NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Ledakan di Tengah Malam dan Evakuasi Taktis

TaktisKehangatan yang baru saja menyatukan bibir Riko dan Rani mendadak membeku dalam hitungan detik. Keheningan malam yang romantis di dalam kamar tidur utama hancur berkeping-keping oleh sebuah suara yang teramat mengerikan.

DUMMM!!!

Sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh fondasi rumah mewah Rani. Getarannya begitu kuat hingga kaca-kaca jendela besar di kamar mereka retak serentak, dan beberapa pajangan kristal di atas lemari jatuh menghantam lantai, hancur berkeping-keping.

Bzzzt... Klek!

Sistem kelistrikan utama rumah langsung padam total, melemparkan seluruh ruangan ke dalam kegelapan yang pekat. Detik berikutnya, suara melengking nyaring dari alarm kebakaran (smoke detector) mulai melolong memekakkan telinga dari arah koridor luar, disusul oleh suara gemuruh api yang mulai melalap dinding bagian belakang rumah.

Rani menjerit kecil, tubuhnya tersentak panik di bawah dekapan Riko. Ego Alpha Woman-nya yang biasa mendominasi ruang rapat mendadak lumpuh total oleh teror fisik yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. "R-Riko! Apa yang terjadi?!"

Riko tidak membuang waktu satu detik pun untuk panik. Otak taktisnya langsung bekerja dengan kecepatan penuh di tengah kegelapan. Dia langsung bangkit, menarik Rani ke dalam perlindungannya.

"Hendra. Bajingan itu benar-benar meledakkan pipa gas belakang," desis Riko, suaranya terdengar sangat berat, dingin, namun sarat akan ketenangan yang luar biasa.

Dalam kegelapan, Riko menyambar ponsel taktisnya yang langsung menyala merah, menampilkan status perimeter keamanan yang jebol. Suara tembakan terdengar bersahut-sahutan dari arah halaman depan melalui interkom ponselnya. Anak buah Hendra yang tersisa sengaja melakukan serangan bunuh diri untuk menciptakan kekacauan.

"Tuan Riko! Sisi belakang rumah terbakar! Tim Alfa tertahan di gerbang depan oleh serbuan dua mobil tak dikenal!" suara kepala keamanan berteriak panik dari pengeras suara ponsel.

"Gunakan amunisi non-lethal, tahan mereka di depan! Aku akan mengevakuasi Rani lewat jalur bawah tanah sekarang!" perintah Riko tegas, lalu mematikan sambungan.

Riko berbalik menatap Rani yang tubuhnya mulai gemetar karena hawa dingin ketakutan dan asap hitam yang mulai menyelinap masuk dari celah bawah pintu kamar. Tanpa banyak bicara, Riko membungkuk, menyusupkan tangan kekarnya di bawah lutut dan punggung Rani, lalu mengangkat tubuh ramping wanita itu ke dalam gendongan bridal style-nya dengan sangat mudah.

Rani terkesiap, secara refleks melingkarkan kedua tangannya di sekeliling leher tegap Riko, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Monolog batin Rani bergejolak hebat di antara rasa ngeri mendengarkan suara tembakan di luar dan rasa takjub yang luar biasa pada ketangguhan fisik pria yang mendekapnya ini. 'Di saat seluruh duniaku runtuh dan terbakar... dia bahkan tidak berkedip sedikit pun. Pria ini... dia benar-benar tameng hidupku.'

"Pegang erat-erat, Rani. Jangan lepaskan tanganmu dariku apa pun yang terjadi," bisik Riko rendah di dekat telinga Rani, suaranya yang mantap menjadi satu-satunya penenang di tengah badai.

Riko melangkah lebar menerobos pintu kamar, menendangnya hingga terbuka. Koridor luar sudah dipenuhi oleh kabut asap abu-abu yang pekat dan hawanya mulai terasa panas menyengat. Dengan penglihatan malamnya yang tajam, Riko bergerak cepat menghindari jilatan api yang mulai merayap di dinding karpet.

Bukannya turun menuju tangga utama yang mengarah ke lobi depan—di mana suara tembakan masih terdengar riuh—Riko justru membawa Rani menuju ke arah dapur bersih di lantai bawah melalui tangga pelayan yang tersembunyi.

Langkah kaki Riko yang dibalut sepatu taktis bergerak tanpa suara namun sangat cepat. Begitu tiba di area dapur yang sudah berantakan, Riko menurunkan Rani di dekat sebuah lemari penyimpanan anggur besar yang terbuat dari baja.

Riko meraba bagian bawah rak ketiga, menekan sebuah tombol mekanis yang tersembunyi di balik panel kayu.

Klek... Srrrrt.

Dinding di balik lemari anggur itu perlahan bergeser, membuka sebuah jalur lorong sempit yang diterangi oleh lampu darurat bertenaga baterai yang redup. Itu adalah jalur evakuasi bawah tanah yang sengaja dibangun oleh arsitek kepercayaan keluarga Rani puluhan tahun lalu, dan hanya Riko yang sempat mempelajari cetak birunya sore tadi.

"Jalur ini tembus ke area gorong-gorong sekunder di luar perimeter rumah, berjarak dua ratus meter dari sini. Mobil cadanganku sudah siap di sana," ujar Riko sembari menarik tangan Rani agar masuk terlebih dahulu ke dalam lorong.

Namun, belum sempat mereka melangkah masuk, sebuah suara tawa yang melengking gila dan parau terdengar dari arah pintu masuk dapur yang gelap.

"Hahaha... mau lari ke mana kalian, Tikus-tikus kecil?!"

Riko langsung menarik tubuh Rani ke belakang punggung tegapnya, memasang posisi protektif mutlak. Mata elangnya menyipit tajam menembus kegelapan dan kepulan asap dapur.

Di sana, berdiri Hendra Wijaya. Penampilannya sudah tidak lagi menyerupai seorang pengusaha muda yang klimis. Setelan jasnya sudah robek dan kotor terkena jelaga, rambutnya berantakan, dan matanya merah menyala memancarkan kegilaan tingkat tinggi. Di tangan kanannya, Hendra menggenggam sebuah pistol revolver hitam yang diarahkan lurus ke arah dada Riko.

"Hendra... hentikan kegilaanmu! Kamu sudah hancur, jangan tambah catatan kriminalmu!" teriak Rani dari balik punggung Riko, suaranya bergetar melihat moncong senjata api tersebut.

"Hancur?! Ya! Aku memang sudah hancur karena kalian berdua!" raung Hendra histeris, tangannya yang memegang pistol gemetar hebat akibat luapan emosi gila. "Sahamku habis! Perusahaanku disita! Paman Broto mengkhianatiku! Semua karena tikus bangkrut ini!" Hendra mengarahkan pistolnya tepat ke wajah Riko. "Kamu merebut proyekku, kamu merebut posisiku, dan kamu merebut wanita yang harusnya menjadi milikku, Riko! Malam ini... kita semua mati bersama di sini!"

Riko menatap moncong pistol itu tanpa ada rasa takut sedikit pun di wajah garis kerasnya. Aura dominasi elang pemangsanya justru keluar semakin pekat, mengintimidasi Hendra yang mentalnya sudah rapuh.

"Kamu tidak pernah memiliki Rani, Hendra. Kamu hanya mencintai hartanya dan egomu sendiri," ujar Riko, suaranya begitu tenang, berat, dan dingin, sengaja memancing emosi Hendra agar fokusnya teralih. "Pria sejati tidak akan pernah mengarahkan senjata kepada wanita yang katanya dia cintai. Kamu hanyalah seorang pecundang yang sedang merengek di tengah kekalahan."

"TUTUP MULUTMU!!!" bentak Hendra murka, wajahnya memerah padam.

Di saat Hendra berteriak dan fokus matanya berkedip karena amarah, Riko memanfaatkan celah seperskian detik itu dengan insting bertarungnya yang luar biasa.

Riko melakukan gerakan manuver yang sangat cepat. Dia menendang sebuah kursi makan besi di dekatnya hingga meluncur keras menghantam kaki Hendra.

Brak!

"Argh!" Hendra memekik kesakitan, keseimbangannya goyah.

Bersamaan dengan itu, Riko melompat maju, menerjang tubuh Hendra sebelum pria gila itu sempat menarik pelatuk senjatanya. Kedua pria itu berguling di atas lantai dapur yang berdebu. Riko menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram pergelangan tangan Hendra yang memegang pistol, lalu menghantamkannya ke lantai marmer dengan keras.

Plak! Ktang!

Pistol revolver itu terlepas dari tangan Hendra, menggelinding jauh ke kolong lemari. Riko tidak memberi napas sedikit pun; dia mendaratkan satu pukulan mentah yang sangat keras di rahang Hendra, membuat pria gila itu langsung terkapar tak sadarkan diri di atas lantai.

Riko berdiri kembali, napasnya memburu pelan. Dia merapikan kaos taktisnya, lalu segera berbalik mendekati Rani yang menatapnya dengan mata bulat yang penuh dengan air mata ketakutan sekaligus kekaguman yang teramat sangat.

Tanpa berkata-kata lagi, Riko langsung menarik Rani ke dalam pelukannya sejenak, mengecup puncak kepala istrinya dengan posesif. "Bahaya sudah lewat di sini. Mari kita pergi sebelum apinya meruntuhkan langit-langit."

Riko menggandeng tangan Rani, melangkah masuk ke dalam lorong rahasia bawah tanah, dan menutup pintu baja tersebut dari dalam—meninggalkan Hendra yang pingsan untuk dijemput oleh tim keamanan dan pihak kepolisian yang suara sirinenya mulai terdengar meraung-raung dari kejauhan di luar rumah.

Mereka berjalan membelah kegelapan lorong, menuju ke arah safe house rahasia milik Pratama Corp. Di bawah tanah yang sunyi itu, di tengah sisa debaran jantung yang berpacu gila, Rani mengetatkan genggaman tangannya pada jemari Riko. Rumah mewahnya mungkin terbakar habis malam ini, tapi di dalam hatinya, dia tahu... selama tangan kekar ini menggenggamnya, dia telah menemukan rumah yang sesungguhnya yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!