NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KU KIRA DAGING,TERNYATA LENGKUAS

Selesai salat Idul Fitri dan bersalaman dengan warga di halaman masjid, Bima, Ojak, Sari, dan Rara langsung berjalan beriringan pulang. Hari ini matahari bersinar terang, udaranya segar, dan sepanjang jalan tercium aroma masakan lebaran yang menguar dari setiap rumah.

Mereka sepakat untuk berkeliling dulu ke rumah tetangga dekat, bersalaman, minta maaf lahir batin, dan bertukar ucapan selamat. Mulai dari rumah Pak Kades, tetangga sebelah, sampai ke rumah warga yang tinggal di ujung jalan. Setiap masuk rumah, pasti disuguhi kue, minuman, dan tawa yang hangat.

“Enak ya rasanya lebaran begini, semua orang senyum dan nggak ada yang marah-marah,” kata Sari sambil berjalan santai.

“Betul, apalagi nanti siang kita sudah diundang makan ke rumah Pak Harun. Katanya istrinya sudah masak banyak sekali,jadi kita disuruh datang,” tambah Rara sambil menelan ludah membayangkan makanannya.

Benar saja, pas jam menunjukkan pukul sebelas siang, mereka sudah berkumpul lagi menuju rumah Pak Harun. Di depan rumah sudah terlihat motor dan sepeda terparkir rapi ternyata Nina, Kak Dedi, Pak Joko, dan Bang Rian juga sudah sampai lebih dulu.

Begitu masuk ke ruang tamu, semua langsung bersalaman satu per satu, saling mengucapkan selamat lebaran dan minta maaf atas salah dan khilaf selama setahun terakhir. Suasana hangat sekali, penuh tawa dan obrolan santai.

Belum sampai sepuluh menit mengobrol, Bu Harun keluar dari dapur sambil tersenyum lebar. “Ayo semuanya, jangan cuma duduk ngobrol terus. Makan dulu! Semuanya udah siap di meja makan, nanti keburu dingin.”

Mereka pun bergerak ke ruang makan. Begitu melihat meja yang sudah tertata rapi, mata semua orang langsung berbinar. Menunya lengkap sekali,ada ketupat, opor ayam yang kuahnya kental, rendang yang warnanya cokelat mengkilap, sambal goreng kentang dan ati balado yang tampak menggugah selera.

“Wah, ini benar-benar pesta tingkat dewa!” seru Ojak sambil mengusap perutnya yang sudah keroncongan.

Mereka mulai mengambil makanan satu per satu. Semua antre dengan tertib. Giliran Bima tiba di depan wadah rendang. Dia mengintip sebentar, lalu matanya terbelalak senang di antara tumpukan daging, ada satu potongan yang terlihat paling besar, tebal, dan bentuknya pas sekali.

“Nah, ini dia yang paling pas! Pasti empuk dan gurih luar biasa,” gumam Bima dalam hati.

Dengan hati-hati dia mengambil potongan besar itu, menaruhnya di atas piring bersama ketupat dan lauk lainnya, lalu duduk dengan tenang di samping Ojak.

Mereka pun mulai makan bersama. Suasana makin meriah, sambil makan sambil ngobrol ringan. Bima segera mengambil sendok dan garpu, lalu menusukkan ke “daging rendang” andalannya itu. Dia coba menusuk sedikit, tapi terasa agak keras.

“Mungkin bagian yang agak padat, dikit lagi pasti tembus,” pikirnya.

Dia tekan sedikit lebih kuat, tapi tetap tidak bisa tertusuk. Bahkan saat dicoba digigit sedikit, rasanya bukan daging yang empuk, melainkan keras, berserat, dan rasanya agak pahit khas rempah.

Bima mengernyitkan dahi, lalu memutar-mutar potongan itu di atas piring. Belum sempat dia bicara, Rara yang duduk di seberangnya sudah melihat jelas. Mulutnya terbuka, lalu tawa meledak keras-keras sampai menutup mulutnya sendiri.

“BHAHAHA! Bim… itu apa yang kamu makan? Itu bukan daging lho!”

Semua orang langsung menoleh. Bima memegang benda itu sambil bertanya bingung, “Lho, kalau bukan daging apa ini? Bentuknya mirip sekali!”

Bang Rian mendekat, lalu ketawa juga. “Itu lengkuas Bim! Dimasak bareng rendang, warnanya jadi cokelat sama persis, bentuknya juga membengkak jadi kelihatan kayak daging besar!”

Mendengar itu, semua orang langsung ikut tertawa terbahak-bahak. Suasana ruang makan jadi riuh.

“Wah, dapat potongan terbesar ternyata yang paling nggak bisa dimakan!” ledek Pak Joko sambil menggeleng-geleng kepala.

Bima hanya bisa menggaruk kepalanya sambil ikut ketawa malu. “Pantesan keras, aku kira dagingnya yang masih agak alot. Ternyata dapat ‘lauk spesial’ yang salah tempat!”

Belum reda tawa soal lengkuas, kejadian lucu berikutnya langsung menyusul.

Ojak yang duduk tepat di samping Bang Rian, sedang asyik memotong daging rendang yang dia ambil. Dia tekan garpu supaya menancap kuat, lalu menarik pisau dengan sedikit tenaga.

Tapi entah karena licin terkena minyak, atau tenaganya terlalu kuat, daging itu tiba-tiba terlepas dari tusukan garpu, melesat melayang di udara, dan jatuh tepat masuk ke piring makan Bang Rian yang sedang menyuap opor.

Semua orang langsung terdiam sejenak, lalu tawa meledak lagi lebih keras dari sebelumnya.

“HAHAHAHA! Ini dia hadiah tambahan dari Ojak!” seru Kak Dedi sambil menepuk meja pelan.

Bang Rian melihat daging itu yang sudah mendarat rapi di piringnya, lalu mengangkat alis sambil tersenyum lebar. “Wah, terima kasih ya Jak! Saya belum sempat ambil rendang, eh malah dikasih sama kamu, dikirim terbang pula!”

Ojak wajahnya jadi merah padam, tangannya terangkat setengah mau menjelaskan tapi malah ikut ketawa. “Bukan, begitu maksudnya Bang! Licin sekali dagingnya, nggak sengaja lompat sendiri!”

“Sudah, nggak apa-apa, justru enak. Makan jadi lebih lengkap berkat bantuan kamu,” kata Bang Rian sambil mengambil daging itu dan memakannya dengan santai.

Sampai selesai makan, obrolan dan tawa tidak berhenti. Setiap kali ada yang menyebut rendang atau lengkuas, atau gerakan tangan sedikit kencang, pasti langsung teringat kejadian tadi.

Bu Harun hanya tersenyum melihat kelakuan mereka. “Sudah lama nggak melihat suasana sehangat ini. Kalau makan bareng sambil ketawa, rasanya semua makanan jadi lebih enak rasanya.”

Setelah beristirahat sebentar dan minum teh manis hangat, mereka pun berpamitan pulang. Di jalan pulang, Bima dan Ojak masih jadi bahan ledekan terus.

“Besok kalau ambil rendang, pastikan dulu dicium dan diraba ya, jangan sampai lengkuas dikira daging lagi,” kata Sari sambil tertawa.

“Dan kalau memotong daging, jangan sampai dikirim terbang ke piring orang lain juga!” tambah Rara.

Bima dan Ojak hanya bisa mengangguk sambil ketawa sendiri. “Siap! Pelajaran lebaran hari ini: jangan tergoda bentuk yang besar, dan pegang lauk dengan erat supaya nggak berpindah tempat!”

Begitulah hari itu berakhir. Makanannya enak, silaturahmi terjalin baik, dan yang paling berkesan adalah kejadian konyol yang bakal diingat sampai lebaran tahun depan.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!