Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelindung di balik seragam
Sekolah baru Elric, Jakarta International High, adalah dunia yang sangat berbeda dengan pesisir Brebes. Di sini, koridornya berbau pembersih lantai yang mahal dan deru mesin mobil mewah selalu terdengar saat jam pulang. Bagi Elric, ini adalah kesempatan, tapi juga medan perang baru.
Di hari ketiganya, Elric sedang duduk di kantin sambil membaca buku fisikanya yang tebal. Ia sedang mengejar ketertinggalan materi. Tiba-tiba, mejanya digebrak oleh sekelompok siswa kelas dua belas.
"Hei, anak baru," panggil salah satu dari mereka, seorang remaja laki-laki dengan jam tangan mahal yang melingkar di tangannya. "Aku dengar kamu masuk lewat jalur 'khusus' dari CEO Arshaka. Memangnya kamu siapa? Adiknya supir atau cuma anak pungut?"
Elric mencoba tenang. Ia teringat pesan kakaknya untuk tidak terpancing. "Aku di sini untuk belajar," jawabnya tanpa mendongak.
"Belajar atau mencuci kaki tuan besarmu?" ejek mereka yang disambut tawa oleh siswa lainnya. "Bau badannya masih bau ikan asin, ya?"
Saat salah satu dari mereka mencoba merampas buku Elric, sebuah tangan besar mencengkeram bahu siswa tersebut dari belakang. Suasana kantin mendadak sunyi senyap. Elric mendongak dan terkejut melihat Ravion berdiri di sana, mengenakan kemeja biru navy yang rapi namun tatapannya sekeras batu karang.
"Lanjutkan kalimatmu, Nak. Aku ingin dengar bagian 'bau ikan asin' itu sekali lagi," ucap Ravion dengan suara rendah yang mengancam.
Remaja-remaja itu pucat pasi. Mereka mengenali wajah Ravion—wajah yang sering muncul di sampul majalah bisnis dan merupakan donatur utama yayasan sekolah ini.
"P-Pak Ravion... kami hanya bercanda," gagap pemimpin kelompok itu.
Ravion tidak melepaskan cengkeramannya. "Bercanda itu jika semua orang tertawa. Tapi jika adik iparku tidak tertawa, itu namanya penindasan. Dan aku punya kebijakan yang sangat ketat soal penindasan terhadap keluargaku."
Ravion menatap tajam ke arah kepala sekolah yang baru saja berlari menghampiri dengan keringat dingin di dahi. "Pak Kepsek, pastikan anak-anak ini mendapatkan bimbingan konseling yang tepat. Atau jika tidak, aku rasa gedung perpustakaan baru yang aku janjikan perlu ditinjau ulang."
"T-tentu, Pak Ravion! Segera kami urus!" sahut kepala sekolah gugup.
Setelah gerombolan itu pergi dengan tunggang langgang, Ravion duduk di samping Elric. Ia mengambil botol air mineral dari tasnya dan memberikannya pada adik iparnya.
"Kenapa kakak ke sini?" tanya Elric, meskipun matanya memancarkan rasa terima kasih yang besar.
"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak kesulitan dengan materi fisikamu," bohong Ravion. Padahal ia sengaja mampir karena firasatnya tidak enak. "Ayo, habiskan makanmu. Sore ini kita pulang bersama Kakakmu."
Sementara itu, di sebuah butik mewah di pusat kota, Calista Ziva sedang menghancurkan gelas sampanye di tangannya. Rasa terhina setelah diusir oleh Elfesya pagi tadi masih membekas di dadanya. Ia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh siapa pun, apalagi oleh wanita yang ia anggap "rakyat jelata".
"Dia pikir dia sudah menang?" desis Calista pada asisten pribadinya yang ketakutan. "Dia pikir setelah Ravion menjemputnya ke desa kumuh itu, semuanya selesai? Belum."
Calista mengambil ponselnya dan menghubungi seorang wartawan dari media gosip papan atas yang sering ia beri informasi. "Halo, Toni? Aku punya berita besar. Tentang pernikahan rahasia CEO Arshaka. Dan aku punya bukti bahwa pengantin wanitanya adalah anak dari pemilik perusahaan bangkrut yang dulu 'dihabisi' oleh ayahnya sendiri. Bayangkan skandalnya: 'Cinta di Atas Darah Bisnis'."
Calista tersenyum licik. Ia tahu bahwa meskipun Ravion sedang jatuh cinta, Arshaka Group sangat sensitif terhadap citra publik. Jika rahasia tentang bagaimana keluarga Arshaka menghancurkan keluarga Elfesya terbongkar ke publik, para pemegang saham akan menekan Ravion untuk menceraikan Elfesya demi menyelamatkan harga saham perusahaan.
"Aku akan menghancurkan kebahagiaanmu, Elfesya. Jika aku tidak bisa memiliki Ravion, maka tidak ada orang yang boleh memilikinya dalam keadaan damai," gumam Calista.
Ia kemudian mengirimkan foto-foto Elfesya saat bekerja di gudang ikan—yang ia dapatkan dari mata-matanya—untuk mempermalukan citra berkelas keluarga Arshaka. Calista merasa terhina karena Ravion lebih memilih wanita yang berkeringat dan bau amis daripada dirinya yang selalu tampil sempurna. Baginya, ini bukan lagi soal cinta, tapi soal harga diri yang terluka.
Malam harinya di apartemen, suasana tampak hangat. Elric sedang bercerita tentang kejadian di kantin dengan semangat, sementara Elfesya memasak makan malam. Ravion duduk di sofa, memperhatikan mereka dengan senyum yang tidak pernah hilang.
Namun, kedamaian itu pecah saat ponsel Ravion berdering terus-menerus. Puluhan notifikasi berita masuk.
[BREAKING NEWS: Skandal Tersembunyi Arshaka Group – CEO Menikahi Putri Korban Kebangkrutan yang Disebabkan Ayahnya Sendiri!]
Ravion membaca judul berita itu dengan wajah yang mendadak mengeras. Ia melirik Elfesya yang masih tersenyum di dapur. Ia tahu, Calista telah menabuh genderang perang yang sangat berbahaya.
"Ada apa, Ravion?" tanya Elfesya, menyadari perubahan ekspresi suaminya.
Ravion segera mematikan layar ponselnya. Ia berdiri dan menghampiri Elfesya, memegang kedua bahunya dengan erat. "Apapun yang kamu dengar di berita besok, jangan percaya. Dan jangan buka media sosial untuk sementara waktu. Aku yang akan membereskannya."
Elfesya terdiam, firasat buruk mulai merayapi hatinya. "Calista?"
Ravion mengangguk pelan. "Dia bermain api. Dan kali ini, aku akan pastikan dia terbakar habis."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...