NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 Tidak Mungkin Dia Masih Hidup

Saat posisi saling berhadapan. Tidak ada satupun kata keluar dari Dira maupun Faza. Hanya tatapan mata yang bisa menggambarkan apa yang dirasa maupun dikatakan oleh keduanya. 

Hurrff!

Hembusan nafas lega langsung dihembuskan oleh Dira. Saat bayangan Faza tidak nampak lagi dari pandangan.

“Berdiri di depan dia terasa sangat sesak,” keluh Dira sambil memegangi dada. 

“Lebih baik aku pulang sekarang saja. Keburu malam,” ucap Dira melangkah mendekati meja. 

Mengambil tas lalu mencangklong ke punggung. Dengan langkah panjang Dira menuju parkiran tempat sepeda berada. 

“Pulang paling akhir, Neng.” 

“Iya, Pak.” 

Setelah melewati pos satpam. Dira mengayuh sepedanya pulang ke rumah. 

Sret… sret.

Ayunan sepeda yang dulunya terasa berat. Sudah tidak lagi menemani Dira sejak diperbaiki keseluruhan oleh Faza. 

“Apakah tulisan kecil itu dia yang menulis?” gumam Dira bertanya-tanya sepanjang perjalanan pulang. 

“Kenapa aku berharap jika itu tulisannya? Dira, ayolah jangan terlalu fokus tentang dia. Kamu tidak begitu mengenal tulisan misterius itu. Jadi, jangan berpikir tidak-tidak,” gerutu Dira kembali. 

Tulisan kecil penuh makna yang baru pertama kali didapatkan oleh Dira di bagian akhir puisinya. Membuat Dira tidak fokus dengan jalan. Pikirannya berkelana, hingga membuat sepedanya mengarah ke tengah jalan raya. 

TIIIIIIIIIT! 

“WOI SIALAN, PENGEN MATI LO!” 

Teriakkan penuh emosi disertai umpatan dari seorang bapak pengendara motor menyadarkan Dira dari lamunan. Sebuah kebodohan yang bisa mengantarkan nyawanya hilang cuma-cuma karena melamun memikirkan Faza. Sosok laki-laki misterius yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. 

“Eh, maafkan saya, Pak. Maaf,” ucap Dira penuh penyesalan sambil menundukkan kepala berulang kali. Sebagai tanda penyesalan serta kebodohan.

“Jangan melamun di jalan!” 

“Baik, Pak.” 

“Bikin susah orang saja.” 

“Maaf.”

Setelah kepergian bapak tersebut. Pandangan mata Dira mengawasi sekitar yang ternyata sudah dekat dengan gang rumah kediamannya. 

“Ternyata sudah dekat rumah.” 

“Ya Allah, terima kasih telah menyelamatkan hamba dari kebodohan barusan.” 

Tanpa disadari oleh Dira jika di sisi lain dari ia berada. Ada sosok laki-laki yang tengah menatap ke arahnya sambil geleng-geleng kepala. 

“Selain keras kepala, ternyata dia sangat teledor,” gerutu laki-laki itu. Lalu berlalu meninggalkan Dira. 

GREEENG! 

Lagi dan lagi suara motor tidak asing mengalihkan perhatian Dira. Secara spontan mencari keberadaan sosok pemilik motor tersebut. 

“Sepertinya aku terlalu sering melamun tentang dia. Hingga suara motornya masuk memenuhi pikiranku.” 

Karena tidak ingin pikirannya terlalu fokus ke Faza. Dira kembali mengayunkan sepedanya masuk ke gang rumah. 

Saat pintu pagar terbuka. Senyum Dira langsung berkembang melihat Mbah Sekar tengah duduk di teras sambil menyisir rambut Nimas.

Air mata kebahagiaan langsung mengalir deras di wajah cantik Dira, saat melihat kemajuan Nimas. Sebab, sebelumnya Nimas tidak mau diajak keluar rumah meskipun hanya di teras saja. 

“Assalamualaikum, Ibu.” 

Pelukan hangat yang diberikan oleh Dira. Membuat Nimas tertegun sebentar. Lalu tangan Nimas terangkat untuk menepuk punggung Dira. 

Puk… puk.

“Waalaikumsalam,” jawab Mbah Sekar karena Nimas hanya diam. 

“Alhamdulillah, Dira senang Ibu sudah mau duduk di teras. Menghirup udara dan menikmati cahaya matahari,” ucap Dira meluapkan kebahagiaannya. Lalu menatap ke Mbah Sekar. 

“Mbah, bagaimana ceritanya Ibu mau diajak duduk di teras? Biasanya tidak mau keluar,” tanya Dira penasaran. 

“Awalnya Mbah juga kurang tahu. Ibumu yang biasanya duduk di ruang tamu. Tiba-tiba berjalan ke teras. Mbah khawatir jika ibumu akan mengamuk dan mengganggu kenyamanan tetangga,” jelas Mbah Sekar. 

“Tapi, Mbah sangat senang karena kekhawatiran itu tidak terjadi. Justru ibumu duduk sambil melihat ke arah pagar. Sepertinya ibumu tengah menunggu kepulanganmu.” 

Penjelasan panjang lebar serta antusias Mbah Sekar dengan mata berbinar. Membuat Dira melebarkan senyumnya. 

“Alhamdulillah, berarti ada keinginan Ibu sembuh.” 

Karena waktu hampir masuk menjelang Magrib. Jelas obrolan hangat di teras harus diakhiri. 

“Ibu, sebentar lagi Magrib. Kita masuk ke rumah yuk,” ajak Dira sambil menggandeng tangan Nimas dan Mbah Sekar bersamaan. 

Dengan patuh dan tanpa perlawanan Nimas mengikuti ucapan Dira. Berjalan masuk di rumah kontrakan mereka. 

Karena tidak ingin membuang kesempatan emas kemajuan Nimas. Dira memutuskan untuk membuat kegiatan baru untuk Nimas. Mulai menjalani sholat Magrib berjamaah, serta menemani Mbah Sekar menyiangi bumbu untuk jualan esok.

“Alhamdulillah, terima kasih Gusti Allah atas kemajuan pesat Nimas. Semoga hal ini menjadi pertanda baik untuknya dan keluarga ini.” 

Sebagai seorang ibu, jelas Mbah Sekar sangat bahagia dengan kemajuan Nimas.  Bagaikan keajaiban di keluarganya yang sudah lama ia harapkan.

“Ibu cantik sekali pakai mukena. Nanti Dira beliin mukena dan kerudung baru buat ibu, ya. Ibu pasti tambah semakin cantik saat memakai kerudung.”

“Emmm.” 

Meskipun hanya dijawab deheman oleh Nimas. Tapi, jawaban itu sudah cukup bagi Dira untuk tahu perkembangan Nimas. Mengingat sebelumnya Nimas lebih sering diam serta mengabaikan interaksi maupun perintah. 

“Dira, ayo bisa dimulai sholat Magrib!” 

“Baik, Mbah.” 

Seperti sebelum-sebelumnya Mbah Sekar akan meminta Dira untuk menjadi imam. Meskipun Nimas belum sepenuhnya mengikuti gerakan sholat. Tapi, duduk terdiam sambil menyimak bacaan sholat yang dilantunkan oleh Dira sudah menjadi kemajuan pesat bagi Nimas.  

“Assalamualaikum warahmatullah.”

“Assalamualaikum warahmatullah.” 

Setelah mengucap salam, secara tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Dira beserta Mbah Sekar. Karena Nimas hanya diam saja tanpa reaksi. 

Tok… tok!

Saling pandang antara Dira maupun Mbah Sekar sebagai reaksi ketukan pintu malam-malam. Menandakan jika keduanya sama-sama saling bertanya tentang sosok tamu yang berkunjung di malam hari. 

“Biarkan Dira saja yang membuka pintunya. Mbah disini saja menjaga Ibu.” 

“Iya, jangan lupa diawasi dari jendela dulu.” 

“Baik, Mbah.” 

Karena tidak biasa ada yang bertemu pada malam hari. Jelas Mbah Sekar meminta Dira waspada. Mengingat mereka bertiga perempuan tanpa adanya laki-laki. 

Dalam keadaan masih menggunakan atasan mukena. Dira berjalan menuju ke jendela untuk memastikan sosok tamu tersebut. Keningnya mengkerut dalam saat melihat sosok perempuan dengan sepatu tinggi berdiri membelakangi. 

“Kenapa sosoknya tidak asing? Kalau dilihat dari tubuhnya seperti Tante Wilona,” gumam Dira bertanya-tanya. 

“Jika memang benar beliau yang berkunjung. Kenapa harus malam-malam datang berkunjung?”  gumam Dira. 

“Apakah kedatangan beliau berhubungan dengan masalah tadi siang? Sepertinya aku harus memastikan sendiri.”

Meskipun dilingkupi deretan pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Tapi Dira mencoba untuk tetap berpikir positif. Dengan langkah pasti Dira membuka pintu untuk menghampiri tamu tak diundang. 

“Permisi, apakah ada yang bisa saya bantu?” 

Saat mendengar suara Dira dari arah belakang. Sosok perempuan paruh baya itu langsung membalikkan kepalanya. Sesuai perkiraan Dira, jika sosok perempuan itu memang Wilona. 

“Tante Wilona, ada apa malam-malam datang di kediaman saya? Silahkan masuk!” 

Meskipun diliputi rasa penasaran tentang Wilona yang tahu kediamannya. Dira tetap mencoba tenang agar tidak mudah terprovokasi dengan kata-kata Wilona yang merendahkannya. 

“Tidak perlu, aku di luar saja.” 

“Baik, silahkan duduk! Ingin minum apa, Tante? Teh hangat tawar, manis, atau kopi,” tawar Dira sopan. 

“Tidak perlu, aku tidak lama berada di tempat ini.” 

“Apakah ada yang bisa saya bantu, Tante?” 

Tanpa ada keinginan menjawab pertanyaan Dira. Justru Wilona mengawasi tempat tinggal Dira yang kecil dan sangat sederhana. 

“Ini tempat tinggal milik pribadi?” tanya Wilona sambil mengawasi tempat tinggal Dira. 

“Tidak, saya beserta keluarga mengontrak di rumah ini.” 

Senyum di sudut bibir Wilona langsung terangkat saat mendengar jawaban Dira. Lalu tangannya merogoh tas mewah miliknya untuk mengeluarkan amplop coklat. 

Tentu saja langsung Dira mengerutkan keningnya dalam-dalam. Mencoba bertanya-tanya maksud dari tindakan Wilona. 

“Bicara apa saja kamu sama Miss Panda? Apakah menyinggung tentang diriku?” 

Tatapan tajam dengan senyum smirk di sudut  bibir Wilona. Membuat jantung Dira berdetak tidak karuan. Nafasnya terasa sesak saat tahu Wilona sedang mencoba mengintimidasinya. Disaat inilah Dira mencoba menguasai diri. 

“Apakah saya harus menyinggung Tante setiap kali berbicara dengan Miss Panda?”

Senyum serta tatapan tajam kembali diberikan oleh Wilona. Mendengar ucapan Dira diluar prediksinya. 

“Pintar juga kamu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan baru, wahai kucing kecil.” 

Kata-kata merendahkan kembali diberikan oleh Wilona. Sebagai cara untuk mengintimidasi Dira yang saat ini lebih memilih tidak menjawab pertanyaannya. 

“Aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Aku langsung ke inti saja. Bisakah kamu memanggil orang tuamu? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padanya.” 

“Eh, tapi tunggu dulu! Aku melupakan sesuatu jika orang tuamu memiliki gangguan kejiwaan,” ucap cepat Wilona yang lagi-lagi membuat Dira diam. 

“Ya sudah, siapapun orang yang ada di dalam rumah suruh...” 

“Eh, ada tamu. Kenapa tidak disuruh masuk, Nduk?” Suara tiba-tiba Mbah Sekar langsung menghentikan ucapan Wilona. 

Perempuan masuk usia lansia itu berjalan keluar menghampiri Wilona. Sebagai tuan rumah yang baik tentu Mbah Sekar akan menyambut tamu sebagai tanda hormat. Meskipun tamunya tidak memiliki rasa hormat sedikitpun. 

“Silahkan masuk, Bu. Tidak enak ngobrol di luar,” ucap Mbah Sekar dengan sopan. Namun, tidak ada balasan maupun tanggapan yang diberikan Wilona. 

“Tidak perlu, kedatangan saya kesini untuk memberikan penawaran kepada cucu Mbah.” 

Ucapan Wilona tentu membuat Mbah Sekar bertanya-tanya. Apalagi menyangkut penawaran. 

“Langsung saja, saya ingin cucu Mbah mengalah untuk putri saya dalam hal pencapaian prestasi. Dan ini sebagai tanda pembukanya. Cukup untuk hidup kalian selama lima tahun. Yang jelas ucapan terima kasih ini jauh lebih besar dibandingkan penawaran sebelumnya.” 

Meskipun tidak mengerti arah pembicaraan Wilona. Namun, Mbah Sekar memilih tersenyum sambil melihat ke arah amplop coklat di hadapannya. 

Lalu menatap kearah Dira yang saat ini menunduk saat menyadari telah menyembunyikan hal penting darinya. 

Meskipun ada rasa kecewa yang dirasakan oleh Mbah Sekar atas ketidakjujuran Dira. Tapi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakan masalah ini. 

“Terima kasih banyak atas penawaran yang Ibu berikan kepada cucu saya. Tapi, sepertinya kami tidak bisa membantu Ibu.” 

Mbah Sekar menahan ucapannya. Untuk melihat reaksi Wilona. 

“Mohon maaf, saya selaku wali Dira menolak permintaan Ibu.” 

Jawaban yang diberikan oleh Mbah Sekar. Tentu saja  membuat Wilona murka. 

“SOMBONG SEKALI KALIAN. SUDAH MISKIN TAPI BELAGU.” 

Suara keras yang memancing keributan di teras. Hingga masuk ke dalam rumah. Membuat Nimas yang tengah duduk menunggu Dira dan Mbah Sekar tak kunjung kembali. kini langkah kaki pelan berjalan keluar menghampiri sumber suara. 

Dengan wajah takut-takut Nimas melihat sosok tamu yang berkunjung malam-malam melalui jendela. Matanya mengawasi sosok itu yang terlihat dari arah samping. 

“AKU COBA BERSIKAP BAIK DENGAN KALIAN. TERNYATA MEMANG BENAR KALIAN ORANG MISKIN TIDAK TAHU DIRI.” 

Karena Nimas sangat jarang bertemu dengan orang asing. Tentu membuat Nimas sangat penasaran dengan sosok kurang sopan yang tengah memarahi Dira dan Mbah Sekar. 

Emmmm. 

Hingga akhirnya mata Nimas melotot saat melihat wajah Wilona. Tangannya bergetar hingga nafasnya memburu. 

“Hah… hah… hah.” 

Dengan keadaan gugup Nimas mencari apapun benda yang ada di sekitarnya. Lalu berlari keluar menuju teras tempat Wilona berada. 

“AAAARGH!” 

BRUK! 

“PERGI!” 

Teriak histeris Nimas setelah mendorong tubuh Wilona keluar dari pagar hingga jatuh terjerembab sambil melotot. Lalu berlari menarik tangan Dira dan Mbah Sekar secara bersamaan untuk masuk ke rumah.

Ceklek! 

Suara pintu tertutup dan dikunci yang terdengar cukup keras. Sama sekali tidak mampu mengalihkan pandangan mata Wilona hingga sulit berkedip. 

“Perempuan itu,” gumam Wilona dengan keadaan wajah pucat dan tangan gemetaran. 

“Nimas?” 

“Tidak mungkin dia masih hidup,” gumam Wilona kembali. 

Entah apa yang terjadi diantara Wilona dan Nimas. Yang jelas melihat keberadaan Nimas membuat jantung Wilona seakan terhenti saat itu juga. 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!