya yang berat terdengar sangat dingin dan sarat akan dominasi mutlak seorang dewa perang. Jubah naga emas hitamnya berkibar diterpa angin kencang. Sepasang mata elangnya mengunci sosok pria berkuda di barisan terdepan musuh—pria berwajah Davin yang mengenakan pelindung baja hitam dengan jubah bulu serigala kelabu.
"Davin terlalu percaya diri dengan kecepatan kavaleri besinya," balas Meilin, sepasang mata elangnya menyipit tajam penuh perhitungan sains militer abad ke-21. "Di dunia modern, formasi tombak seperti itu sangat rentan terhadap penyempitan jalur botol (bottleneck). Dia mengira koridor lembah ini kosong, tanpa menyadari bahwa es di bawah kaki kudanya telah kita modifikasi."
Meilin mengangkat tangan kanannya, lalu mengibaskan bendera merahnya ke bawah dengan satu gerakan tegas.
Blar! Blar! Blar!
Rangkaian ledakan dari bubuk fosfor peledak ringan yang telah ditanam oleh unit komando Meilin semalam mendadak meledak hebat di sepanjang dinding tebing koridor lembah. Ledakan itu tidak mengincar prajurit musuh secara langsung, melainkan meruntuhkan ribuan ton batu dan es raksasa dari atas tebing, langsung menutup jalur mundur kavaleri besi Kerajaan Bei dalam sekejap mata.
Tidak hanya itu, panas dari ledakan fosfor melelehkan lapisan es di permukaan tanah dengan cepat, mengubah jalur pertempuran menjadi kubangan lumpur cair yang licin dan dalam. Kuda-kuda kavaleri musuh langsung kehilangan traksi, tergelincir, dan saling bertubrukan satu sama lain dalam kekacauan massal yang luar biasa besar.
"Sial! Ini jebakan taktis! Tahan formasi!" teriak komandan klan Hua dari barisan tengah, namun suaranya tenggelam oleh jeritan kepanikan prajuritnya.
Panglima Davin yang berada di barisan terdepan berhasil menahan kendali kudanya dengan pengerahan Qi internal tingkat puncak yang luar biasa padat. Ia mendongak, menatap lurus ke arah puncak tebing tempat Meilin berdiri. Kilatan amarah dan pengenalan taktis yang pekat terpancar dari sepasang mata dinginnya. Dari jarak ratusan meter, ia bisa mengenali postur tubuh dan gaya strategi dingin milik mantan rekan agensinya di The Ghost.
"Lin Meilin... ternyata kau benar-benar masih hidup di dunia terkutuk ini," desis Davin, suaranya yang dilapisi kekuatan dalam menggelegar menembus riuh pertempuran.
"Gao Zan! Kibarkan panji perang! Serang!" perintah Long Feng penuh otoritas mutlak.
Long Feng tidak menunggu lebih lama lagi. Rasa cemburu posesif dan amarahnya yang membara terhadap pria dari masa lalu Meilin mendorongnya untuk langsung melompat turun dari tebing setinggi belasan meter tersebut. Tubuh tingginya melesat ringan bagai seekor naga hitam yang turun dari langit, membelah kabut fajar dengan pedang pusaka kekaisarannya yang telah diselimuti oleh aura Qi emas yang sangat padat.
Bum!
Long Feng mendarat tepat di tengah barisan depan kavaleri musuh, hempasan energi kekuatan dalamnya menciptakan gelombang kejut yang melempar sepuluh prajurit beserta kuda mereka hingga terpelanting ke udara. Tanpa memberi ampun, sang Kaisar mengayunkan pedangnya dengan sapuan melingkar yang mematikan, menebas rantai besi pelindung musuh seolah itu hanya benang tipis.
Melihat kedatangan kaisar dewa perang, Davin tidak mundur. Ia melompat turun dari kudanya, menarik sebuah pedang besar berukir kepala serigala besi dari punggungnya. Energi Qi hitam yang pekat—hasil kultivasi terlarang dari sekte luar negeri Kerajaan Bei—meledak dari tubuh tegapnya.
"Kaisar Dinasti Long... kau ingin menjadi pahlawan untuk wanita jalang itu?" ejek Davin dengan senyuman sinis yang sangat dingin saat ia melangkah mendekat.
"Mulut kotormu tidak pantas menyebut namanya di hadapanku, bajingan," balas Long Feng, nadanya sangat rendah namun mengandung getaran membunuh yang begitu pekat hingga membuat tanah bersalju di sekitar kaki mereka mendadak retak.
Ting! Dang! Blar!
Duel maut dua penguasa militer tertinggi antar-dimensi pecah di tengah lembah Guanshan yang berlumpur. Benturan pedang emas Long Feng dan pedang hitam Davin menciptakan percikan api dan gelombang ledakan energi Qi yang sangat dahsyat, memaksa para prajurit di sekitar mereka untuk mundur menjauh demi menyelamatkan nyawa mereka sendiri.
Di atas tebing, Meilin mengamati jalannya duel dengan belati perang yang tergenggam erat di jemarinya. Meskipun ia tahu Long Feng memiliki kapasitas kekuatan dalam yang luar biasa besar, gaya bertarung Davin sangat licik dan dipenuhi oleh teknik infiltrasi kotor khas agen The Ghost.
Pertempuran es di Celah Guanshan kian memanas, dan malam sebelum kemenangan mutlak dicapai akan menjadi saksi dari pertumpahan darah terbesar yang melibatkan dendam masa lalu dan gairah kepemilikan mutlak di masa kini.
Gelombang energi Qi berhamburan mencerai-beraikan lumpur dan es di dasar Lembah Guanshan. Benturan pedang antara Kaisar Long Feng dan Panglima Davin menghasilkan gaung berdenting yang memekakkan telinga. Setiap ayunan senjata Long Feng membawa berat otoritas kekaisaran yang masif, sementara Davin membalasnya dengan gerakan meliuk yang aneh, licik, dan sarat akan efisiensi beladiri modern.
"Kau memiliki kemampuan yang hebat untuk ukuran orang kuno," ejek Davin. Tubuhnya melesat mundur beberapa langkah setelah menerima hantaman berat dari pedang emas kaisar. Sudut bibirnya berdarah, tetapi sepasang matanya yang sedingin es tetap memancarkan kilatan manipulatif.
Long Feng tidak membalas provokasi tersebut dengan kata-kata. Aura membunuhnya yang pekat justru kian mencerat. Hasrat untuk melenyapkan pria yang pernah merenggut nyawa Meilin di masa depan membuat aliran Qi keemasannya mengalir dua kali lebih deras, memanaskan udara dingin di sekeliling mereka hingga salju yang turun langsung menguap sebelum menyentuh tanah.
Namun, Davin bukanlah musuh biasa yang mengandalkan keadilan bertarung tradisional.
Saat Long Feng menerjang maju untuk melakukan tebasan vertikal yang mematikan, Davin mendadak merunduk ke sudut mati yang tidak biasa bagi pendekar zaman kuno. Menggunakan tangan kirinya yang bebas, ia meraba mekanisme rahasia di balik sabuk baja hitamnya. Sebuah senjata modifikasi berwujud silinder besi kecil—pistol jarum mekanis buatan modern yang ia rakit menggunakan sisa pengetahuannya—muncul di tangannya.
Syuut! Syuut!
Dua batang jarum hitam tipis melesat dari moncong silinder tersebut dengan kecepatan tinggi, mengincar langsung ke arah titik saraf jantung Long Feng yang sedang terbuka saat mengayunkan pedang. Jarum-jarum itu telah dilumuri dengan ekstrak racun saraf dosis tinggi yang bisa menghentikan detak jantung dalam tiga hitungan nadi.
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
semangat ya
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?
Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.
Hamba butuh dukungan kalian
semangat thor nulisnya nya🤭
kalo berkenan mampir thor😉