"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Deru mesin molen beton dari Gang Rejeki seolah masih terngiang-ngiang di telinga Pras, memukuli gendang telinganya dengan ritme yang konstan dan menyakitkan. Setiap langkah kaki yang diayunkannya menuju rumah terasa begitu berat, seolah-olah sepasang kakinya dipasung oleh bongkahan semen premium yang tadi ia lihat di proyek Arumi. Kemeja kantornya yang berharga ratusan ribu kini tampak menyedihkan kusut, lecek dan basah oleh keringat dingin yang terus bercucuran sejak ia melangkah keluar dari gang dengan kepala tertunduk dalam.
Wajah Pras pucat pasi. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak semakin kontras dengan kulitnya yang mengencang menahan gejolak emosi di dada. Kata-kata Arumi yang tenang namun mematikan, sorak-sorai ejekan para pemuda karang taruna, hingga sekop semen yang diacungkan Kang Jaya terus berputar di kepalanya bak kaset rusak.
"Untuk apa saya butuh bantuan dari seorang pria yang nilai pemikiran finansialnya jauh lebih kecil daripada upah harian satu orang kuli bangunan di proyek saya ini?"
Kalimat itu bergaung, menghantam telak ego kelaki-lakiannya hingga hancur berkeping-keping. Pras meremas tali tas kerjanya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak di dadanya kian merayap naik, menyumbat tenggorokannya hingga setiap tarikan napas terasa begitu menyiksa.
Ketika kakinya akhirnya sampai di depan pagar rumahnya sendiri, Pras sempat tertegun. Rumah berlantai dua dengan cat dinding yang mulai memudar di beberapa sudut itu dulu adalah kebanggaannya. Tempat di mana ia merasa menjadi raja, tempat di mana ia dan ibunya selalu merasa lebih tinggi derajatnya daripada Arumi yang hanya bisa mengenakan daster batik murah. Namun sore ini, rumah itu mendadak terasa begitu asing, sunyi, dan mencekam. Seolah-olah aura kemiskinan batin yang diucapkan Arumi tadi benar-benar nyata dan telah mendiami rumah tersebut.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Pras membuka pintu depan. Begitu daun pintu terbuka, pemandangan di ruang tamu langsung menyambutnya. Di sana, di atas meja kaca yang biasanya bersih, kini berserakan belasan lembar kertas dengan kop surat berwarna merah dan logo bank yang sangat familier.
Di sofa, mama Pras duduk dengan gelisah. Wanita paruh baya yang biasanya selalu tampil necis dengan perhiasan emas berderet di jemarinya itu kini terlihat kusut. Rambutnya yang biasa tersanggul rapi tampak sedikit acak-acakan. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Mama langsung menegakkan tubuhnya. Matanya yang tajam dan penuh tuntutan langsung tertuju pada sosok anak laki-laki kebanggaannya.
Tanpa memedulikan wajah Pras yang kuyu dan tampak seperti mayat hidup, Ibu Dahlia langsung beranjak dari duduknya. Langkah kaki itu terdengar tergesa-gesa mendekati Pras.
"Gimana, Pras?!" cecar Ibu Dahlia tanpa basa-basi, suaranya melengking tinggi memecah keheningan rumah. "Berapa miliaran yang dibawa Arumi? Kamu berhasil, kan, ngebujuk perempuan itu? Kamu minta uangnya buat bayar cicilan ruko bulan ini, kan? Mana? Berapa yang dia kasih?!"
Pras tidak langsung menjawab. Ia melangkah melewati ibunya begitu saja, meletakkan tas kerjanya di atas meja makan dengan gerakan yang lambat, seolah energinya telah terkuras habis tak bersisa.
Melihat reaksi dingin sang anak, dahi Ibu Dahlia langsung berkerut dalam. Rasa panik yang sejak pagi dipendamnya kini mulai merayap naik ke permukaan, memicu emosinya untuk meledak. Ia membuntuti Pras ke ruang makan, menatap punggung anaknya dengan tatapan tidak sabar.
"Pras! Mama tanya sama kamu, kenapa malah diam saja?! Kamu itu tuli atau gimana?!" suara Ibu Dahlia meninggi satu oktav. "Kamu tahu tidak, orang bank tadi siang datang lagi ke ruko! Mereka billing kalau minggu depan kita tidak menyetor minimal seratus juta, ruko itu akan disegel dan disita! Mau ditaruh di mana muka Mama kalau tetangga-tetangga tahu ruko kita disita bank, Pras?!"
Pras mengembuskan napas berat, lalu membalikkan badannya. Ia menatap ibunya dengan mata yang merah dan redup. "Arumi nggak ngasih apa-apa, Ma. Dia nggak sudi."
Jawaban pendek itu seketika membuat atmosfer di ruangan tersebut membeku sejenak, sebelum akhirnya digantikan oleh ledakan histeria dari Mama nya Pras.
"Apa?! Nggak ngasih apa-apa?!" Ibu Dahlia memekik, kedua tangannya terangkat ke udara dengan dramatis. "Kamu ini gimana, sih, Pras?! Kamu itu laki-laki, punya mulut, punya otak! Ngurus satu perempuan bodoh kayak Arumi aja kamu nggak becus! Kamu sengaja, ya, mau bikin Mama jantungan?! Mau bikin Mama mati pelan-pelan karena mikirin utang?!"
Mama melangkah maju, menunjuk-nunjuk dada Pras dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin batu permata palsu. "Mama sudah bilang dari kemarin, turunkan gengsimu sedikit! Nangis di depannya, bawa-bawa nama anakmu si Bintang sama Langit! Perempuan kayak Arumi itu lemah, dia pasti iba kalau kamu sebut-sebut soal anak! Tapi apa? Kamu pulang dengan tangan kosong?! Kamu benar-benar anak nggak berguna, Pras! Menyesal Mama besarkan kamu susah payah kalau ujung-ujungnya saat keluarga kita kesusahan, kamu nggak bisa diandalkan sama sekali!"
Kata-kata anak nggak berguna dan ngak bisa diandalkan yang keluar dari mulut ibunya sendiri memicu sesuatu yang besar di dalam dada Pras. Seluruh penghinaan yang ia telan bulat-bulat di Gang Rejeki, seluruh rasa malu yang ia tahan di depan mantan mertua dan para kuli bangunan, mendadak mendidih menjadi kemarahan yang luar biasa. Ego Pras yang sudah rontok kini bergolak, menolak untuk diinjak-injak lagi terutama oleh orang yang berada di rumah ini.
"Cukup, Ma!" bentak Pras dengan suara yang menggelegar, memenuhi seluruh sudut ruangan.
Mama Pras langsung tersentak mendengar nada Pras yang meninggi. Ini adalah pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidup Pras, anak laki-lakinya yang selalu penurut dan selalu membela dirinya itu berani membentaknya dengan mata yang mendelik murka.
"Kamu... kamu berani bentak Mama?!" suara Ibu Dahlia bergetar, antara syok dan marah.
"Iya! Pras berani!" napas Pras memburu, dadanya naik turun dengan cepat. "Mama jangan terus-terusan salahin Pras! Mama pikir gampang datang ke sana setelah apa yang kita lakuin ke dia selama sepuluh tahun?! Pras udah buang semua harga diri Pras di depan warga kampung, Ma! Pras diusir kayak pengemis! Dikatain kikir, dikatain punya kemiskinan batin!"
Pras melangkah maju, membalikkan keadaan dengan menatap ibunya dengan tatapan penuh dendam. "Dan semua ini salah siapa, Ma?! Siapa yang dari dulu setiap hari komporin Pras buat ceraian Arumi?! Siapa yang setiap jam makan siang telepon Pras cuma buat ngeluh kalau Arumi itu menantu nggak berguna, dasteran lusuh, bau bawang, dan pembawa sial di rumah ini?! Siapa, Ma?!"
Ibu Dahlia mundur satu langkah, wajahnya sedikit memucat mendengar rentetan kalimat Pras, namun egonya yang setinggi langit menolak untuk runtuh begitu saja. "Mama... Mama kan cuma membela kamu! Mama nggak mau anak laki-laki Mama yang sukses di kantor punya istri yang penampilannya kayak pembantu!"
"Pembantu, Mama bilang?!" Pras tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat frustrasi dan menyedihkan. "Pembantu yang Mama hina-hina itu sekarang lagi bangun istana tiga lantai di atas tanah warisan bapaknya! Uangnya miliaran, Ma! Miliaran! Uang yang selama ini dia sembunyiin karena dia tahu kelakuan kita kayak gimana! Hari ini, uang Arumi itu bisa buat kasih makan satu kampung, bayar upah kuli di atas rata-rata standar kota, bahkan memborong semua dagangan pedagang keliling cuma buat camilan siang orang-orang yang nonton proyeknya!"
Pras mencengkeram tepi meja makan, mencondongkan tubuhnya ke arah ibunya yang kini mulai gemetaran. "Andai saja... andai saja dulu Mama nggak kikir. Andai saja dulu Mama nggak selalu nuntut aku ini-itu, andai saja Mama nggak selalu ngitung berapa butir telur yang dia masak buat anak-anak, Arumi mungkin masih jadi istri Pras! Uang miliaran itu sekarang pasti ada di rumah ini, buat bayar ruko Mama yang mau disita bank itu! Tapi semuanya hilang, Ma! Semuanya hancur gara-gara hasutan Mama!"
"Kok kamu jadi melimpahkan semua kesalahan ke Mama?!" Ibu Dahlia berteriak, air matanya mulai keluar, senjata andalannya setiap kali merasa tersudut. Ia memegangi dadanya dengan dramatis, berpura-pura sesak napas. "Kamu anak durhaka, Pras! Kamu menyalahkan ibu yang melahirkanmu demi membela perempuan jalang yang sudah mencampakkanmu?! Mana Mama tahu kalau bapaknya yang penyakitan dan miskin itu ternyata punya warisan miliaran?! Lagipula, Arumi-nya aja yang licik! Dia sengaja nyembunyiin harta itu dari kita! Kalau dia jujur dari dulu, Mama juga pasti bakal sayang sama dia!"
"Nggak akan, Ma! Orang serakah kayak kita nggak akan pernah puas!" potong Pras dengan nada sinis yang tajam. "Kalaupun Arumi jujur dari dulu, Mama pasti bakal habisin uang itu buat belanja tas branded, buat pamer ke teman-teman arisan Mama, sampai uang itu habis dan kita bakal injak-injak Arumi lagi! Arumi itu cerdas, dia tahu otak kita cuma isinya duit dan kalkulasi kikir!"
Ibu Dahlia membelalakkan matanya, tidak percaya mendengarkan kata 'serakah' dan kikir keluar dari mulut anak kandungnya sendiri untuk menggambarkan dirinya. "Pras! Jaga ya mulut kamu! Mama melakukan semua ini, Mama nyuruh kamu hemat, Mama minta kamu pegang semua keuangan, itu juga buat masa depan kamu! Mama nggak mau uang kamu habis dikuras sama keluarga Arumi yang miskin itu! Sekarang setelah semuanya berantakan, kamu malah cuci tangan dan melimpahkan semua dosa ke Mama?!"
"Karena memang Mama yang mulai!" suara Pras melengking frustrasi. "Pras dulu cinta sama Arumi, Ma! Tapi setiap hari Mama cekoki pikiran Pras dengan omongan kalau Arumi itu beban, kalau Arumi itu nggak level sama keluarga kita! Sampai akhirnya Pras ikut-ikutan jadi buta, ikut-ikutan jadi suami kikir yang setega itu membiarkan anak-anaknya nangis karena nggak mampu beliin susu yang layak! Sekarang lihat hasilnya? Arumi sudah terbang tinggi jadi miliarder, sedangkan kita? Kita membusuk di rumah ini menunggu ruko disita bank!"
"Bukan Mama yang salah! Arumi yang jahat! Dia sengaja mau melihat kita hancur! Dia perempuan egois, tega melihat mantan suaminya kesusahan!" Ibu Dahlia histeris, memukuli meja makan dengan tangan kosongnya. Ia tetap menolak disalahkan, jiwanya yang narsistik menolak fakta bahwa seluruh penderitaan ini adalah hasil dari taburan benih kebencian yang ia tanam sendiri selama sepuluh tahun terakhir.
"Terserah, Ma. Terserah!" Pras menggelengkan kepalanya dengan letih. Energinya bener-bener telah habis untuk berdebat dengan dinding keangkuhan ibunya yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh rasa bersalah.
Dengan langkah gontai, Pras berbalik dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai bawah. Kamar yang dulu sering ia gunakan untuk mengabaikan Arumi yang sedang menangis diam-diam di sudut kasur karena sakit hati oleh ucapannya.
"Pras! Jangan pergi kamu! Selesaikan ini! Gimana nasib ruko Mama?! Pras!" jerit Ibu Dahlia dari ruang makan, suaranya melengking penuh keputusasaan, mengiringi langkah kaki anaknya yang menjauh.
Brakkk!
Pras membanting pintu kamarnya dengan keras, memutus suara histeris ibunya di luar. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu menyandarkan punggungnya di sana. Kamar itu begitu gelap karena gordennya sengaja tidak dibuka sejak pagi.
Perlahan, tubuh Pras merosot hingga terduduk di atas lantai yang dingin. Di dalam kegelapan dan keheningan yang mencekam itu, pertahanan Pras akhirnya runtuh total. Pria yang dulu begitu angkuh dengan kemeja batik sutra dan mobil sedan cicilannya itu kini menekuk kedua lututnya, menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan, dan mulai terisak pelan.
Isak tangisnya terdengar begitu menyedihkan, penuh dengan rasa penyesalan yang terlambat dan kehancuran ego yang teramat dalam. Di dalam pekatnya kegelapan kamar, Pras menyadari satu hal dengan kepastian yang mutlak rumahnya yang sekarang telah berubah menjadi neraka akibat keserakahan mereka sendiri, sementara di luar sana, di bawah sinar matahari yang cerah, Arumi sedang tersenyum bahagia, memimpin pembangunan istana barunya di atas fondasi beton yang kokoh, jauh dari jangkauan tangan kikir mereka untuk selamanya. Rantai penderitaan itu telah putus di tangan Arumi, meninggalkan Pras dan ibunya yang kini mulai saling mencabik dalam kubangan utang yang mereka gali sendiri.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏